Wong Urip Iku Golek Opo?

Pertanyaan itu sejenis pertanyaan mendalam yang butuh perenungan yang dalam. Itupun belum tentu langsung bisa menjawabnya. Membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa jadi seseorang baru bisa menjawabnya persis saat-saat terakhir hidup di dunia. Belum tentu juga semua orang bisa menjawab pertanyaan maha dahsyat ini.

Apa yang orang cari di dalam hidupnya?

Pertanyaan itu saya dapatkan dari seorang teman bermeditasi. Jelas saya tak mampu menjawab pertanyaan yang juga terkesan retorik. Mungkin pertanyaan buat diri teman saya namun ditanyakan ke saya. Untuk saat ini saya juga penasaran. Apa yang saya cari dalam kehidupan ini?

Pertanyaan ini kelihatan rumit. Di sini lain ada banyak orang yang berpikir sederhana. Jawabannya lugas. Apa adanya. Tanpa harus dibalut dengan kandungan filosofis yang tidak membumi. Jawabannya lebih kurang seperti ini.

Urip kuwi yo rabi. Punya anak. Membesarkan anak. Dapat cucu. Ya, sudah begitu saja.

Pokoknya Samawa. Ada juga yang lebih kurang sama.

Hidup itu yang dicari ya Harta, Takhta dan Wanita.

Well. Boleh juga. Asal bukan hasil korupsi sepertinya sah-sah saja. Ada yang mengganti “Wanita” dengan Sepeda atau Bahagia. Bisa juga Kuda.

Hidup itu cari kemapanan pokoknya. Kerjaan mapan. Hidup mapan. Gitu.

Sesederhana itu. Siapa sih yang tidak ingin hidup mapan. Mungkin cuma para demonstran dan aktivis yang anti-kemapanan yang tidak mau hidup mapan. Maybe lho ya.

Apakah ada yang menjawab dengan sentuhan religi yang benar-benar tinggi mengawang-awang? Jawabnya ada.

Hidup itu ya untuk mewartakan kabar gembira. Kita diutus supaya makin banyak yang bisa menuju surga.

Ya, begitu juga boleh. Biasanya para awam yang menjadi pengurus komunitas beragama atau sejenis pemuka agama.

Ada juga yang menggunakan falsafah Jawa. Seperti di bawah ini.

Sejatine urip kuwi gawe urup.

Well, saya suka itu. Hidup untuk memaknai hidup. Boleh.

Btw, hari itu saya belum bisa menjawab pertanyaan retorik dari teman saya itu. Saya masih ingin menjalani kehidupan ini lebih lama. Mungkin bila saya beruntung saya bisa menjadi lebih paham dengan apa yang saya cari di kehidupan ini.

Oleh karena itu saya tak melanjutkan memikirkan pertanyaan itu. Apalagi setelah itu saya malah merasa kedinginan karena hujan di malam hari. Saya justru mendapati diri saya mendadak bikin mi rebus instan lengkap dengan telur mata sapi setengah matang.

Urip saya hari itu untuk menikmati makan…

Sebelas duabelas dengan wong urip iku mung mampir ngombe. Hidup untuk mampir minum; yang digantikan dengan makan mi instan. Beda tentunya dengan ungkapan “Wong urip iku mung mampir ngombe“.

Sepertinya saya malah hidup untuk makan. Bukan makan untuk hidup. Duh…

Berasa jadi meaningless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s