Menghitung Mundur

Dalam kehidupan ini salah satu hal yang membuat waktu menjadi berharga adalah tenggat waktu. Deadline.

Tanpa tenggat waktu, seseorang bisa jadi tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan sesuatu dengan penuh semangat. Seadanya saja. Selesai senang. Tidak selesai, ya dilanjutkan besok. Besoknya lagi. Entah kapan selesainya.

Tenggat waktu membuat “hidup lebih hidup”. Ada tenaga dalam yang tiba-tiba terpantik. Usaha menjadi berlipat-lipat karena menyadari waktunya akan habis pada suatu saat. Makin dekat tenggat waktunya, makin besar usahanya.

Saya ingat pada suatu hari pada tanggal 15 Desember 2020. Hari itu adalah hari di mana saya sudah selesai menghitung mundur dari suatu aktivitas – membantu satu komunitas dalam memutakhirkan blog. Saya sudah menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk beberapa bulan. Kebutuhannya waktu itu sangat kritikal karena blog dikelola secara auto-pilot alias tanpa pemahaman yang jelas dan tanpa eksekusi yang memberikan hasil sepadan.

Ada satu titik di mana sudah seharusnya tim yang mengelola blog komunitas tersebut berdiri secara mandiri. Bila saya tetap di tempat yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja malah bisa memanjakan tim blog tersebut. Efeknya tidak baik. Ada ketergantungan. Tidak menjadi mandiri.

Saya memberi waktu dua bulan hingga hari terakhir saya bersedia untuk membantu mengelola blog komunitas tersebut. Sayangnya tidak ada tanggapan yang baik. Namun bukan pada kapasitasnya saya merasa kecewa. Saya cukup untuk membantu blog dari seperti anak balita menjadi anak yang lebih sehat dan lebih berguna.

Apakah saya kangen dengan dinamika dalam tim web tersebut? Tidak juga. Ada keinginan untuk memimpin tim tersebut dan bisa membuat banyak peningkatan kualitas dan kuantitas blog. Satu hal yang membuat saya senang membantu adalah efek positif blog tersebut yang dibaca oleh banyak orang. Blog tersebut bisa menjadi arsip sekaligus pengumuman acara-acara yang sudah, sedang, dan akan dilakukan.

Saat menghitung mundur sudah diputuskan dan dilakukan, kita sebaiknya mengerjakan apa yang sudah ditentukan sebelumnya. Kemudian kita bisa menyelesaikan suatu hal dengan sebaik mungkin. Harus konsisten. Bila waktunya sudah habis, ya sudah mau apa lagi.

Tenggat waktu baik adanya karena ada banyak orang yang ikut siap-siap dengan perubahan yang akan terjadi.

Menghitung mundur juga menjadi hal yang melegakan. Kita bersama sudah mengerjakan sesuatu dengan sebaik mungkin dan menyelesaikannya tepat pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s