Kategori: resensi film

Trailer Film Burnt

Film dengan tema masak-masakan memang cukup mengemuka akhir-akhir ini. Seiring dengan banyaknya acara masak-memasak di televisi, ketertarikan banyak orang tentang profesi koki menjadi meningkat.

Film berjudul Burnt, yang artinya terbakar, berusaha menampilkan perjalanan seorang koki kawakan yang yang mengalami pasang surut kehidupan. Karirnya yang gemilang hancur karena penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku yang arogan.

Setelah mengatasi ketergantungan akan narkoba, koki kawakan ini kembali ke London untuk kembali berkarya di restoran.

Bagaimana kisahnya bisa ditonton saat film ini sudah rilis di bioskop. Film ini menawarkan dua bintang film yang apik yaitu Bradley Cooper dan Sienna Miller.

Selain itu ada harapan kisah ini akan disampaikan dalam bahasa visual yang menarik dengan proses memasak, sajian-sajian yang mengundang selera, dan deretan menu makanan yang menimbulkan foodorgasm.

Kita lihat saja apakah penonton akan ‘terbakar’ ketika menikmati kisah koki kawakan ini.

Trailer Film Everest

Everest memang mengagumkan. Menjulang tinggi di Benua Asia. Meskipun medannya sangat berat, anehnya selalu ada orang-orang yang tertarik untuk mencoba menaklukkannya. Yang nyatanya malah ada sekian pendaki yang akhirnya takluk dengan gunung tertinggi yang terletak di permukaan Planet Bumi.

Baru saja Everest menjadi topik berita saat terjadi longsoran salju yang menewaskan banyak pendaki. Penyebab longsoran tersebut karena gempa berkekuatan besar yang terjadi di Nepal; negara yang berada di kaki gunung berukuran masif ini.

Dan ada sekian banyak film, baik dokumenter atau hiburan, yang menampilkan Everest. Salah satu film yang terbaru adalah film dengan judul gunung ini yaitu Everest. Dengan begitu akan ada banyak orang yang paling tidak bisa mengagumi Everest dari layar kaca; ketimbang langsung mendatangi gunung yang jelas tidak ramah untuk orang-orang kebanyakan.

Cinta Menerbitkan Harapan

Saat kehidupan terasa begitu sulit dan harapan hidup memudar, sepercik cinta yang datang tak disangka-sangka mampu menumbuhkan kembali semangat hidup dua insan manusia.

Begitulah pesan yang saya cerna dari film Jepang berjudul My Rainy Days; yang dirilis tahun 2009. Dua pemainnya, Nozomi Sasaki dan Shosoku Tanihara, mampu menampilkan emosi yang kuat.

Frankly speaking, cinta membuat hidup lebih hidup; bahkan ketika seseorang tak merasa punya harapan hidup atau hanya tinggal menghitung rentang waktu yang pendek.

Mendadak jadi ingat lagunya Krisdayanti “Menghitung Hari”.

The Dark Knight dan Dilema

Sangat menarik dan patut ditonton. Itu pendapat saya mengenai film Batman yang terbaru. Bukan sekedar jagoan berbaju hitam-hitam yang dengan mudahnya mengalahkan musuh-musuhnya. Justru, di film ini , hampir seluruh peran, baik yang hitam, putih sekaligus yang abu-abu menghadapi pertentangan batin. Berhadapan dengan dilema.

The Dark Knight mengisahkan tentang perjuangan Si Manusia Kelelawar mengatasi kegilaan Joker. Jelas susah kala orang waras menghadapi orang tak waras. Joker has nothing to lose. Mengobrak-abrik Kota Gotham hanya karena ingin Batman membuka kedok dan menyerahkan diri.

Aksi Batman lumayan bisa dinikmati. Bahkan, ada beberapa up-grade perlengkapan Batman. Keterangan pembuatan filmnya bisa diulik di The Dark Knight (film). Namun, bumbu utama justru terletak dari permainan psikologis yang disampaikan melalui kekuatan visual. Bagaimana tokoh baik bisa menjadi brutal, orang yang dianggap jahat bisa memiliki nurani dan beberapa persoalan menyangkut benar dan salah.

Di film ini, peran yang paling menonjol justru lawan bebuyutan Batman, yaitu Joker. Disamping itu, film ini disertai kejadian mengapa Harvey ‘Two-Face’ Dent menjadi eksekutor brutal yang selalu memegang koin.

Dan kisah film ini mengalir cepat. Tapi tak lupa selalu membuat penonton berpikir ‘apa yang seharusnya dilakukan bila dhadapkan pada dua pilihan yang sulit diputuskan’. Ada rasa penasaran yang berkaitan erat dengan kata ‘seandainya’. Dilema, itu tema film ini.

Bolehlah disimpulkan bahwa film ini tak sekedar mempertunjukkan aksi superhero. Tapi ada kesan moral yang ingin disampaikan dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan dilema kehidupan.

Tags: ,

Film Blindness

Terkadang kita melihat orang buta yang berjalan memakai tongkat, dituntun anjing kesayangan mereka atau digandeng anggota keluarganya. Banyak yang menjadi peminta-minta di jalanan, memanfaatkan kecacatan mereka untuk mengais rejeki. Namun, beberapa bisa mengembangkan talenta dan dikagumi orang karena kemampuannya yang melebihi orang yang bermata normal.

Menjadi tuna netra memang sungguh menyakitkan. Tak ada warna, bentuk dan tekstur kehidupan yang dapat dinikmati sepasang organ kompleks yang katanya menjadi jendela hati itu. Ada ketakutan bila tak bila melihat lagi.

Lalu, bagaimana bila secara masal, banyak orang menjadi buta secara bersamaan? Itulah yang digambarkan oleh film berjudul Blindness yang dibintangi oleh Julianne Moore; artis yang kerap bermain di film thriller dan misteri. Tentu kepanikan akan melanda dunia. Coba saja lihat trailer Blindness.

Jadi bisa ditemui banyak adegan ‘orang buta menuntun orang buta’. Dalam situasi yang serba tak pasti karena tak ada yang mampu membimbing mereka keluar dari masalah. Apalagi setabah apa pun seseorang, pastilah akal sehatnya terguncang kala menyadari tak bila melihat lagi.

Saya hanya menonton trailer-nya, belum filmnya. Dan film ini, menurut saya pribadi, layak untuk ditonton. Maklum, berangkat dari apa yang saya lihat dari sekitar saya, makin banyak orang yang kemampuan matanya menurun drastis. Entah karena penyakit, kebiasaan buruk seperti menonton tv dan game, kecelakaan atau pun salah perawatan.

Mata tak hanya sekedar untuk melihat. Mata juga menjadi jendela hati dan wawasan dunia. Seyogyanya dijaga dan dirawat sebaik-baiknya.

Film August dan Netpreneur

Saya sedang menunggu tanggal tayang film berjudul August di bioskop. Bagi saya film ini menarik karena berkaitan dengan demam Dot-com yang pernah terjadi di masa lalu dan kemudian mulai ramai lagi dibicarakan akhir-akhir ini.

Film ini menyuguhkan bagaimana suka-duka dua orang kakak-beradik yang merupakan netpreneur saat membangun bisnis start-up dan menghadapi guncangan dalam usaha mereka. Berhasilkan mereka menyelamatkan perusahaan impian mereka tersebut?

Tentu saja film ini bakalan menarik bila penonton mengetahui sedikit latar-belakang dunia internet entrepreneur  dan IPO, dot-com dan peristiwa yang dijuluki dengan dot-com bubble. Tanpa konteks tersebut, esensi film ini boleh jadi tak tertangkap.

Untuk yang tertarik dengan dunia netpreneur tak ada salahnya mengulik juga e-Dreams dan Startup.com sebagai film yang merekam berbagai peristiwa bisnis dot-com.

Semoga saja film-film tersebut menambah wawasan dan belajar dari kesalahan dan kelebihan para perintis bisnis internet bagi yang memiliki minat untuk mendirikan bisnis dot-com seperti Detik.com, Astaga.com atau pun Boleh.com. Bukankah makin banyak layanan internet asli dari tanah air? Pasar masih terbuka lebar dan potensinya pun sungguh besar berdasarkan jumlah populasinya.

Ayat-Ayat Cinta

Terus terang saya kurang memiliki minat menonton film Indonesia karena kadang kurang masuk akal dan dibuat-buat. Termasuk film Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja saat banyak orang membicarakannya, saya pun jadi penasaran. Sungguh. Bagaimana sih ceritanya, setting-nya yang katanya kurang pas dan ada bumbu kontroversi di sana.

Ulasannya hanya saya baca dari 21Cineplex dan Ruang Film. Sepertinya biasa saja. Tapi mengapa film ini bisa menjadi berita heboh? Ini yang membuat saya ingin menontonnya kala saya mudik untuk libur Paskah. Penasaran.

Jadi alasan saya menonton film ini adalah untuk menjawab rasa penasaran itu. Bukan, bukan pada film itu sendiri. Jadi tak sabar untuk pulang ke Kota Gudeg lalu berkunjung di bioskop di Carrefour…