Minimal Supaya Maksimal

Ada begitu banyak orang-orang yang menganjurkan orang lain supaya hidup minimalis sehingga bisa mencapai titik maksimal dalam hidup mereka. Kok, bisa? Bukankah “do more, get more“?

Tak salah bila kita melakukan sesuatu dengan lebih keras maka akan mendapatkan sesuatu yang lebih banyak. Misalkan, kita menambah waktu olahraga sehingga tubuh menjadi lebih sehat. Bekerja lebih lama sehingga mendapat pendapatan lebih banyak.

Tapi tak selalu melakukan hal dengan berlebih memberikan hasil yang lebih baik untuk jangka panjang. Justru yang menjadi kekhawatiran banyak orang saat ini adalah melakukan sesuatu yang berlebihan sehingga dampaknya menjadi negatif.

Contohnya apa? Misalkan berolahraga ekstrim yang melebihi batas kewajaran hingga akhirnya serangan jantung; padahal usia masih muda. Bekerja lembur tanpa memahami bahwa tubuh sudah mengalami migrain, jantung berdebar dan sakit tulang punggung karena tubuh lupa untuk mendapat porsi istirahat yang wajar.

Kemudian muncul gerakan supaya orang memikirkan ulang apakah yang ‘lebih’ itu selalu baik hasilnya. Ada orang-orang yang percaya bahwa sebenarnya manusia diciptakan untuk mengerjakan sedikit hal dalam satu hari yang sama. Beda dengan ritme hidup yang selalu sibuk di jaman sekarang. Sejak bangun tidur hingga kembali ke peraduan ada begitu banyak aktivitas. Olahraga, bekerja, rapat, pelatihan, hobi, bertemu teman, kerja sampingan, berkomunitas, nonton drama, sibuk sosmed dan entah aktivitas lain-lainnya.

Oleh karena itu ada anjuran untuk mengurangi jumlah aktivitas dalam satu hari. Tujuannya supaya manusia bisa mengerjakan sedikit hal namun dengan ketenangan dan kesenangan. Tak lagi harus diburu-buru hingga hasilnya tak maksimal.

Begitu pula dengan kepemilikan barang. Anjurannya adalah memiliki sedikit barang. Jumlah barang yang terlalu banyak tentu hanya merepotkan dari segi perawatan dan pembersihan.

Setali tiga uang, ada baiknya melihat lagi jumlah konsumsi sehari-hari. Itu bisa berupa apa yang kita makan. Seberapa banyak video yang kita tonton. Berapa banyak informasi yang kita asup dari sosmed dan aplikasi pesan pendek.

Makin sedikit aktivitas yang dilakukan, konsumsi yang diasup, memberi otak manusia kesempatan untuk berpikir dengan lebih jernih. Tidak ‘overload’ dengan berbagai hal yang terlalu beragam.

Mungkin itu sebabnya banyak orang mudah stres karena otaknya tak sempat beristirahat. Sedangkan tubuhnya mudah sakit karena terlalu dipaksa untuk beraktivitas melebihi titik kewajaran.

Minimalis bukan berarti lalu ‘sedikit usaha untuk hasil yang lebih banyak’. Bukan seperti itu. Namun dengan meminimalisasi beberapa hal dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan mendapati dirinya menjadi maksimal dalam sedikit hal yang lebih berarti.

Bila saat ini Anda merasa terlalu sibuk, sakit kepala, tubuh rasanya tak lagi fit, pikiran terlalu banyak… Mungkin ada baiknya memikirkan ulang apa yang bisa dikurangi sehingga hidup ini menjadi lebih maksimal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s