The Power of Kepepet

Setiap insan manusia memiliki pilihan dalam menghadapi tekanan hidup. Bisa menyerah kalah. Bisa juga berjuang. Sebagian besar orang memilih untuk berjuang. Bahkan tak jarang kita menjumpai bahwa orang makin bersemangat hidup saat mengalami masalah besar. Kita mengenalnya sebagai The Power of Kepepet.

Pagi ini saya belajar The Power of Kepepet dari seorang perempuan muda yang mendadak datang ke rumah saya. Perempuan itu masih sangat muda. Mungkin 17 hingga 20 tahun. Perempuan itu membawa satu anak kecil. Anak perempuan dari perempuan itu. Perempuan itu dengan sopan menerangkan bahwa dia tak ingin mengemis. Perempuan ini ingin kerjaan karena butuh makan dan malangnya bapak dari anaknya tak bertanggungjawab untuk memberi nafkah.

Mungkin karena melihat rumput di halaman di depan rumah saya yang sudah lebat tak terurus maka perempuan itu menawarkan jasanya untuk membersihkan halaman. Kebetulan pagi itu saya juga berpikir apakah saya sebaiknya membersihkan halaman dari rumput. Saya sendiri sebenarnya malas untuk membersihkan rumput. Gayung bersambut. Saya butuh orang untuk membersihkan halaman depan rumah. Perempuan itu juga perlu uang untuk kebutuhan hidupnya.

Kesepakatan tercapai. Perempuan itu segera mendudukkan anaknya di kursi. Perempuan itu langsung mencabuti rumput-rumput dengan peralatan seadanya. Tanpa merasa rikuh atau canggung. Langsung bekerja. Sementara itu saya bisa menggunakan waktu saya untuk menyiapkan makan pagi untuk orang serumah. Ada delegasi pekerjaan di saat itu. Ada distribusi rejeki. Pas.

Saya memberikan bayaran yang sudah disepakati. Perempuan itu senang karena sudah mendapat penghasilan pagi itu. Saya dan orang serumah senang karena rumput lebat di depan rumah sudah menghilang.

Beberapa saat kemudian saya membatin tentang diri saya. Saya kadang menolak orderan pekerjaan yang sekiranya bayarannya terlalu murah. Di saat yang sama ada orang yang mau melakukan pekerjaan apapun untuk menyambung hidup hari demi hari. Ini tanda bahwa saya masih berkubang di zona nyaman saya. Saya belum mampu untuk memberikan lebih dari yang saya bisa dalam perjuangan hidup saya.

Terima kasih untuk pembelajaran di pagi hari ini dari seorang perempuan muda beranak satu. The Power of Kepepet menjadikannya mampu untuk bergerak, bekerja, dan memberikan yang terbaik untuk anaknya dan dirinya sendiri. Salut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s