Menata Kata

Saat kecil saya kagum dengan orang yang bisa berkata-kata dengan indah. Intonasinya menarik. Bisa menyusun kalimat dengan kalimat dalam untaian makna. Begitu menghipnotis. Mempesona.

Saat itu saya adalah bocah pendiam yang sulit untuk berucap kata. Terlalu minim kata. Namun saya ingin seperti mereka yang pandai berkata-kata.

Seraya waktu saya cukup terobsesi dengan mereka yang pandai bicara. Pun mencoba sebaik saya supaya bisa berbicara lebih aktif dan lebih menarik.

Namun ada sesuatu yang saya rasa tak nyaman. Makin lama makin paham bahwa mereka yang mahir berkata-kata ada yang kemudian tergelincir untuk memanipulasi orang lain. Mencuci otak. Mempengaruhi. Menghasut. Memainkan narasi bicara untuk agenda pribadi.

Tentu tak semua orang seperti itu. Ada banyak orang yang hebat berbicara dan memanfaatkan talentanya tersebut untuk banyak kebaikan dalam kehidupan. Menyadarkan banyak orang. Mengajar berbagai keterampilan. Mengkomunikasikan banyak hal yang migunani bagi banyak orang.

Ada batas antara menggunakan kemampuan berkata-kata untuk kebaikan sesama dengan memelintir kata untuk kepentingan yang tak baik.

Ada orang hebat yang mampu berbicara dengan baik dan sekaligus jujur. Namun ada juga yang memanipulasi orang lain dengan keahlian memainkan kata.

Menata kata merupakan sebuah kemampuan. Kemampuan yang bagaikan pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan sesama. Bisa juga untuk kepentingan yang tujuannya buruk.

Sebaliknya di saat yang sama. Orang yang tak pandai bicara boleh jadi sosok yang jujur. Tak perlu memainkan kata. Hanya memakai kata seperlunya saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s