Persiapan

Kembali lagi kami bermeditasi bersama di hari Kamis ini. Juga belajar kehidupan dari pamong kami. Berikut ini beberapa catatan yang saya bisa tangkap dari tanya jawab setelah meditasi. Semoga migunani.

Persiapan Dalam Meditasi

Dalam proses meditasi, pamong kami mewanti-wanti supaya kami bersiap-siap sebelum mengikuti meditasi. Ya, saya pikir itu hal yang sifatnya teknis. Menyiapkan waktu untuk bermeditasi bersama. Tentu ditambah menyiapkan Zoom karena menggunakan medium tersebut untuk bisa bersama-sama bermeditasi dari rumah masing-masing.

Menyiapkan diri itu ternyata penting. Mempersiapkan pikiran, suasana hati, dan fisik. Malam ini sayangnya saya benar-benar tak mempersiapkan ketiganya. Masih memikirkan urusan ini itu. Suasana hati sedang tidak enak; yang mana artinya hati tidak bersih. Meski sudah menyegarkan diri dengan mandi, tetap saja badan masih lelah dengan kegiatan sejak pagi hingga sore hari.

Alhasil saya merasa hanya duduk-duduk diam saja selama sesi meditasi. Bukan bermeditasi. Setelah meditasi saya juga merasa tak paham benar apa yang ditanyakan dan apa yang menjadi jawabannya. Tak ubahnya penumpang bis yang bingung bisnya sedang mau ke mana dan kapan sampainya. Clueless.

Semuanya karena saya kurang mempersiapkan diri sebelum meditasi bersama. Jadinya saya merasa ambyar meditasinya. Khusus untuk malam ini.

Sebuah poin refleksi. Bila seseorang tak mempersiapkan diri untuk bermeditasi bisa jadi tak sungguh siap dalam menjalani kehidupan tiap harinya. Karena dalam kehidupan sehari-hari – harus kita akui – ada saja waktu-waktu di mana diri kita menjadi goyah tak seimbang karena banyak pikiran, suasana hati tak jernih, dan badan tak fit karena kelelahan.

Dalam hidup di jaman now yang serba cepat, sangat kompetitif, dan lebih kompleks – kondisi pikiran, hati, fisik menjadi lebih cepat lelah. Kadang kita menyadarinya. Kadang kita mengabaikannya.

Oleh karena itu seseorang perlu memberi jeda pada laku kehidupan ini. Tak menghindari hidup yang polanya memang bergerak cepat. Namun juga tak berarti menyerah terhanyut dalam kehidupan yang tanpa henti. Jeda saja sejenak. Kemudian kembali menghadapi dan menghidupi kenyataan.

Bagaimana dengan orang-orang yang tak memberi jeda pada alur kehidupannya?

Bila kita perhatikan di sekitar kita, banyak orang yang terlihat linglung, mudah lupa, dan tak tanggap bila diajak berkomunikasi. Padahal mereka adalah orang-orang yang pandai dan memiliki kapasitas tinggi. Mereka bisa mengalami hal-hal tersebut karena terlalu lelah pikiran, hati, dan fisiknya. Otak menjadi tumpul. Hati mengeras. Fisik melemah.

Mungkin kita juga bisa bertanya pada diri kita. Apakah pernah mendadak pikun? Mungkin juga tidak memahami sesuatu padahal hal itu hal yang mudah? Mungkin di saat itu, kita lupa memberi jeda pada diri kita.

Menyoal Resonansi

Lalu bagaimana bila dalam meditasi tidak merasakan apa-apa? Jawabannya, ya tidak apa-apa. Bila memang diri kita tak siap, ya tetap saja bermeditasi meskipun tak merasakan apapun.

Bila tidak merasakan apapun atau tidak menyaksikan apapun berarti tidak ada resonansi.

Bila ada resonansi, tentu kita bisa merasakan atau menyaksikan (witnessing) sesuatu. Pengalaman yang biasanya sulit diterangkan dengan kata-kata dan sulit dibuktikan. Tapi lebih pada pengalaman yang dirasakan.

Give Up vs Surrender

Ada perbedaan antara keduanya. Give up atau menyerah itu bisa jadi karena beberapa faktor seperti tidak berani, lelah, atau tak punya niatan kuat. Berbeda dengan Surrender atau pasrah yang mana artinya sudah tidak perlu kerja keras atau usaha karena sudah sampai (pada tujuan yang hendak dicapai). Catatan: pasrah bukan berarti tak berbuat apapun.

Yang membedakannya adalah suasana hati mempengaruhi usaha kita. Bila kita sudah berhenti karena sudah sampai (pada yang ingin kita tuju) maka itu sesuatu pengalaman yang indah.

Menyoal Ego

Kita semua punya ego. Ego kita itu kecil. Yang membedakannya dengan egois adalah saat kita berkonsentrasi pada ego kita sendiri. Yang penting tentang ego adalah ada baiknya kita tak memberi terlalu banyak power pada ego tersebut. Makin besar kekuatan yang kita berikan pada ego, makin besar pula ego kita tersebut. Ingatlah kembali bahwa ego itu hanyalah salah satu bagian dari diri kita.

Permainan Kesempurnaan

Manusia ingin menjadi sempurna. Di lain sisi, manusia bukan makhluk yang sempurna. Human being is not meant to be perfect. Mengupayakan menjadi lebih baik itu baik adanya. Ingin menjadi sempurna itu adalah hal yang sia-sia.

Namun itulah yang terjadi. Semuanya selalu memiliki dua sisi koin. Manusia tidak ingin ada dua aspek itu. Inilah yang disebut sebagai Permainan Kesempurnaan.

Oleh karena itu orang dihadapkan pada dilema (yang sering muncul). Seseorang bisa bingung apakah saya harus mengerjakan ini. Atau malah sebaliknya sebaiknya saya lebih baik tak mengerjakannya. Harus dikerjakan atau tidak? Bingung.

Kemudian orang terjebak dalam pikirannya. Terlalu lama berpikir.

Padahal sebenarnya bila memang baik dikerjakan, ya dikerjakan saja. Tak perlu menunggu terlalu lama dan terlalu banyak menimbang-nimbang. Bagaimana pun semuanya memiliki resiko.

Terlalu hati-hati juga membuat kita tidak berbuat apa-apa. Tidak menghasilkan apapun. Padahal biasanya resikonya hanyalah sebatas (menghasilkan) kesalahan. Wajar bila orang melakukan hal yang salah (atau tak benar) karena itulah bumbu kehidupan.

Akhir Kata

Karena tak menyiapkan diri dengan baik akhirnya saya tak benar-benar merasakan apapun selama bermeditasi. Tak ada resonansi. Pun tak menyerap benar pelajaran hidup yang diutarakan oleh pamong kami. Namun justru di titik inilah saya memahami makna kata “persiapan“.

Dan apakah kita sebagai insan manusia sudah siap menghadapi tiap momen dalam kenyataan hidup sehari-hari?

Rahayu

P.S. Next time, sepertinya saya harus mandi sore, ngopi dulu, dan duduk manis dalam sikap hening beberapa menit sebelum sesi meditasi bersama dimulai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s