Jujur dengan Diri Sendiri

Seperti biasa kami bersama-sama bermeditasi di hari Kamis sembari belajar tentang kehidupan dari pamong kami. Kamis malam ini kami mendapat tuntunan tentang kejujuran. Juga beberapa hal lain tentang meditasi. Berikut ini poin-poin yang bisa saya tangkap sesuai tingkat asupan gizi saya. Semoga migunani.

Mengapa kejujuran itu tak mudah?

Berlaku jujur itu tidak mudah. Kita sebagai pribadi ingin menjadi manusia sempurna. Itu suatu hal yang wajar. Namun menjadi sempurna itu tidak mungkin karena ciri khas manusia adalah makhluk yang tak sempurna (imperfection). Oleh karena itu hal ini menjadi konflik yang berlangsung terus-menerus dalam hidup manusia.

Tentu kita harus ingat bahwa menjadi manusia utuh itu bukan berarti seseorang harus menjadi manusia yang sempurna. Manusia utuh tidak identik dengan manusia sempurna.

Untuk menjadi manusia utuh itu orang harus mengakui dirinya sendiri dan mengakui pada Sang Pencipta Hidup. Lebih baik lagi bila kita bisa mengakui pada orang lain. Dalam prosesnya mengakui itu dibutuhkan kejujuran. Bila kita sedang malu, ya diakui saja bahwa saya malu. Begitu juga dengan rasa yang lain, entah itu rasa takut, rasa khawatir, rasa benci. Mengakui perasaan yang ada itu wajar karena itu bagian dari manusia. Untuk mengakui diri kita sendiri.

Apakah kita harus jujur terus-menerus?

Ya, tentu saja. Kejujuran harus dilakukan terus-menerus. Berlanjut. Tidak bisa kita jujur hanya bila diperlukan atau dalam kondisi tertentu.

Saat diri kita melakukan hal yang baik tentu kita bisa dan boleh-boleh saja berbangga dengan diri sendiri. Begitu juga bila kita melakukan hal yang jelek maka kita harus mengakuinya kalau itu memang jelek. Ini menjadi poin penting untuk memperbaiki diri sendiri.

Intinya adalah jujur dengan perasaan yang ada, yang kita rasakan. Bila merasa tidak enak, bilang saja tidak enak. Saat merasa takut, akui kita merasa takut. Kita terima dengan apa adanya. Dengan begitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Menajamkan Perasaan

Kita bisa menganalogikan perasaan itu seperti pisau. Ada perasaan yang tajam. Ada yang tumpul. Ada juga yang berkarat.

Pertanyaannya kenapa bisa ada perasaan yang karatan? Bisa jadi perasaan yang karatan itu timbul karena emosi. Bisa juga karena luka lama atau trauma. Salah satu contohnya, bila rasa kita tak bersih, kita bisa saja menjadi mudah tersinggung.

Meditasi menjadi salah satu cara untuk membersihkan atau menajamkan perasaan. Dengan begitu rasa kita jadi makin bersih, makin sensitif, makin tajam. Menjadi makin tahu mana yang benar. Perasaan menjadi alat yang berfungsi, berguna, dan tajam.

Pun begitu juga dengan pikiran dan badan. Pikiran juga merupakan alat. Bila pikiran kita terlalu penuh maka kita menjadi sulit untuk berkonsentrasi. Setali tiga uang, badan harus dalam kondisi baik dan fit. Sebaliknya badan yang lelah letih tidak bisa digunakan untuk menjalani kehidupan dengan memadai.

Untuk itu orang perlu kejujuran untuk tahu kondisi rasa, pikiran, dan badannya. Meditasi menjadi cara untuk sejenak diam. Sejenak istirahat bagi rasa, pikiran, dan badan. Dengan begitu orang bisa makin kenal dengan dirinya sendiri. Dengan mengenal dirinya sendiri, seseorang mengalami sebuah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang utuh.

Apakah rasa dan intuisi itu sama?

Saat rasa sudah menjadi bersih, rasa akan memiliki kecerdasan lain; selain kecerdasan intelektual. Inilah yang disebut sebagai intuisi. Intuisi itu seperti “tidak berpikir tapi bisa seperti tahu”. Itulah kecerdasan rasa.

Namun intuisi itu mensyaratkan bahwa rasanya harus benar-benar bersih. Bila rasa tidak sungguh-sungguh bersih maka ada resiko yang timbul yaitu ilusi. Di titik ini orang harus bisa membedakan mana yang intuisi dan mana yang ilusi.

Seperti sebuah kejadian orang yang hendak naik pesawat terbang. Orang tersebut tiba-tiba merasakan bahwa pesawat yang hendak dia tumpangi bakal kecelakaan. Orang tersebut merasa bahwa itu adalah intuisi. Benar bahwa itu adalah sebuah rasa. Namun itu bisa jadi rasa takut yang berasal dari emosi. Bisa jadi terpicu karena ada riwayat masa lalunya atau berita kecelakaan pesawat yang barusan orang itu baca. Hal tersebut bisa dibilang ‘kotor’ – tidak jernih. Menjadi suatu ilusi. Orang tersebut tidak benar-benar perasaannya tajam namun “merasa perasaannya tajam”.

Dengan adanya berita online, medsos, chat yang tiap hari dan tiap saat menampilkan banyak berita bencana, pandemi, kecelakaan, dan kriminal – membuat banyak orang merasa khawatir dan takut setiap saat. “Polusi” atau “kotoran” seperti ini membuat rasa menjadi karatan – tak tajam lagi atau tumpul. Orang bisa menjadi penuh emosi dan menjadi mudah membayangkan peristiwa yang fatal dan berbahaya. Orang jadi mudah mendapatkan ilusi. Bukan intuisi.

Tentu orang harus melatih rasa dalam kehidupan sehari-hari. Tapi juga tak perlu dicari-cari selaiknya ingin mencari kesaktian. Kesaktian seperti memprediksi hal-hal yang terjadi di masa depan, meramal, atau tahu sebelum yang lain tahu. Bukan seperti itu. Yang kira cari itu adalah kondisi manusia utuh yang membutuhkan hati yang bersih.

Menyoal Ego dan Egois

Kita bisa mengandaikan bahwa ego itu adalah seorang kusir. Manusia memiliki ego. Menyadari bahwa inilah aku. This is me. Aku ada. Dan eksistensi “aku” itu adalah alami. Tak ada yang salah dengan keberadaan “aku”.

Berbeda dengan egois. Egois itu adalah saat tak seimbang terkait ke-aku-an itu. Egois itu berarti lupa segala-galanya dan hanya mengingat tentang diriku sendiri.

Selama kehidupan manusia, “aku” itu selalu ada.

Yang perlu ditanyakan adalah pertanyaan berikut. Apakah kita kenal dengan aku-nya? Apakah kita berteman dengan aku-nya? Apa aku-nya sehat atau sakit? Aku-nya dalam kondisi utuh atau terpecah-belah?

“Aku” atau I am” itu adalah suatu anugerah. Aku ada dan hidup – yang merupakan pemberian dari Sang Pencipta Hidup. Kita harus mensyukurinya. Ego itu bukan untuk dibunuh, diredam, atau ditiadakan. Selama kita hidup, ego tak mungkin dibunuh, kecuali kita sudah mati.

Sedangkan yang menjadi masalah jikalau kita memaksakan itu ke orang lain. Mendominasi dan mengganggu orang lain. Jadi ada beda antara ego dan egois.

Meditasi adalah salah satu alat untuk sadar dan kenal diri. Begitu juga untuk membersihkan diri. Meditasi bukan cara untuk menghilangkan “aku”. Itu tidak mungkin. Lagipula itu bukan tujuan bermeditasi.

Ada analogi yang pas dari tradisi Jawa. Tentang kereta kencana. Di kereta tersebut ada kusirnya. Kusir itu adalah “aku”. “Aku” belajar untuk mengenali kereta, kuda, dan penumpangnya. Tanpa kusir tersebut, kereta tak mungkin berjalan dengan baik. Untuk itulah kita belajar bagaimana menjalankan kereta kencananya tersebut dengan baik. Berusaha sebaik mungkin untuk menapaki perjalanan yang baik (a good journey).

Menghindari Perasaan Tidak Enak

Menghindari suatu perasaan itu tak berarti mengubah perasaan. Misalnya saja saat kita takut saat menonton film horor kemudian kita mengalihkannya dengan menonton film komedi. Itu disebut menghindari perasaan takut (dan beralih ke perasaan yang lain). Apakah kita masih merasa takut menonton film horor? Ya, tentu masih takut. Itu adalah kenyatannya.

Seperti halnya bila kita takut kemudian kita ingin berlari menjauh. Ya, boleh saja. Tidak ada yang melarang. Menghindari (sesuatu yang menakutkan itu) sah-sah saja. Ada kalanya diri kita tidak siap untuk menghadapi perasaan yang terlalu kuat itu, semisal rasa takut yang sangat.

Namun kita jangan membohongi diri. Mencoba bilang ke diri sendiri kalau itu sebenarnya tidak menakutkan padahal merasa sangat takut. Karena bagaimana pun juga perasaan tersebut akan kembali lagi.

Kita menghindari sesuatu yang terlalu berat. Kemudian setelah kita merasa lebih baik, kita bisa kembali lagi ke perasaan itu. Visiting. Misalnya saja seperti kesedihan yang sangat atau trauma yang begitu mendalam seperti berkabung, cerai, kehilangan harta benda, terkena bencana alam, atau mengalami kejadian yang berat.

Tentu hal-hal seperti itu tak bisa begitu saja selesai. Biasanya orang lari dari hal-hal yang teramat berat. Kemudian mencoba menghibur diri. Dengan begitu perasaan yang terlalu kuat itu tak terlalu mendominasi. Bila dirasa sudah fit atau lebih kuat, ya kita bisa kembali ke rasa itu. Demikian terus-menerus hingga secara pelan-pelan penyembuhannya datang.

Dalam proses penyembuhan, kejujuran itu penting. Orang harus bisa menakar diri sendiri seberapa kekuatannya. Tak perlu memaksakan diri bila tak kuat. Harus tahu diri. Sadar diri.

Tentang Menerima Diri Sendiri

Kita tak sebaiknya menuntun diri sendiri menjadi orang yang lain. Orang yang harus berubah seperti ini atau seperti itu. Menerima saja dan menikmatinya tanpa terlalu menilai. Sebab ini adalah my journey – perjalanan hidup saya. Terima diri sendiri as perfect as you are. Pertanyaan yang muncul adalah “kenapa harus berbeda?”

Melabeli vs Menghakimi (Menilai)

Apakah melabeli dan menghakimi (menilai) itu sama? Tentu tidak. Melabeli itu membuat definisi. Sedangkan menilai itu lebih dari sekedar melabeli.

Label itu netral. Laiknya label harga. Definisi yang menyatakan suatu barang tersebut. Sedangkan bila kita tiba-tiba berpikir “oh itu murah atau mahal”, itu adalah menilai karena kita sudah menambahkan sesuatu “embel-embel” sesuai perspektif kita masing-masing.

Contoh mudahnya – saat kita sudah memberi penilaian pada suatu hal – yaitu saat kita membilang, “kursinya bagus”, “marah itu tak baik”, “makanannya ngga enak”.

Gangguan dalam Meditasi

Apakah Anda pernah terganggu saat melakukan meditasi? Pernah. Tentu saja semua pernah mengalaminya. Dua hal yang mengganggu itu adalah emosi dan pikiran.

Bayangkan saat Sang Buddha sedang bermeditasi dan diganggu oleh kedatangan para bidadari nan cantik jelita yang berusaha menggoda Sang Buddha. Sulit ditolak. Bahkan mati-matian bagaimana caranya supaya tetap tahan godaan.

Pun seperti kita saat meditasi. Bidadari itu adalah simbol dari hal-hal nyata seperti pikiran akan rencana di masa datang, rasa yang tak senang dan negatif, atau laiknya monyet yang berloncatan kesana-kemari tanpa arah di dalam benak kita.

Lalu bagaimana menghadapi bidadari tersebut? Ya, kita ujarkan saja dulu. Tak perlu buru-buru meredam mereka atau berusaha menghilangkannya. Godaan itu akan selalu ada selama hidup kita. Apakah ada cara melatih supaya tahan godaan? Ada. Yaitu dengan berlatih Topo Ngrame.

Topo Ngrame

Salah satu hal yang khas dari meditasi yang kami ikuti adalah Topo Ngrame. Bermeditasi dalam keramaian bersama banyak orang. Bukan sejenis meditasi yang dilakukan di tempat sunyi sepi nir-gangguan seperti di gua, di hutan, atau di pantai.

Ada baiknya berlatih meditasi di tempat yang nyata. Tempat sehari-hari kita menjalankan kehidupan kita. Yang jelas memiliki banyak godaan. Menariknya, dari semua godaan yang ada saat bermeditasi, godaan terbesar justru pikiran yang muncul di kepala kita sendiri.

Dalam bermeditasi diperlukan kesabaran dalam mengikuti prosesnya. Dalam meditasi model yang kita pakai, kita tidak memimpin prosesnya atau dipimpin oleh orang lain. Dalam proses meditasi ini kita membutuhkan energi tuntunan; yang membuat kita mampu beresonansi dengan orang lain yang ikut dalam meditasi bersama.

Resonansi dalam bermeditasi

Saat kita melakukan meditasi bersama banyak orang – topo ngrame – tentu saja ada kemungkinan diri kita beresonansi dengan orang lainnya. Ada waktunya bisa selaras dengan resonansi yang lain. Kadang juga tidak. Bagaimana kalau tidak? Ya, tidak masalah. Oleh karena itu bila ada yang cocok, ambil dan resapi. Bila tidak cocok, diabaikan saja. Dalam meditasi topo ngrame memang pamong itu momong yang bertugas mengantarkan saja. Bukan sebagai guru.

Kemudian ada pertanyaan. Apa yang terjadi saat atau sesudah meditasi? Biasanya yang terjadi adalah pembersihan. Pembersihan hati dan pikiran. Dalam meditasi, allow yourself to enjoy it. Beri kesempatan untuk diri sendiri menikmati prosesnya. Kita sebaiknya menghindari untuk memaksakan atau mengatur prosesnya. Energi tuntunan akan menunjukkannya pada kita dalam keheningan.

Catatan Kecil

  • Angen-angen (mind) adalah kemampuan pikir manusia. Produknya adalah pikiran (thought).
  • Tiga alat utama manusia itu adalah “rasa” (hati), “raga” (tubuh), dan “angan-angan” (pikiran) – yang disebut sebagai Trimukti.

Rahayu

4 Februari 2021

One Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s