Sate Kelinci

Pernah makan sate kelinci? Saya pernah. Saya suka rasanya. Kemarin saya makan sate kelinci. Dagingnya memiliki tekstur yang lembut. Gurih. Bumbu kacang dan kecap membuat rasa satenya menjadi lebih enak. Ditambahi dengan taburan merica. Cabe potong. Lalapan. Maknyus. Kata penjualnya, daging kelinci mengandung kolesterol yang rendah dan terbukti menyehatkan.

Setelah mengudap sate kelinci. Melihat kelinci-kelinci yang masih di ada di kandang. Lucu-lucu. Bulunya halus. Menurut pemilik warung sate kelinci, hewan berbulu yang sedikit lebih besar dari kucing itu memiliki sifat yang manja. Suka makan. Suka ngemil.

Untung saya melihat kandang kelinci setelah selesai makan sate. Bila saya melihat kelinci yang masih hidup, saya pasti tak tega atau minimal merasa bersalah saat makan sate kelinci.

Beberapa orang merasa bahwa mengkonsumsi kelinci sebagai bahan makanan sebagai sesuatu yang sadis. Alasannya sederhana. Kelinci itu mahkluk imut yang lucu dan tak berdosa.

Mungkin kelinci masuk dalam kategori hewan kesayangan. Satu kelompok dengan kucing dan anjing. Benarkah?

Nyatanya tidak seperti itu. Kelinci adalah hewan ternak. Cepat besar sehingga bisa menjadi bahan pangan bagi manusia. Sama seperti halnya ayam, kambing dan sapi. Kelinci bukan hewan domestik yang dijadikan peliharaan pada umumnya di rumah-rumah. Memang ada kelinci yang menjadi binatang kesayangan tapi itu tak biasa.

Hanya karena kelinci dianggap memiliki wajah imut maka tak pas disantap manusia? Poin seperti ini menjadi dasar diskriminasi bagi ayam, kambing dan sapi yang tidak ‘cute’ dan tak bisa disayang-sayang seperti hewan kesayangan. Lalu bagaimana dengan ikan dan burung/unggas?

Bagi orang yang belum pernah makan daging kelinci biasanya tak tega makan daging kelinci. Namun setelah merasakan enaknya daging kelinci tentu tak menolak untuk kembali menikmati lembutnya daging kelinci.

Jangan dibayangkan bagaimana menyembelih dan mengolah daging kelinci. Sudah ada orang yang melakukannya untuk Anda. Nikmati saja sate kelinci yang dihidangkan di depan Anda.

Tetiba saya teringat dengan kisah dari satu dinding relief di Borobudur. Sebagai persembahan untuk Sang Buddha, seekor kelinci – yang tak bisa membawakan makanan apapun – memberikan dirinya menjadi makanan dengan melompat ke tungku berapi yang menyala. Sebuah persembahan tulus dari kelinci yang mengajarkan manusia untuk saling berkorban satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s