Bersyukur

Malam Jumat kemarin kami kembali duduk bersama. Hadir di jam yang sama melalui Zoom. Kami terhubung dalam satu niat yang sama untuk memberikan jeda sesaat bagi jiwa raga. Kami juga mendapat kesempatan untuk mendapat satu dua nasihat kehidupan dari pamong kami. Semoga hal kecil yang kami nikmati ini bisa menjadi bekal untuk Nglakoni Urip (menjalani hidup) dengan lebih baik.

Bersyukur

Manusia perlu bersyukur. Sayangnya, kita juga sering lupa mensyukuri hidup ini. Bisa jadi karena menganggap hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang tak lagi istimewa. Orang yang sehat jasmaninya dan jarang sakit merasa bahwa kesehatan tubuh adalah hal yang wajar. Berbeda dengan para penyintas sakit berat yang merayakan hidup setelah mendapatkan kesembuhan. Oleh karena manusia sering lupa bersyukur, ada baiknya berlatih untuk bersyukur lebih sering. Bahkan ada orang-orang yang merasa hidupnya benar-benar terombang-ambing untuk waktu yang lama sehingga perlu melatih untuk bersyukur; karena sudah terbiasa untuk tidak bersyukur.

Kelekatan

Manusia terlahir di dunia tanpa memiliki apapun di awal hidupnya. Namun, seraya waktu, jumlah barang yang dimiliki makin banyak. Makin berumur, makin makmur, barangnya menumpuk dan menggunung. Apalagi jaman sekarang, mendapatkan barang makin mudah. Sebaliknya, melepaskan barang-barang menjadi hal yang lebih sulit. Ada kelekatan yang makin lekat. Makin berumur, makin makmur, barangnya tambah bernilai dan tambah banyak. Anehnya, ada keinginan untuk makin menambah banyak barang-barangnya.

Di kemudian hari, barang-barang yang jumlahnya makin banyak menciptakan masalah tersendiri. Barang-barang tersebut harus ditata, dirawat, atau disimpan. Ada titik di mana sebagian orang merasa overwhelwed dengan barang-barangnya sendiri. Saat mau mengurangi jumlah barang-barang tersebut, yang ada malah timbul rasa ragu. Disimpan bikin penuh, dibuang sayang.

Tentu seseorang bisa memberikan, menjual, menguangkan, atau membuang suatu barang. Hanya saja ada memori yang muncul dalam tiap barang tersebut. Hal ini menjadikan proses mengurangi jumlah barang menjadi terkendala. Tak benar-benar ikhlas. Pertanyaan yang penting ditanyakan adalah “apakah kita sudah jujur untuk sungguh-sungguh ingin melepaskan barang itu?”. Jika secara jujur kita masih ingin menyimpannya, ya, lebih baik tetap menyimpannya. Sebaliknya, jika sudah saatnya untuk melepaskan, lepaskan saja dengan ikhlas.

Kelekatan dengan hal-hal yang tangible (dapat dipegang dan dilihat dengan mata) bisa jadi lebih mudah ‘dilepaskan’ untuk diikhlaskan karena benar-benar tampak jelas. Bagaimana dengan hal-hal yang intangible (yang sifatnya abstrak) seperti ingatan masa lalu (memori indah, trauma, kebanggaan, luka batin, kemenangan, atau romansa)? Yang tak tampak jelas tapi bisa menghantui pikiran seseorang yang menyimpannya terlalu kuat.

Pengakuan dan Doa

Ada dua hal yang sangat kuat. Pengakuan dan Doa.

Pertama adalah Pengakuan. Pengakuan ini adalah saat di mana sesuatu yang berubah dalam diri kita saat ‘layar kita’ dibuka. Sebuah pengakuan akan mengubah diri kita sekaligus orang lain yang terkait dengan kita. Katakan saja, saat kita memiliki perselisihan dengan seseorang. Ada rasa marah, kecewa, dan tak suka. Namun, setelah melakukan sebuah pengakuan, perasaannya terbuka sehingga menjadi lebih cair dan hangat. Bisa jadi, pengakuan tersebut menjadi jalan untuk menuntaskan perselisihan tersebut. Seperti laiknya sebuah ‘pengakuan dosa’.

Kedua adalah Doa. Benar bahwa Tuhan adalah Maha Tahu. Lalu untuk apa kita masih perlu berdoa jika Tuhan tahu segalanya, termasuk pikiran kita?

Karena dalam doa, manusia membuat dirinya jelas di mana dia duduk, Menyadari kondisi dirinya. Dalam doa, seseorang menjadi kenal dirinya lebih mendalam. Hal lainnya, saat kita tersambung dengan Ilahi/Alam Semesta/Tuhan, ada aliran energi. Kita tak terkunci dalam mikro kosmo kita sendiri. Saat kita mengakui keberadaan-Nya, kita menerima energi besar saat berdoa.

Tentu ada catatan dalam berdoa. Hendaknya tak mengobral doa. Jika kita ingin Nyuwun (memohon) sesuatu, berpikirlah terlebih dahulu. Apakah benar ini adalah doa yang kita ingin mohonkan?

Jadi tidak bahagia terhadap diri sendiri jika sedikit-sedikit sambat (meratapi ) nasibnya. Jika terlalu sering sambat melalui doa, nanti malah jadi manja dan malas. Tak benar-benar mengusahakan dan mewujudkan apa yang hendak dicapai. Mengecek doa itu sederhana, yaitu “apakah doa itu benar-benar kita butuhkan, atau tidak?”

Ingin atau Butuh?

Ada beda antara ingin dan butuh. Contohnya saja, ingin makan dan butuh makan. Orang yang ingin makan, semisal mereka yang ingin kulineran. Beda dengan orang yang lapar, mereka butuh makan.

Begitu pula sebuah doa. Apakah doa karena suatu keinginan saja? Atau sebaliknya, berdoa karena sungguh butuh sesuatu dari Ilahi/Alam Semesta/Tuhan? Jika kita berdoa berdasarkan kebutuhan, itulah doa yang jujur. Bukan doa yang mengada-ada.

Barang Minimal, Hidup Maksimal?

Mungkin karena ‘gemes’ setelah mengalami overwhelwed dengan jumlah barang yang susah diatur, banyak orang yang ingin hidup minimalis. Percaya bahwa hidupnya akan menjadi lebih baik saat barang-barangnya lebih sedikit. Logikanya, barang yang perlu diurus menjadi lebih sedikit. Hidup lebih praktis. Masalah selesai?

Sayangnya tidak sesederhana itu. Bukan jumlah barangnya yang menjadi faktor utama. Namun, kelekatan (attachment) pada suatu barang tersebutlah yang penting. Kehilangan banyak barang yang tingkat kelekatannya rendah, biasanya tak bikin orang susah. Katakan saja, seseorang punya 30 kaos biasa. Kalau 5 kaosnya itu dicuri orang, mudah untuk mengikhlaskannya.

Berbanding terbalik dengan kehilangan barang yang sangat bernilai (dengan begitu terasa sangat lekat) hingga menangis berhari-hari karena sangat sedih. Misalnya, cincin kawin. Padahal kalau dipikir-pikir yang hilang adalah cincinnya (yang tentu mahal dan sangat berkesan); tapi paling tidak, bukan kehilangan pasangannya atau rumah tangganya.

Pertanyaan menarik. Kalau orangnya suka bersepeda, apakah wajar punya tiga atau lima sepeda? Ya, tidak apa-apa. Boleh saja punya banyak barang jika memang suka. Contohnya saja para kolektor barang tertentu. Tidak masalah dengan itu.

Benar bahwa sesuatu memiliki nilai. Itu hal yang wajar. Hanya saja seseorang tak perlu memberikan nilai yang berlebihan pada suatu hal yang dimilikinya. Contohnya saja seperti barang klangenan, entah itu berupa barang mati (benda) atau barang hidup (binatang peliharaan).

Mengubah Diri

Seseorang boleh saja mengubah dirinya. Namun, seseorang juga harus memiliki niatan untuk berubah. Harus muncul rasa ikhlas untuk berubah. Saat kita menerima diri kita (mengakui), kita akan mencapai titik di mana kita akan berubah.

Jika belum, ya tidak perlu dipaksakan. Belum terjadi. Belum saatnya. Semuanya itu ada waktunya sendiri-sendiri. Kita lebih bahagia ketika berubah saat momennya sudah tiba. Bagaimana tahunya? Ya, tentu dengan bertanya ke guru sejati di dalam diri kita sendiri.

Dengan menerima sebuah perubahan, kita menjadi lebih enak hidupnya. Kita juga tak perlu membuat diri kita menjadi orang lain, juga membuat orang lain berubah menjadi orang yang berbeda dari dirinya semula. Tak perlu dipaksakan.

Hal yang penting adalah niatkan saja untuk berubah. Niat akan timbul karena ada perubahan yang terjadi dalam diri kita; sehingga kita sendiri dan orang lain bisa turut merasakannya.

Salah Paham

Ada suatu kesalahpahaman (wkwkwk) tentang istilah ‘salah paham’. Sebenarnya kedua pihak sama pahamnya. Hanya saja tetap berselisih pendapat karena beda pendapat. Sekadar saling marah atau tersinggung. Ada tujuan atau motivasi yang kebetulan tak sejalan. Namun, salah paham biasanya tuntas dengan sendirinya jika dua pihak kembali berjumpa dan bertukar kata sehingga akhirnya bisa sepakat dengan paham masing-masing. Paham, kan, maksudnya?

Akhir Kata

Mari kita syukuri kehidupan ini. Bersyukur untuk segala perubahan yang pernah kita alami dan akan kita dapatkan di masa depan. Bersyukur untuk segala barang (baik yang penting maupun yang tak penting) yang pernah kita miliki dalam hidup ini. Bersyukur untuk segala kenangan (terlepas baik dan buruk) karena memberikan warna dalam hidup dan membentuk diri kita yang sekarang.

Rahayu

07.10.2021

September Ceria

Vina Panduwinata melantunkan lagu berjudul September Ceria. Penyanyi kawakan tersebut memang populer dengan lagunya tersebut. Saya masih bertanya mengapa ceria di bulan September. Apakah karena mulai bulan kesembilan tersebut mulai hujan sehingga lebih syahdu? Mungkin saja karena sebelum itu biasanya musim kemarau yang terik dan kering. Hujan membuat kehidupan bertumbuh, mirip dengan musim semi. Mungkin itulah alasannya bulan September menjadi ceria.

Entahlah. Intinya bagus. Bulan ini, yaitu bulan September, haruslah dikondisikan sebagai bulan yang bikin hati ceria. Digawe seneng atine. Dengan begitu hidup menjadi lebih hidup!

Mari, nyanyi karaoke bareng Tante Vina.

Life is Easy

Saya merasa bahwa akhir-akhir ini kehidupan cukup kompleks. Dibilang rumit, sepertinya tidak. Tapi juga tidak mudah. Saya yakin kehidupan di kota besar pastilah lebih bikin pusing kepala. Oleh karena itu saya bersyukur bahwa saya tinggal di kota berukuran sedang seperti kota Yogyakarta ini.

Sebuah video dari TEDx Talks memberi sebuah pelajaran penting bahwa “manusia itu sendiri yang membuat hidupnya sulit”. Jon Jandai, seorang petani dari Thailand, mengalami tranformasi kehidupan yang unik. Lahir di kota kecil yang sederhana hidupnya, pindah ke Bangkok yang bikin dia mempertanyakan kehidupannya, dan kemudian memilih untuk menghidupi jalan hidup yang sederhana dan bahagia di kota kecil. Hidup Jon kini terasa mudah. Petani ini menceritakan kehidupannya yang berubah dengan kesimpulan bahwa Life is Easy.

Tentu semuanya adalah pilihan masing-masing orang. Mau hidup seperti apa. Memilih yang rumit dan bikin pusing kepala? Atau memilih lainnya, yaitu sederhana dan bahagia.

Berikut videonya yang membuat saya berpikir tentang cara menjalani hidup saya saat ini.

Que Sera Sera

Lagu yang dinyanyikan oleh The Lennon Sisters ini sangat terkenal. Que Sera Sera adalah jawaban untuk segala rasa khawatir yang sedang dirasakan. Terutama untuk rasa galau menyangkut apa yang akan terjadi di masa depan. Lagu ini pas sekali dinyanyikan untuk masa sekarang di mana ada pandemi, ekonomi yang lesu, ketidakjelasan akan esok hari, dan berbagai rumitnya kehidupan masa kini.

Bagaimana nanti hidup saya? Apakah akan memburuk? Kondisinya mungkin tak akan menjadi lebih baik. Adanya hanya khawatir yang tak mungkin diketahui karena masa depan belum terjadi. Tentu antisipasi boleh-boleh saja. Hanya saja seorang insan manusia bisa hanya mematung tak bergerak karena ketakutan dengan apa yang ada di pikirannya.

Lalu, bagaimana masa depan? Sudahlah, kita menyanyi saja bersama-sama lagu Que Sera Sera ini! What will be, will be!

Iran dan Alkitab

Dalam alkitab ada banyak negara, wilayah, dan kota yang ditulis. Kebanyakan orang akan berpikir bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab suci berkisar di Timur Tengah; bukan di Asia Tengah. Tempat-tempat seperti Yesuralem, Mesir, hingga Turki menjadi tempat banyak peristiwa.

Hanya saja tak banyak yang membayangkan ada tempat-tempat di wilayah besar yang sekarang bernama Iran pernah disebut dalam alkitab. Sebuah video di YouTube menayangkan penjelasan bahwa ada Kisah yang Terlupakan terkait dengan Iran dalam Alkitab.

Jika penasaran, silakan langsung menontonnya di video di bawah ini. Sungguh menarik. Tak menyangka bahwa Iran secara nyata masuk dalam kisah-kisah di alkitab.

Iran dan Alkitab

Iran

Dulu saya pernah punya keinginan untuk pergi ke Iran. Ada dua sebabnya. Pertama karena novel grafis berjudul Persepolis yang dibuat oleh Marjane Satrapi. Kedua, pernah ada jalur penerbangan AirAsia X yang menjangkau Iran; yang mana sangat menggoda saat itu.

Namun, saya belum pernah pergi ke sana. Belum ada kesempatan dan waktu. Sumber daya terbatas. AirAsia X juga sudah tak ada sepertinya. Minat menjadi pudar. Saat ini hanya merasa bahwa Iran sepertinya suatu negara yang cantik dan hanya untuk dikagumi dari jauh saja.

Siang ini entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan Iran. Penasaran membuat saya mencari video-video yang terkait dengan negara yang menjadi tetangga sekaligus rival abadi Irak. Video-video tersebut membuat saya senang karena bisa “melihat” Iran dari layar monitor saya. Itu saja sudah cukup.

Perjalanan Kereta yang menghubungkan Teluk Persia dan Lau Kaspia melalui jalur darat yang membelah Iran
Street Food Iran di Pasar Kuno di Tabriz, Iran
Tangkapan video aerial Iran

Iran adalah negara yang indah, bukan?

The Line

Arab Saudi memang kaya karena memiliki cadangan minyak nomor dua di dunia. Uangnya berlimpah. Jumlah rakyatnya relatif sedikit. Oleh karena itu negeri besar nan luas di wilayah Timur Tengah ini memiliki kemampuan dan sumber daya untuk membangun suatu kota modern yang futuristik.

Muncullah proposal untuk membangun The Line – kota pintar di Neom, yang berada di provinsi Tabuk. Letaknya di bagian Utara Arab Saudi dan berbatasan di sebelah Utara dengan Mesir. Menurut penjelasannya di situsnya, penduduknya tak perlu memiliki mobil karena tidak ada jalanan dan karenanya tak ada emisi karbon dari kendaraan. Mengapa bisa begitu?

Laiknya namanya, The Line, akan dibangun memanjang secara linear. Seperti garisan. Melintang dari Barat ke Timur. Pada poros kotanya, terdapat transportasi yang hijau sebagai penghubung kota. Penduduknya hanya jalan kaki dari jalur transportasi umum ke kantor atau tempat tinggal. Pada porosnya akan dibangun infrastuktur terpadu dan fasilitas untuk kota.

Beda jauh dengan kota-kota yang tumbuh secara alami dengan bentuk lingkaran atau tumbuh melebar dari radiusnya. Bahkan banyak kota-kota yang mengalami pertumbuhan yang tak teratur sehingga membuat tata letaknya tidak efisien. Kota pintar di padang pasir Arabia ini sepertinya ingin menjadi jawaban sebagai kota yang efisien dengan memanjang secara linear.

Konsep kota yang linear bukan hal baru. Hanya saja masih dipertanyakan apakah konsepnya benar-benar bisa memberi manfaat maksimal bagi penduduknya. Arab Saudi punya uang banyak tentu tak masalah jika ingin membangun kota ini berdasarkan rancangannya. Konon kota ini adalah bagian dari proyek Saudi Vision 2030.

Apakah kota futuristik ini akan benar-benar mewujud nantinya tentu harus dilihat. Ada pandemi. Ada goncangan ekonomi. Ada situasi politik yang panas di Timur Tengah. Bisa jadi karena banyaknya faktor yang kurang baik tersebut, kota tersebut hanya menjadi kota angan-angan. Terlihat seperti oase tetapi ternyata setelah dekat ternyata hanya fatamorgana.

Entahlah. Uang bisa mewujudkan banyak hal, termasuk kota pintar di masa depan. Namun, sumber uang juga bisa lenyap. Siapa tahu minyak bumi tak lagi diminati karena banyak negara di dunia beralih ke energi terbarukan. Siapa tahu, kan?

Visi Hidup

Sore hari itu saya dan beberapa teman berkumpul untuk saling membagi cerita, pikiran, dan perasaan di suatu acara rutin komunitas. Topiknya berat. Pertanyaannya tak mudah dijawab, yaitu “apa visi hidupmu?”

Membicarakan keinginan dan rencana ke depan sepertinya jauh lebih mudah daripada mengatakan tentang visi hidup. Saya dengan jujur mengatakan bahwa untuk saat ini saya tak memiliki visi hidup.

Bisa saja saya ‘mengarang’ visi hidup supaya kelihatan bagus. Namun, itu bohong tentunya. Faktanya saya memang sedang tak memiliki visi hidup. Hanya berusaha menjalani kehidupan ini dengan wajar dan apa adanya.

Sedangkan teman-teman lainnya memiliki visi hidup. Visi mereka cukup memberi inspirasi kepada saya. Tentu visi hidup diri kita berbeda dengan orang lain.

Sesi berbagi sore itu masih menyisakan pertanyaan bagi saya. Tentunya mengenai visi hidup apa bagi saya sendiri. Saya masih belum bisa menjawabnya saat ini. Tak perlu khawatir. Visi hidup bisa muncul ketika saatnya telah tiba.

Bagaimana dengan Anda, visi hidupnya apa?

Quid Mihi Agendum

Dalam menjalani lika-liku kehidupan, insan manusia kadang menemui kegagalan atau kebuntuan. Hanya bisa duduk. Tak mengerti harus apa.

Ratusan tahun yang lalu, seorang Inigo memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Sebagai seorang tentara sekaligus bangsawan, Inigo telah memilih jalan hidup yang baru. Menjadi seorang relijius. Keinginannya kuat untuk melakukan perjalanan yang berbahaya, panjang, dan jauh ke Yerusalem. Inigo berharap untuk mengabdikan hidupnya di Tanah Terjanji tersebut.

Sayangnya karena berbagai faktor, Inigo tak mendapat izin untuk menetap di Yerusalem. Inigo harus pergi dari tempat yang telah diimpikannya sekian lama. Inigo termenung. Sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya.

quid mihi agendum

Pertanyaan dalam bahasa Latin itu berarti “apa yang harus keperbuat?”. Dia mengeluarkan pertanyaan itu sebagai alat refleksi untuk menuntun dirinya dalam menentukan apa tujuan hidupnya.

Dari catatan kisah hidupnya, Inigo menemukan jawabannya. Inigo – yang sekarang lebih dikenal sebagai Santo Ignasius – segera menuju Roma dan kemudian mendirikan Serikat Jesus. Membaktikan dirinya secara total untuk Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar. AMDG. Ad Maiorem Dei Gloriam.

Tentu setiap orang memiliki momen saat harus bertanya pada dirinya sendiri. Aku harus berbuat apa? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sehat karena wajar bagi manusia untuk pertama-tama menyapa dirinya sendiri.

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah pernah menanyakan pertanyaan tersebut pada diri Anda?

quid mihi agendum

Bioskop Tua, Impian, dan Cinta

Ah, tetiba mata berkaca-kaca. Padahal hanya menonton sekilas cuplikan film berjudul Cinema Paradiso.

Saya pernah menonton film tersebut bertahun-tahun yang lalu. Film Italia yang bikin terharu biru. Mewek. Cerita klasik yang benar-benar berkesan.

Film ini berkisah tentang anak laki-laki yang bertumbuh, menemukan teman sejati, terlibat asmara, hingga akhirnya pergi merantau jauh dari kampung halaman. Kecintaan si anak muda bernama Salvatore pada dunia sinema mengantarkannya menjadi seorang pembuat film yang sukses. Tentu ada saat di mana Salvatore muda jatuh cinta dengan Elena, gadis pujaan hatinya. Sayang karena suatu hal akhirnya mereka harus berpisah.

Setelah sekian lama merantau dan tak pernah pulang kampung, Salvatore kembali ke kota kecil itu. Untuk mengantarkan Alfredo, sahabatnya saat masih kecil, untuk pergi selama-lamanya dari dunia ini. Dan di titik inilah Salvatore mengingat kembali his old golden days yang telah menjadi masa lalu.

Akhirnya Salvatore menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya di masa lalu. Sempat bertemu dengan perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta. Hingga akhirnya Salvatore kembali menghargai artinya jatuh cinta sekembalinya dari kampung halamannya.

Film ini sejenis film klasik yang tak lekang oleh waktu. Abadi. Kisah romantika yang mengingatkan orang bahwa masa muda dengan segala lika-likunya adalah hal yang berharga.

Trailer Cinema Paradiso