Menyoal Besaran Gaji

Pandangan orang memang selalu berbeda-beda mengenai gaji. Apakah gajinya cukup besar?

Tentu tergantung dari sisi mana orang memandang gaji tersebut. Apakah sebagai orang yang menerima gaji? Apakah sebaliknya menjadi orang yang membayarkan gaji ke karyawannya?

Orang yang digaji bisa jadi merasa selalu tidak cukup dan kurang banyak. Sedangkan di sisi lainnya, orang yang memberi gaji merasa gajinya yang dibayarkan sudah terlalu besar.

Jarang memang orang yang mendapat gaji dan merasa puas dengan besaran gaji. Pun orang yang memberi gaji kebanyakan berpikir bahwa gaji adalah elemen pengeluaran yang porsinya sudah besar; bahkan terlalu besar.

Bila orang ingin gajinya benar-benar cukup, baiknya berpindah menjadi pengusaha yang bisa menggaji orang lain. Sebaliknya pengusaha yang memberikan gaji bisa sesekali berpindah posisi menjadi orang yang digaji; dengan begitu bisa mengerti apakah gaji dengan besaran tertentu sudah benar-benar cukup.

Pernah berbincang dengan teman tentang gaji. Saat lembur yang tidak dibayar maka dianggap sebagai serviam; sebagai sesuatu yang dilakukan karena pelayanan terhadap sesama. Tentu itu susah diperdebatkan karena berurusan dengan pahala dan surga. Meski tepatnya adalah karena terpaksa.

Gaji selalu menjadi obrolan yang sensitif dan panas. Sedikit, tak cukup. Banyak, tetap tak cukup. Duh!

Mungkin koentjinya adalah kata Cukup.

Menghidupi Hidup

Lagu berjudul Hated by Life Itself, lagu Kanzaki Iori, yang dilantunkan kembali oleh KOBASOLO dan Aizawa, membuat pendengarnya menjadi berpikir tentang arti kehidupan. Ini lagu yang membuat orang mempertanyakan tentang hidupnya. Ada banyak persepsi yang bisa terbentuk dari liriknya.

Ada salah satu pemirsanya yang menuliskan sebuah kutipan (yang tak begitu jelas sumbernya namun yang penting isinya) seperti berikut.

“To be born with no purpose is to be born without meaning in life. There’s simply no reason to why you were born, it’s just simple as that. No purpose. No reason. No excuse. that’s why your purpose is to find meaning in a life that has no meaning. I think that’s what makes life unknowingly so beautiful and meaningful.”

Ephode

Namun ada yang menarik dari obrolan para pemirsanya. Katanya versi cover dari penyanyi lain bernama Mafumafu memberikan nuansa lain dari lagu yang sama. Lebih pedih, lebih keras, lebih agresif, dan malah lebih lepas dalam melepas ekspresinya.

Konon banyak orang yang merasa sudah “ingin meninggalkan dunia ini” karena tertekan menjadi berpikir ulang dengan tindakannya yang kurang bijak. Namun tak dipungkiri tak sedikit orang yang “hidup segan, mati tak berani”. Mungkin karena lingkungan sekitarnya, tekanan hidup jaman sekarang, atau memang jalan hidupnya benar-benar berliku.

Bagi saya, saya suka dengan cover KOBASOLO karena ada nada sedih namun memberi semangat dan rasa optimis. Membangkitkan jiwa yang sudah terlalu lelah dengan hidup ini.

Sebuah kata bijak kembali terngiang yaitu “mari menghidupi hidup” supaya “hidup menjadi lebih hidup”. Tak sekadar menjadi makhluk hidup yang asal hidup dan hidup asal-asalan. Hidup hanya sekali. Hidup harus diperjuangkan.

Saya sudah memutar lagu ini berulang-ulang. Merasuki pikiran dan perasaan saya. Membuat saya kembali mempertanyakan beberapa hal tentang hidup ini.

Ini adalah salah satu bagian lagu yang menyentak jiwa.

Ikite, Ikite, Ikite, Ikiro, Ikiro…

Living, Living, Living, Living, Just Live...

Takjil, Bukber, dan Pandemi

Bulan Puasa sudah datang. Ratusan juta orang mulai berpuasa. Aktivitas sehari-hari bergeser. Lebih pagi atau lebih sore. Menghindari panasnya siang yang membuat dahaga.

Rutinitas menjadi lebih teratur. Juga menjadi berkurang. Ini sesuatu yang seharusnya diapresiasi karena dengan berkurangnya aktivitas bisa jadi membantu proses jaga jarak. Orang lebih sadar akan kesehatan diri; terutama menyoal makan dan membersihkan diri. Selain itu tentu banyak orang menjaga kebersihan hati dan omongan.

Sayangnya masih banyak orang yang malah begitu antusias dengan membeli takjil, bahkan di pasar takjil yang mendadak muncul. Ada orang yang berjualan takjil. Ada yang membeli takjil. Ada yang hanya ikut-ikutan memeriahkan acara berburu takjil. Seru.

Namun jual beli takjil berarti ada interaksi antar manusia. Seberapa baiknya prokes, tetap saja ada yang tidak tertib. Pasti ada yang menikmati takjil selepas bedug berbunyi di tempat. Membuka masker untuk makan dan minum di tempat yang banyak orangnya. Ini bisa menyebabkan orang-orang tersebut rentan terhadap penyebaran pandemi.

Padahal bisa jadi karena proses puasa, banyak orang yang imun tubuhnya melemah. Penyebaran virus korona bisa merebak.

Di satu sisi, budaya jual beli takjil selama bulan puasa membantu menggerakkan ekonomi di masyarakat. Namun ancaman pandemi juga terus menghantui.

Setali tiga uang, di bulan puasa ada bukber – buka bersama. Ini sama serunya dengan berburu takjil. Banyak orang menggunakan bukber sebagai kesempatan silaturahmi antar keluarga, mitra bisnis, reuni sekolah, dan kolega di suatu organisasi.

Tidak ada salahnya mengadakan dan mengikuti suatu bukber. Hanya saja orang lupa bahwa bukber itu acara makan-makan. Saat makan, mau tak mau, orang harus membuka masker untuk sementara. Belum lagi kalau orang ingin foto-foto; baik dengan masker atau lepas masker sebentar saja.

Bisa jadi bukber menjadi kluster penularan yang baru. Coba bayangkan bila setelah mengikuti suatu bukber, lalu ada yang memberitahu kalau terinfeksi virus korona, maka orang-orang yang mengikuti bukber itu, suka atau tidak, harus tes apakah mereka terinfeksi virus tersebut atau tidak.

Memang bukber bisa menggairahkan roda ekonomi; terutama industri kuliner. Restoran, kafe, dan rumah makan yang sepi karena kurang pengunjung bisa meraup keuntungan dari reservasi bukber yang jumlah orangnya banyak.

Takjil dan bukber adalah aktivitas yang menyenangkan. Saya sendiri kangen dengan dua hal tersebut tiap kali bulan puasa tiba.

Namun saya prihatin bahwa banyak orang kurang bijak dalam menghadapi penyebaran virus korona. Demi cuan, menjual takjil, menawarkan bukber, tanpa memperhatikan bahwa orang bisa saja terkena virus korona.

Bukankah lebih baik bila masing-masing orang lebih mengutamakan aktivitas berpuasa dan beramal yang sifatnya pribadi; ketimbang ikut-ikutan aktivitas takjil dan bukber yang sifatnya ‘mengutamakan kenikmatan lidah dan kenyangnya perut’.

Puasa harus kembali ke fungsi utamanya. Dalam hal makan, tentulah orang sebaiknya menjaga nafsu makannya. Takjil dan bukber bisa jadi menjadi godaan yang sangat sulit ditolak.

Untuk Anda yang menjalankan ibadah puasa, semoga bisa melaksanakannya dengan baik hingga hari yang Fitrah di penghujung Idul Fitri.

Selamat menjalan ibadah puasa.

Curhat itu Bikin Sehat

Dalam hidup ini, setiap insan manusia tentu akan menghadapi pergumulan dalam hidupnya. Banyak orang memendam masalahnya dan tak sadar bahwa apa yang disimpan dalam benak dan perasaan bisa menjadi kanker yang menggerogoti jiwa.

Salah satu cara untuk mengurangi beban di pikiran dan menenangkan perasaan adalah dengan curhat. Curahat hati. Bercerita apa yang terjadi dan apa yang dirasakan adalah merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi, setahap demi setahap.

Bila apa yang sudah mengganjal lama terekspresikan, bisa jadi, seseorang akan merasakan kelegaan yang luar biasa. Rahasia terungkap. Amarah menguap. Kekecewaan berkurang. Ketakutan memudar. Lega. Legowo. Tak melupakan. Namun justru mendapat persepsi yang lebih baik tentang suatu kejadian yang luar biasa efeknya.

Saya teringat tentang film berjudul In the Heart of the Sea. Sang mantan pelaut yang sudah tua itu akhirnya mendapatkan ketenangan setelah menceritakan sebuah rahasia yang telah dia simpan selama 30 tahun. Istrinya pun tak pernah tahu apa yang terjadi dengan suaminya yang pernah bekerja sebagai anak buah kapal di sebuah kapal layar pemburu Paus.

Awalnya tak mudah bagi sang mantan pelaut untuk mengungkap kejadian yang tragis itu. Namun setiap kali dia menyelesaikan satu demi satu peristiwa yang telah terjadi, ada beban yang hilang. Langkah hidupnya menjadi lebih ringan. Tak lagi harus membawa rahasia yang dianggap “tak waras” itu di bahunya.

Oleh karena itu bila ada orang yang dekat dan percaya dengan Anda ingin curhat, berilah kesempatan itu padanya. Beban hidupnya akan berkurang. Sebaliknya bila kita memang sedang menghadapi masalah yang krusial, curhat menjadi salah satu cara untuk melepaskan beban hidup yang ada.

Akhir kata, curhat itu bisa bikin sehat.

Racun Bernama Affogato

Anda suka minum kopi? Apakah Anda suka makan es krim? Apabila harus memilih, Anda lebih suka minum kopi atau makan es krim?

Mungkin ada yang ingin dua-duanya. Tak perlu memesan keduanya. Cukup pesan saja Affogato. Namun ingat bahwa Affogato ini racun yang bisa membuat ketagihan.

Affogato menurut sebuah artikel dari Sasame Coffee adalah “… sajian es krim dalam cangkir atau mangkuk kecil yang disiram dengan espresso.” Itulah yang membuatnya menjadi sebuah sajian yang nikmat.

Ingat bahwa intinya adalah es krim ditaruh di cangkir terlebih dahulu. Baru kemudian kopi dituang di atasnya. Bukan sebaliknya; yaitu kopi dalam cangkir lalu ditambahi es krim.

Ada perdebatan tentang Affogato. Menurut artikel di Wikipedia tentang Affogato, ada restoran dan kafe yang memasukkan Affogate dalam kategori pencuci mulut; yang dinikmati setelah makanan utama. Namun begitu ada juga yang menganggap Affogato sebagai suatu jenis minuman. Apapun itu, tak mengubah fakta, Affogato adalah sajian yang ingin memberikan sensasi yang dobel nikmatnya.

Sebutan Affogato sendiri memang berasal dari Bahasa Italia. Namun nama Perancisnya lebih cantik, “gelato al fior di latte” yang kalau diterjemahkan dalam Bahasa Inggris lebih kurang menjadi “flower of milk“.

Pertanyaan berikutnya muncul mengenai Affogato. Cara menikmatinya bagaimana? Apakah harus menyeruput kopinya dulu lalu menyendok es krimnya? Bagaimana bila sebaliknya, makan es krimnya dan baru setelah itu meminum kopinya? Jawabannya adalah terserah. Sesuai selera masing-masing.

Saya sendiri belum pernah menikmati Affogato. Oleh karena itu, saya masih penasaran. Untuk Anda yang masih penasaran, seperti apa Affogato itu, silakan lihat video YouTube di bawah ini.

Momen Pertama Mencicip Espreso

Saya masih ingat dengan jelas momen pertama saya mencoba minum Espreso pertama kalinya, yaitu di suatu saat sebelum atau sesudah perayaan Halloween pada tahun 2007. Memangnya ada apa hingga ingat sesuatu yang tidak monumental seperti itu?

Seumur-umur sebelum momen itu terjadi, saya tidak tahu variasi kopi. Hanya mengenal kopi bubuk kemasan; baik yang instan maupun yang biasa saja. Cara penyeduhannya hanya tahu kopi tubruk. Sesederhana itu. Lugu. Dalam benak saya, pesan kopi tentu akan mendapat kopi panas satu gelas.

Sayangnya dunia ini menyuguhkan berbagai macam kopi dengan segala cara pembuatannya. Dunia kopi menawarkan sesuatu yang nikmat dalam berbagai bentuknya.

Pada suatu sore yang indah namun udaranya dingin menusuk tulang, saya memutuskan untuk menghangatkan tubuh dengan minum sesuatu yang panas di tempat yang hangat.

Di dekat dermaga, setelah menaiki kapan katamaran, saya melihat ada kafe atau restoran yang menarik. Pasti hangat. Harganya mungkin tidak murah tapi semoga tak mahal-mahal amat. Saya masuk dan duduk. Mahal. Begitu saya membatin.

Minuman paling murah di buku menunya adalah Espreso. Aha! Tanpa mengetahui apa itu Espreso, sambil setengah berharap itu sesuatu yang mungkin enak, langsung saya memesannya. Tanpa ditemani cemilan. Mencoba hemat. Saya butuh minuman panas saja.

Tak berapa lama, Espreso datang. Saya melongo. Kok kopinya hanya sedikit. Tidak sampai setengah cangkir kecil. Ini apa memangnya. Serius cuma segini doang?

Terlanjur beli. Apa boleh buat? Saya meminumnya. Enak. Namun saya ingn sesuatu yang panas dan banyak. Kemepyar. Untuk melawan rasa dingin.

Setelah kopi habis, saya segera membayar dan keluar dari tempat itu. Berjalan-jalan mencari minuman panas yang akhirnya saya dapatkan di penjual di pinggir jalan. Teh panas sepertinya di gelas yang besar. Pas. Sesuai dengan keinginan saya.

Baru di kemudian hari saya memahami bahwa Espreso itu memang disajikan seperti itu. Rasa adalah segalanya. Bukan volume air yang memenuhi gelas.

Begitulah bila orang udik main ke tempat yang jauh tanpa riset yang cukup. Eksplorasi untung-untungan. Namun momen lucu itu menjadi memori yang baik untuk diingat. Momen pembelajaran yang relatif konyol.

Untuk yang ingin memahami seperti apa Espreso itu, silakan membaca penjelasan tentang Espreso di Wikipedia. Saya juga menyematkan dua video dari YouTube. Pertama adalah video tentang apa itu Espreso dan cara membuatnya. Sedangkan video yang kedua adalah perbedaan Espresso, Latte, Cappuccino, dan Moccacino. Selamat menikmati!

Video Kuliner yang Menghipnotis

Secara acak saya menemukan video cara memasak di YouTube. Masakannya lumayan istimewa. Nasi goreng dengan telur yang cara masaknya tak seperti kebanyakan orang.

Namun yang membuatnya spesial adalah penyajian proses memasaknya dalam presentasi audio visual yang apik.

Gambarnya jelas hingga detail kecil. Potongan-potongannya cukup cepat dan runtut. Merekam dari jarak dekat baik nasi putihnya, kuning telurnya, bawang merahnya, dan bahan-bahan lainnya yang menyajikan beragam warna yang harmoni. Indah. Ada teks yang menyertai bagi yang tak bisa mendengarkan; meskipun memakai bahasa Mandarin yang tak semua orang tahu.

Sedangkan telinga dimanjakan dengan suara narasi yang lembut meninabobokan, Suara alat masak di talenan dan panci; ini sejenis ASMR yang merekam suara yang lirih menjadi terdengar. Belum lagi alunan lagu klasik instrumental yang menjadi latar suaranya. Pas dengan narasi tahap demi tahap mengolah nasi dan bahan-bahan menjadi sajian lezat yang menggugah selera.

Melihat seluruh video masak ini membuat terhanyut dalam imajinasi rasa. Ingin mencecap nikmatnya nasi goreng yang kuningnya karena kuning telur dan lebih mirip nasi kuning ketimbang nasi goreng yang kecoklatan.

Ingin juga segera mencoba resep ini. Tapi tentu pada kenyataannya tak semudah kelihatannya. Jadi lebih senang menontonnya saja.

Di akhir video, nasi goreng tersaji sempurna. Dengan dikeliling empat patung kucing imut-imut. Klimaks tercapai. Selesai sudah imajinasinya.

Ini dia video kuliner dari Xiaoying Cuisine. Menghanyutkan. Menyenangkan. Menggiurkan. Selamat menikmatinya.

Menahan Diri

Banyak kejadian tragis di dunia ini terpicu karena selalu ada orang yang tak bisa menahan diri. Menahan diri dari nafsu. Menahan diri dari amarah. Menahan diri dari rasa kecewa. Menahan diri dari melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku.

Perang Trojan bisa terhindarkan bila Prince Paris of Troy tak menculik Helen of Troy; perempuan yang konon sangatlah cantik dan sayangnya sudah menikah dengan King Menelaus of Sparta. Ini legenda yang terekam syahdu romantis dalam lagu romantis berjudul IF yang dinyanyikan oleh Bread. Penggalan liriknya, “If a face could launch a thousand ships then where I am to go?” Namun orang alpa bahwa ribuan orang tewas sia-sia karena dua lelaki yang berkuasa menginginkan perempuan yang sama. Rasa cinta yang membabi-buta disertai ego teramat besarlah yang menyebabkan tragedi bagi banyak orang. Menahan rasa cinta, bisa jadi akan menghindarkan perang ini.

Perang di Eropa yang menelan jutaan orang dalam keterlibatan Nazi tak perlu terjadi bila seorang Adolf Hitler bisa menahan diri untuk berambisi untuk menguasai Daratan Biru dengan cara yang brutal dan kejam. Sayangnya tidak seperti itu. Hitler tak bisa menahan dirinya sendiri dan hebatnya pula tak ada orang lain yang cukup berani untuk mengingatkannya. Perang dan pembasmian tak terelakkan. Makan banyak korban.

Setali tiga uang, apabila Gaius Caesar, yang lebih dikenal dengan nama Caligula, mampu menahan gairah seksualnya tentu tak ada berbagai kisah menjijikkan tentang perilaku menyimpangnya. Kaisar Romawi satu ini memang biadab. Dengan kekuasannya yang hampir absolut, Caligula melakukan tindakan cabul yang dikecam banyak orang. Meskipun sudah punya banyak istri, tetap saja Caligula melakukan inses. Kaisar yang buas ini juga meniduri pengantin perempuan saat diundang pesta pernikahan; tak ada yang berani melawannya karena bisa dieksekusi saat itu juga. Bahkan sifat hewaninya muncul saat melakukan hubungan seks di saat perjamuan dan di depan banyak orang. Tentu saja ada banyak hal gila lainnya yang Caligula lakukan sehingga ada konspirasi untuk membunuhnya; untuk menghentikan perilakunya yang teramat sadis tersebut. Caligula tewas ditikam berkali-kali oleh banyak orang sekaligus.

Kisah-kisah di atas contoh tak menahan diri yang berakhir tragis nan legendaris. Dengan skala yang lebih kecil, banyak dari kita juga menciptakan masalah saat tak bisa menahan diri.

Menahan diri biasanya cerminan kedalaman pikiran dan perasaan manusia. Tak bisa menahan diri adalah kebalikannya. Dangkal. Tak bisa menahan diri erat kaitannya dengan kondisi mental yang kurang fit. Emosional yang berarti menggantungkan diri pada emosi secara berlebihan. Alpa dengan rasionalitas.

Dalam jaman yang serba instan, menahan diri menjadi lebih sulit. Contoh mudah adalah kecepatan luar biasa saat mengomentari apapun di WhatsApp. Tanpa pikir panjang. Tanpa memahaminya lebih dulu. Pokoknya, intinya, maunya langsung membalasnya. Tak jarang pesan yang sumbang bisa menjadi bumerang sekaligus menyakiti banyak orang. Pepatah “mulutmu, harimaumu” sudah berubah menjadi “postingmu, harimaumu”.

Orang juga suka menyela omongan orang lain. Tak sabar menunggu yang lain menyelesaikan kata-katanya. Orang tak mau antri dengan bersabar sedikit. Orang menyalahgunakan otoritas jabatannya untuk kepentingan sendiri. Banyak hal lainnya yang menjadi contoh tak bisa menahan diri.

Terlintas dalam benak saya dua orang yang menurut saya relatif bisa menahan diri. Joko Widodo; yang tak tergesa-gesa memutuskan suatu kebijakan, tak asal berbicara di depan publik, dan berkata-kata dengan tenang dengan kedalaman. Orang lainnya adalah pamong meditasi; yang selalu meresapi kata-kata orang lain, tak asal menjawab dengan sok tahu, dan mengatakan sesuatu dengan tenang dan bijak.

Menahan diri seperti dua orang seperti itu tak terjadi secara instan. Terlihat jelas bahwa mereka mengolah diri mereka bertahun-tahun dengan sungguh-sungguh. Perlu kesungguhan dan kerendahan hati.

Saya pun menyadari bahwa saya sering kali susah menahan diri untuk berkomentar dan berbicara. Acapkali masalah muncul. Oleh karena itu, pada tahun ini, saya ingin lebih bisa menahan diri untuk mengeluarkan kata-kata. Mencoba diam, mencoba mendengarkan dengan lebih baik.

WAG dan OOT

WhatsApp, layanan pesan instan, sungguh populer di Negeri +62. Saya termasuk pengguna yang aktif. Tiada hari tanpa membuka, membaca, dan menulis pesan di WhatsApp. WhatsApp termasuk aplikasi yang paling sering saya gunakan.

Namun akhir-akhir ini saya merasa ‘terganggu’ dengan OOT (Out Of Topic) yang marak di WAG (WhatsApp Group). Pasalnya banyak orang yang tak empan papan. Sebagai ilustrasi, ada saja yang tetiba membincang tentang kuliner di WAG khusus politik. Coba bayangkan? Bagaimana pula bila di WAG kuliner mendadak mengobrol tentang carut-marut skandal para politisi? Sungguh tidak nyambung.

Tentu saja ada WAG yang isinya bebas; yang mana orang boleh bicara apa saja tanpa aturan. Bisa juga dengan WAG yang sangat cair, bisa berbagi masalah krusial hidup mati hingga ghibah tanpa batas. Ada saja. Namun tak semua WAG seperti itu adanya.

Tetap saja ada WAG yang dibuat berdasarkan tujuan tertentu. Semisal, WAG yang dibuat untuk urusan pekerjaan. WAG komunitas berdasarkan asosiasi alumni, kelompok agama, atau hobi tertentu. Judul WAG sudah jelas menggambarkan tujuannya apa. Tentu harus dipahami dan dipatuhi bila ada aturan-aturan tertentu di dalam WAG tersebut.

Namun suka atau tidak, tetap akan ada orang yang salah menempatkan diri. Mengirim pos iklan berulang-ulang di WAG yang tak berhubungan dengan jual beli dan sifatnya wadah silaturahmi.

Oleh karena itu tak ada salahnya orang bisa mengingatkan mereka yang khilaf dalam posting OOT di WAG. Bila ternyata orang tersebut tetap dengan sengaja melakukan apa yang mereka lakukan, sesuka diri, ya sudah mau apa lagi. Kecuali bila ada orang di dalam WAG yang menjadi polisi WAG alias admin; bisa jadi ‘menendang’ orang bersangkutan bila tetap saja semau sendiri mengirimkan posting OOT berkali-kali.

Masalah OOT ini sebenarnya hanya perpanjangan dari kebiasaan OOT di komunikasi nyata yang sebenarnya. Rapat kantor yang serius tiba-tiba ada yang curhat masalah hidup mereka. Bisa jadi kumpul-kumpul acara agama tapi malah menyimpang sebentar untuk ghibah membicarakan skandal artis. Nah, tak perlu heran tentunya bila di WAG, ada orang yang auto-OOT.

Bisa jadi mereka yang suka OOT terbiasa hidup di habitat yang acak dan beragam tak jelas. Laiknya kelompok arisan. Pembicaraan bisa bervariasi, mulai dari cucian dan masakan hingga kisah selingkuh tetangga dan razia kendaraan. Nah, bingung, kan? Ini memang wadah bagi omongan serba ada.

OOT sebenarnya hal klise. Tak perlu tegang dan membuatnya seakan adalah masalah krusial yang besar. Santai saja. Begitulah serba-serbi berkomunikasi melalui WhatsApp di Negeri +62. Mungkin ini juga terjadi di negara lain tapi saya tak tahu saja.

OOT juga terkadang lucu. Sedang tegang berbicara tentang kondisi ekonomi atau bisnis, eh, tiba-tiba ada yang kirim video tentang ceramah agama. Menjengkelkan karena tak relevan. Tapi lucu. Hanya bisa mengelus dada untuk posting yang muncul secara out-of-the-blue. Ajaib.

OOT di WAG itu wajar. Oleh karena itu sudah sewajarnya sesekali mengingatkan orang lain yang mulai menyimpang dari rel pada suatu WAG. Dengan begitu, OOT-nya bisa terkendali. Habitat WAG pun tetap terjaga kenyamanannya.

Tulisan tentang OOT di WAG ini terpantik karena OOT kebablasan yang dilakukan secara berjamaah pada suatu WAG yang saya ikuti untuk kepentingan komunitas menulis. Herannya perilaku OOT dilakukan oleh orang-orang yang mumpuni dalam hal keilmuan. Super sekali, kan? Tapi begitulah yang terjadi.

April in Paris

Saya memilih musik di YouTube untuk menemani saya menulisi blog siang ini. Secara acak terpilih album lagu berbahasa Perancis. April in Paris. Lagu ini dilantunkan oleh Tatiana Eva Marie & The Avalon Jazz Band. Lagu-lagunya asyik. Ceria. Memberikan nuansa yang cerah. Secerah April di Paris.

Lagu-lagunya membuat saya penasaran. Ada apa di bulan April di Paris?

Oh, ternyata secara resmi, Musim Semi di Perancis berlangsung di bulan Maret, April, dan Mei. Kemudian bulan-bulan selanjutnya sudah masuk Musim Panas.

Bila begitu bulan April pastilah menjadi puncak Musim Semi. Musim yang sangat dinantikan penduduk Perancis dan terutama Paris setelah merasakan kebekuan selama Musim Dingin yang tak nyaman.

Musim Semi pasti indah karena musim di mana bunga-bunga bermekaran dan tunas bermunculan. Musim yang pas bagi binatang dan manusia untuk kawin-mawin. Semangat baru. Semangat hidup. Menghidupi hidup.

Kita tentu sering mendengar bahwa Paris adalah kota yang cantik dan romantis. Bayangkan coba. April, puncaknya Musim Semi, di Paris pula. Romantis pastinya. Lively banget.

Sayangnya saya belum pernah menjejakkan kaki di Paris; yang ada di Benua Biru itu. Namun dengan mendengarkan lagu-lagu di album April in Paris, saya auto merasakan secercah keceriaan dan semangat di pemuncak Musim Semi di Paris. Sedikit membayangkan. Berimajinasi. Tanpa menjadi halu yang kebablasan.

Omong-omong silakan membaca lebih jauh artikel tentang Learn How to Talk About Seasons in French. Menarik untuk menambah wawasan. Siapa tahu ada rejeki, bisa ke sana. Memilih season yang dirasa paling pas. Meskipun kebanyakan orang akan bilang bahwa Musim Semi adalah saat yang terbaik untuk menikmati Perancis, terutama Paris.

Untuk yang masih penasaran, seperti apa sih suasana Musim Semi di Paris di Bulan April, silakan melihat video ini. Semoga menjadi inspirasi tersendiri.