Menyoal Emoji

Ponsel jaman dulu hanya memiliki fitur bertukar pesan pendek yang sangat sederhana. Hanya teks. Terbatas tentang huruf dan tanda baca.

Namun selalu ada orang yang kreatif. Muncul emotikon. Contohnya seperti berikut ini :) atau :-)

Seraya kemajuan jaman, pesan pendek makin canggih. Emotikon dirasa kurang visual. Diciptakanlah Emoji. Kita kenal sekarang ini sebagai Smiley. Variasinya beragam. Tak hanya ekspresi wajah namun menjadi bentuk binatang, barang dan apa pun yang bisa dipakai untuk mewakili kata-kata.

Emoji makin maju dengan adanya Emoji dengan animasi. Makin menarik. Makin asyik. Chatting alias bertukar pesan pendek makin seru!

Sayangnya Emoji yang memiliki interpretasi standar untuk menggambarkan emosi atau ekspresi tertentu bisa jadi tak selalu berhasil menghantarkan pesannya dengan baik.

Konteks Profesionalisme

Apakah Emoji pas bila dipakai dalam konteks chatting di kantor, dengan rekan bisnis, atau atasan/bawahan? Bisa ya. Bisa tidak. Namun umumnya orang-orang tidak memakai Emoji dalam pembicaraan formal. Memakai Emoji memberikan kesan tidak profesional dan kurang hormat.

Konteks Relasi Antar Manusia

Tergantung dengan status relasi antara kedua manusia yang saling berinteraksi melalui aplikasi pesan pendek. Bila dekat dan akrab, Emoji dalam chatting sangat membantu. Bahkan lucu. Asyik.

Salah Emoji

Saya pernah merasa jengkel dengan mantan bos di tempat saya bekerja dulu. Meski jenis pekerjaannya semi-formal namun tetap ada standar profesional yang harus dipegang teguh. Mantan bos rupanya suka menggunakan Emoji seperti orang tertawa ngakak padahal konteksnya sedang serius. Sungguh tak tepat. Banyak eks rekan kantor yang merasa tak sekedar jengkel dengan kebiasaan bos itu. Tapi tersinggung dan marah.

Salah Pencet Emoji

Ini juga menjadi kesalahan yang umum terjadi. Mau menekan Emoji jempol menghadap ke atas tapi malah yang muncul Emoji jempol menghadap ke bawah. Untung bukan Emoji kepalan tangan. Bisa jadi seseorang ingin memberikan Emoji bunga, eh, malah tak sengaja memencet Emoji kotoran manusia dan keburu sudah memencet tombol kirim. Berabe, kan?

Salah Memahami Emoji

Ini permasalahan klasik. Tukar kirim kata-kata yang lebih jelas artinya saja bisa disalahartikan. Pesan yang terkirim tak sesuai dengan yang diinterpretasikan. Setali tiga uang, Emoji yang diyakini banyak orang memiliki arti yang umum bisa saja dimaknai berbeda oleh penerima Emoji. Salah paham bisa terpicu dari salah memahami Emoji. Lucu sih tapi menjadi masalah tersendiri.

Tidak Memakai Emoji

Ada orang yang tak mau memakai Emoji. Bukan karena ponselnya jadul. Hanya memang tipe orang serius yang tak mau memakai Emoji. Mungkin orang seperti ini berpikir Emoji itu hanya sebagai bentuk kemalasan berekspresi dengan kata-kata. Tak dipungkiri Emoji sedikit banyak mengurangi makna yang diwakilinya. Mungkin karena Emoji bisa memiliki banyak interpretasi.

Emoji Mengurangi Makna

Dengan kata-kata, kita bisa memberikan komentar yang tepat pada pendapat lawan bicara melalui aplikasi pesan pendek. Semisal kita ingin memberi apresiasi positif, kita bisa menulis: bagus, baik, suka dengan pendapat itu, sepakat. Namun menjawabnya dengan memberikan Emoji wajah senyum, tidak terlalu jelas bentuk apresiasinya. Maknanya samar. Tak benar-benar tersirat.

Nuansa Emoji

Menggunakan Emoji bisa memberikan nuansa yang spesifik dalam sebuah perbincangan melalui pesan pendek. Tak hanya kata-kata. Tak hanya angka. Namun sesuatu yang visual. Emoji bahkan mampu lawan bertukar pesan pendek ikutan tertawa. Tergantung kreativitas pengguna Emoji.

Emoji Mengaburkan Ekspresi Aslinya

Nah lho! Sewaktu kita menggunakan Emoji wajah tertawa terbahak sampai mengeluarkan air mata, apakah kita benar-benar tertawa ngakak? Buktinya tak selalu. Ada banyak orang yang sebenarnya hanya menggunakan Emoji supaya terlihat seru. Padahal mungkin tak benar-benar merasakan ekspresi yang diwakili oleh Emoji yang dikirimkan. Begitu pula Emoji wajah menangis hingga banjir air mata, wajah ungu menahan sakit atau wajah memerah mengeluarkan asap. Memangnya situasi nyatanya seperti itu? Tidak tahu. Hanya pengirim Emoji yang benar-benar merasakannya.

Jawaban Singkat Dengan Emoji

Kadang orang malas membalas pesan pendek. Mungkin sedang terburu-buru, tanggung dengan pekerjaan, malas menjawab, emosi atau sesederhana malas menjawab. Kemudian menjawab pertanyaan atau menimpali pendapat lawan chatting dengan Emoji. Emoji standar yang dirasa cukup sebagai suatu respon. Yang penting merespon. Kira-kira begitulah adanya. Sebuah bentuk singkat tanpa keinginan untuk benar-benar membalas pesan.

Emoji Favorit

Sebagian orang memiliki Emoji kesukaannya. Bahkan ada yang memakai suatu Emoji sebagai ciri khasnya. Bila rajin mengamati, tiap orang memiliki pola pemakaian Emoji yang berbeda-beda; yang uniknya bisa menjadi ciri khas dari pribadi pemakainya.

Pakai Emoji Dengan Bijaksana

Ada kalanya kita menemukan bahwa dalam perbincangan di grup pesan pendek diwarnai dengan begitu banyaknya Emoji. Satu dua kali bolehlah. Namun kalau Emoji dibalas dengan Emoji. Dan diikuti dengan rentetan berbagai Emoji, rasanya sudah aneh. Pun terjadi pula di sebuah perbincangan dengan dua orang. Sepertinya baik bila penggunaan Emoji ada batasnya. Secukupnya saja. Bagaimana pun kita sebagai manusia ingin bisa berinteraksi secara wajar dan mudah dimengerti.

Apakah Emoji Akan Menghilang?

Tentu tidak. Emoji tetap ada selama ada pesan pendek. Emoji bisa berevolusi menjadi Emoji dengan animasi; bisa bergerak-gerak sehingga terasa lebih hidup. Bahkan ada Emoji yang menggunakan wajah pengirimnya yang dimodifikasi secara otomatis seperti Emoji yang dipakai oleh iPhone. Emoji memang memberikan warna tersendiri untuk berkomunikasi di jaman modern seperti sekarang ini. Masa di mana orang mengeksplorasi teknologi untuk tujuan yang superfisial. Tak asli namun menjadi kebutuhan banyak orang. Sesuatu yang tak membosankan. Untuk seru-seruan. Hiburan tersendiri di dunia yang berlari terlalu cepat dan tiba-tiba berhenti mendadak karena munculnya pandemi dan trend memakai masker.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s