Bimbingan Konseling

BK. Itulah kependekan dari Bimbingan Konseling. Biasanya BK kita temukan di bangku sekolah. Guru BK menjadi orang yang bertugas untuk memberikan bimbingan kepada murid sekolah.

Sayangnya banyak orang memiliki stigma kepada profesi tersebut. Guru BK dianggap sebagai orang yang menangani murid bermasalah. Entah itu tawuran, kenakalan remaja, murid perempuan yang bunting, atau apa pun yang dianggap sebagai masalah bagi sekolah tersebut. Alhasil, guru BK identik dengan ‘pengakuan dosa’ dan ‘pemberi hukuman’. Jika ada murid yang nakal maka dianggaplah guru BK tak mampu bekerja dengan baik. Kenakalan adalah tanggung jawab guru di posisi yang tak populer itu.

Posisi dalam pengajaran pun menjadi bias. Guru BK dianggap tak sepenting guru pengampu mata pelajaran utama, seperti matematika, Bahasa Indonesia, dan mapel yang diujikan. Bahkan guru BK bisa digantikan oleh guru lain yang sedang tak bertugas/tugas rangkap. Jika siswa lulus dengan nilai yang bikin bangga sekolah dan ortu, dipujilah guru mapel penting yang masuk ujian. Sedangkan guru BK tak pernah mendapatkan pujian jika anak muridnya bertobat dan kembali belajar seperti murid lainnya. Pencapaian guru BK sepertinya susah dinilai dan susah dilihat.

Belum lagi tantangan bahwa tak semua sekolah ‘merasa’ membutuhkan guru BK. Posisinya bisa digantikan guru agama yang menekankan pada akhlak dan perbuatan baik menurut agama. Jika ilmu agamanya baik, anak didiknya tak mungkin nakal. Pekerjaan sebagai guru BK tak terlalu menjanjikan karena permintaannya kurang dianggap mendesak.

Orang tua murid juga merasa jengkel jika harus hadir di sekolah saat anaknya terbukti melakukan kenakalan. Kemungkinan bertemu dengan guru BK. Bukan pengalaman menyenangkan karena orang tua murid mungkin malu dengan kelakuan anaknya tetapi di satu sisi ingin membela anaknya sendiri.

Lengkap sudah tantangan yang harus dihadapi oleh guru BK. Belum lagi ada pemikiran bahwa mereka yang menempuh pendidikan sebagai guru BK adalah mahasiswa/mahasiswi yang kurang encer otaknya dibandingkan mereka yang mengambil program pendidikan yang banyak peminatnya. Sepertinya identik bahwa mereka yang ingin menjadi guru BK semata-mata karena kurangnya pilihan dan kemampuan. Jika mereka cukup mampu kemampuan otaknya, lebih menjanjikan mengambil pendidikan psikologi. Lulusan prodi psikologi tentu mampu menjadi guru BK karena mempelajari spektrum pembimbingan mental dan manusia secara lebih luas.

Tentu saja perlu adanya guru BK dalam suatu lingkungan sekolah karena anak-anak muda tersebut memerlukan seseorang yang mampu dan mau menjadi tempat curhat, tempat bertanya solusi, dan tempat mereka tahu jalan terbaik apa yang harus mereka tempuh.

Sayangnya, begitulah nasib guru BK. Profesi yang tak diminati dan dianggap tak penting-penting amat bagi sekolah. Oleh karena itu bisa dipahami jika banyak guru BK yang memilih profesi lain yang dianggap memberikan pendapatan dan penghargaan yang lebih baik dibanding sekedar menjadi guru BK di sebuah sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s