Perpustakaan Megah

Perpustakaan memiliki nilainya dari banyaknya kumpulan buku yang dikoleksi. Makin banyak, makin bernilai. Tak hanya ribuan buku. Perpustakaan megah nan modern bisa menampung jutaan buku. Luas biasa, bukan?

Pertanyaan yang muncul, apakah masih relevan untuk mendirikan satu atau dua perpustakaan super besar di suatu kota?

Tergantung siapa yang akan menjawabnya. Kaum akademisi tentu akan mengamininya. Begitu pula para pejabat suatu daerah yang bakal bangga bila bisa memberikan layanan perpustakaan yang “wah”.

Padahal di satu sisi, biaya dan usaha untuk mendirikan satu perpustakaan super besar bisa dialokasikan untuk memberikan perpustakaan kecil di banyak bagian kota. Bahkan kalau perlu, biayanya bisa digunakan untuk mengadakan perpustakaan keliling dengan mobilitas tinggi sehingga makin banyak warganya yang bisa mengakses buku-buku yang menambah wawasan.

Gambar dari Tribunnews.

Gambar dari Tribunnews.

Saya lebih mendukung gerakan di mana distribusi perpustakaan tersebar secara merata. Justru daerah pinggiran kota perlu mendapatkan perhatian karena akses ke sumber wawasan terbatas. Berbeda dengan penduduk di pusat kota yang sudah memiliki akses dengan buku-buku di berbagai perpustakaan di tengah kota; seperti perpustakaan instansi atau universitas.

Perpustakaan megah itu seperti menara atau tugu. Berdiri megah untuk dikagumi. Sentralisasi sumber buku sudah kuno dan kurang relevan. Desentralisasi justru menjadi kunci supaya semua lapisan masyarakat mendapatkan akses sumber pengetahuan yang sama. Dengan demikian keadilan sosial akan mudah dicapai.

Iklan

Burnout

Akhir-akhir ini ada beberapa orang curhat ke saya. Intinya tentang burnout. Kecapaian karena pekerjaan sehingga tak ada tenaga dan waktu tersisa untuk kehidupan pribadi di luar profesi.

Burnout bukan isu sepele. Saat seseorang sudah merasa burnout, sudah ada akumulasi kelelahan jiwa dan raga dalam jangka waktu lama. Tak hanya simpton yang muncul setelah hitungan hari atau minggu. Gejala burnout harusnya sudah terjadi berbulan-bulan hingga tahunan; baik disadari betul atau diabaikan.

Pelepasan Sesaat.

Bila kecapaian karena tuntutan kantor, umumnya orang segera mencari hiburan untuk melepaskan lelah. Gratifikasi instan. Bisa jadi makan enak di restoran yang mahal, nonton bioskop entah apa filmnya asalkan bisa menghilangkan jenuh, atau jalan-jalan destinasi-tak-penting-asal-happy. Intinya pelepasan.

Pelepasan tak ubahnya “escape” dari suatu kondisi yang rutin setiap hari. Escapism. Lari dari kenyataan. Nikmat sekejap. Sebentar saja. Hanya untuk kembali ke roda kehidupan (baca: pekerjaan) yang lagi-lagi sama selama-lamanya.

Memangnya salah kalau ada keinginan untuk “escape” sesaat? Sesekali tentu berguna. Tak salah. Tapi bila berkali-kali atau terlalu sering, tentu ada yang salah. Tak tepat.

Mengapa tak tepat? Pelepasan hanya mengurangi kadar penderitaan. Tak benar-benar mengatasi masalah. Seperti gel pereda nyeri yang dioles saat keseleo. Hanya mengurangi nyeri.

Pelepasan jaman now juga tak murah. Belanja-belanji padahal tak butuh, makan enak seenak-enaknya, travel tanpa tujuan jelas. Semuanya itu jelas menghabiskan banyak uang. Uang habis tanpa sempat ditabung malah bikin tambah stres. Burnout makin parah.

Perlu Istirahat.

Padahal ketika perasaan burnout menyergap, kebutuhan paling utama adalah beristirahat. Tidur. Bisa juga aktivitas pasif lainnya seperti baca buku yang menghibur, minum teh bersama teman atau duduk santai.

Everybody need a little bit time for themselves. Me-time. My own time.

Bayangkan saja sebuah mobil yang digeber habis-habisan. Seperti mobil yang dipakai untuk taksi online atau angkot. Pagi hingga malam. Berkilo-kilo meter dilibas. Tak sekalipun ada waktu jeda. Tak berhenti justru menjadi simbol keren: gagah perkasa tanpa kenal lelah.

Setelah sekian bulan atau tahun, mobilnya pun sering ngadat. Ngambek bila hendak dinyalakan. Mesinnya batuk-batuk. Setelah diteliti, karburator kotor, oli mengering, debu menempel sekujur mobil dan ada kerusakan-kerusakan kecil yang berakumulasi menjadi gangguan besar. Akhirnya performa menurun padahal intensitas penggunaanya malah makin sering, makin berat.

Tak Sekedar Istirahat.

Mirip dengan manusia. Mobil itu butuh istirahat. Butuh diservis. Butuh disayang. Tapi manusia berbeda dengan mobil sebagai mesin. Manusia butuh lebih dari sekedar istirahat.

Setelah bisa istirahat, mendapat jeda. Seorang manusia perlu berpikir ulang tentang hidupnya. Apakah ini yang aku inginkan? Apa ini jalan satu-satunya menapaki hidupku? Apa tujuan hidupku? Benarkah ini sesuatu yang kuimpikan dalam hidup yaitu hidup yang super sibuk tanpa jeda?

Rethink. Making Decision.

Saat jiwa raga mendapat cukup istirahat, perlu untuk berpikir ulang tentang alur kehidupan saat ini. Mungkin pikiran untuk ganti profesi, cari pekerjaan baru, memulai usaha, atau pindah tempat tinggal bila memungkinkan. Tak mungkin kan bila bisa mendapatkan kondisi berbeda bila tak ada perubahan.

Harus do something to make a better life. Dan itu harus didasarkan pada pengambilan keputusan yang matang. Tak asal-asalan, setengah spontan dan selebihnya karena emosi.

Tapi…

Tapi apa? Tak sempat benar untuk duduk termenung memikirkan masa depan? Masih didera dengan tuntutan bos, tenggat proyek dan politik kantor yang tak pernah habis?

Harus disempatkan. Waktu untuk diri sendiri. Bila tidak, silakan menikmati burnout hingga akhirnya tersisa abu-abu tak berbekas yang habis ditelan masa dan dibawa terbang angin.

Pilihan di Tangan Kita

Pilihan mungkin terbatas. Seakan-akan tak ada opsi lain.

Padahal selalu ada pilihan. Pilihan untuk ditemukan. Bisa juga diciptakan sendiri. Dan selalu ada pilihan untuk bentuk kehidupan yang lebih manusiawi di mana ada waktu untuk berkarya sekaligus waktu untuk menikmati indahnya kehidupan.

Burnout? Jangan dibiarkan. Segera cari solusinya. Hidup pendek yang berharga ini tak seharusnya dibakar habis untuk mencapai sesuatu yang mungkin kurang relevan, kurang bermakna. Life is beautiful.

Beruang Kesukaan Saya

Bukan boneka beruang. Beruang kesukaan saya ini berupa aplikasi untuk menyimpan catatan dan menulis bernama Bear. Aplikasi Bear ini jalan di sistem operasi macOS dan iOS.

https://bear.app/

Saya kurang suka ketak-ketik dengan memakai aplikasi berat semacam Microsoft Word (edisi macOS) dan Apple Pages. Terlalu banyak fiturnya, lambat ketika buka tutup aplikasi dan kurang nyaman bila ukuran jendela aplikasinya dikecilkan.

Makin sederhana aplikasinya, makin suka saya memakainya. Bear memiliki antarmuka yang ramah dan sederhana. Bisa diatur sehingga penggunanya bisa fokus ketak-ketik. Tak perlu repot menekan tombol Simpan berkali-kali. Buka dengan cepat, tuliskan sesuatu dan segera tutup setelah selesai mengetik. Semua catatan sudah tersimpan secara otomatis.

Bear memiliki fitur yang mumpuni. Hanya saja tombol-tombol fiturnya disembunyikan. Bila diperlukan barulah fitur-fitur tersebut dipakai. Memang beberapa fitur – seperti sinkronisasi data antar gawai – hanya bisa didapatkan bila membayar biaya langganan (yang relatif terjangkau). Namun begitu fitur-fitur dasarnya (versi gratis) sudah sangat memadai.

Bear cocok untuk menyimpan catatan apapun. Sesuai untuk menulis blog, menjadi tempat untuk brainstorming, merancang rencana perjalanan, merangkum hasil studi, atau kebutuhan lainnya.

Si Beruang ini memang tak menggantikan tugas Simplenote – aplikasi catatan kecil yang tersinkronisasi secara waktu nyata (real-time) – yang ada di laptop macOS dan gawai Xiaomi saya. Tapi The Bear memberikan ruang menulis yang lebih longgar dengan fitur modern dan antarmuka yang so so friendly.

Bahkan antarmuka Bear ini membuat saya meninggalkan Evernote – Aplikasi Si Gajah Hijau – yang dulu sempat menjadi favorit saya menyimpan berbagai catatan. Si Gajah terlampau gemuk sekarang, tak lagi lincah dan tampangnya tak juga membaik. Si Beruang juga mengalahkan TextNut – yang seharusnya enak dipakai tapi fitur pencariannya suka mengacau.

Intinya saya lagi demen sama Si Beruang ini. Saya rekomendasikan kepada Anda yang suka ketak-ketik apapun untuk menggunakan Bear di macOS atau iOS Anda.

 

 

Tiga Kota Favorit

Sudah hobi saya untuk bertanya ke orang lain – biasanya yang suka traveling – tentang tiga kota favorit yang sudah mereka singgahi di dunia ini. Pertanyaan sederhana ini saya tanyakan karena saya ingin tahu kota apa yang menarik. Siapa tahu bisa memberikan inspirasi untuk saya. Saya juga selalu kepo penasaran dengan kisah-kisah perjalanan yang seru dari orang lain.

Tiga Kota Favorit Tujuan Destinasi | Munggur

Setiap kali saya menanyakan pertanyaan “apa tiga kota favoritmu” kepada banyak orang, saya selalu ditanya pertanyaan yang sama, “kamu sendiri apa?”

Hingga saat ini jawaban saya tetap sama. Kyoto, San Francisco, Lhasa. Begitu urutannya. Nomor satu Kyoto. Kemudian San Francisco. Lhasa menjadi nomor tiga.

Ingin tahu alasannya?

#1 Kyoto

Kyoto itu kota yang menurut saya The Most Beautiful City di dunia ini. Kota ini memiliki tatanan kota yang rapi. Ruas jalanan yang terencana dengan baik, lebar dan tersusun seperti kotak-kotak. Kuil tua nan megah. Tak banyak bangunan tinggi modern sehingga mata relatif bebas memandang jauh di mana pun. Banyak hasil tradisi masih kental terasa. Pun ada banyak orang mengenakan kimono di mana-mana.

#2 San Francisco

The Romantic City. Kejayaan masa lalu terlihat dari gedung-gedung menua yang masih angkuh kokoh berdiri. Dengan dermaga memanjang ramai dengan orang dan pemandangan tepi lautan yang indah. Trem lalu-lalang hadirkan transportasi lokal yang unik. Kontur kotanya yang berbukit-bukit dipenuhi dengan bangunan kuno seperti rumah-rumah berjejer gaya Victoria. Pengamen ada di mana-mana dan bahkan ada yang memainkan Saxophone. Dan ketika sore datang, pelan-pelan tapi pasti, kabut tebal akan menelan kota di tepian Samudera Pasifik ini. Kota tua ini akan menghilang di remang malam untuk kemudian muncul kembali di pagi hari.

#3 Lhasa

Top of the World. Kota tertinggi di dunia. Kota yang ada di atas deretan awan yang mengambang tinggi di atmosfer. Puncak dunia. Beda jauh dengan Puncak di Bogor. Bagai bumi dan langit. Saking tingginya, kota ini sangat cocok sebagai tempat untuk memanjatkan doa. Buktinya Istana Potala dibangun di tempat ini. Banyak peziarah datang dari mana-mana untuk berdoa. Mungkin sinyal doa di sini bisa diterima tanpa distorsi karena posisinya yang paling dekat dengan langit di mana Sang Pencipta berada.

Tiga kota tersebut sangat berkesan untuk saya. Bersyukur boleh menikmati keindahan Kota Kyoto, jatuh cinta dengan Kota San Francisco dan menapakkan kaki di Kota Lhasa.

 

 

 

Mooncake Festival

Seorang kawan lama yang tinggal di Jakarta menampilkan satu biji mooncake dan teh di foto profil WhatsApp-nya. Seketika itu juga saya langsung bertanya padanya, “eh, mooncake festival, ya?” Ya. Itu jawabnya.

Mooncake festival. Perayaan di pertengahan Musim Gugur. Berhubung tinggal di negara tropis, bukan wilayah dengan empat musim, mana sadar kalau sudah waktunya untuk mooncake. Festival ini jatuh pada 24 September 2018 tahun ini.

Tapi, dulu juga sempat merasakan kehebohan mooncake festival kala pernah hidup di Singapura – Negeri Merlion. Benar sih di negeri jiran ini mana ada Autumn. Tapi hebohnya itu luar biasa. Di berbagai toko dan mal, terpajanglah beragam kue bulan. Mooncake, mooncake dan mooncake.

Di mana-mana ada antrian untuk melihat, memesan dan membeli mooncake. Mooncake mania. Ada berbagai rasa. Isinya bermacam-macam. Secara default isinya telur asin. Namun kreativitas tak terbatas. Ada yang durian. Ada pula yang entah-isinya-apa tapi rasanya enak.

Dan tradisinya, orang akan membeli mooncake untuk diberikan ke keluarga, rekan kantor, klien, orang-yang-dirasa-penting, dan entah siapa lagi yang kira-kira memang perlu untuk diberi.

Hasilnya luar biasa. Pada hari festival itu jatuh dan hari-hari sesudahnya akan ada orang-orang yang memiliki mooncake terlalu banyak. Pemberian dari orang lainnya.

Tentu makan mooncake sepotong dua potong menyenangkan. Mencicip rasa yang berlainan. Enak. Gurih. Tergantung kualitas dan harganya. Tapi setelah makan mooncake terlalu banyak, kebanyakan orang akan merasa eneg-traumatis-sesaat dengan mooncake. Mirip dengan eneg-traumatis-sesaat dengan opor ayam lontong setelah Idul Fitri hari pertama dan hari kedua.

Belum lagi kalau di kantor, rekan kantor akan menawarkan mooncake. Lagi dan lagi. Mau ditolak, kok rasanya tak sopan. Diterima, rasanya masih eneg-traumatis-sesaat. Begitu lihat mooncake rasanya langsung kebas lidahnya.

Begitulah hebohnya festival mooncake di Singapura.

Btw, bagi yang ingin tahu asal usul festival ini, silakan ulik asal-usul Tiong Ciu Pia di sini. Bisa juga di artikel Sembayang Dewi Bulan dengan Kue Bulan.

Juga ada penjelasan tentang mooncake di video berikut.

 

 

Bebersih Debu, Hidupkan Mesin

Reriungan di WhatsApp tentang destinasi perjalanan – bersama kawan dari Kota Kembang Bandung – membuat saya mengingat kembali kenangan manis tentang jalan-jalan. Pun dengan semangat untuk menulis di blog Munggur ini.

Baiklah. Laiknya bebersih debu, mesin ketik (baca: laptop) menjadi wahana menuang kata-kata di blog ini. Aliran ide mulai digelontor supaya lancar kembali. Aktifkan lagi aplikasi WordPress di laptop. Mengisinya dengan kata-kata baru.

Starter mesin. Isi dengan bahan bakar berbagai perisitwa yang dirasa, dialami dan dijalani. Mulai bergerak, mulai maju. Semoga momentumnya terjaga. Tak hidup sementara untuk kembali lagi stagnan, jalan di tempat.

Ganbarimasu!

 

Polisi Jalanan

Jalanan macet itu sebuah masalah pelik yang harus dihadapi pemakai jalan di kota-kota besar. Kapasitas jalan tak sesuai dengan jumlahan kendaraan yang lalu-lalang. Belum lagi ditambahi dengan para pengemudi kendaraan yang makin hari makin tergesa-gesa dikejar tenggat waktu. Celakanya jumlah polisi tak bertambah secara signifikan. Alhasil timbul titik-titik macet pada ruas jalan yang dipadati kendaraan bermotor.

Untung – mencoba sebagai blessed in disguise – ada orang-orang yang memiliki solusi yang jitu. Dengan kerelaan hati berpanas-panasan di titik-titik yang langganan macet, ada saja orang yang ‘mengajukan’ dirinya untuk menjadi bagian dari solusi ilegal. Yaitu menjadi polisi jalanan. Alias polisi receh.

Biasanya orang banyak memandang para polisi jalanan itu ‘aktivitas’ yang mudah. Beri aba-aba secukupnya, teriak-teriak, dan lalu terima uang dari mobil yang mereka bantu untuk berputar arah atau menerobos persimpangan. Semudah itukah? Tentu tidak.

Kegiatan para polisi jalanan itu ternyata tak sesederhana yang terlihat.

Pertama, mereka harus memahami kondisi lalu-lintas, karakter para pengguna jalan dan tentunya ritme laju kendaraan berbanding luasan badan jalan. Kemampuan itu teruji. Tak ada, sungguh tak mungkin, ada polisi jalanan yang berjaga-jaga di jalanan sunyi senyap dekat kuburan. Para polisi jalanan eksis di tempat-tempat di mana kemampuan mereka sangat dibutuhkan.

Kedua, polisi jalanan paham bahwa apa yang mereka lakukan itu tak disukai banyak orang. Tapi kalau dirunut-runut, nyatanya banyak pengguna jalanan banyak yang tak suka dengan polisi lalu-lintas; yang jelas-jelas keberadaannya legal di mata hukum. Oleh karena itu, meski polisi jalanan tak disukai, mereka tak menjadi baper dan tetap eksis membantu para pengemudi yang sungguh membutuhkan aba-aba demi bisa berjalan dengan lancar.

Ketiga, polisi lalu-lintas itu ditakuti karena bisa menilang. Beda dengan polisi jalanan yang tak bisa berlaku otoriter di jalanan. Oleh karena itu mohon dimaklumi bila polisi jalanan itu wajahnya sangar, tampangnya preman. Menampilkan rupa yang tak ramah itu salah satu cara supaya para pengemudi menghormati polisi jalanan.

Keempat, keamanan pribadi para polisi jalanan itu seperti telur diujung tanduk. Berdiri di tengah kemacetan, bisa jadi ada satu atau dua pengemudi kendaraan yang tak awas dan malah menabrak polisi jalanan. Sialnya para polisi jalanan tak memiliki BPJS Ketenagakerjaan. Tertabrak mobil dan masuk rumah sakit merupakan resiko yang melekat dalam diri polisi jalanan.

Kelima, dan ini yang terakhir, polisi jalanan tak selalu mendapatkan kontra-prestasi setara dengan usaha mereka. Selalu saja ada pengemudi ‘nakal’ yang tak mau memberikan receh – bahkan meski uang kecil ada di samping pintu mobil. Tapi polisi jalanan tak boleh baper bila upayanya tak dihargai. Polisi jalanan tetap move on dengan tugasnya yang mana membuat mobil-mobil dan motor-motor supaya tetap bisa bergerak maju; terlepas dari kondisi macet yang parah sekalipun.

Omong-omong tentang cita-cita anak kecil. Saat guru bertanya ‘adik-adik kalau sudah besar mau jadi apa?’, biasanya ada yang menjawab ‘saya mau jadi polisi, bu guru’. Sayangnya realita tak seindah impian. Dari sekian banyak anak-anak yang bercita-cita menjadi polisi, hanya sedikit yang sukses meraih impiannya. Tapi masih ada anak-anak yang tetap berupaya menjadi polisi – meski mereka tak diterima masuk di akademi polisi – yaitu dengan cara menjadi polisi jalanan. Secara swadaya polisi jalanan menjadi sosok yang ‘mengurus’ lalu-lintas dan berusaha sebaik-baiknya mengurai kemacetan.