Kafe Vape

Bisa saya pahami bila orang minum kopi maka akan mengunjungi kafe. Bersama-sama orang lainnya menikmati racikan secangkir kopi dari seorang barista. Pun dengan pub yang suguhkan ramuan minuman beralkohol yang dicampurkan oleh bartender yang tentunya tak asal mengoplos.

Beda dengan ‘kafe’ vape yang bertebaran di beberapa tempat di Kota Yogya. Saya maklum bila ada toko vape; tempat untuk para penggemar vape mencicip dan membeli vape – baik alat maupun ‘flavor’ (baca: rasa) yang diinginkan. Namun kalau tempat khusus untuk bersama-sama menikmati vape?

Rasanya aneh membayangkan tempat yang mirip kafe namun suguhannya adalah beragam rasa vape. Beberapa orang bersama-sama menyemburkan dan menghisap ‘uap’ yang keluar dari alat vapor. Tempat tersebut cepat atau lambat menjadi ‘berkabut’ karena ‘asap putih’ yang menguar dan menyebar.

Setahu saya belum ada larangan untuk menggunakan vape. Tak ada juga anjuran yang sarankan bahwa mengasup vape itu baik bagi kesehatan. Tak ada aturan karena belum ada regulasinya. Jadi tak jelas apakah mengkonsumsi vape berbarengan di satu tempat yang sama baik atau tidak bagi kesehatan.

Tentu tempat-tempat seperti kafe vape menjadi lokasi yang lebih pas untuk menikmati vape karena para penikmatnya sama-sama menikmati. Tak ada yang protes. Mungkin bisa saling tukar-menukar ‘rasa’ dan berbagi cerita. Entahlah.

Beda kalau pengguna vape menyemburkan ‘uap air’ di dalam warung makan atau kafe pada umumnya. Tentu akan mengundang protes dari banyak orang lainnya.

Sebagai catatan lainnya, dengan munculnya kafe vape yang marak dalam waktu singkat tentu akan membuat fenomena vape menjadi lebih kekinian. Makin banyak orang yang ingin coba-coba menjadi pelanggan setia. Namun bisa jadi terlalu banyaknya jumlah kafe vape akan ‘membunuh’ usaha di bidang vapor tersebut. Pemakai vape belumlah terlalu banyak, bahkan mungkin akan menurun jumlahnya bila trendnya memudar, sehingga porsi kue masing-masing kafe vape akan mengecil.

Bila pendapatan dan keuntungan tak berbanding dengan pengeluaran operasional kafe vape, tentu kafe-kafe yang selalu diselimuti dengan vapor ini akan tamat. Tak berlanjut. Selanjutnya demam vape pun akan menguap. Hilang ditelan trend baru yang mungkin lebih menarik.

Iklan

Airship Ventures

 

Birunya langit memang indah. Dan terasa lebih indah lagi bila bisa mengarunginya. Rasanya ‘sesuatu’ bila bisa terbang di antara awan-awan putih dan memandangi dataran bumi atau hamparan laut dari atas langit.

Ada rasa kagum ketika naik pesawat terbang komersial, pesawat terbang kecil dan helikopter. Namun ada dua wahana yang bisa mengarungi langit yang belum pernah saya naiki. Balon Zeppelin dan Balon Udara.

Saat dulu saya singgah ke San Francisco, saya melihat di iklan bahwa ada wisata naik balon Zeppelin swasta. Tawaran menarik ini. Alasannya sederhana. Tak pernah lagi ada perjalanan dengan balon Zeppelin sejak lama. Nama operator wahana Zeppelin itu bernama Airship Ventures.

Sayang sekali tanggal penerbangannya tak sesuai dengan lama tinggal saya di kota San Francisco. Urung naik. Padahal sebenarnya saya sudah rela kalau harus membayar biayanya yang tak murah demi merasakan ‘mengambang’ di langit.

Dan sangat disayangkan karena ternyata tur wisata terbang di angkasa tersebut sudah berakhir November 2012. Tak ada lagi penerbangan Zeppelin yang memukau itu. Paling tidak ada blog yang menceritakan kisah menarik perjalanan dari Airship Ventures.

Untungnya ada orang-orang yang suka merekam bagaimana asyiknya naik Airship Ventures. Dengan begitu, minimal, saya bisa melihat bagaimana sih rasanya naik balon Zeppelin. Melihat video rekamannya lumayan bisa membuat rasa kecewa saya berkurang.

Semoga di masa depan, ada tur wisata seperti Airship Ventures. Siapa tahu malah ada wisata seperti itu di tanah air. Tentu mengasyikkan melihat alam Indonesia yang memukau dengan ‘mengambang’ di langit pelan-pelan sambil menyeruput teh hangat.

Marah

Namanya juga emosi. Susah dikendalikan. Namun saat marah datang, seyogyanya tak memutuskan sesuatu tergesa-gesa. Tenangkan pikiran. Apapun keputusan yang diambil saat amarah menggelegak biasanya tak berakhir dengan baik.

Sebuah lantunan lagu berjudul Jangan Marah Lagi dari Armada Band mencoba ingatkan banyak orang supaya jangan marah-marah hingga melakukan kesalahan fatal dalam hidup.

Demam Vape

Demam vape sepertinya melanda tanah air. Vape sekilas mirip rokok. Namun ada bedanya. Vape harus dinikmati dengan alat listrik bernama vaporizer yang membuat cairan yang memiliki rasa menjadi uap.

Uap vape benar-benar seperti uap kereta api uap jaman dahulu. Berasap. Bahkan saking banyaknya asapnya bisa membuat penikmat vape serasa dikelilingi kabut.

Makin banyak yang memakai vape, makin banyak pula toko-toko vape yang menjual beragam alat vape beserta cairan warna-warni berisi berbagai rasa campuran. Toko-toko itu kadang menjadi semacam kafe tempat berkumpul para penikmat vape.

Namun fenomena vape ini sepertinya akan menjadi vaporware. Menguap bila faktor penasaran dan gaya sudah tak lagi dirasa keren. Hanya sebuah trend sesaat yang pernah sekilas disesap.

Satu hal yang membuat rasa sedih adalah efek vape yang tidak jelas. Seperti apa efek sampingnya belum benar diketahui. Bahkan belum ada verifikasi bahwa vape legal digunakan dan sehat untuk dinikmati.

Tapi biarkan saja para penikmat vape membuat asap hingga kabut terbentuk. Suatu pilihan untuk tiap-tiap individu. Rokok sudah terbukti tak sehat tetap saja peminatnya banyak. Bila vape terbukti tak sehat juga, tetap saja akan ada yang setia menikmatinya.

Kita lihat saja apakah vape bisa tetap menjadi trend anak muda hingga tahun 2017 berakhir.

Kembalikan Uang Kembalian Saya

Tugas dari kasir di mana-mana adalah membantu proses transaksi. Barang ditukar uang. Bila uangnya lebih besar dari nilai barangnya berarti ada uang kembalian. Tentu jumlah uang kembalian haruslah sama dengan yang tertera di mesin penghitung pada meja kasir.

Sayangnya banyak kasir di toko modern, warung makanan, kafe yang tak terlalu cakap untuk membantu proses transaksi dengan sempurna.

Salah hitung jumlah belanja bisa terjadi. Pun dengan salah mengembalikan jumlah uang kembalian. Sesempurna apapun seorang kasir bisa saja kesalahan terjadi. Bila itu terjadi bolehlah membilang kasirnya khilaf. Tak sengaja meskipun sudah sangat berhati-hati. Bisa jadi hari itu sangat melelahkan, banyak pikiran atau ada terlalu banyak pengunjung yang datang.

Saya bisa maklum bila kasir khilaf saat salah hitung atau kurang mengembalikan uang kembalian. Bila saat itu juga saya menemukan kesalahan kasir, saya langsung memberitahukannya kepada kasirnya. Kasir yang baik otomatis minta maaf. Kemudian memperbaiki kesalahannya. Bila itu terjadi, saya memakluminya.

Namun saya jengkel bila mendapati kasir yang dengan santainya berkata, “Maaf, kembaliannya kurang.”

Saya tak bisa mentolerir perilaku merugikan konsumen seperti itu. Tugas kasir haruslah mengembalikan uang kembalian. Kalau tak ada uang kecil, kasir wajib mengusahakan uang kembalian. Bila memang tak ada uang kecil tentu kasir bisa memberikan kembalian berlebih.

Logikanya seperti ini. Pembeli atau pengunjung harus membayar apa yang sudah dinikmatinya atau dibelinya dengan uang pas. Bisa juga dengan lebih banyak. Tapi tak mungkin kurang membayar di kasir, kan?

Oleh karena itu biasanya saya hanya bisa nyinyir kepada kasir yang terang-terangan bilang tak bisa memberikan uang kembalian kepada saya; apapun alasannya. “Mbak/Mas, kalau saya yang kurang membayarnya, boleh ga?”

Biasanya sindiran saya itu membuat para kasir – yang tak mampu atau tak mau memberikan uang kembalian – untuk segera bertindak memperbaiki kesalahan mereka. Saya tak peduli bagaimana caranya yang penting saya memperoleh uang kembalian. Entah itu 500 perak, 200 perak atau 50 perak sekalipun.

Kebanyakan pembeli atau pengunjung pasrah bila tak diberi uang kembalian yang pas. Mungkin mereka pikir toh cuma uang receh. Ada juga yang ingin praktisnya dan tak mau mempermasalahkan hal yang sepele. Dulu saya juga begitu.

Namun lama-lama perilaku ‘korupsi kecil-kecilan’ karena malas memberi uang kembalian ini makin merebak. Para kasir sialan ini tak lagi malu bila tak bisa memberikan hak konsumen berupa uang kembalian yang pas. Malah bisa tersenyum supaya perilaku tak terpuji mereka segera dimaafkan dan tak perlu lagi memberikan uang receh yang pas.

Saya pikir akan lebih baik bila sebagai konsumen yang dirugikan untuk memperjuangkan hak berupa uang kembalian yang pas. Receh. Memang receh. Namun bukan jumlah nominalnya yang penting.

Hal terpenting adalah sebagai konsumen memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh para kasir. Kasir harus mampu memberikan uang kembalian. Titik.

Semakin sering dan semakin banyak konsumen yang sadar akan haknya – dan mengingatkan para kasir akan kesalahannya – lambat laun tindakan merugikan dengan tak memberi recehan uang kembali menjadi pudar. Kualitas para kasir secara kolektif akan membaik.

Coba tengok dari para kasir di Negara Sakura. Mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan uang kembalian dengan sebaik-baiknya. Bahkan di restoran, para kasir mereka menolak yang namanya uang tips. Oleh karena itu konsumen senang karena hak dalam bertransaksi terjaga dengan baik.

Saya berharap bahwa para kasir yang suka “mencuri kecil-kecilan” supaya menyadari bahwa tindakannya merugikan orang lain; terlepas dari segi dosa.

Dan lebih dari sekedar berharap, saya selalu membuat atau memaksa para kasir “yang suka mengutip uang kembalian atau malas memberi kembalian” untuk memberikan uang kembalian dengan pas. Itu hak saya. Sereceh apapun itu, saya berhak dengan uang kecil itu.

Sublime Text

Saya suka menulis, atau tepatnya mengetik, menggunakan laptop saya. Entah itu menuliskan artikel, menyimpan informasi, menulis jurnal harian, ketik-ketik sesuatu secara acak atau sesederhana membaca dan membalas surat elektronik.

Menulis menjadi lebih enak bila alat menulisnya mudah dipakai dan handal. Alat menulis di laptop berupa aplikasi. Ada yang suka menulis menggunakan word procesor. Sebagian orang malah suka menggunakan text editor. Pun ada yang memakai aplikasi seperti notes yang lebih ringan.

Baru-baru ini saya mencoba untuk menggunakan text editor bernama Sublime Text. Umumnya text editor seperti digunakan oleh programer atau developer. Sublime Text memang mumpuni untuk menulis ribuan baris kode untuk membuat situs internet atau aplikasi.

Namun Sublime Text juga bisa dimanfaatkan untuk menulis artikel, prosa atau dokumen. Cocok untuk pengguna seperti saya; yang memang bukan programer.

Sublime Text mudah dipakai karena navigasinya sistematis. Mirip dengan Word Star di jaman komputer masih memakai sistem operasi DOS.

Handal karena Sublime Text bisa menampilkan beberapa dokumen sekaligus dalam mode split screen. Fitur seperti ini sesuai untuk proses penerjemahan yang membutuhkan dua dokumen berjejer bersebelahan; satu dokumen sumber dalam salah satu bahasa dan satu dokumen dalam bahasa yang lain. Split screen bisa dipakai untuk proses penyuntingan dokumen.

Fitur lain yang saya suka adalah latar belakang text editor dengan default warna gelap. Menulis dengan text editor dengan warna terang (biasanya putih) membuat mata cepat lelah. Sebaliknya menulis dengan font berwarna putih dengan latar gelap membuat proses menulis lebih teduh dan nyaman di mata.

Hal lain yang membuat saya suka dengan Sublime Text adalah ‘cepat dibuka aplikasinya’ dan langsung bisa menulis. Beda dengan word procesor yang kaya fitur seperti Apple Pages atau Microsoft Word yang memerlukan waktu cukup lama untuk membuka dan untuk menggunakannya. Terlebih word procesor memakan sumber daya komputer dengan cepat karena kaya fitur sehingga membuat baterai cepat habis.

Hanya saja text editor – yang memang ditujukan untuk fokus pada kata-kata dan kalimat dengan format sederhana – berbeda dengan word procesor dalam kaitannya dengan dokumen yang harus disunting dengan layout guna dicetak. Semisal dokumen perjanjian, surat lamaran, pengumuman atau surat-menyurat (yang harus dicetak).

Sebagai catatan, saya baru saja mengunduh dan memasang Sublime Text. Belum menggunakannya cukup lama. Mungkin cepat atau lambat saya akan menemukan fitur-fitur lainnya yang powerful sehingga bisa jadi makin menyukai text editor ini.

Bila Anda suka menulis dan tertarik untuk mencoba Sublime Text, baik versi gratis atau berbayarnya, silakan mengunduhnya dari situs resminya di Sublime Text.

Tiga Kota Favorit Tujuan Destinasi

Saya punya kebiasaan untuk menanyakan pertanyaan di bawah ini kepada orang lain. Mungkin karena saya cukup kepo atau memang penasaran.

“Kalau mau jalan-jalan, mana tiga kota di dunia yang paling ingin kamu kunjungi; tanpa harus memikirkan tentang uang atau waktu?”

Lain orang, jawabannya tentu berbeda-beda. Sesuai dengan aspirasi setiap individu.

Jawaban paling umum adalah kota-kota dunia yang relatif dekat dengan Indonesia. Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok. Bisa dimaklumi karena ketiga kota tersebut sangat terkenal di Indonesia. Tiga kota itu bisa dijangkau dengan pesawat terbang dalam jarak tempuh kurang dari empat jam dari Jakarta. Tiga kota tersebut paling sering dikunjungi oleh pelancong Indonesia, terutama untuk traveler newbie.

Ada juga yang sangat terinspirasi dengan Eropa. Jawabannya biasanya menyebut kota-kota yang eksotis romantis, seperti: Paris, Milan, London. Tentu untuk mereka yang Nasrani cenderung menambahinya dengan Kota Vatikan; sebagai tempat bersejarah dan ziarah. Uniknya jarang ada yang menyebutkan kota-kota di Jerman seperti Berlin atau Frankfurt. Justru lebih populer Amsterdam; kota di Belanda yang cukup dekat dengan Jerman. Beberapa orang menyebut Barcelona.

Sedangkan teman-teman yang memeluk agama Islam berharap benar bahwa dalam kehidupan ini mereka bisa beroleh barokah dan hidayah untuk mengunjungi Mekah. Biasanya Mekah disebutkan sepaket dengan Medinah dan Jeddah. Perjalanan ke tanah suci baik untuk sekedar umroh atau menunaikan ibadah haji. Umumnya mereka ingin bisa pergi bersama seluruh anggota keluarga. Lebih afdol. Bapak, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek dan handai taulan.

Beda pula dengan rekan-rekan beragama Buddha. Ada keinginan yang kuat untuk bisa sampai ke Bangkok. Namun bagi yang memiliki impian yang besar, kalau bisa mengunjungi Lhasa di Tibet. Jauh memang. Sayangnya Dalai Lama, yang diakui dunia dan bukannya ‘dalai lama’ pilihan China, justru tinggal di Dharamsala – salah satu kota di India.

Untuk para pecinta keindahan alam, bisa ditebak lokasi mana di dunia ini yang ingin mereka kunjungi. Gunung atau laut. Bukan kota yang ingin dituju tetapi bentangan alam yang ingin ditaklukkan. Jadi bukan kota yang ingin dituju meski untuk ke sana mereka harus melalui suatu kota.

Tak melulu orang-orang menyebutkan kota-kota di luar negeri. Banyak yang ingin mengunjungi Raja Ampat, kota-kota di Bali seperti Denpasar atau Kuta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar. Bali itu selalu disebutkan sebagai satu destinasi ketimbang menyebut satu kota secara spesifik di Pulau Dewata tersebut.

Untuk para penyuka kebudayaan Asia Utara pilihannya beragam. Tokyo di Jepang bagi orang-orang yang suka dengan sesuatu yang berbau Jepang. Bagi yang terkena wabah Hallyu pasti menyebut Seoul sebagai destinasi kota terfavorit. Sedangkan mereka yang suka dengan film-film Mandarin umumnya memiliki mimpi untuk berjalan-jalan di Hong Kong atau Taipei. Ada juga yang bercita-cita untuk bisa menjejak Beijing dan Shanghai.

Tak semua orang suka bepergian di kota-kota yang terlalu mainstream. Sejumlah orang suka sesuatu yang jarang dan unik. Pergi ke Moskow di Rusia yang misterius; mungkin karena terkenal dengan mata-matanya. Istanbul di Turki yang menarik karena bisa melintasi dua benua yaitu Asia dan Eropa. Teheran di Iran yang membuat saya terheran-heran saat kota itu disebut. Ada pula yang menyebut Xinjiang dan kota-kota di Mongolia yang bikin saya penasaran.

Untuk saya sendiri, saya ingin sekali untuk pergi ke kota Barcelona di Spanyol, Seoul di Korea Selatan dan Istanbul di Turki. Ketiga kota tersebut selalu menggelitik rasa penasaran saya. Kebetulan ketiga kota tersebut memiliki sejarah yang panjang dan kaya dengan kebudayaan. Barcelona menarik karena kebudayaan Katalan dan pernah menjadi pusat perdagangan di seputaran Laut Mediterania. Seoul sebagai ibukota dari negara yang sering diperebutkan oleh tetangga-tetangganya seperti China, Jepang dan tentunya Korea Utara. Dan Turki karena menjadi kota yang menghubungkan Eropa dengan Asia. Entah kapan bisa punya uang dan waktu untuk pergi ke sana. Namun yang penting tiga kota tersebut berada dalam bucket list saya. Menjadi salah satu impian dalam kehidupan saya.

Setiap orang tentu memiliki alasan untuk melancong ke kota-kota impian mereka. Baik untuk alasan yang masuk akal maupun alasan yang karena feeling dan mood. Ada juga yang bilang “tahunya cuma kota-kota itu, je“.

Dan kali ini saya juga ingin menanyakan hal yang sama kepada Anda; yang sudah sudi mampir atau kebetulan tersesat di postingan ini.

“Kalau mau jalan-jalan, mana tiga kota di dunia yang paling ingin kamu kunjungi; tanpa harus memikirkan tentang uang atau waktu?”

Bila berkenan, silakan menuliskan tiga kota favorit Anda di dunia ini di kolom komentar di bawah postingan ini. Tentu akan lebih memuaskan rasa penasaran saya bila Anda bersedia memberikan alasan-alasan mengapa ingin menjelajahi 3 kota di angan-angan Anda tesebut.

Siapa tahu jawaban-jawaban Anda bisa menginspirasi banyak orang atau paling tidak saya untuk pergi ke kota-kota tersebut.