Kau Bosan Denganku?

Photo by ROMAN ODINTSOV on Pexels.com

Saya heran dengan pertanyaan sederhana tapi susah-susah gampang untuk menjawabnya seperti ini.

Kau bosan denganku?

Biasanya pertanyaan itu ditanyakan oleh perempuan kepada lelaki yang menjadi pacarnya atau pasangannya.

Lelaki hampir tak pernah menanyakan hal seperti itu. Entah kenapa.

Kenapa perempuan sering bertanya hal yang agak susah dijawab itu.

Kebanyakan lelaki tak pernah memahami apakah itu pertanyaan tulus dari dalam hati atau sebuah jebakan batman.

Coba kita lihat dari tiga variasi jawaban.

Jawaban pertama. “Jujur, aku tak pernah bosan denganmu.” Jawaban seperti ini kelihatannya jujur. Tapi apa benar-benar jujur. Bila jujur, kenapa harus diawal menggunakan kata ‘jujur’. Apakah karena biasanya tak jujur?

Jawaban kedua. Diam saja. Tak bisa menjawab. Bingung. Dilematis. Takut salah. Diam bisa jadi disalahartikan. Mungkin bosan tapi tak berani terus terang. Mungkin tidak bosan tapi susah mengatakan bahwa sungguh-sungguh tak bosan tanpa kelihatan menggombal. Lelaki berharap perempuan tak mengejar jawaban. Membiarkannya berlalu begitu saja. Tak menjawab itu biasa bagi lelaki. Semoga saja perempuan paham kalau lelaki tak bisa memberi jawaban dengan diam saja.

Jawaban ketiga. “Ya, aku bosan.” Mungkin tak sungguh-sungguh bosan. Hanya saja setelah sekian lama bersama pasti ada hal-hal yang tak lagi mendebarkan dan berubah menjadi hal yang relatif biasa. Tapi dengan menjawab seperti itu bisa jadi berarti mengawali sebuah ‘perang dingin’ karena perempuan merasa kurang diperhatikan. Bisa jadi ‘perang nuklir’ bila perempuan merasa marah. Padahal mungkin lelaki itu hanya bercanda saja. Tak benar-benar bosan.

Mungkin daripada bertanya ‘Kau bosan denganku?’, lebih baik bersama merancang aktivitas yang menggairahkan semangat hidup.

Membuat rencana perjalanan bersama. Keinginan untuk membuat masakan yang unik. Menonton film yang seru. Memberi kejutan untuk pasangannya. Melakukan sesuatu yang baru bersama-sama.

Membuat suasana menjadi lebih hidup. Itu yang harusnya dilakukan bersama. Bukan malah seperti membuat ‘masalah’ dari sesuatu yang sebenarnya tak ada.

Pertanyaan “Kau bosan denganku?” justru membuat risih dan rikuh. Memperkeruh suasana yang baik-baik saja.

Bahkan pertanyaan seperti itu biasanya membuat lelaki berpikir “mungkin saja pasanganku membosankan”.

Dalam relasi antar manusia, tak selalu menarik dan seru setiap saat. Bila terus-terusan luar biasa malah membuat hal-hal sederhana tak lagi diperhatikan, tak lagi bernilai.

Seperti ombak di lautan. Kadang pasang, kadang surut. Tak bisa selalu pasang besar seperti tsunami tiap saat. Tak juga surut terus hingga kelihatan dasar lautnya.

Biarkan mengalir alami. Pasang dan surut. Dinikmati. Dialami bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s