Pantang Menyerah

Pada tanggal 4 Juni 1940 Winston Churchill – yang waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris Raya – menyampaikan pidatonya.

Pidato itu untuk meyakinkan segenap Inggris Raya untuk bertempur melawan Nazi yang sudah berhasil menginvasi beberapa negara sekutu di daratan biru Eropa.

Bila Winston Churchill gagal meyakinkan untuk bertarung mati-matian, ada opsi lain yang diambil oleh Inggris Raya. Negoisasi dengan Nazi supaya Kepulauan Inggris tak diserang namun sebagai gantinya menyerah dan mendukung Nazi.

Pidato itu sangat menentukan. Salah langkah bisa berujung pada kebinasaan Inggris Raya. Pun sebenarnya kondisi Inggris Raya sangat tidak mendukung. Negara kepulauan yang terisolasi dari daratan Eropa. Angkatan bersenjatanya tak sebanding dengan kekuatan Nazi yang lebih modern, lebih masif dan lebih berpengalaman perang.

Dan momen tersebut disebut sebagai The Darkest Hour. benar-benar Inggris Raya tak punya harapan. Mereka hanya punya kenekatan.

Bahkan posisi Perdana Menteri yang dijabat oleh Winston Churchill itu didapat karena Perdana Menteri sebelumnya diturunkan karena dianggap terlalu lemah menghadapi ancaman Nazi. Belum ditambahi oleh fakta bahwa King George VI tak suka dengan Winston Churchill karena peristiwa di masa lalu.

Benar-benar ‘jam terburuk’ di situasi yang serba salah. Dengan dominasi rasa pesimis bahwa Inggris Raya – cepat atau lambat – akan tumbang oleh kekuatan militer Nazi yang bergerak cepat dan brutal. Inggris Raya belum diserang secara masif karena ada Selat Inggris yang menjadi penghalang bagi pasukan Nazi untuk menyeberangi negara kepulauan itu.

Namun Winston Churchill tahu bahwa pidatonya sangat menentukan langkah Inggris Raya. Winston tahu bahwa inilah saatnya untuk mulai berjuang.

“We shall never surrender!”

Winston Churchill

Begitulah salah satu kalimat yang Winston ucapkan dengan lantang. Pidatonya ditutup dengan sebuah kata yang menjadi konklusi dan harapan semua orang.

“Victory!”

Sebuah pidato. Di saat yang paling kelam. Memberikan sebuah harapan kecil. Mengubah sejarah. Inggris Raya bisa bertahan. Bahkan Nazi akhirnya bisa dikalahkan. Itulah yang dicatat di buku sejarah.

Mendengarkan pidatonya – dalam versi film berjudul Darkest Hour yang dirilis tahun 2017 – memantik semangat juang. Untuk pantang menyerah. Untuk sebuah tujuan.

KRL Relasi Jogja-Solo

Menurut berita, KRL Relasi Jogja-Solo segera beroperasi pada bulan Januari 2021. Prameks bakal pensiun. KRL – yang bertenaga listrik – mampu melaju lebih cepat. Mampu mengangkut penumpang dengan durasi tempuh yang lebih pendek.

Untuk yang masih ingin merasakan asyiknya naik Prameks mungkin sekarang waktu terbaiknya untuk menikmatinya. Mumpung masih beroperasi. Sebelum Prameks tergantikan oleh KRL. Jadwalnya bisa dilihat di situs Prameks.

Jadi tidak sabar untuk segera naik KRL yang menghubungkan Kota Gudeg dengan Kota Timlo itu. Semoga pandemi segera berlalu. Dengan begitu perjalanan antara dua kota yang berawal dari asal-usul yang sama ini menjadi aman dan nyaman.

Yuks, naik kereta…

Menyoal Kejujuran

Jujur itu tak mudah. Prosesnya padahal sederhana yaitu mengatakan apa yang terjadi dengan apa adanya. Jujur juga tak selalu memberikan dampak yang positif. Kelihatanya lebih mudah untuk tak jujur ketimbang terbiasa jujur. Entahlah.

Sebuah tulisan di Kompasiana berjudul “Jujur, Mujur atau Ajur?” memberikan penjabaran yang gamblang untuk menentukan untuk lebih baik bersikap jujur atau sebaliknya.

Tiba-tiba saya jadi teringat parfum jaman Soeharto dulu. Mereknya Sweet Honesty. Mungkin kira-kira artinya “kejujuran yang membawa momen yang manis”. Ironis karena bisa jadi orang memakai parfum untuk menutupi bau ketek atau aroma keringat yang menguar.