Tiada Dusta di Antara Kita

Dusta. Bohong. Tidak jujur. Menipu. Mengatakan hal yang bertentangan. Esensinya sama. Bohong itu ya bohong.

Bagaimana dengan bohong putih?

White lie. Begitulah orang menyebutnya. Suatu kebohongan untuk tujuan yang baik. Misalnya mengatakan bahwa seseorang masih baik-baik saja padahal kondisinya sangat parah karena kecelakaan di jalanan demi menjaga supaya keluarganya tidak panik.

Bohong kecil. Boleh?

Boleh atau tidaknya berbohong kecil tergantung pada pribadi masing-masing. Bohong kecil dianggap tak berdosa. Biasanya one little lie dianggap bukan masalah. Sering digunakan oleh orang tua pada anaknya yang masih kecil. Pernah dengar tentang tidak boleh keluar malam hari karena ada raksasa yang memakan anak-anak kecil saat hari sudah gelap.

Bohong kecil dianggap solusi praktis. Mampu menyelesaikan masalah sepele. Namun kebohongan kecil – sekecil apapun itu – adalah sebuah kebohongan.

Bila anak sudah besar bisa jadi akan ingat orangtuanya pernah membohongi mereka dengan kebohongan kecil. Anak-anak bisa belajar bohong. Kepercayaan anak pada orangtua mereka bisa tererosi. Imbasnya anak bisa mulai menggunakan one little lie supaya masalah mereka dengan orangtua bisa cepat teratasi. Tak masuk sekolah karena malas padahal mereka tak benar-benar sakit. Sebuah kebohongan kecil yang membuat relasi orangtua dan anak menjadi renggang.

Bohong karena merasa tak enak?

Kamu lapar? Dijawab tidak lapar karena merasa tak enak hati. Padahal sama-sama lapar. Meskipun tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah kebohongan, tetap saja merugikan. Salah paham bisa terjadi. Komunikasi tidak lancar. Awalnya hanya ingin terlihat sopan tapi selanjutnya malah membuat situasi tak nyaman. Terus terang justru bisa membuat komunikasi lancar.

Kebohongan sebagai sebuah keisengan.

Nah. Ini dia yang namanya menciptakan masalah karena hanya ingin iseng. Iseng-iseng melakukan sebuah kebohongan. Bisa jadi kebohongan seperti ini bisa membuat orang yang iseng tersebut dianggap tak bisa dipercaya. Bohong bukan hal yang pas untuk dibuat candaan. Bisa jadi kebohongan mendatangkan resiko.

Seperti kisah anak kecil yang iseng berbohong bahwa ada serigala; padahal tidak ada. Membuat orang panik dan anak tersebut tertawa. Namun saat ada serigala datang, tak ada orang yang mau percaya lagi pada anak itu. Hingga serigala akhirnya memakan anak itu.

Berbohong untuk sukses?

Ah, bohong supaya berhasil itu cerita klise. Banyak sekali orang yang rela berbohong demi mendapatkan keuntungan. Pedagang yang curang. Oknum politisi. Koruptor. Bahkan pemuka agama yang tak jujur dan memelintir ayat untuk membuat orang percaya padanya. Namun sebuah kebohongan – atau lebih – menjadikan reputasi orang yang berbohong menjadi rusak. Tak ada lagi rasa percaya. Sukses namun dianggap tak jujur. Sukses dengan berbohong itu mudah. Sukses tanpa berbohong itu baru luar biasa.

Terbiasa berbohong.

Ada orang yang awalnya saat masih anak-anak dibiarkan berbohong. Pada saat berbohong tentu ada rasa bersalah. Namun bila tak segera diperbaiki, bohong-bohong kecil – seraya waktu – menjadi kumpulan kebohongan yang makin besar. Terlalu biasa berbohong bisa membuat orang tak lagi merasa berdosa untuk membuat kebohongan-kebohongan yang lainnya. Kebohongan menjadi gaya hidup. Sudah biasa berbohong bisa membuat kebiasaan buruk ini susah dihilangkan. Sudah mendarah daging. Biasa bohong. Bahkan ada yang tiada hari tak bisa dilalui tanpa membuat sebuah kebohongan. Parah, bukan?

Membohongi diri sendiri…

Lucu sekali, kan? Membohongi orang lain itu suatu hal. Membohongi diri sendiri itu parah namanya. Tak mungkin bisa diri sendiri mengatakan sesuatu yang bohong kepada diri sendiri. Anehnya banyak orang benar-benar membohongi diri sendiri.

Ada perempuan yang memandangi cermin. Memuji diri sangat cantik. Padahal sebenarnya wajahnya biasa-biasa saja. Bukan menghargai dirinya karena pribadinya yang baik dan tulus namun malah menipu dirinya dengan menekankan bahwa wajahnya benar-benar cantik; bertentangan dengan kenyataan. Menerima diri sendiri apa adanya justru membuat orang merasa nyaman dengan dirinya. Fake it till you make it bisa-bisa saja. Tapi sadar diri itu lebih berarti daripada ‘halusinasi’.

Sang Pencipta Maha Mengetahui

Baiklah. Seseorang bisa menipu orang lain. Bisa juga menipu dirinya juga. Tapi tak bisa menipu Sang Pencipta yang Maha Melihat dan mengetahui segalanya. Dosa sekecil apapun – sebaik apapun ditutupi – tetap saja menjadi sebuah dosa. Dosa yang harus segera diperbaiki. Dosa yang harus segera diminimalkan atau dihapuskan dengan berbuat Dharma baik.

Dunia yang dipenuhi dengan kebohongan

Dan itulah dunia jaman now yang dibangun dengan berbagai pencitraan melalui medsos. Kehidupan yang disajikan dalam postingan di Facebook, Instragram atau TikTok terlihat indah dan menakjubkan. Banyak orang yang melihatnya menjadi iri hati. Namun apa yang tersaji di dalam ‘dunia yang sudah dipoles’ tentu tak selalu menampakkan kebahagiaan dan keberhasilan sejati.

Dunia yang menantang dan lebih susah ini membuat orang tak segan untuk berbohong untuk mencapai tujuannya. Kepepet. Begitulah biasanya seseorang berkilah saat tertangkap basah sedang berbohong.

Namun apapun situasinya hindari berbohong. Sekali berbohong akan sulit sekali dipercaya oleh orang lain.

Bohong – bagaimana bentuknya, besar kecilnya, untuk tujuan apapun – tetap saja sebuah kebohongan. Bohong itu ya bohong.

Apakah Anda suka dibohongi? Tentu tidak. Apakah Anda suka berbohong? Silakan jawab sendiri. Sebagai insan manusia yang normal-normal saja, bohong itu sebuah hal yang sepertinya lumrah. Namun sebuah kebohongan biasanya diikuti dengan kebohongan-kebohongan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s