Bersyukur dan Menerima

Malam ini saya bersama rekan-rekan menyelaraskan waktu dan suasana untuk bermeditasi bersama yang dituntun oleh pamong kami. Poin-poin di bawah ini adalah pembelajaran yang saya dapatkan dari pamong kami. Termasuk juga beberapa refleksi pribadi yang tiba-tiba terlintas saat proses tanya jawab.

Kelekatan

Saat kita terlampau senang dengan sesuatu, kita (punya kecenderungan) menjadi terlalu lekat dengan itu. Kita sepertinya tak mau melepasnya. Tak rela melepaskannya. Terlalu menikmati. Kita menjadi tidak ikhlas.

Oleh karena itu akan lebih aman bagi kita untuk berlatih ikhlas. Kita harus menganggapnya sebagai sebuah pemberian, anugerah, atau hadiah. Bukan sesuatu yang kita perjuangkan atau hasil kerja keras kita – karya kita.

Dengan begitu sikap bersyukur kita tersebut membuat kita menjadi ikhlas terhadap pemberian itu. Apakah pemberian itu bagus atau tidak, ya, tentunya kita harus ikhlas menerimanya. Ikhlas juga untuk melepaskannya karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Tentu bersikap ikhlas itu bukan hal mudah. Harus dilatih dalam hidup sehari-hari.

Lekat dengan Masa Lalu

Ada contoh yang bagus tentang mengikhlaskan. Contohnya yaitu masa kecil yang bahagia saat anak-anak. Bila kita bisa mengalami masa kecil yang bahagia – yang tak semua orang bisa mengalami masa kecil yang indah – tentu kita harus mensyukuri itu. Susahnya adalah banyak juga yang lekat (menggenggam terlalu erat) dengan memori masa kecil bahagia itu. Waktu berlalu, umur bertambah, sayangnya tetap ada sebagian orang yang tak rela untuk melepaskan kenangan indah di masa kecil dan kecewa dengan tahun-tahun berikutnya yang mungkin tak sebahagia masa kecilnya.

Memori masa kecil yang bahagia yang susah dilepaskan bisa jadi bentuknya lain-lain pada momen lain atau untuk orang lain. Misalnya posisi jabatan yang membanggakan, kekayaan dan harta berlimpah, pasangan yang baik dan menyayangi, dan tentu beragam barang duniawi (seperti rumah, mobil, binatang kesayangan).

Mensyukuri Tubuh yang Sehat

Seringkali kita tak menyadari bahwa diberi tubuh yang sehat itu sesuatu yang harus disyukuri. Orang biasanya terlambat mensyukuri kesehatan saat sedang sakit – terutama sakit parah. Oleh karena itu bersyukur pada tubuh yang sehat saat sedang sehat itu tak biasa; paling tidak jarang dilakukan oleh sebagian manusia.

Banyak orang juga merasa tidak bahagia saat membandingkan kondisi tubuhnya dengan raga orang lain yang terlihat sempurna. Padahal tubuhnya sendiri baik-baik saja dan dalam kondisi sehat. Namun ada perasaan tidak nyaman dan tidak menghargai karena merasa tubuh kita tidak sempurna – entah terlalu kurus atau agak gemuk.

Pada suatu saat tentunya semua orang harus ikhlas bahwa pada titik tertentu tubuhnya akan berubah seraya usia bertambah. Tak bisa terus-terusan gagah atau seksi. Tak bisa kulitnya kencang dan mulus. Tubuh yang sempurna tak lagi tetap selamanya prima. Pun harus diingat bahwa manusia dilahirkan untuk menjalani kehidupan (sebagai anugerah dari Sang Pencipta) dan suatu saat akan meninggal dunia (untuk kembali ke Sang Pencipta).

Uniknya banyak orang difabel – yang seringkali secara serampangan dilabeli sebagai orang cacat oleh masyarakat luas – justru banyak yang mampu mensyukuri tubuh mereka yang tak sesempurna orang lain pada umumnya. Mereka bisa bersyukur punya dua tangan yang di saat yang sama bisa menggantikan fungsi kaki yang tak mereka miliki. Mereka bisa-bisanya masih bisa bilang “untung masih punya dua tangan”. Tentu rasa ikhlas mereka melewati proses yang panjang. Ada orang yang ‘cacat’ sejak lahir. Ada pula yang ‘cacat’ pada suatu momen dalam hidup mereka, semisal karena kecelakaan lalu-lintas.

Meditasi itu Sowan Gusti

Meditasi itu bisa dikombinasikan dengan doa. Sama saja. Meditasi memberikan kesempatan bagi “aku” yang lebih sadar untuk menerima anugerah sebuah kesempatan kontak dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu harus ada sikap menerima karena bertemunya “aku” dengan Sang Pencipta itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan; namun menjadi sesuatu yang sifatnya anugerah. Bila saat berdoa atau meditasi ternyata tak bertemu dengan Sang Pencipta, ya, nikmati saja. Singkatnya kita belum mendapat anugerah. Tak perlu mempertanyakan diri apakah aku tak pantas, apakah aku tak siap, apakah aku berdosa. Anggap saja bahwa saat belum bertemu dengan Sang Pencipta di dalam doa karena memang belum selaras saja. Belum waktunya. Kemudian bisa berdoa dan bermeditasi lagi di lain waktu.

Menipiskan Ego

Tentang ego itu bukan hal yang mudah. Ada orang yang egonya besar. Ada orang yang ingin ‘mematikan’ egonya. Ada yang benar-benar ingin bisa tak lagi memiliki ego melalui meditasi. Namun ada perspektif lain tentang ego yaitu menipiskan ego.

Bukan kita yang menipiskan ego. Yang makin besar adalah kesadaran akan “aku”. Dengan begitu ego kita menjadi menipis dan melebar. Bukan ego yang tebal, kecil dan keras – yang demikian menguasai diri. Bayangkan seperti adonan kue. Adonan yang berbentuk bola padat yang tebal dengan adonan yang tipis lembut lentur. Ada perbedaan yang besar di sana. Adonan yang sudah tipis lembut lentur tentu siap untuk menerima proses berikutnya.

Tak ada gunanya menghilangkan “aku”. Selama kita hidup tentunya manusia memiliki “aku” – dari kita lahir sampai kita meninggal. Kita belajar untuk menyadari tentang aku dan alat-alat lain yang tidak dilatih dan tidak didengar.

“Aku” akan menipis sebagai efek saat kita mengenali kesadaran dan alat-alat kita – yang menjadi makin kuat dan eksis. Bukan “aku” yang mencoba menghilangkan atau membunuh “aku” – itu tidak mungkin. Pun hal itu menjadi tidak wajar dan sia-sia.

Meditasi Bukan Hal yang Instan

Meditasi itu tak seharusnya memiliki target karena itu menjadikan proses meditasinya tak alami. Seseorang harus melepaskan banyak hal dalam dirinya untuk menyadari dirinya. Bukan sesuatu yang harus dicapai dalam waktu tertentu, dicapai dengan tergesa-gesa, dicapai dengan kerja keras. Sebaliknya kesadaran diri membutuhkan waktu yang panjang – sesuai dengan kesiapan hati dan pikiran untuk membuka diri.

Meditasi harus dipahami benar sebagai sebuah aktivitas yang mensyaratkan proses. Sebuah proses tentu membutuhkan waktu. Proses meditasi menjadi proses yang harus dimulai pada suatu titik dalam hidup ini. Proses meditasi menjadi suatu hal yang manusia lakukan untuk mencapai kesadaran. Sadar akan dirinya sendiri. Sadar tentang menghidupi hidup. Sadar bahwa tak perlu tergesa-gesa. Menjalani meditasi. Tanpa harus repot mencari target untuk menjadi sakti mandraguna atau mencapai keagungan level dewa. Meditasi saja yang alami. Kesadaran diri akan datang dengan sendirinya sebagai anugerah.

Akhir Kata

Saya merasa bersyukur bisa mendapat kata-kata tuntunan tentang ‘bersyukur dan menerima’ malam ini. Dua hal itu bukan hal yang mudah bagi saya. Meski mencoba berdoa dengan mensyukuri satu atau dua hal yang saya terima dalam satu hari, tak selalu saya benar-benar mensyukuri satu hari tersebut dalam doa saya. Oleh karena itu saya merasa bersyukur karena masih ada orang – dalam hal ini pamong – yang tak lelah mengingatkan tentang bersyukur dan menerima.

Rahayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s