Kondisi Hati

Seperti biasa kami bermeditasi di hari Kamis. Juga belajar secuil tentang kehidupan dari pamong kami. Kamis malam itu kami mendapat tuntunan tentang kondisi hati.

Ada apa dengan Hati?

Sebagai insan manusia kita memiliki hati. Ada hati yang bersih. Ada hati yang suci. Pun ada juga hati yang kotor. Hati yang emosional. Begitulah kondisi hati. Berubah-ubah sesuai dengan apa yang kita hadapi, kita temui, dan kita rasakan. Bisa jadi kita bangun dengan hati yang bersih. Namun saat menghadapi masalah berat di siang hari bisa jadi hati kita menjadi emosional. Kondisi hati berubah tiap saat laiknya pasang surut ombak atau mungkin warna langit. Tentu saja ada orang-orang yang lebih stabil kondisi hatinya karena cukup mengendap (Bahasa Jawa: menep).

Apakah kita perlu membersihkan hati?

Tentu saja. Hati yang bersih membuat kita bisa menjalani hidup dengan damai. Sebaliknya hati yang kotor membuat hidup terasa kering, berat, dan tak berarti. Oleh karena itu orang perlu membersihkan hati.

Dalam proses pembersihan hati tentu yang penting adalah latihannya. Melatih untuk bebersih hati. Namun itu saja tidak cukup. Kita harus mendengarkan hati suci – guru pamong pribadi kita – dengan sungguh-sungguh. Cukup sampai di situ? Tidak. Kita harus belajar menjalankannya – bertindak berdasar kata hari. Kita memang tak selalu siap untuk menjalankannya namun yang penting kita menyadarinya terlebih dahulu. Sangat penting bagi kita untuk jujur dan sadar.

Tentang tekad, iman, dan sumarah.

Dalam kondisi harian kita memiliki semacam tingkatan yaitu tekad, iman, dan sumarah. Tekad itu harus ada. Tekad itu laiknya starter motor. Menjadi inisiator. Pemicu.

Setelah itu baru imannya dirasakan – sesuai iman yang ada. Kemudian percaya pada itu sebagai bekal kita. Tak lebih dan tak kurang. Setelah itu?

Setelah itu mencapai titik rileks. Pasrah. Sumarah. Ini tak mudah karena kita tak bisa memaksakan atau tak bisa membuat diri kita dalam kondisi sumarah. Bila kita bisa membuatnya (baca: mendorong atau memaksakan), kita malah justru tidak sumarah. Begitulah paradoksnya.

Bagaimana membedakan suara hati dan suara pikiran?

Cara membedakan suara hati dan suara pikiran adalah dengan mencobanya langsung. Tak perlu banyak berpikir terlalu dalam. Cukup mencobanya. Bila tak diuji pada kenyataan hidup ini maka kita tak pernah mengetahuinya – mana yang suara hati dan mana yang suara pikiran. Sepertinya mudah tapi harus dicermati mana yang berasal dari hati (perasaan)dan mana yang berasal dari otak kita (logika).

Makin sering kita berkomunikasi dengan suara hati maka kita jadi lebih bisa memahami ‘sesuatu’ yang kita dengarkan itu adalah suara hati atau suara pikiran. Lama-lama kita jadi tahu. Meditasi adalah sarana untuk memahami perbedaan itu. Meditasi memberikan ‘suasana jernih’ bagi diri kita untuk ‘ngobrol-ngobrol dengan suara hati.

Konflik terjadi atau terasakan saat ada perbedaan antara suara hati dengan suara pikiran. Suara hati mengatakan ‘A’ namun suara pikiran mengatakan yang sebaliknya ‘B’. Konflik pun terjadi.

Bila saat menghadapi suatu hal atau dalam momen tertentu dirasakan tidak ada konflik maka suara hati dan suara pikiran sejalan. Tidak ada perbedaan. Di saat itulah terdapat keselarasan. Pas. Harmoni.

Bila terdapat konflik antara suara hati dan suara pikiran, ya, sebaiknya berdiam diri untuk sementara. Memberikan suasana tenang untuk berkomunikasi dengan suara hati dan suara pikiran. Dengan kata lain menenangkan diri. Waktu untuk intropeksi. Take time for ourself.

Hati yang kotor itu seperti apa?

Hati yang kotor itu hati yang dipenuhi dengan emosi. Rasa takut. Marah. Kecewa. Menyesal. Dalam artian ini hati tidak koson atau tidak bersih.

Kenapa hati bisa kotor?

Hati yang bersih (atau yang kosong) bisa menjadi kotor saat kita menemui masalah, menghadapi momen tak mengenakkan, berinteraksi dengan orang yang menyebalkan, atau bisa jadi rasa frustasi yang berasal dari pikiran kita sendiri.

Sama seperti diri kita yang tubuhnya bersih setelah mandi pagi. Aktivitas sehari-hari membuat kita berkeringat. Polusi udara. Debu. Radikal bebas. Tubuh kita menjadi kotor. Itu sebabnya kita mandi secara reguler sehingga tubuh kita bisa tetap terjaga kebersihannya.

Setali tiga uang hati kita juga harus dijaga untuk tetap bersih. Bukan berarti kita mengasingkan diri dari orang banyak atau mengurung diri sehingga tetap bersih. Justru kita harus tetap menjalani hidup kita sewajarnya. Hal yang penting adalah kita harus secara reguler membersihkan hati kita. Tujuannya supaya kondisi hati kita menjadi bersih.

Kapan kita harus membersihkan hati kita?

Makin cepat membersihkan hati maka makin baik adanya. Tak perlu menunggu hingga ‘kotoran’ di hati kita menumpuk. Bila ‘kotoran-kotoran’ itu terlalu lama tinggal di hati kita maka berdampak buruk terhadap kondisi hati kita. Bayangkan bila terdapat tumpukan ‘kotoran’ di hati kita. Tentu rasanya tak nyaman. Tak ada kedamaian.

‘Kotoran’ datang ke diri kita itu biasa. Wajar saja. Namanya juga menjalani kehidupan yang penuh lika-liku. Bukan hidup yang steril. Namun hidup nyata. Yang penting bila dirasa hati kita sudah mulai kotor maka sebaiknya cepat-cepat membersihkan hati.

Hati yang sangat bersih adalah hati yang suci. Hati yang suci bisa berfungsi sebagai alat murni – yang ada kaitannya dengan proses menjadi manusia yang utuh.

Bagaimana dengan pikiran yang tak bersih?

Pikiran itu penting. Sama pentingnya dengan hati kita. Pikiran yang terlalu lelah berpikir bisa berakibat kita tak bisa berpikir dengan jernih. Tak bisa berpikir secara optimal.

Pikiran menjadi tak bersih karena berbagai hal. Urusan pekerjaan yang menumpuk. Terlalu banyak rencana ke depan. Ada masalah yang belum terselesaikan. Distraksi sosial media dan hiburan. Pikiran yang melayang-layang tak terkendali karena suka mengkhayal. Pikiran yang mencoba mengatasi banyak hal sekaligus. Target ini dan itu yang terlalu ambisius. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadikan otak kita lelah.

Pikiran yang terlalu ruwet perlu diistirahatkan. Menjadi rileks. Kemudian menjadi kosong – dikosongkan. Pikiran yang fresh membuat pikiran kita kembali menjadi jernih dan tajam.

Tubuh, pikiran, dan hati.

Kita lebih mudah memahami saat tubuh kita kotor. Kita langsung sadar. Oh, badan saya keringetan. Kaki saya kena tanah. Tangan saya lengket karena makanan yang saya pegang. Kita lebih menyadari apa yang terjadi dengan tubuh kita karena sudah biasa.

Kita juga relatif mudah menyadari kondisi pikiran. Kita sadar saat kita banyak pikiran, sedang buntu, atau sekedar mengantuk. Begitu menyadarinya lalu kita tahu bahwa kita perlu istirahat. Tujuannya supaya pikiran kita menjadi kembali bersih.

Sayangnya tak mudah menyadari kondisi hati. Bagi sebagian orang susah untuk menyadari bahwa hati sedang ‘tidak baik-baik saja’. Bila kita tak menyadari bahwa hati kita sedang kotor mungkin kita jadi lupa untuk membersihkannya. Oleh karena itu tiap saat kita harus bebersih hati. Dengan begitu kondisi hatinya bersih.

Siapa yang bertanggungjawab dengan kondisi hati kita?

Apakah harus ada Sang Penjaga Hati? Atau orang tua kita yang menjaga hati kita? Tentu tidak.

Diri kita sendirilah yang harus bertanggungjawab untuk menjaga kondisi hati kita masing-masing. Tanpa disadari kita mudah menjadi emosional. Sesederhana menonton film yang bikin sedih. Mendengar lagu mellow yang sentimental. Pun saat ini dalam masa pandemi – sehingga kita sadari atau tidak – ada rasa khawatir yang sulit diabaikan. Bahkan tak jarang mendengar kabar atau berita tentang virus corona saja sudah membuat takut.

Belum lagi bila dalam kehidupan sehari-hari kita harus bertemu dengan banyak orang yang bisa jadi bersinggungan, berseberangan, dan berselisih yang membuat hati kita menjadi emosional.

Ada satu tips saat rasa emosi itu terlalu memenuhi ruang hati kita. Pamong kami menyarankan supaya kita membuang nafas dari hidung atau mulut dengan tekanan. Dengan cara itu udara bisa terdorong keluar. Saat kita membuang nafas itulah (Bahasa Jawa: uncal ambegan) maka timbul rasa lega. Anggap saja cara ini sebagai senjata darurat bila rasa di hati terlalu tak mengenakkan.

Bagi saya sendiri mungkin itulah yang dirasakan oleh orang yang merokok – mereka mengeluarkan asap dan udara dari hidung dengan tekanan supaya keluar dari rongga hidung. Sayangnya orang merokok supaya mendapatkan sensasi lega tapi yang didapat adalah kandungan nikotin dan zat berbahaya lainnya yang meracuni tubuh.

Akhir kata

Hati-hatilah dengan hati kita. Diri kita sendirilah yang harus menjaga kondisi hati kita supaya tetap bersih atau kosong. Bila rasanya ada ‘kotoran’ yang memasuki relung hati kita, ya sudah saatnya bebersih.

Hati yang bersih memberikan hidup yang hening dan damai. Hati yang bersih mempersiapkan diri kita untuk berkomunikasi dengan suara hati. Bila memang suasana hatinya bersih dan selaras, siapa tahu, di saat itulah kita sudah siap untuk Sowan Gusti – ‘berbincang’ dengan Sang Pencipta Hidup ini.

Rahayu

21 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s