Belajar Daring itu Mahal

Photo by Julia M Cameron on Pexels.com

Apa boleh buat. Namanya juga zaman pandemi. Corona mewabah. Sebagian besar pembelajar harus belajar melalui online learning. Mulai dari murid taman kanak-kanak, bangku sekolah, perkuliahan, hingga pelatihan karyawan dilakukan melalui internet.

Kesempatan belajar sendiri itu sudah relatif mahal. Namun menjadi lebih mahal bila dilakukan secara daring alias online. Mahal karena tidak semua orang menikmati langganan koneksi internet memadai melalui kabel tembaga atau kabel fiber; yang relatif mahal. Mereka yang menggunakan koneksi internet melalui ponsel mereka benar-benar mengeluhkan bahwa kuota datanya tak murah. Boros. Bikin boncos dompet di tengah tantangan ekonomi yang melambat karena pandemi.

Saya mendapati dari teman yang menggunakan Google Meet selama satu jam menghabiskan 1 GB data. Tentu dengan membeli paket data, harusnya lebih murah. Sayangnya, tiap jam melakukan webinar atau konferensi jarak jauh berarti melonjaknya biaya komunikasi nirkabel.

Bagaimana dengan pembelajar yang harus belajar berjam-jam tiap harinya? Sudah barang tentu boros. Meski ada subsidi dari dinas kependidikan atau bantingan dengan banyak orang, kuota data yang harus dipakai sangatlah besar.

Belum lagi perkara penyediaan ponsel yang teknologinya memadai untuk pembelajaran daring melalui Google Meet, Zoom, Google Classroom, Microsoft Task, Telegram, atau WhatsApp.

Guru-gurunya pun harus membuat materi pembelajaran yang menggunakan media elektronik; tak lagi sesederhana papan tulis. Masih dibebani dengan mengoreksi tugas dan ujian secara manual atau semi-modern dengan aplikasi semacam surat elektronik dan pesan pendek. Sungguh melelahkan.

Sisi psikologis juga harus diperhitungkan. Kelelahan dengan sistem pendidikan yang tiba-tiba berubah drastis. Frustasi dengan kegagalan proses belajar melalui aplikasi yang jarang dipakai oleh pembelajar dan orangtua muridnya.

Mahalnya pendidikan secara daring memperlebar jarak antara pembelajar yang punya materi dan dukungan sumber daya dengan mereka yang kurang materi dan minim sumber daya.

Nilai menjadi terpaut banyak oleh banyak faktor yang terjadi di teknis belajar-mengajar yang secara ekstrim berubah banyak.

Namun ada peluang baik di masa depan. Lebih banyak akademia dan pembelajar yang sudah terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh secara lebih efisien dan berdaya. Sulit memang untuk saat sekarang. Seraya waktu tentunya orang akan menemukan cara terbaik untuk melakukan pembelajaran daring.

Belajar daring itu mahal. Namun manfaatnya untuk bekal kehidupan menjadikan proses pembelajaran tersebut terasa murah. Worth it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s