Taiwan

Dulu saya berpikir bahwa Taiwan – negara kepulauan yang menjadi tetangga China sekaligus diklaim sebagai wilayahnya – merupakan destinasi wisata yang menarik. Namun daya tariknya biasa-biasa saja. Taiwan – terutama Taipei – masih kalah menarik dibanding tempat-tempat jalan-jalan di belahan dunia lainnya.

Namun kisah perjalanan seorang kawan lama, yang tersaji melalui penggalan-penggalan pesan pendek dan foto-foto di Whatsapp, membuat ketertarikan saya akan Taiwan meningkat. Saya menyimpulkan bahwa Taiwan ternyata bagus juga. Menarik.

Kawan lama tersebut berjanji akan membagi lebih banyak cerita dan gambar bila sudah sampai di tanah air. Siapa tahu apa yang dia bagi akan memberi inspirasi untuk mengunjungi pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Formosa itu.

Taiwan. Ketertarikan itu membuat saya mengulik informasi, gambar dan peta tentang Taiwan. Dua tempat yang paling memukau buat saya saat ini – berdasar dari cerita lewat Whatsapp – adalah Jiufen dan Taipei 101.

Untuk lebih mempermudah membayangkan seperti apa sih Jiufen dan Taipei 101, yuk kita lihat videonya sama-sama di bawah ini.

Jiufen

Taipei 101

Iklan

Airship Ventures

 

Birunya langit memang indah. Dan terasa lebih indah lagi bila bisa mengarunginya. Rasanya ‘sesuatu’ bila bisa terbang di antara awan-awan putih dan memandangi dataran bumi atau hamparan laut dari atas langit.

Ada rasa kagum ketika naik pesawat terbang komersial, pesawat terbang kecil dan helikopter. Namun ada dua wahana yang bisa mengarungi langit yang belum pernah saya naiki. Balon Zeppelin dan Balon Udara.

Saat dulu saya singgah ke San Francisco, saya melihat di iklan bahwa ada wisata naik balon Zeppelin swasta. Tawaran menarik ini. Alasannya sederhana. Tak pernah lagi ada perjalanan dengan balon Zeppelin sejak lama. Nama operator wahana Zeppelin itu bernama Airship Ventures.

Sayang sekali tanggal penerbangannya tak sesuai dengan lama tinggal saya di kota San Francisco. Urung naik. Padahal sebenarnya saya sudah rela kalau harus membayar biayanya yang tak murah demi merasakan ‘mengambang’ di langit.

Dan sangat disayangkan karena ternyata tur wisata terbang di angkasa tersebut sudah berakhir November 2012. Tak ada lagi penerbangan Zeppelin yang memukau itu. Paling tidak ada blog yang menceritakan kisah menarik perjalanan dari Airship Ventures.

Untungnya ada orang-orang yang suka merekam bagaimana asyiknya naik Airship Ventures. Dengan begitu, minimal, saya bisa melihat bagaimana sih rasanya naik balon Zeppelin. Melihat video rekamannya lumayan bisa membuat rasa kecewa saya berkurang.

Semoga di masa depan, ada tur wisata seperti Airship Ventures. Siapa tahu malah ada wisata seperti itu di tanah air. Tentu mengasyikkan melihat alam Indonesia yang memukau dengan ‘mengambang’ di langit pelan-pelan sambil menyeruput teh hangat.

Seoul

Baru-baru ini The New York Times menampilkan 52 tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi di tahun 2015 ini.

Dari tempat-tempat itu, ada tempat yang memang sudah terkenal sejak dulu seperti Milan dan Singapura. Ada juga tempat yang belum banyak diketahui orang namun popularitasnya meningkat belakangan ini seperti Macedonia, Oman dan Rabat.

Surat kabar tersebut mengemukakan alasan mengapa tempat-tempat tersebut menarik untuk dikunjungi. Ada yang karena keindahan geografisnya, kemajuan arsitektur barunya atau karena sebelumnya sulit untuk dijangkau oleh pelancong di masa lalu.

Salah satu kota yang menarik perhatian saya dari deretan daftar tempat menarik tersebut adalah Seoul. Promosi yang gencar oleh pemerintah Korea Selatan memang nampak di mana-mana membuat rasa penasaran makin bertambah untuk melancong di ibukota Negeri Ginseng tersebut. Pun kulinernya terkenal dan enak seperti Bulgogi dan Bibimbap. Belum lagi ekspos media online atau offline yang tampilkan tayangan dan liputan terkait Seoul. Lagipula Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia Utara yang belum saya kunjungi.

Saya penasaran seperti apa Kota Seoul itu. Semoga saya bisa berkunjung ke kota tersebut. Kota di mana katanya kemajuan arsitektur modern dengan infrastruktur yang canggih bercampur dengan bangunan kuno tradisional yang terkenal yang masih terawat hingga kini.

Liburan di Yogyakarta

Liburan pergantian tahun kali ini memang lebih panjang. Libur Natal hingga Libur Tahun Baru. Kesempatan yang baik untuk berlibur.

Mulai hari Rabu kemarin Kota Yogyakarta mulai ramai. Banyak penduduk Yogyakarta yang merantau di luar kota pulang kampung. Turis domestik dari luar kota juga berdatangan untuk melewatkan liburan di kota yang menjadi destinasi wisata #2 di Indonesia. Selain itu banyak juga para pemudik yang melewati Kota Yogyakarta untuk menuju kota dan wilayah sekitarnya seperti Klaten, Solo dan Klaten. Jalanan di Yogyakarta pun dilewati oleh mobil dan kendaraan dengan plat nomor kota lain.

Mengapa banyak yang berlibur di Kota Gudeg ini? Alasannya sederhana. Kota yang terletak di tengah Pulau Jawa ini bisa dijangkau dengan mudah dan murah dari banyak kota lainnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain itu kota ini memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Baik dari segi sejarah, kuliner dan event lokal. Penginapan banyak tersedia dengan biaya yang relatif murah.

Ditambah dengan adanya korelasi antara para pemudik dan turis domestik seperti mereka yang sudah pernah bersekolah di Yogyakarta atau memiliki kerabat di kota ini.

Menyenangkan, bukan? Oleh karena semua alasan tersebut Yogyakarta menjadi tempat berlibur yang asyik.

Arashiyama

Arashiyama yang terletak di Kota Kyoto, Jepang itu menghantui saya. Setiap kali melihat foto-fotonya di Internet, setiap kali itu juga saya penasaran dengan tempat itu. Jalanan yang banyak ditumbuhi oleh rimbunan bambu yang tertata rapi di tengah alam yang asri; bila malam pencahayaannya membuatnya lebih memukai.

Dua kali mengunjungi Kota Kyoto dan entah kenapa Arashiyama selalu terlewati. Sebagai tujuan wisata, tempat tersebut tak seterkenal beberapa atraksi wisata lainnya. Waktunya pun tak mencukupi untuk berkunjung ke Arashiyama yang terletak agak jauh di pinggiran Kyoto.

Tak mengapa bila Arashiyama masih menghantui. Mengundang untuk datang lagi ke Kyoto. Bila ada kesempatan untuk pergi ke sana, saya harus mengunjungi Arashiyama sebagai destinasi nomor satu. Tak boleh melewatkannya lagi.

Jalan-jalan di Pagi Hari

Ketika melancong ke kota lain, baik di tanah air atau pun negara lain, tentu kita ingin perjalanan dalam satu hari bisa maksimal. Kalau perlu jam tidur pun didiskon supaya dalam sehari bisa menikmati lebih banyak tempat wisata dan aneka kehidupan di tempat yang dituju. 

Oleh karena itu bangun pagi ketika melakukan perjalanan sangat perlu. Jam untuk jalan-jalan jauh lebih banyak bila bisa bangun pagi. Mulai jalan-jalan jam 7 pagi tentu berbeda dengan yang baru mulai jam 11 siang. 

Ada beberapa keuntungan jalan-jalan mulai di pagi hari. Mari kita lihat satu per satu. 

Sudah Siap di Pagi Hari 

Dari saat bangun, mandi dan kemudian sarapan biasanya makan waktu sekira setengah jam atau satu jam. Kalau bangun pukul 6 pagi, mandi dan makan pagi, jalan-jalan bisa dimulai pukul 7 pagi. Mandi dan makan pagi tak perlu menunggu orang lain. Dengan begitu prosesnya lebih cepat. Lebih cepat lebih baik. 

Tempat Wisata Masih Sepi

Umumnya tempat wisata buka pada pagi hari sekira pukul 9 atau 10 pagi. Tempat wisata baru ramai sekira satu atau dua jam setelah jam buka. Lebih nyaman mengunjungi tempat wisata ketika masih sepi pengunjung. Tak perlu antri. Bisa memotret sepuasnya. Juga bisa menikmati tempat tersebut dengan lebih nyaman; tak perlu berjubel dengan orang lain. Lebih efisien. 

Transportasi Publik Belum Ramai

Ketika orang lain masih berjuang mati-matian untuk bangun, mereka yang sudah bangun pagi bisa merasakan transportasi publik yang masih lapang karena tak banyak orang. Perjalanan bisa lebih dinikmati. Tentu tak berlaku di semua tempat. Beberapa kota di dunia seperti di Jakarta, Tokyo dan Hong Kong justru transportasi publiknya lebih ramai karena banyak dari penduduknya yang berkomuter di pagi hari supaya tak terlambat masuk kantor. Hal seperti ini bisa disiasati yaitu dengan pergi ke tempat wisata yang jaraknya tak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. 

Tenaga Masih Penuh

Saat pagi hari, jalan kaki atau naik sepeda rasanya asyik karena tenaga di badan masih penuh. Terutama setelah sarapan pagi dan mandi pagi. Beda kalau sudah siang benderang atau malam hari; tenaga sudah terkuras. 

Foto-foto Lebih Mantab di Pagi Hari

Kecuali di tempat-tempat yang berkabut di pagi hari, umumnya mengambil foto pagi hari itu menghasilkan kualitas foto yang lebih indah. Tak perlu lampu blitz. Tak perlu filter cahaya. Udara pun masih cerah tanpa polusi. Lebih baik lagi bila pemandangannya masih sepi dan sedikit yang lalu-lalang. Foto pemandangan jauh lebih cerah. Selain itu bila memang agak-agak narsis, foto diri pun lebih mantab karena wajah dan tubuh masih segar sehabis mandi dan makan. Masih segar bugar ketika difoto. 

Apalagi keuntungan yang lain? Rasanya sudah banyak. Singkatnya jalan-jalan lebih pagi bisa membuat pelancong mengunjungi lebih banyak tempat dan melakukan lebih banyak aktivitas. Paling tidak bisa mengunjungi satu atau dua tempat tambahan di pagi hari. 

Namun tak perlu dipaksakan untuk bangun pagi. Bila memang kelelahan dan badan perlu istirahat ketika jalan-jalan, ya harus beristirahat lebih panjang. Daripada sakit di tempat tujuan wisata. 

Lagipula ada pelancong yang termasuk ‘makhluk malam’ yang lebih bisa menikmati malam hari ketimbang waktu lainnya. Bagi mereka pagi hari bukan waktu yang pas untuk jalan-jalan tapi memang saat yang tepat untuk mengistirahatkan badan dan mengumpulkan tenaga. 

Bijak Memilih Pesawat Dalam Traveling

Mengenaskan. Itu yang terlintas kala mendengar berita penundaan pesawat Lion Air yang baru saja terjadi. Tanpa ada alasan yang jelas beserta konfirmasi dari penyedia layanan udara tersebut, penumpang terlantar, menjadi marah dan berujung aksi anarki.

Yang jelas jadwal perjalanan terganggu. Bisa jadi di antara penumpang tersebut ada yang hendak melancong. Terbayang indahnya tempat tujuan. Lalu tiba-tiba memudar karena waktu perjalanan terdiskon dengan jadwal terbang yang kacau. Terlebih lagi kalau gagal terbang sama sekali.

Penerbangan mewah atau berbiaya murah tak menjamin pesawat terbang tepat sesuai jadwal. Namun kredibilitas maskapi yang menjadi garansi lancarnya penerbangan. Sejauh ini, saya pikir AirAsia, ANA dan SIA mampu terbang tanpa penundaan. Sedangkan Garuda memang tak jauh dari istilah ‘telat’.

Keramahan kru kabin juga membuat perjalanan menjadi nyaman atau sebaliknya seperti di neraka. Untuk urusan pramugari, United Airlines paling tidak ramah dan diskriminatif. Sedangkan ANA paling sopan dan tulus. AirAsia juga termasuk ramah.

Fasilitas pesawat bagi saya tak begitu penting. Antar maskapai kualitasnya tak jauh berbeda. Tentu kita berbicara kelas ekonomi, bukan kelas bisnis yang tak pernah saya rasakan. Kecuali bila Anda menempuh penerbangan long-haul, saya sarankan untuk memilih maskapai dengan pesawat berbadan lebar dan baru. Qatar Airlines merupakan favorit saya untuk saat ini.

Selamat memesan tiket pesawat Anda dengan seksama dan selamat menikmati penerbangan Anda!