Libur Panjang dan Corona

Pandemi sudah berlangsung cukup lama. Berbulan-bulan. Manusia harus jaga jarak dan lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Bekerja juga dari rumah bagi yang beruntung bisa mengerjakannya di rumah. Lansia, mau tak mau, harus menahan diri untuk tak pergi ke luar rumah karena rentan terhadap penyebaran virus corona.

Rasa yang muncul adalah kebosanan di titik yang tertinggi. Kemudian ada libur panjang yang memanfaatkan hari kejepit untuk cuti atau cuti bersama di akhir Oktober. Banyak orang memiliki ide yang sama. Ingin liburan. Tak hanya di rumah. Inginnya mengunjungi tempat rekreasi, destinasi wisata dan ke luar kota.

Alhasil ada begitu banyak orang yang bepergian dan mengunjungi tempat wisata yang dipenuhi banyak pengunjung. Kebanyakan memang menggunakan kendaraan pribadi. Namun banyak juga yang memakai transportasi publik. Jaga jarak menjadi sulit. Ada begitu banyak orang di tempat yang sama. Berkumpul.

Libur panjang membawa angin euforia. Ada keceriaan di sana. Bersama keluarga. Teman. Pokoknya seru. Mosok kena corona, pikirnya begitu. Bukankah kalau sudah menuruti protokol kesehatan pasti baik-baik saja.

Namun orang – sadar atau tidak – mudah terlena. Pakai masker tapi segera dilepas bila foto bersama. Fotonya selfie barengan. Berjejer dekat satu sama lain. Begitu pula saat makan bersama pasti lepas masker sesaat. Lupa juga saat bertemu teman lama atau keluarga dekat, segera cipika cipiki dan pelukan. Lupa bahwa saat lupa sedikit untuk waspada bisa jadi virus corona ‘meloncat’ dari satu orang ke orang yang lain. Virus menular.

Kemudian berita-berita segera memberitakan bahwa ada lonjakan kasus positif corona virus setelah liburan panjang. Klise. Sayangnya benar-benar terjadi seperti itu. Sedih rasanya bila banyak petugas medis di beberapa rumah sakit khusus penderita corona virus harus lembur karena lonjakan kasus setelah liburan panjang.

Oleh karena itu pemerintah daerah bekerjasama dengan polisi dan petugas kesehatan untuk mengurangi penumpukan pengunjung di tempat-tempat wisata. Pemeriksaan yang ketat. Pengaturan arus lalu-lintas untuk mengurangi kerumunan. Patroli petugas untuk mengingatkan pengunjung yang tak patuh dengan protokol kesehatan. Liburan panjang justru membuat aparat terkait menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Ironis. Tapi apa boleh buat. Tujuannya untuk membuat jaga jarak dan pembatasan gerak menjadi lebih tertib. Tanpa upaya tersebut bisa jadi liburan panjang menjadi momen penyebaran corona virus yang naik drastis.

Oleh karena itu, ada baiknya yang belum terlanjur liburan untuk liburan saja di rumah. Merayakan Maulid Nabi di rumah. Yang tak merayakan bisa menggunakan waktu luang untuk merapikan rumah, melakukan hobi atau kegiatan dalam rumah lainnya. Menahan diri.

Libur panjang di masa kewajaran baru memang berbeda dengan liburan sebelum pandemi. Liburan harus tetap jaga diri dan jaga kesehatan. Lebih baik menjaga diri daripada liburan lalu beresiko terpapar virus corona yang bisa mengambil nyawa orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s