Limbo

Istilah limbo berasal dari bahasa Latin, yaitu limbus. Kata tersebut menggambarkan kondisi seseorang pada tepi atau batas. Dari sisi teologis, jiwa yang berada dalam kondisi limbo berarti sudah meninggal tetapi belum jelas apakah mereka mendapatkan kutukan neraka atau masuk surga. Lebih mudahnya mengatakan keadaan yang masih berada dalam masa penantian. Dalam posisi yang tak jelas.

Sedangkan menurut Cambridge English Dictionary, limbo berarti “an uncertain situation that you cannot control and in which there is no progress or improvement“. Penjelasannya jelas. Seorang tak memiliki kendali dan tak mengalami kemajuan atau perbaikan.

Limbo bisa dibayangkan seperti “mati gaya” atau “angin mati”. Tak bisa melakukan apa pun. Maju tak bisa. Mundur tak bisa. Tak ada perubahan.

Begitulah yang dirasakan oleh jutaan pengungsi dari Afghanistan yang tersebar di seluruh dunia. Salah satu negara yang warganya mengungsi di negara lain adalah Afghanistan. Terutama karena peristiwa menghebohkan barusan saat pasukan Amerika Serikat dan NATO hengkang dari Afghanistan, di saat yang sama pasukan Taliban menguasai Kabul – ibu kota Afghanistan dan sebagian besar wilayah negara tersebut. Parahnya, pemerintah resmi Afghanistan malah melarikan diri ke negara tetangga.

Begitu Kabul jatuh di tangan Taliban, banyak warga Afghanistan berebutan untuk keluar dari negara itu. Salah satu yang dianggap solusi adalah Bandara Kabul. Ada pesawat-pesawat yang meski jumlahnya tak banyak tetapi bisa membawa mereka keluar ke negara lain. Tak peduli pesawat akan terbang ke mana asalkan bisa keluar dari Afghanistan.

Banyak dari pengungsi Afghanistan sampai di Qatar, Prancis, Inggris, dan negara-negara tetangga. Padahal sejak lama, sudah banyak juga pengungsi Afghanistan yang sudah mencapai negara lain. Termasuk ribuan pengungsi Afghanistan yang sampai di Indonesia.

Bagi para pengungsi mereka memiliki opsi yang terbatas. Kemungkinan tertangkap atau terbunuh jika tetap berada di Afghanistan. Kemungkinan lain yaitu tetap hidup sebagai pengungsi yang tak jelas hidupnya. Hidup atau mati.

Sayangnya, banyak cerita menyedihkan yang dialami para pengungsi. Mereka sudah bertahun-tahun hidup di tempat khusus untuk para pengungsi. Hanya bisa bertahan dari bantuan kemanusiaan. Hanya bisa hidup tanpa mengalami kemajuan berarti. Hanya sedikit pengungsi yang diterima suakanya sehingga bisa mendapatkan visa tinggal dan bekerja di suatu negara tujuan yang menerima mereka.

Sisanya hidup bertahun-tahun dalam kondisi limbo. Menunggu entah kapan pengajuan visa mereka diproses dan akhirnya disetujui. Ada yang tak tahan dengan kondisi tak pasti dalam jangka waktu lama dan memilih untuk mengakhiri hidup mereka. Sedangkan sisanya mengalami depresi berkepanjangan hingga banyak yang merasa hidup mereka tak ada gunanya.

Keadaan terkatung-katung menjadi “neraka” tersendiri. Jauh dari tanah air. Kembali tak bisa. Tak sampai negara tujuan tapi malah “terjebak” di suatu tempat antah berantah. Hidupnya tak pasti. Hanya bisa pasrah atau menyerah. Jika pada suatu saat mereka sudah mencapai tujuan mereka – mendapat visa tinggal di suatu negara – memori masa lalu di kamp pengungsian pasti menghantui hidup mereka di masa depan.

Begitulah nasib pengungsi. Tak jelas. Berada di batas antara hidup dan mati. Di tengah-tengah situasi tak pasti. Hanya bisa hidup tergantung belas kasihan orang lain. Hidup yang tak benar-benar hidup. Bukan hidup yang ideal. Namun, paling tidak ada yang bisa disyukuri, yaitu sudah terlepas dari ancaman kematian karena kondisi politik dan keamanan di negara asal mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s