Kaya Dari Meraup Receh

Ada dua tipe nelayan berdasar besar kecil ikan tangkapan mereka.

Tipe pertama adalah nelayan yang mengejar tangkapan ikan-ikan besar seperti Ikan Tuna atau yang lebih besar lagi seperti Ikan Paus. Sekali melaut, tangkapannya benar-benar menghasilkan pendapatan menggiurkan.

Tipe kedua adalah nelayan yang menjala ribuan ikan-ikan kecil seperti Ikan Teri. Ikannya kecil-kecil namun terkumpul dalam jaring-jaring besar. Pendapatan nelayan ini juga besar. Makin besar ikan kecil yang terambil, makin besar pula pendapatannya.

Kedua tipe nelayan tersebut sama-sama memiliki pendapatan. Menangkap ikan besar membutuhkan kemampuan yang tinggi. Sedangkan mengumpulkan ikan kecil memerlukan kesabaran.

Setali tiga uang, ada bisnis yang mirip seperti kedua nelayan tadi.

Dealer mobil, developer perumahan, penjual perhiasan mirip seperti nelayan yang menangkap Ikan Tuna. Frekwensi penjualan tak sering namun sekali ‘deal’ langsung dapatkan keuntungan yang besar.

Usaha ritel, bisnis kuliner dan pedagang kaki lima mendapatkan keuntungan dari pendapatan yang kecil-kecil dengan frekwensi tinggi dan volume penjualan total yang besar. Meski transaksinya relatif kecil namun secara keseluruhan jumlahan uang yang masuk sangat besar.

‘Nelayan Ikan Teri’ memang meraup receh demi receh. Seperti bunyi pepatah ‘sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’.

Tak selamanya recehan menjadi hal sepele. Setumpuk uang recehan bisa jadi memiliki nilai melebihi selembar uang kertas.

Kecil menjadi besar bila jumlahnya sangat banyak. Keuntungan kecil dari tiap barang yang dijual di supermarket menjadi sangat besar karena ada begitu banyak pengunjung yang berbelanja berbagai barang kecil-kecil dan relatif murah.

Receh tak selamanya identik dengan kekurangan. Seorang pengusaha bisa menjadi kaya bila mau menjaring sedikit demi sedikit keuntungan recehan. Pengusaha ini bisa kaya karena meraup receh setiap saatnya. Akumulasi receh berujung pada jumlahan uang yang sangat besar.

Recehan? Kumpulkan saja. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Iklan

Bitcoin

Ah, entah apa itu. Mata uang kripto. Mata uang yang tak bisa dengan praktis digunakan untuk jual beli. Mata uang yang susah untuk diubah menjadi uang tunai. Mata uang kripto – salah satunya Bitcoin – menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini.

Ada yang mengecapnya sebagai ‘scam’. Sebagian lagi menganggapnya sebagai instrumen keuangan yang mirip dengan Skema Ponzi. Pun ada yang memujanya sebagai alat transaksi lintas negara dengan tingkat keamanan dan privasi tinggi. Begitu juga dengan mereka yang percaya bahwa di masa depan mata uang konvensional akan digantikan dengan mata uang kripto.

Saya tak benar-benar paham dengan mata uang kripto. Sepertinya media massa terlalu banyak memberitakannya. Mungkin karena kekinian. Sayangnya tak banyak yang paham dengan konsep mata uang kripto sehingga sehingga mengalami kerugian karena pundi-pundi kekayaannya melorot drastis saat nilai dari mata uang kripto yang dimiliki jatuh drasti.

Ah, sudahlah. Tak paham dengan Bitcoin – mata uang kripto yang paling sering disebut dan menghiasi berbagai media massa, baik online atau pun offline.

Kue Keranjang

Tetiba saya membatin mengapa ada banyak kue ranjang dipajang di salah satu supermarket lokal pada beberapa hari yang lalu.

Setelah sampai rumah dan tak sengaja melihat kalender, barulah saya paham bahwa Imlek – Tahun Baru China – sebentar lagi tiba. Tinggal beberapa hari lagi.

Ngomong-ngomong tentang Imlek tentu lekat dengan shio dan peruntungannya. Untuk Imlek yang akan jatuh di Bulan Februari tanggal 16 ini, Tahun Anjing Tanah akan menjadi tahun shionya.

Seperti Anjing pada umumnya, semoga tahun ini menjadi tahun yang ramah pada semua makhluk. Tak ada binatang lain yang lebih dekat dengan manusia seperti anjing. Mungkin karena sifat anjing yang menyenangkan dan setia.

Ah, tapi jangan percayai kata-kata sok tahu tadi. Kembali ke soal penganan Imlek, sudah menjadi tradisi untuk membeli dan memakan Kue Keranjang. Sebenarnya bukan karena menyambut tahun baru tapi karena sesederhana bahwa Kue Keranjang biasanya baru ada hanya pada saat jelang dan sesudah Imlek.

Anda suka Kue Keranjang? Saat inilah momen tepat untuk memborong dan mengudap kue yang rasanya manis, kenyal dan padat ini. Mumpung pas Imlek.

Lagu Manca Legendaris

 

Ada rasa suka dengan lagu-lagu yang dilantunkan dalam bahasa yang tak saya pahami benar. Namun lagu-lagu itu tak asing lagi di hati. Begitu terdengar oleh telinga, langsung ada mood yang mendalam. Berkesan.

Tentu saya penasaran dengan arti kata dan makna lagu-lagu tersebut. Setelah mengetahui inti lagunya barulah mencoba ikut menyanyikannya. Tak sempurna memang. Untunglah ada teks lagu yang bisa didapatkan di internet.

Beberapa lagu manca di bawah ini adalah lagu-lagu yang langsung terasa maknyes bagi saya.

Lagu dengan Bahasa Kanton: Ci She Pen

Lagu Mandarin: Hou Lai

Lagu Berbahasa Jepang

Lagu Korea

 

 

 

Menghapuskan KPK?

Rupanya beberapa anggota wakil rakyat yang duduk di DPR ingin adanya peniadaan KPK. Alasannya sederhana yaitu peradilan di Indonesia sudah membaik dan korupsi sudah berkurang banyak.

Sepertinya usaha untuk menyetir, melemahkan, mengintimidasi dan membekukan KPR tak berhasil sehingga oknum-oknum pejabat negara yang suka ‘bermain-main’ dan dapatkan ‘keuntungan yang ilegal’ merasa kebakaran jenggot. Upaya besar harus dilakukan karena cepat atau lambat KPK bisa jadi menangkap lebih banyak pejabat yang korup. KPK menjadi kucing ganas yang sigap menangkap tikus-tikus yang menggerogoti lumbung negara.

KPK tentu harus maju terus. Bila perlu, Istana ada baiknya menambah kekuatan KPK sehingga pemberantasan korupsi menjadi lebih dahsyat dan hasilnya berlipat. Semakin independen dan kuat KPK, makin berdaya menghadapi maling-maling berdasi yang seyogyanya melayani masyarakat dan konstituen yang diwakilinya.

Menghapuskan KPK jelas akan membuat para tikus leluasa beroperasi memperkaya dirinya sendiri. Bila KPK tak ada, pembangunan terhambat karena proses dan hasil kerja pemerintah hanya akan dinikmati para tikus; yang jelas tak memikirkan penderitaan dan kesusahan rakyat di tingkat bawah.

Bukan berarti bila ada anggota DPR yang ingin meniadakan KPK dianggap korupsi. Tentu tidak. Mereka jelas punya alasannya sendiri.

Namun bila seseorang atau sekelompok orang ingin menjadi wakil rakyat yang baik tentu cenderung untuk mendukung adanya upaya pemberantasan korupsi; salah satunya melalui KPK sebagai alat bersih-bersih yang efektif.

Tiap orang memiliki motif dalam perbuatannya. Hanya saja siapapun akan menduga ada niat yang tak baik bila tikus mengatakan kepada pemilik rumah supaya kucing diusir dari dalam rumah. Sebagai pemilik rumah yang bijak, kiranya Anda ingin supaya kucing menjadi lebih rajin menangkap tikus atau malah membuang kucing tersebut di jalanan?

 

 

Pemindahan Ibu Kota

Topik pindahnya ibu kota Indonesia menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Ramai dibincangkan. Banyak yang berharap ibu kota yang baru bukan sebatas wacana. Tapi rencana nyata. Pelaksanaannya tentu akan makan waktu karena harus dipikirkan masak-masak untung dan ruginya.

Menyoal Naypidaw

Di dunia ini pemindahan ibu kota bukan hal yang baru. Myanmar memindahkan ibu kota dari Kota Yangon ke Kota Naypidaw. Myanmar mulai membangun Naypidaw pada tahun 2002 dan meresmikan ibu kota barunya pada tahun 2006. Empat tahun untuk membangun kota yang konon 6 kali lipat lebih besar daripada luasan Kota New York.

Tentu pemindahan ibu kota membutuhkan waktu yang tak sedikit. Setelah pembangunan empat tahun, ternyata masih banyak fasilitas umum pendukung kehidupan kota yang masih belum tersedia. Seraya waktu, Myanmar berharap Naypidaw akan memiliki jumlah populasi yang meningkat. Maklum karena ibu kota ini masih minim penduduk yang terlalu sedikit untuk sebuah kota yang menjadi ibu kota sekaligus pusat pemerintahan di sebuah negara.

Alasan Memindahkan Ibu Kota

Memindahkan ibu kota haruslah memiliki alasan yang kuat. Naypidaw menjadi ibu kota Myanmar karea letaknya yang berada di tengah-tengah. Kontrol pemerintahan menjadi lebih berimbang ke semua penjuru negara. Selain itu pihak pemerintahan Myanmar memberi argumen bahwa Kota Yangon sudah terlalu sesak untuk perluasan perkantoran pemerintah. Di sisi lain, ada beberapa analis yang berpikir bahwa Naypydaw menjadi pilihan strategis untuk alasan keamanan negara. Posisi ibu kota yang berada di tengah-tengah membuat Myanmar tak mudah diserang oleh negara lain.

Di atas tadi adalah alasan-alasan yang rasional. Ada juga alasan – yang disampaikan oleh pihak-pihak di luar pemerintahan –  tak masuk akal yaitu pemindahan ibu kota sebagai sebuah proyek mercusuar dari pemerintahan sekarang. Begitu juga alasan bahwa ibu kota yang baru akan lebih aman dari serangan di masa depan menurut para ahli nujum negara itu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah Indonesia perlu memiliki ibu kota yang baru? Mungkin. Mungkin tidak. Keputusan memindahkan ibu kota merupakan keputusan besar. Bila ada kebutuhan di masa depan tentu pemerintah harus serius memikirkan hal tersebut.

Bila melihat Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, dengan populasi penduduknya yang teramat besar jelas membebani kota tersebut. Kota yang meluas berkali-lipat sejak jaman Belanda ketika namanya masih Batavia tak lagi mampu mendukung kehidupan yang layak bagi pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis.

Di sisi lain, posisi Jakarta berada di sebelah Barat Indonesia. Dampaknya terlihat pada pembangunan wilayah tengah dan Timur yang tak merata. Berbeda dengan pembangunan wilayah Barat yang masif, terutama di Pulau Jawa.

Tak mengada-ada bila ada usulan supaya ibu kota Indonesia berada di tengah-tengah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau Kalimantan menjadi wilayah yang menjadi acuan favorit. Setelah itu baru dipilih kota yang akan dijadikan ibu kota yang baru. Dari banyak kota di pulau yang luas tersebut, Palangkaraya digadang-gadang menjadi ibu kota yang baru.

Mengapa Palangkaraya di Kalimantan?

Bila pusat pemerintahan terletak di kota ini, jelas pemerintah menjadi mudah untuk mengontrol wilayah yang berada di Timur sekaligus di Barat. Presiden, seluruh menteri dan pejabat-pejabat penting memiliki kemampuan mobilitas yang lebih tinggi ke segala arah.

Dari Palangkaraya, bukan sekarang tapi di masa depan ketika infrastruktur sudah meningkat terutama sektor transportasi udara, pejabat pemerintah bisa mengunjungi kota-kota di Sumatera di bagian Barat dengan mudah. Sama mudahnya dengan kota-kota di Papua di bagian Timur. Dan tentunya sangat mudah untuk menjangkau kota-kota di Jawa yang sudah memiliki sistem transportasi udara yang sangat memadai.

Ada yang disayangkan karena Palangkaraya relatif tak dekat dengan laut. Posisi yang dekat laut menjadi kebutuhan yang strategis karena berhubungan dengan transportasi laut dan impor ekspor barang. Toh, Naypydaw di Myanmar malah menghindari tepian laut guna menghindari serangan musuh dari laut. Kekurangan Palangkaraya malah bisa menjadi kelebihannya dari segi keamanan ibu kota.

Selain itu, kota-kota di Pulau Kalimantan relatif aman dari bencana alam. Minim aktivitas seismik yang berujung pada gempa bumi karena tak memiliki banyak gunung berapi seperti di Pulau Jawa. Jauh dari laut berarti tak ada ancaman tsunami. Tentu masih ada bencana banjir dan kekeringan namun dengan perencanaan kota yang baik, dua bencana tersebut bisa diminimalisasi.

Bagaimana dengan kota-kota lainnya?

Tentu banyak kota di negara ini yang ingin kotanya menjadi ibu kota. Status ibu kota menjadi gengsi tersendiri. Pun bisa tingkatkan pembangunan dan ekonomi di suatu kota.

Semisal Samarinda, yang sama-sama terletak di Kalimantan. Makassar yang merasa menjadi magnet pembangunan wilayah Timur. Bisa juga Surabaya yang jelas memiliki fasilitas memadai untuk mendukung pusat pemerintahan. Tapi tentunya ada yang tak ingin Denpasar atau Yogyakarta menjadi ibu kota karena sudah terlanjur menjadi destinasi wisata sekaligus memiliki luasan kota yang sangat terbatas.

Pusat Pemerintahan dan Pusat Bisnis?

Tentu ibu kota yang baru tak selamanya harus menjadi kota dengan kombinasi pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Bila Palangkaraya, atau kota lainnya di Nusantara, menjadi ibu kota yang baru, jelas akan menjadi pusat pemerintahan saja. Sedangkan pusat bisnis tetaplah berada di Jakarta.

Bisa dimaklumi karena banyak perusahaan tak akan mau dan mampu untuk memindahkan kantor pusat dan usaha utamanya ke kota lain karena sangat beresiko dan harus menggelontorkan dana yang besar. Lagipula ekosistem bisnis di Indonesia memang sebagian besar terletak di Pulau Jawa sejak dulu.

Pemisahan pusat pemerintahan dan pusat bisnis bukan hal yang aneh. Amerika Serikat memiliki Washington D.C. sebagai pusat pemerintahan sedangkan New York menjadi pusat bisnis. Begitu juga dengan Beijing sebagai pusat kekuasaan dan politik Republik Rakyat China dan Shanghai menjadi tempat perputaran uang.

Bandingkan dengan Tokyo dan London. Tokyo menjadi pusat segalanya di Jepang. Tokyo sebagai ibu kota yang menampung jumlah penduduk yang sangat besar karena berperan sebagai pusat bisnis dunia sekaligus pusat pemerintahan Jepang; hebatnya pula lokasinya berada di area yang rawan gempa. Setali tiga uang dengan London yang menjadi pusat pemerintahan Inggris Raya dan berperan sebagai pusat bisnis di Benua Eropa dan dunia. Alhasil Tokyo dan London menjadi kota yang terlalu padat dan terlalu mahal ongkos hidupnya bagi penduduknya.

Apakah ada keuntungan lain dari pemindahan ibu kota?

Ada. Pertama, pertumbuhan insfrastruktur di ibu kota yang baru menstimulasi geliat perekonomian di ibu kota yang baru dan kota-kota di sekelilingnya. Pembangunan berarti penyerapan tenaga kerja, perputaran uang yang meningkat dan perpindahan penduduk ke tempat baru secara signifikan.

Kedua adalah berkurangnya beban Jakarta sebagai ibu kota yang lama karena pusat pemerintahan beralih ke kota lain. Di saat yang sama, Jakarta bisa memfokuskan sumber daya manusia dan alamnya untuk kepentingan bisnis. Jakarta tak hanya menjadi pusat bisnis Indonesia tetapi bisa meningkat menjadi pusat bisnis regional di regional Asia Tenggara atau pun Asia.

Keuntungan ketiga yaitu proyeksi pembangunan yang lebih merata di Indonesia. Pembangunan Indonesia ke depannya bisa memprioritaskan pembangunan Indonesia Timur secara umum dan Pulau Kalimantan secara khusus. Dengan catatan bila ibu kota yang baru berada di Kalimantan. Lebih baik lagi bila banyak penduduk kota lain, terutama yang kelebihan penduduk, pindah ke ibu kota yang baru.

Ada untung tentu ada ruginya, kan?

Bisa jadi. Transisi ibu kota yang lama ke kota yang baru bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Pertama karena adanya perpindahan yang masif bagi para pejabat negara dan pegawai negeri ke ibu kota yang baru. Mereka harus mencari tempat tinggal yang baru padahal keluarga dan rumah mereka sudah sejak lama berada di Jakarta.

Kedua yaitu fokus pemerintahan yang harus terbagi karena memikirkan proses transisi ke lokasi ibu kota yang baru. Padahal negara ini menghadapi tantangan ekonomi dan politik yang tak habis-habisnya mengguncang stabilitas nasional.

Ketiga adalah kebutuhan pendanaan yang sangat besar untuk membangun ibu kota yang baru. Salah kalkulasi bisa jadi negara harus menambal biaya pembangunan ibu kota yang baru dengan mencari data talangan berupa pinjaman. Belum lagi pasti ada spekulan-spekulan lahan yang bermain, kontraktor-kontraktor yang berebut proyek pembangunan dan bisa muncul oknum-oknum pejabat yang ingin mengambil keuntungan sesaat dengan korupsi di sana-sini.

Kesimpulan

Ibu kota yang baru memberikan harapan yang baru bagi proyeksi pembangunan ke depan yang lebih merata. Membangun ibu kota bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Tentu memindahkan ibu kota bukan perkara mudah. Kalkulasi secara politis dan finansial yang matang menjadi syarat keberhasilan ibu kota yang baru. Ada untung rugi yang didapatkan dari pemindahan ibu kota.

Menjadi harapan bersama bagi penduduk Indonesia bahwa ibu kota yang baru bukan hanya wacana tetapi benar-benar menjadi rencana pembangunan yang konkret dan memiliki hasil positif bagi negara ini.