The Mandalorian

Seru!

Satu kata itu bisa menjelaskan apa yang saya rasakan saat menonton serial The Mandalorian. Serial ini adalah salah satu serial yang lahir dari film-film Star Wars. The Mandalorian menggambarkan perjalanan Din Djarin – salah satu pendekar bangsa Mandalore – dari sebuah pemburu bayaran menjadi sesosok pembela kebenaran yang kebapakan. Sikap Din Djarin berubah setelah bertemu dengan buruannya yaitu Grogu – makhluk hijau kecil yang memiliki daya Force dan satu spesies dengan Yoda sang Jedi Master.

Petualangan demi petualangan dalam tiap seri The Mandalorian tak pernah membosankan. Penonton menjadi ingin terus mengikuti perjalanannya. Mando – nama julukan Din Djarin – bertemu dengan pengkhianat, teman, orang yang perlu diselamatkan, orang yang menyelamatkannya, dan tentu dengan tokoh antagonis yang ingin melenyapkannya.

Ada adegan yang membuat terkesan. Juga terkejut. Ada juga adegan yang mengharukan. Pokoknya seru. Ada berbagai macam alien yang ditemui dari perjalanan antar planet. Pesawat dan kendaraan di serial itu juga bermacam-macam. Ada kendaraan yang canggih dan tentu ada yang memprihatinkan. Ada pula hewan-hewan yang lucu dan yang menyeramkan. Komplit ada berbagai bagian serial yang membuatnya bisa dinikmati.

The Mandalorian itu serial yang recommended banget!

Seru!

The Donut King

Saya baru saja membaca kisah Sang Raja Donat dari Kambodia di artikel BBC berjudul The Donut King who went full circle – from rags to riches, twice. Inspiratif sekaligus mengharukan. Kisahnya tersebut juga menjawab fenomena akan banyaknya toko donat yang dimiliki atau dijalankan oleh imigran Kambodia di California.

Saya jadi ingin melihat filmnya. Entah kapan tayangnya. Silakan menikmati cuplikan filmnya.

Parodi Film 1917

Namanya juga parodi. Jadi harus tahu konteksnya supaya paham lucunya di mana. Film pendek berjudul 2020 ini menggunakan konteks film perang berjudul 1917. Bila film 1917 menggambarkan situasi Perang Dunia I maka film 2020 memunculkan kondisi pandemi coronavirus beserta isu politik terkini (Trump dan Kim Jong Un), perdebatan gaming, keterbatasan tisu toilet, merebaknya penggunaan sosmed (Tik Tok, Twitter, Facebook) dan toko ritel.

Uniknya – yang mana merupakan ciri khas utama film 1917 – semua adegannya diambil secara terus-menerus dari awal hingga akhir. Persis seperti adegan film 1917. Dari saat penugasan si tentara muda hingga akhirnya pesan tersampaikan.

Apakah parodinya lucu? Tergantung dari interpretasi masing-masing. Bila tak ngeh dengan hal-hal yang terjadi di jaman now tentu bakal missing the point. Begitulah.

Tenangno Pikirmu.

Sebuah sentuhan puntiran plot yang spektakuler terangkai dalam sebuah tiga kalimat yang sederhana di adegan paling akhir film pendek berjudul Tilik di YouTube. Tepatnya di titik 30:00 menit dari film yang viral tersebut.

Tenangno pikirmu. Kowe kudu sabar. Percoyo wae karo aku.

Adegan terakhir di Film Tilik, menit 30:00.

Demikian lelaki berumur itu berusaha memberikan sebuah ketenangan bagi perempuan muda yang duduk di sampingnya; di dalam mobil sedan itu.

Luar biasa, Pakdhe! Kata-kata gombalmu bisa bikin ayem perempuan muda yang sedang bergejolak perasaannya; untuk segera dimiliki dan disahkan. Elok!

Plot twistnya benar-benar mantab! Tak terduga. Tak disangka. Nendang.

Film Tilik

Film pendek satu ini mendadak viral. Banyak teman di beberapa grup WhatsApp membagikan tautan videonya di YouTube. Mereka tampak menikmati kisah Tilik (Menjenguk) yang dibuat oleh Ravacana Films yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY.

Jadi saya tontonlah film pendek ini. Saya penasaran.

Cukup mudah saya pahami karena film ini disampaikan dalam Bahasa Ibu saya yaitu Bahasa Jawa. Lokasinya di seputaran Bantul. Seru pembicaraannya. Ada ibu-ibu yang asyik bertukar kata. Tentu fokus utama pada Bu Tejo yang super-duper nyinyir. Mereka sibuk membicarakan tokoh yang misterius yaitu Mbak Dian. Ada Yu Ning yang melakukan pembelaan.

Lucu. Asyik. Adegannya di atas bak truk terbuka juga membumi dan nyata.

Namun plot twistnya benar-benar tak terkira. Klimaksnya nendang.

Penasaran? Yuk, nonton saja video film pendek berjudul Tilik ini.

Keabadian dan Degradasi Manusia

Manusia begitu terobsesi pada keabadian. Ingin tak pernah mati. Bila ingin umur panjang, harapannya bisa melebihi batas 100 tahun.

Dengan hidup lama manusia bisa memiliki kesempatan dalam hidupnya. Aset kekayaannya akan naik seraya berlalunya waktu. Belajar tentang lebih banyak hal di dunia ini. Bisa menghasilkan banyak penemuan baru. Tentu bisa menikmati sekian banyak hal menarik yang ditawarkan oleh dunia.

Namun insan manusia tak sadar bahwa hidup terlalu lama memiliki sisi negatifnya. Hidup dengan tubuh sehat ratusan tahun tak berarti pikirannya tetap sehat. Bisa jadi bosan karena sudah terlalu kaya pengalaman. Belum lagi pasangan yang hidup ratusan tahun bersama bisa jadi tak lagi memiliki perasaan yang sama. Belum lagi bila seseorang hidup lama dan tak mensyukuri kehidupan sehingga tersiksa lebih lama di dunia ini.

Serial Netflix berjudul Altered Carbon menggambarkan sisi positif dan sisi negatif dari hidup yang sangat lama. Diceritakan kalau di suatu tempat bernama Dunia Harlan, kesadaran manusia melekat di sebuah cakram memori yang terbuat dari adopsi teknologi alien. Dengan cakram memori tersebut – yang mewadahi nyawa dan ingatan manusia – seseorang bisa berganti wadah alias tubuh.

Tiap berganti tubuh, seseorang cukup memindahkan data yang ada dalam cakram memori yang melekat di tengkuk. Bila tubuh seseorang sudah rusak parah, tak lagi bekerja dengan baik atau menua; tak perlu cemas.

Uniknya orang bisa memilih tubuh yang ingin mewadahi kesadarannya. Bisa memakai tubuh yang kuat perkasa. Bisa juga memilih di tubuh muda anak kecil. Tentu ada uang, ada pilihan. Sebagian besar yang tak punya pilihan terpaksa hidup di tubuh yang seadanya, bahkan ada perempuan yang mau tak mau hidup di tubuh laki-laki.

Namun yang menjadi soal adalah kerusakan ‘jiwa’ bila berganti tubuh terlalu sering. Belum lagi faktor psikologis Terlalu lama hidup sehingga mengalami terlalu banyak peristiwa yang membuat kesehatan mental terganggu. Intinya umur panjang dengan berganti-ganti tubuh tak menjamin bahwa ‘jiwa’ seseorang tak rusak. Makin lama hidup, makin rusak pula ‘jiwanya’.

Pergantian tubuh lama dengan tubuh baru tak selalu lancar. Begitu banyak masalahnya. Namun manusia cepat beradaptasi. Bahkan ada sekian banyak orang yang menyalahgunakan teknologi tersebut untuk berkuasa. Juga untuk berbuat kriminal.

Di lain sisi, karena bisa hidup lama, manusia jadi lupa tentang tuhan dan kematian. Orang tak begitu peduli tentang mati. Mereka hanya peduli tentang eksplorasi dan eksploitasi. Teknologi menjadi tuhan baru karena bisa mengatasi masalah klasik manusia yaitu kematian.

Dalam serial Altered Carbon, tak semua orang ternyata ingin hidup selamanya. Beberapa orang malah rindu untuk bisa mati total. Tak hanya tubuhnya yang mati lalu ‘jiwanya’ berganti ke tubuh baru. Malah ada yang ekstrim ingin mengembalikan manusia ke kondisi semula yaitu ada kematian; bukan lagi hidup tanpa akhir. Dalam beberapa adegan justru ada tokoh-tokoh yang merasakan ‘hidup’ justru ketika mendekati ‘mati total’. Ironis sekali, kan?

Altered Carbon menawarkan gambaran yang unik tentang masa depan di mana orang bisa hidup hingga ratusan tahun. Apa dampaknya bagi ‘jiwa’ manusia. Dan teknologi alien seperti apa yang bisa membuat kehidupan manusia menjadi abadi.

Sedikit catatan. Serial ini masuk kategori sci-fi. Namun hanya pas sebagai tontonan orang dewasa yang berpikiran dewasa. Plotnya bagus. Adegan aksi dan latar-belakangnya seru. Namun di sana-sini ada adegan yang vulgar dan kekerasan; tak cocok untuk ditonton anak-anak.

Trailer Film Burnt

Film dengan tema masak-masakan memang cukup mengemuka akhir-akhir ini. Seiring dengan banyaknya acara masak-memasak di televisi, ketertarikan banyak orang tentang profesi koki menjadi meningkat.

Film berjudul Burnt, yang artinya terbakar, berusaha menampilkan perjalanan seorang koki kawakan yang yang mengalami pasang surut kehidupan. Karirnya yang gemilang hancur karena penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku yang arogan.

Setelah mengatasi ketergantungan akan narkoba, koki kawakan ini kembali ke London untuk kembali berkarya di restoran.

Bagaimana kisahnya bisa ditonton saat film ini sudah rilis di bioskop. Film ini menawarkan dua bintang film yang apik yaitu Bradley Cooper dan Sienna Miller.

Selain itu ada harapan kisah ini akan disampaikan dalam bahasa visual yang menarik dengan proses memasak, sajian-sajian yang mengundang selera, dan deretan menu makanan yang menimbulkan foodorgasm.

Kita lihat saja apakah penonton akan ‘terbakar’ ketika menikmati kisah koki kawakan ini.

Trailer Film Everest

Everest memang mengagumkan. Menjulang tinggi di Benua Asia. Meskipun medannya sangat berat, anehnya selalu ada orang-orang yang tertarik untuk mencoba menaklukkannya. Yang nyatanya malah ada sekian pendaki yang akhirnya takluk dengan gunung tertinggi yang terletak di permukaan Planet Bumi.

Baru saja Everest menjadi topik berita saat terjadi longsoran salju yang menewaskan banyak pendaki. Penyebab longsoran tersebut karena gempa berkekuatan besar yang terjadi di Nepal; negara yang berada di kaki gunung berukuran masif ini.

Dan ada sekian banyak film, baik dokumenter atau hiburan, yang menampilkan Everest. Salah satu film yang terbaru adalah film dengan judul gunung ini yaitu Everest. Dengan begitu akan ada banyak orang yang paling tidak bisa mengagumi Everest dari layar kaca; ketimbang langsung mendatangi gunung yang jelas tidak ramah untuk orang-orang kebanyakan.

Cinta Menerbitkan Harapan

Saat kehidupan terasa begitu sulit dan harapan hidup memudar, sepercik cinta yang datang tak disangka-sangka mampu menumbuhkan kembali semangat hidup dua insan manusia.

Begitulah pesan yang saya cerna dari film Jepang berjudul My Rainy Days; yang dirilis tahun 2009. Dua pemainnya, Nozomi Sasaki dan Shosoku Tanihara, mampu menampilkan emosi yang kuat.

Frankly speaking, cinta membuat hidup lebih hidup; bahkan ketika seseorang tak merasa punya harapan hidup atau hanya tinggal menghitung rentang waktu yang pendek.

Mendadak jadi ingat lagunya Krisdayanti “Menghitung Hari”.