Pikiran dan Wawasan

Photo by Burak K on Pexels.com

Kondisi yang ideal adalah berpikir sederhana dan di saat yang sama memiliki wawasan yang luas.

Sayangnya banyak orang malah berpikir terlalu keras. Menggunakan kapasitas otak untuk berpikir yang “ngga-ngga“. Menggunakan daya pikir untuk mengamplifikasi masalah menjadi seakan-akan masalahnya menjadi lebih besar dan tak bisa diselesaikan kecuali ada faktor keajaiban. Dengan menggunakan otak secara berlebihan untuk hal-hal yang ‘membebani’ ada kerugian yang nyata. Otak tak lagi memiliki kesempatan untuk memahami dan menambah wawasan; yang tentu berguna untuk bertahan hidup dan perkembangan diri.

Padahal dengan berpikir sederhana, seseorang bisa memaksimalkan kinerja otak untuk melipatgandakan wawasan. Dengan wawasan yang lebih luas dan dalam, seseorang lebih mampu dan berdaya untuk mencari akar dari masalahnya, mencari berbagai alternatif sebagai solusi masalahnya dan berpikir taktis.

Kadang saya prihatin dengan diri saya sendiri dan orang lain yang sering terjebak dalam pikiran-pikiran yang rumit dan tak berujung.

Kenapa bisa memiliki pikiran sekompleks itu?

Ternyata pikiran-pikiran yang berputar-putar itu berasal dari rasa khawatir. Dan hebatnya pula, rasa khawatir – yang tentu normal dimiliki oleh tiap insan manusia – menjadi alasan orang untuk terlalu banyak berpikir secara acak. Lupa bahwa yang perlu dipikirkan adalah pemecahan masalahnya.

Seseorang pernah membilang kepada saya. “Khawatir tak pernah menyelesaikan masalah”.

Seorang bijak juga pernah berkata seperti ini. Bila masalah terlalu besar dan sulit diselesaikan, tak perlu khawatir, karena toh juga tak akan bisa memecahkannya. Bila masalah terlalu sepele dan bisa diselesaikan dengan mudah, ya sudah, selesaikan saja. Tanpa perlu merasa khawatir.

Khawatir hanya akan memancing ombak pikiran acak yang tak terhitung jumlahnya. Saat seseorang khawatir, ada bagian otak yang tercekat diam tak bisa berproses dengan baik.

Abaikan rasa khawatir. Diam sejenak. Pikirkan apa akar masalahnya. Analisa. Bila perlu, endapkan dan lupakan sejenak. Otak akan memprosesnya. Setelah beberapa saat, ulangi lagi berpikir tentang suatu masalah. Apakah ada cara untuk memecahkannya?

Biasanya kita menghadapi masalah yang mungkin berat. Namun anehnya kok orang lain bisa menyelesaikannya dengan mudah. Apakah orang tersebut lebih hebat daripada saya?

Jawabannya biasanya karena orang tersebut memiliki wawasan yang lebih luas dan dalam. Bisa menemukan informasi bagaimana harus bertindak untuk menyelesaikan suatu masalah.

Wawasan bisa didapat dari banyak sumber. Membaca. Berbincang dan bertanya kepada orang lain. Merenung dan mengamati situasi sekitarnya. Internet. Tanya sana-sini. Bisa juga dengan berdoa; yang mana terbukti meningkatkan kemampuan kognitif.

Wawasan luas dan dalam membuat pikiran kita menjadi lebih tajam dan kuat. Semakin kuat pikiran kita, wawasan berikutnya terbuka sehingga lebih mudah mengatasi masalah-masalah yang akan datang di kemudian hari.

Jadi bila melihat orang bisa jadi sedemikian bijaksana dan bisa menghadapi banyak permasalahan dalam kehidupan, kita harus memahami bahwa orang-orang tersebut menggunakan kapasitas otaknya untuk meningkatkan wawasan. Bukan untuk berandai-andai dan berpikir yang tidak-tidak hingga masalah yang ada menjadi jauh lebih besar dan tak mungkin lagi dipecahkan.

Wawasan itu koentji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s