Hari Ayah 12 November

Seumur-umur saya tidak pernah merayakan Hari Ayah. Mungkin karena Hari Ayah kurang terkenal dibanding Hari Ibu. Bahkan saya juga tidak ingat merayakan ulang tahun bapak saya. Mungkin karena konsep merayakan ulang tahun orang tua itu dulu juga tidak populer.

Saya baru tahu hari ini adalah Hari Ayah di Indonesia karena melihat logo Google. Hari Ayah ternyata juga dirayakan berbeda-beda tanggalnya di masing-masing negara. Untuk Indonesia, 12 November adalah Hari Ayah.

Mendadak terharu. Ingat dengan bapak yang sudah ada di surga. Meninggalkan dunia ini pas di hari ulang tahun ibu saya. Mungkin itu sebentuk candaan dari Sang Pemilik Semesta. Mungkin supaya hari tersebut mudah diingat untuk diperingati.

Kemarin malam saya ingat momen di mana hampir tiap sore bapak dan saya naik Vespa untuk sekedar duduk melihat kereta lewat di sekitaran Stasiun Lempuyangan. Mendadak saja ingat dengan kegiatan sore saat saya kecil. Ingat suara kereta yang lewat. Bunyi tanda palang perlintasan kereta api. Namun saya tak ingat seperti apa suara bapak. Bisa jadi karena kami hanya duduk melihat kereta tanpa berbincang-bincang sama sekali. Maklum saja. Bapak tak banyak bicara. Saya memang pendiam dari lahir. Pas, kan? Hanya menikmati suasana berdua. Bapak dan anak laki-lakinya. Khas relasi bapak anak laki-laki di keluarga Jawa di Jogja. Diam dalam kebersamaan.

Saat kepergiannya – puluhan tahun yang lalu – saya merasa itulah momen di mana saya kehilangan Nakhoda kapal kami. Kehilangan arah. Tak punya kemampuan navigasi yang mumpuni untuk mengarungi kehidupan yang berliku. Bingung. Galau. Tatanan pondasi belum cukup kokoh. Belum banyak ilmu kehidupan yang saya terima dari bapak. Duh!

Di lain sisi, saya harus mencari jalan hidup dengan cara trial and error. Butuh waktu lama. Perlu merasakan jalan terjal. Ada kegagalan. Saya hanya membatin. Bila Nakhoda kapal kami masih ada tentu jalan hidup saya bisa diarahkan dengan lebih baik. Mencapai tujuan dengan lebih efisien.

Tapi ya sudah. Mau bilang apa. Aral melintang. Saya hanya bersyukur bahwa bapak orang yang mau menginvestasikan tenaga dan waktu untuk anak-anaknya. Mengalokasikan hampir seluruh pendapatannya untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah terbaik yang bisa kami dapatkan. Sering mengantar kami untuk membaca dan membeli buku di Toko Buku Gramedia – yang saat itu ada di dekat Rumah Sakit Panti Rapih. Mencoba mengajari anak-anaknya pelajaran sekolah paling dibenci yaitu Matematika. Meskipun akhirnya tak terlalu berhasil karena semua anaknya memiliki minat yang lebih tinggi untuk belajar bahasa asing ketimbang ilmu pasti dan matematika.

Satu hal yang paling berkesan adalah kesukaan bapak untuk mengajak sayake rentalan komputer. Tujuannya supaya bisa mengajari komputer – yang mungkin menjadi minat bapak – karena tak ada komputer di rumah. Belasan tahun kemudian saya sempat berkaca-kaca di sebuah warnet saat mendapat tawaran kerja dari sebuah perusahaan internet. Mungkin tanpa momen main-main komputer di rentalan komputer, saya tak bisa menggunakan komputer dan akhirnya tak pernah bekerja di perusahaan itu.

Ngomong-ngomong tentang memori masa lalu, sangat disayangkan karena tak banyak foto bapak. Bisa dimaklumi karena saat itu memotret bukanlah hal yang mudah. Hanya bapak yang bisa memotret menggunakan kamera analog jaman dulu. Ada begitu banyak foto kami. Namun hanya sedikit foto bapak. Karena kebanyakan waktu, bapaklah yang mengoperasikan kamera itu. Hobi memotretnya cukup membuat saya suka dengan keindahan visual dalam foto.

Hari Ayah ternyata bisa membuat saya mengingat kembali masa lalu ketika masih merasakan kehadiran seorang ayah. Beruntunglah mereka yang sampai saat ini masih bersama bapak mereka. Masih bisa bercanda bersama. Mengobrol. Berdiskusi. Tentu juga mendapatkan arahan tentang kehidupan. Ilmu navigasi dalam menjalani kehidupan ini.

Saya kangen dengan bapak. Untuk duduk bersama di atas Vespa. Menikmati senja hari dengan melihat kereta api yang wira-wiri mengular panjang di Stasiun Lempuyangan.

Selamat Hari Ayah untuk bapak yang sudah di surga. Thanks for everything.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s