Amore

Amore. Bahasa Italia dari cinta. Cinta adalah sesuatu yang susah dijelaskan. Namun dengan landasan cinta, perempuan dan pria bertemu, berbagi rasa bahagia dan mewujudkan hidup bersama. Saling membahagiakan satu sama lain.

Amore tak bisa dijelaskan dengan gamblang. Bahkan lagu berjudul That’s Amore yang dilantunkan oleh Dean Martin membuat yang mendengarnya tak paham benar ‘sebenarnya apa itu cinta’. Hanya sesuatu yang membuat dunia ini menjadi lebih indah. Vita Bella! Hidup ini indah!

Sayangnya lagu That’s Amore itu lagu lawas. Jaman dulu. Jaman saat orang bisa bilang ‘cinta mengalahkan segalanya’. Sepertinya tak lagi berlaku di era sekarang ini.

Tadi sore bersama beberapa kawan membincang seputaran cinta sembari makan pizza. Jaman sekarang cinta tak semudah sepasang pria dan perempuan sama-sama cocok, saling cinta dan menikah.

Ada cinta yang mensyaratkan terpenuhinya beberapa kondisi. Dengan argumen bahwa ‘saya bisa mencintai seseorang bila orangnya seperti ini dan seperti itu’. Bila kriteria ini itu tidak terpenuhi rasanya sulit mencintai orang tersebut. Baiklah, fair enough. Semua orang sah-sah saja memiliki keinginan dan impian akan pasangan mereka. Tak sekedar mencintai orang apa adanya. Intinya ada tuntutan tertentu.

Namun cinta yang bersyarat – bila tidak hati-hati – bisa menjadi cinta transaksional. Seseorang hanya layak dicintai bila memenuhi kriteria yang berderet-deret. Sebut saja, seseorang harus ‘smart’. Bila tak cukup smart, rasanya tak mungkin habiskan sisa hidup ini bersama orang tersebut. Bila nilaimu A maka aku akan mencintaimu. Pun sebaliknya bila nilaimu C, maaf ya sebaiknya kita hanya sebatas teman.

Smart bisa diganti dengan kriteria lainnya. Mapan. Cakep. Mandiri. Sehat. Cakap. Seksi. Ada berbagai kriteria yang bisa mewakili kualitas seseorang.

Sebagian perempuan membilang ‘wajar dong kalau perempuan ingin pria yang jauh lebih pintar, jauh lebih mandiri atau jauh lebih mapan’. Sangat wajar. Terutama dalam konteks hidup di Asia.

Bila perempuan menuntut sesuatu yang lebih tentu pria pun menuntut kriteria yang tak kalah dari keinginan perempuan. Pria menuntut pasangannya cantik, mandiri, pintar membawa diri, bisa hasilkan keturunan, bisa merawat keluarga, atau kriteria lainnya.

Makin sukses seorang perempuan atau seorang pria, makin tinggi pula tuntutannya. Boleh dong bila saya adalah orang yang sangat mapan, inginnya pasangan yang selevel atau selevel lebih tinggi.

Sama-sama menuntut. Makin lama tuntutannya makin tinggi. Tak jarang novela romantisme atau drama korea yang luar biasa romantis membuat banyak orang bermimpi terlalu tinggi. More and more. Tak ada batasnya. Ingin lebih. Minimal ada standar yang harus dicapai.

Masyarakat di negara-negara Asia Utara – Jepang dan Korea Selatan – mengalami suatu kondisi di mana muda-mudinya mulai banyak yang enggan memiliki hubungan asmara. Tak mau pacaran. Tak berencana menikah. Apalagi punya keturunan. Standar hidup yang demikian tinggi di sana membuat perempuan dan pria sulit untuk menemukan pasangan. Kriteria pasangan yang diinginkan menjadi sulit diraih. Di saat yang sama banyak perempuan dan pria yang masih sendirian. Tiada pacar. Tiada suami/istri. Tuntutannya terlalu tinggi hingga sama-sama tak bisa memenuhinya. Hanya mereka yang beruntung yang bisa menemukan pasangan.

Masyarakat di negara berkembang di Asia Tenggara pun mulai merasakan meningkatnya pendidikan dan perekonomian. Standar hidup makin baik. Begitu pula tuntutan terhadap pasangan yang diinginkan mulai merangkak naik. Mapan. Tampan/cantik. Sehat. Pintar. Beserta kriteria lain yang diinginkan. Tak hanya sekedar cinta dan rasa cocok.

Tak pelak bertambah banyak warga jomblo yang berharap bertemu pasangan yang tepat; yang memenuhi berbagai deretan kriteria. Duh, rumit. Cupid Sang Dewa Cinta tak lagi bisa asal memanah dua hati untuk saling bertemu. Ada kriteria-kriteria yang menjadi filter antar pria dan perempuan.

Cinta, tak sekedar asmara. Bila deretan kriteria terpenuhi barulah kita bicara tentang saling mengenal. Jika beruntung sepasang insan barulah jatuh cinta. Hal ini membuat cinta menjadi rumit. Manusia modern jaman now membuat cinta menjadi sesuatu yang serba ribet.

Dean Martin beruntung hidup di jaman dulu saat Amore adalah hal yang sederhana. Persis sama seperti waktu di mana kakek/nenek atau bapak/ibu kita masih muda. Amore! Tanpa harus membawa dereta kriteria berjibun yang rasanya sulit untuk dipenuhi oleh manusia yang tak sempurna.

Lalu bagaimana dengan Cinta Tak Bersyarat? Ah, mungkin itu tak berlaku di masa ini. Adanya adalah Cinta Bersyarat. Bila memenuhi syarat, barulah cinta bisa bertumbuh.

Bagaimana denganmu, apakah kau sudah menemukan seseorang yang memenuhi deretan kriteria pasangan yang ideal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s