Bebersih Debu, Hidupkan Mesin

Reriungan di WhatsApp tentang destinasi perjalanan – bersama kawan dari Kota Kembang Bandung – membuat saya mengingat kembali kenangan manis tentang jalan-jalan. Pun dengan semangat untuk menulis di blog Munggur ini.

Baiklah. Laiknya bebersih debu, mesin ketik (baca: laptop) menjadi wahana menuang kata-kata di blog ini. Aliran ide mulai digelontor supaya lancar kembali. Aktifkan lagi aplikasi WordPress di laptop. Mengisinya dengan kata-kata baru.

Starter mesin. Isi dengan bahan bakar berbagai perisitwa yang dirasa, dialami dan dijalani. Mulai bergerak, mulai maju. Semoga momentumnya terjaga. Tak hidup sementara untuk kembali lagi stagnan, jalan di tempat.

Ganbarimasu!

 

Iklan

Blogo

Dulu sekali saya pernah mencoba aplikasi Blogo di Mac untuk kegiatan ngeblog. Sayangnya karena Blogo tidak gratis dan tak sebagus aplikasi lainnya yang berbayar, saya pun enggan memakai Blogo. Untuk apa beli Blogo bila ada aplikasi berbayar lainnya yang lebih mumpuni kemampuannya.

Dan WordPress secara official juga mengeluarkan aplikasi blogging mereka di Mac. Gratis pula. Oleh karena itu Blogo pun tak lagi saya pakai.

Namun kemarin saya menemukan aplikasi ini di App Store. Penasaran karena ternyata Blogo tak lagi berbayar. Gratis diunduh dan digunakan. Boleh juga nah.

Oleh sebab itu saya instal lagi aplikasi ini di Mac saya. Kita lihat apakah aplikasi yang kini gratis ini bisa memberikan apa yang saya harapkan untuk aktivitas blogging. Let us see

Tema WordPress Dyad

Tadinya saya khawatir Tema WordPress Dyad akan memberatkan karena banyaknya gambar yang ditayangkan di halaman depannya. Tapi dipikir-pikir blog Munggur ini minim gambar sehingga tema ini tidak akan terlalu berat.

Ternyata benar bahwa Tema WordPress ini cukup ringan. Tampilannya unik. Namun nilai plus dari Dyad adalah jenis font default yang enak dilihat, nyaman dibaca.

Oleh karena cukup suka, bolehlah saya mencobanya untuk beberapa saat. Siapa tahu cocok. Tentu bila ada tema yang lebih baru, mungkin saya akan menggantinya.

Bagi yang memiliki blog di WordPress.com, silakan coba Dyad. Lihat demo Dyad di sini.

Twenty Fifteen

Saya cukup suka dengan tema Twenty Fifteen. Namun selalu berasumsi bahwa tema WordPress yang satu itu cukup garing. Mungkin karena tema ‘2015’ tersebut tampil dengan pilihan dasar berwarna putih. Kesannya membosankan. Itu alasan saya dulu tak memilih dan memakai tema ini.

Uniknya setelah memilih kustomasi gratis tema ini dan ternyata bisa memilih pilihan warna latar biru dan abu-abu terang, saya langsung jatuh cinta dengan tema Twenty Fifteen.

Tampilan blog ini menjadi lebih sederhana. Memudahkan navigasi dalam membaca laman-lamannya. Jelas tapi tak tampil membosankan. Yang lebih penting lagi adalah blog ini bisa ditampilkan relatif cepat dari koneksi internet yang agak lemot sekalipun. Sepertinya saya akan menggunakan tema ini lebih lama dari yang saya kira sebelumnya. Tentu bila belum ada tema baru yang mungkin lebih menarik dan sederhana.

Kehilangan Minat Untuk Blogging

Sudah sekian lama saya tidak aktif menuliskan opini, artikel atau sekedar corat-coret di blog Munggur. Sepertinya ide-ide menguap begitu saja. Tak ada waktu karena pengaturan waktu yang sedang tak baik. Pun begitu karena kurang membaca dan memperhatikan berita akhir-akhir ini sehingga tak banyak yang saya pikirkan kecuali hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

Ingin bisa menulis lagi secara reguler di blog ini tapi sepertinya ada rasa yang menyiksa ketika kata-kata tak bisa tertuang dengan mudah melalui papan ketik untuk mengisi laman-laman blog yang kosong. Semoga ide-ide bisa kembali datang dan tulisan demi tulisan mengalir lagi di blog ini.

artikel tanpa huruf kapital

beberapa blogger sengaja menuliskan artikel atau postingan tanpa huruf kapital. mungkin supaya kelihatan unik. bisa karena malas memakai huruf kapital di awal kalimat. ada juga yang malah berpendapat bahwa pemakaian huruf kapital mengurangi kecepatan pembaca untuk menyerap kata-kata dan kalimat.

hanya saja ada rasa yang kurang tanpa kehadiran huruf kapital. sesuatu yang biasanya hadir tetapi absen memang berasa ganjil. huruf kapital ada karena memang memiliki fungsi sebagai penanda yang jelas.

saya merasa bahwa huruf kapital penting. tetapi untuk alasan eksperimental, baiklah saat ini saya mencoba untuk tidak menggunakan huruf kapital dalam postingan kali ini.

5 Paragraf dan 500 Kata

Saya menggunakan blog ini sebagai tempat melakukan eksperimen menulis. Wahana pembelajaran untuk saya pribadi.

Dulu pernah saya memakai pendekatan untuk menulis sebuah postingan dengan aturan ‘5 paragraf’. Tujuan yang ingin dicapai adalah menulis dengan singkat dan jelas; tanpa menjadi terlalu panjang sehingga membuat proses membacanya menjadi suatu ‘siksaan’ tersendiri. Lagipula siapa yang akan betah membacanya bila artikelnya panjang-panjang.

Pun ada saat di mana saya suka menuliskan postingan yang pendek. Sangat pendek malah. Tak perlu sampai lima paragraf. Sesekali satu atau dua paragraf. Mungkin ditambahi sematan video dari YouTube atau gambar .jpg yang saya rasa menarik.

Namun akhir-akhir ini saya menantang diri saya sendiri untuk menuliskan artikel yang minimal mencapai ‘500 kata’. Seperti apa yang disarankan oleh para penulis-penulis modern bahwa melatih menuangkan kata hingga 500 kata bisa membuat kemampuan menulis menjadi lebih produktif. Dengan takaran 500 kata, tentu harus ada informasi atau nuansa kata yang harus ditambahkan pada suatu postingan. Tentu di saat yang sama harus tetap menjaga supaya tulisan tetap mengalir dengan baik antar paragraf dari awal hingga akhir.

Dan memang ada beda antara menulis dengan pendekatan 5 paragraf dengan 500 kata. Bisa juga kalau mau menggabungkan keduanya. Yaitu postingan dengan 500 kata yang dibagi dalam 5 paragraf. Hanya saja 1 paragraf yang memiliki 100 kata sepertinya cukup panjang. Lebih sedikit jumlah kata dalam sebuah paragraf tentu lebih manusiawi dan lebih mudah untuk dibaca.

Eksperimental menulis tentu tetap saya lakukan. Mungkin suatu saat nanti, saya akan menggunakan pendekatan yang lain lagi.

Kita lihat saja nanti…