Dementia

Apa jadinya kalau sudah tua kemudian mengalami Dementia?

Orang tua yang menderita Dementia tentu akan sering mengalami bingung mendadak, ingatan yang kabur dan tak sadar dengan keadaan sekitar. Ada perasaan tak berdaya dan tak berguna. 

Sedangkan keluarga yang tinggal bersamanya tentu akan kerepotan. Yang kemudian mengarah ke arah frustasi dan pesimis. 

Namun sebuah perusahaan Sushi membuat sebuah iklan yang menyentuh. Bahwa yang terbaik untuk keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami Dementia adalah dengan tinggal bersama menghadapi tantangan dan kesulitan bersama-sama. 

Iklannya dalam Bahasa Jepang. Tapi tak mengerti benar artinya karena bahasa visualnya cukup jelas untuk menyampaikan pesannya.

The Carpenters

Sungguh lagu-lagu dari The Carpenters enak untuk dinikmati. Lagu-lagu abadi apik yang tak lekang oleh waktu. Memang golden songs. Liriknya dalam bermakna dengan irama musik yang mengalun pelan dan sederhana. Apalagi kalau didengarkan di sepinya malam. The Carpenters memang pantas menjadi legenda musik.

Untuk Kehidupan Abadi

Tak semua orang ingin hidup abadi. Uniknya ada saja segelintir orang yang benar-benar ingin bisa hidup lebih lama dari yang seharusnya. Syukur-syukur kalau bisa hidup abadi. 

Kalau saja ada cara untuk hidup abadi yang sudah ditemukan, pasti ada saja yang ingin menggunakan cara tersebut untuk memperpanjang usianya. 

Bagaimana kalau salah satu cara untuk hidup lebih lama adalah dengan memindahkan kesadaran dan nyawa pada tubuh orang lain yang masih muda dan segar? Begitu proses pemindahan sudah selesai, orang yang harusnya tak lagi berumur panjang justru malah bangun di tubuh baru yang berada dalam kondisi sehat. Lalu bagaimana dengan nyawa dan kesadaran orang yang tubuhnya dipakai?

Film Self/less ingin menjawab rasa penasaran tersebut. Dua aktor ternama menjadi bintangnya yaitu Ryan Reynolds dan Ben Kingsley. Semoga bisa segera tayang karena banyak penggemar film-film sci-fi yang bakal menantikan film seperti ini. 

Bermacam Asi – Arisan Tante

Memang sudah lama arisan tante tak terselenggara. Maklum, rupanya masing-masing sibuk mengurusi para suami mereka. Nah, kali ini mereka terdengar sedang membicarakan akhiran ‘-asi’ sesuai konteks hubungan dengan hubby mereka.

Tante 1 memulai percakapan sembari tetap membuka-buka majalah Intisari. “Suamiku itu bener-bener inspirasi bagiku. Segala hal dia tahu. Jadinya ya akunya jadi sibuk baca-baca buku pengetahuan biar bisa ngimbangi, gitu. Jadinya ya ga bisa arisan sering-sering.

Tante 2 menyeletuk, “Ah, mending banget itu. Secara hubby-ku itu bikin aku dehidrasi. Bikin aku harus ngomel-ngomel terus. Secara dia sering membuat rumah berantakan melulu.

Tante 3 yang sedikit terkekeh mendengar celetukan Tante 2 menimpali sambil agak berbunga-bunga. “Kebalikannya sama I karena my husband malah jadi respirasi untukku. Selalu ga ada bosan-bosannya memberi ‘nafas bantuan’. Itu lho, french kiss.”

Tante 4 rupanya tak mau kalah dari Tante 3, mulai membilang, “Laki gue sih sering-sering membuat aku perspirasi. Itu tuh, keringetan.”

Tante-tante yang lain pun memandang penasaran, “Maksud loe?” Dengan muka agak memerah, Tante 4 berseloroh, “Itu lho jeng, laki gue sering banget ngajakin gue ‘olahraga malam-malam di ranjang’. Gimana ga perspirasi tiap malam…”

Sontak para tante tertawa bersama-sama. Sambil berkomentar, “Halah, jeng. Bisa saja. Dari dulu kok ya tetep saru, lho.”

Arisan tante memang dari dulu seperti itu. Saru, lucu dan kadang lugu. Tentu tak pernah serius, bawaannya selalu bercanda. Namanya juga arisan tante. Apa boleh buat?

Boys to Men – Arisan Tante

Sebagian besar Kaum Hawa yang sudah menikah mengatakan bahwa ‘lelaki berapa pun umurnya bahkan yang sudah punya anak, tetap saja seperti anak-anak’. Selalu ada keinginan yang besar untuk dimomong. Mungkin sejenis memori kanak-kanak saat dimanjakan oleh ibu kandung mereka yang masih tertanam di benak Kaum Adam itu. Benarkah? Coba kita dengarkan percakapan mereka di penghujung bulan Juni.

Tante 1 memulai percakapan dengan pernyataan yang sering diucapkan para istri, “Suami-suami kita itu sebelum dan sesudah nikah, tetep aja sama. Seperti bocah.”

Tante 2 pun menimpali, “Laki gue, ga tahu kenapa, seneng banget kalo aku mandiin. Mungkin kayak dulu jaman dia di bangku SD kali dan dimandiin mamanya. Tapi gimana lagi, maunya gitu.”

Tante 3 tak mau kalah dan menyeletuk, “Ga beda banget, jeng. Hubby saya itu kalau pulang kantor, inginnya kepalanya berbaring di pangkuanku sambil memohon dibelai-belai rambut, wajah dan tengkuknya. Mungkin dulu ingat waktu jaman TK. Manjanya itu lho, jeng, ga ketulungan. Meski gitu, saya sayang sama dia.”

Tante 4, yang sedari tadi hanya terdiam dan senyum-senyum kecil, angkat bicara, “Ga separah bapaknya anak-anak saya. Dia itu kalau lagi kumat sama seperti anak balita.”

Para tante lainnya penasaran dan bertanya, “Lha gimana tho, jeng?”

Tante 4, wajahnya sedikit merona, berkata lirih malu-malu, “Itu lho, kalau malam, maunya minta nenen (baca: menetek atau ‘minum susu’) melulu.”

Sontak para tante tertawa terbahak-bahak. Mereka semua mengamini bahwa laki-laki, tak peduli umur dan jumlah anak dan cucu, toh, masih saja bocah laki-laki. tak banyak yang mengalami transformasi ‘boys to men‘. Badan dan ‘anunya’ saja yang tambah besar, tak selalu sebanding dengan kedewasaan.

Bagaimana dengan Anda, para Kaum Hawa yang sudah married, benarkah para suami tak ubahnya seperti anak-anak?

Bersilat Lidah – Arisan Tante

Rasanya arisan tante sudah lama tak terdengar. Tapi hari ini rupanya mereka mempersoalkan bersilat lidah. Coba dengar obrolan renyah para tante.

Tante 1 mengeluhkan tentang bumbu pernikahannya. “Masak tiap weekend suami aku tuh bersilat lidah tentang anak-anak, rumah, pekerjaan kantor, hobi dan seterusnya. Untung dianya pulang seminggu sekali. Coba kalo ngga, akunya yang stres.”

Tante 2 pun senada seirama dengan Tante 1. “Lu masih beruntung, jeng. Lha gue yang tiap hari ketemu, tiap hari juga bersilat lidah. Hal sekecil apa pun bisa jadi topik untuk debat kusir. Sebel, ngga tuh.”

Tante 3 berusaha menenangkan mereka berdua. “Ya, sudah jeng. Yang sabar. Suami-suami itu emang biasa seperti itu. Egois. Kurang mengerti perasaan istri. Tapi ya mau apa lagi. Sudah terlanjur menikah.”

Tante 4 menyela. “Kok, saya yang tiap saat bersilat lidah sama laki saya malah ga pernah ribut, jeng. Malah tambah mesra, lho. Malahan sering kali jadi keterusan gituan, jeng.”

Para tante lainnya memandang Tante 4 dengan pandangan heran. Tante 3 pun bertanya “Kok, bisa?”

Tante 4 merona wajahnya sambil berkata lirih “Itu lho jeng, bersilat lidah yang maksudnya French Fries.”

Tante 1 dan Tante 2 pun cepat-cepat membenarkan meski sembari dongkol “Maksudnya French Kiss, kan?”

Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak. Ya, bersilat lidah memang tergantung konteksnya. Ada yang membuat hari-hari menjadi bete (bad mood) atau pun bete (birahi tinggi). Yah, begitulah kehidupan. Kalau Anda lebih suka yang mana, bersilat lidah atau “bersilat lidah”?

Seksi Menurut Para Suami – Arisan Tante

Kembali di bulan November ini para tante mengadakan arisan. Seperti biasa, hadiah arisan dan sajian makanan tak sepenting yang dibicarakan, dipersoalkan dan ‘didiskusikan’ tanpa akal sehat. Kali ini menyoal seksi menurut suami dari masing-masing tante tersebut.

Tante 1 memulai memaparkan, “Suamiku bilang aku seksi kalau sedang pakai gaun pesta dengan kerah V bagian depan dan rok panjang dengan belahan tinggi warna hitam saat menghadiri resepsi.” Mungkin suaminya tipe yang suka pamer.

Tante 2 menyahut, “Kalau laki aku senang kalau aku sedang berolahraga dengan baju aerobik yang minim dan ketat itu. Katanya, aku kelihatan seksi dan sporty.” Nah, kalau ini tipe suami yang gemar sport.

Tante 3 tak mau kalah dengan tante yang lain dengan cepat-cepat menyela, “My Hubby bilang aku seksi kalau sedang berenang dengan bikini renang pas di kolam renang pribadi.” Apakah ini berarti suaminya seorang pengagum istri yang eksibisionis?

Tante 4 yang sering malu-malu pun akhirnya juga berucap, “Hehe, gimana ya… Suamiku sering memujiku seksi kalau aku baru saja mandi, rambut masih basah dan hanya pakai handuk.” Bisa jadi suaminya memang suka berfantasi yang iya-iya.

Tante 5 malah menjawab polos tanpa malu-malu lagi, “Laki gua sih bilang seksi itu ya pas gua ga pakai apa-apa. Kalau dia bilang itu, ya langsung saja kami copot-copot dan terus gituan deh.” Ini nih rupanya suami yang to-the-point dan straightforwardperson.

Mendengar kata-kata Tante 5 yang apa adanya tersebut, kontan mereka terbahak-bahak. Malu dengarnya tapi mau yang seperti itu juga. Ah, ternyata seksi itu ujung-ujungnya kepuasan ego dan syahwat para suami mereka. Lalu, bagaimana pula dengan Anda, seksi itu seperti apa?

Bosan Bekerja?

Apapun pekerjaan dan bagaimana pun pekerjaan kita, tentu pernah ada bosan melanda. Gairah bekerja menurun yang tentu menurunkan produktivitas kerja. Bahkan rekan-rekan sekantor berucap, “Kok, loyo.” Dan berangkat ke tempat bekerja menjadi sebuah aktivitas yang amat berat dilakukan.

Bosan itu biasa. Bahkan kebosanan juga ditemukan di pekerjaan-pekerjaan yang menarik dan selalu berubah kondisinya. Semisal: wartawan yang meliput aneka kejadian, koki yang memasak macam-macam sajian, penulis yang selalu menjelajahi alam kreativitas dan juga bintang film dengan skrip dan alur cerita berbeda-beda.

Bila bosan, coba silakan amati para sopir bis. Rutenya selalu sama. Pernah saat saya naik busway di ibu kota, saya berpikir ‘apakah pak sopir tidak bosan setelah beberapa lama melewati rute yang sama’. Beda dengan sopir taksi.

Bahkan, saya hanya bisa geleng-geleng kepala saat main ke Monas di Jakarta. Ada petugas lift yang kerjanya hanya menekan 3 tombol. Setiap hari naik ke atas dan ke bawah. Rupanya sudah sejak kecil beliau melewati hari demi hari di dalam lift selebar 2×2 meter yang naik turun tak tinggi-tinggi amat dan beresiko macet di tengah perjalanan.

Jadi, bosan itu biasa. Anda masih bisa bersyukur bahwa profesi Anda mungkin lebih variatif dari dua pekerjaan di atas. Bila bosan, coba temukan 1001 cara agar tak bosan dan selalu semangat. Istirahat sejenak dan berlibur untuk jeda juga solusi yang bijak. Dengan begitu, bos Anda tak mendapati bahwa Anda zombie low-batt di kuburan bernama cubicle.

Hadiah untuk Mama – Arisan Tante

Minimnya restoran atau kafe yang buka siang hari kala bulan puasa memang menjadi kendala tersendiri bagi para tante untuk ‘menyelenggarakan’ arisan. Kesibukan juga membuat mereka amat jarang bertemu. Namun, kali ini mereka akhirnya bisa juga berkumpul. Kali ini mereka terlibat pembicaraan kurang serius menyoal ‘hadiah untuk mama’.

Ada yang berteori bahwa ‘hadiah untuk mama’ itu sebenarnya tidak murni untuk istri. Tapi hanya akal-akalan suami yang egois. Pihak yang paling diuntungkan bukan yang diberi. Tapi yang memberi. Coba kita dengar sama-sama.

Tante 1 bertanya kepada para tante lainnya, “Memang kemarin pas ultah perkawinan ke-dua, kamu dapat apa?”

Tante 2 menjawab dengan senang hati, “Suami saya itu baik banget. Kemarin saya diberi kompor gas paling baru.” Wajahnya berbinar bangga.

Tante 3 tak mau kalah dengan berseloroh, “Kalau laki gue sih, dia barusan beliin mesin cuci yang ada di iklan TV.”

Tante 4 ikut-ikutan panas, “Masih mendingan aku dong. Nih satu set alat kosmetik merek terkenal versi terbaru,” sambil memamerkan hadiahnya.

Tante 1 menggeleng-gelengkan kepala sambil berkesimpulan, “Kalian ini sebenarnya diperalat tuh sama suami kalian. Kompor gas, kan biar lu sering-sering masak. Lalu, mesin cuci itu untuk apalagi kalau bukan secara halus menjadikan bini stupid kayak lu betah jadi pembantu. Nah, kalau lipstik dan macam-macamnya itu jelas-jelas karena suami lu ingin sering-sering memajang lu di depan teman-temannya.”

Tante 2, 3 dan 4 kali ini malu campur jengkel. Rupanya Tante 1 sudah membuat mereka tersinggung. Tak biasanya arisan menjadi keruh semacam ini.

Tiba-tiba Tante 4 yang bete dikira semata manekin suami ganti bertanya kepada Tante 1. “Memang laki kamu memberi apa sebagai hadiah ultah kawinanmu?”

Tante 1 sambil malu-malu menjawab, “Lingerie seksi dan celana dalam G-string

Tante 2 pun spontan menyahut hendak membalas dendam sambil setengah terkekeh, “Itu tandanya suamimu mau kamu sering-sering…” Langsung perkataannya disusul oleh Tante 3, “… menservis dia tiap malam! Dasar laki-laki.”

Seketika pecahlah ketegangan pembicaraan mereka oleh suara tawa mereka yang membahana sambil ditingkahi Tante 1 yang wajahnya merona merah. Rupanya dia malu. Langsung di-skak mati oleh tante-tante lainnya.

‘Hadiah untuk mama’ memang sebenarnya diperuntukkan untuk papa. Laki-laki memang selalu ada maunye… Termasuk saya. Sayangnya, saya belum punya istri untuk diberi ‘hadiah untuk mama’.