Kopi Ampirono

Tempo hari saya mampir ke Kopi Ampirono. Konon tempat kuliner baru di Kulon Progo. Pagi hari ke sana dan sampai jam 11 pagi kurang sedikit. Masih sepi. Jam bukanya memang resminya jam 11 pagi.

Melihat pemandangan sawah yang menghampar di perbukitan Kulon Progo. Asri. Hijau bila saat tanam tiba. Kuning bila hampir panen. Udara sejuk meski siang hari di sana memang panas. Tapi ada tempat berteduh.

Bisa memesan makanan dan minuman. Saran saya, bila tak lapar sekali, lebih direkomendasikan memesan cemilannya. Pisang goreng, tempe mendoan dan geblek. Porsinya pas, harganya pantas, rasanya enak. Minuman favoritnya adalah teh telang – yang sayangnya sering tidak ada karena tak ada stok.

Bagi orang yang suka foto-foto dengan latar pemandangan, Kopi Ampirono merupakan spot menarik. Ada sawah berbentuk terasiring sebagai latar belakangnya.

Tempatnya sesuai untuk beristirahat setelah berkeliling ke beberapa tempat wisata di Kulon Progo. Bisa juga untuk arisan atau temu kangen keluarga. Bersama-sama teman satu klub atau kelompok.

Uniknya karena tempat sekitarnya asri, banyak orang mampir setelah naik sepeda. Para goweser. Kopi Ampirono menjadi titik mulai. Bisa juga titik kumpul tujuan bersepeda.

Kapan-kapan saya ingin sekali ke sana sekira jelang sore hari. Kata orang, suasana di sana sore hari lebih syahdu. Baiklah, lain waktu, saya ingin duduk-duduk di sana menikmati senja dengan seseorang yang suka menikmati suasana sore hari.

Dataran Iberia

Saya dulu hanya berpikir tentang impian ke kota Barcelona. Negeri Katalan itu memang menarik. Arsitektur kotanya, budayanya, makanannya dan sedikit juga tentang klub sepak bolanya yang sering menang di Liga Spanyol.

Seiring waktu, membaca sejarah Eropa, mendapat cerita dari orang lain, dan menonton YouTube, saya jadi lebih tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Dataran Iberia atau Semenanjung Iberia.

Ada Spanyol dan Portugal yang berbagi wilayah di Semenanjung Iberia itu. Kedua negara itu pernah menjadi kerajaan besar. Masing-masing memiliki daya jelajah yang tinggi dalam mengarungi samudera. Spanyol dan Portugal sama-sama punya wilayah koloni di berbagai penjuru dunia. Paling menonjol adalah jajahan mereka di Benua Amerika; terutama di Amerika Latin.

Portugal berhasil mendapatkan Brazil sebagai koloni mereka. Brazil yang wilayahnya sangat luas berbahasa Portugis. Sedangkan wilayah-wilayah lain di Amerika Latin dikuasai oleh Spanyol sehingga penggunaan bahasa Spanyol sangat lazim.

Dari mengulik informasi mengenai Portugal, saya menyadari bahwa Portugal memiliki kota-kota yang indah menawan. Tersebutlah Lisbon dan Porto. Lisbon merupakan ibukota Portugal. Porto adalah kota pelabuhan utama Portugal. Melihat foto-foto dan video tentang dua kota tersebut membuat saya jatuh cinta dan ingin mengunjungi dua kota tersebut.

Impian saya tak hanya ingin mengunjungi Barcelona. Saya juga ingin menambah Lisbon dan Porto sebagai destinasi wisata di Benua Biru.

Tertarik ingin tahu seperti apa sih tiga kota tersebut? Silakan menontonnya langsung di YouTube. Meski saat ini sedang pandemi dan finansial masih belum gagah, tentu boleh membangun impian untuk waktu yang indah di masa depan. Bermimpi itu gratis.

Barcelona

 

Lisbon

 

Porto

Tiga Kota Favorit

Sudah hobi saya untuk bertanya ke orang lain – biasanya yang suka traveling – tentang tiga kota favorit yang sudah mereka singgahi di dunia ini. Pertanyaan sederhana ini saya tanyakan karena saya ingin tahu kota apa yang menarik. Siapa tahu bisa memberikan inspirasi untuk saya. Saya juga selalu kepo penasaran dengan kisah-kisah perjalanan yang seru dari orang lain.

Tiga Kota Favorit Tujuan Destinasi | Munggur

Setiap kali saya menanyakan pertanyaan β€œapa tiga kota favoritmu” kepada banyak orang, saya selalu ditanya pertanyaan yang sama, β€œkamu sendiri apa?”

Hingga saat ini jawaban saya tetap sama. Kyoto, San Francisco, Lhasa. Begitu urutannya. Nomor satu Kyoto. Kemudian San Francisco. Lhasa menjadi nomor tiga.

Ingin tahu alasannya?

#1 Kyoto

Kyoto itu kota yang menurut saya The Most Beautiful City di dunia ini. Kota ini memiliki tatanan kota yang rapi. Ruas jalanan yang terencana dengan baik, lebar dan tersusun seperti kotak-kotak. Kuil tua nan megah. Tak banyak bangunan tinggi modern sehingga mata relatif bebas memandang jauh di mana pun. Banyak hasil tradisi masih kental terasa. Pun ada banyak orang mengenakan kimono di mana-mana.

#2 San Francisco

The Romantic City. Kejayaan masa lalu terlihat dari gedung-gedung menua yang masih angkuh kokoh berdiri. Dengan dermaga memanjang ramai dengan orang dan pemandangan tepi lautan yang indah. Trem lalu-lalang hadirkan transportasi lokal yang unik. Kontur kotanya yang berbukit-bukit dipenuhi dengan bangunan kuno seperti rumah-rumah berjejer gaya Victoria. Pengamen ada di mana-mana dan bahkan ada yang memainkan Saxophone. Dan ketika sore datang, pelan-pelan tapi pasti, kabut tebal akan menelan kota di tepian Samudera Pasifik ini. Kota tua ini akan menghilang di remang malam untuk kemudian muncul kembali di pagi hari.

#3 Lhasa

Top of the World. Kota tertinggi di dunia. Kota yang ada di atas deretan awan yang mengambang tinggi di atmosfer. Puncak dunia. Beda jauh dengan Puncak di Bogor. Bagai bumi dan langit. Saking tingginya, kota ini sangat cocok sebagai tempat untuk memanjatkan doa. Buktinya Istana Potala dibangun di tempat ini. Banyak peziarah datang dari mana-mana untuk berdoa. Mungkin sinyal doa di sini bisa diterima tanpa distorsi karena posisinya yang paling dekat dengan langit di mana Sang Pencipta berada.

Tiga kota tersebut sangat berkesan untuk saya. Bersyukur boleh menikmati keindahan Kota Kyoto, jatuh cinta dengan Kota San Francisco dan menapakkan kaki di Kota Lhasa.