Menua Bersama

Saya lebih suka bila ada orang mengatakan “menua bersama” daripada “mencintaimu selama-lamanya”. Menua bersama artinya menjalani langkah kehidupan dalam waktu yang relatif panjang. Tekanannya pada rasa setia. Masuk akal. Beda dengan “mencintaimu selama-lamanya” yang terkesan berlebihan.

Mencintai selama-lamanya itu berat. Mungkin karena cinta itu bisa memudar kadarnya. Bisa naik turun di setiap tikungan waktu. Namun bila dua orang berjanji akan bersama hingga saat senja, ada komitmen di sana. Bahkan ketika cinta sudah menguap karena ada begitu banyak peristiwa dalam kehidupan, betapa romantisnya saat dua orang tetap bersama karena ingin saling menemani.

Bersama saat ada rasa cinta itu mudah. Tetap bersama tanpa adanya asmara jelas menantang. Komitmen. Coba lihat sepasang kakek nenek. Mungkin sudah tak lagi berbunga-bunga seperti dulu waktu masih muda; satunya gagah dan satunya lagi cantik. Namun kebersamaan mereka hingga jelang tutup tahun merupakan bentuk komitmen yang kuat.

Sebuah lagu dari Westlife menggambarkan keinginan untuk menua bersama. Kebetulan ada satu video yang menggunakan kisah Carl & Ellie dari film Up, film buatan Pixar dan salah satu film favorit saya. Judul lagunya adalah I Wanna Grow Old With You. Berikut ini sepenggal liriknya.

I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you
Sharing in everything you do
I wanna grow old with you

Ngomong-ngomong tentang film Up, saya awalnya tidak menyangka film ini bisa membuat saya tersentuh. Namun saat memasuki sepenggal adegan married life Carl & Ellie, saya mewek. Air mata mengalir dari lubuk hati yang paling dalam. Membatin dalam hati, ya ampun, romantis sekaligus bikin nangis. Sederhana sekaligus sangat bermakna. Menua bersama itu tak mudah. Namun Carl & Ellie bisa tetap bersama dalam suka & duka. Ah, pokoknya saya tersentuh menonton film itu terutama bagian married life seperti di video di bawah ini.

Film ini sangat recommended ditonton oleh sepasang muda-mudi yang sedang merenda asmara, sepasang suami-istri yang mungkin mulai lupa rasa cinta setelah lama menikah, dan pasangan kakek-nenek yang sudah mulai alpa arti mencinta.

Menua bersama itu komitmen. Bentuk setia. Yang hanya bisa dibuktikan oleh waktu.

Microletta

Bukan. Ini bukan mikrolet, kendaraan angkot di Jekardah yang bikin sport jantung dan membuat orang makin beriman (baca: rajin berdoa supaya selamat sampai tujuan).

Microletta adalah kendaraan beroda tiga. Dua roda di depan dan satu roda di belakang. Mirip becak. Tapi kendaraan asli besutan Swiss ini memiliki motor bertenaga listrik. Modern. Sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang yang mana terdapat peta jalanan supaya penggunanya tak tersesat. Baterainya juga bisa diganti dengan mudah. Ramah lingkungan.

Jelas ini bukan konsumsi sepeda motor di Indonesia. Microletta bisa dilibas dengan mudah oleh motor berukuran besar seperti Yamaha NMAX dan bermesin sangar seperti Honda Vario. Microletta cocok untuk di Eropa yang memang aturan rendah polusinya ketat dan jalanan di area urbannya lebih beradab. Bahkan Microletta masih kalah dibandingkan Yamaha Mio dan Honda Beat; yang sanggup untuk dibawa jauh dan ramah terhadap target pemakainya yaitu emak-emak dan mbak-mbak yang ga mau ribet parkir dan mudah penggunaannya.

Dari namanya menggambarkan ukurannya. Microletta. Motor yang mini. Bentuknya memang unik. Lucu.

Mobil Paling Mini di Dunia

Umumnya orang suka mobil yang ukurannya besar. Makin besar, makin gagah. Tapi dulu pernah ada zaman di mana mobil berukuran mini digemari. Mobil Peel P50 dianggap mobil paling imut yang pernah ada di dunia. Apakah mobil ini masih diproduksi hingga saat ini? Ya, mobil buatan tangan ini masih dijual oleh pabrikannya. Mirip-mirip mobilnya Mr. Bean yang juga berukuran kecil. Tapi Peel P50 lebih kecil lagi. Ada-ada saja.