Pencurian Bank dengan Strategi – resensi film

Pencurian Bank dengan Strategi

Kelewat sering penonton film disuguhi dengan aksi perampokan bank yang brutal. Sekelompok penjahat memegang senapan besar yang tak ragu menembak sandera namun selalu kalah dengan tim S.W.A.T, polisi jagoan atau pahlawan pembela kebenaran. Klise.

Tidak sama dengan Inside Man yang diwarnai dengan akting Denzel Washington dan Jodie Foster. Berbeda pula dengan Firewall yang dilakoni oleh Harrison Ford.

Film pertama menunjukkan bahwa ide kelewat gila bisa membuat polisi kewalahan menghadapi empat anggota perampok dengan senjata mainan. Saking tenangnya perampok itu menghadapi situasi penyanderaan yang kritis, mereka tak sedikit pun membunuh sandera. Bahkan di akhir cerita mereka bisa melenggang keluar dari pintu bank tanpa di-dor oleh polisi. Tak tertangkap hingga kasus ditutup.

Penonton pasti penasaran bagaimana cara mereka untuk mengelabui polisi. Anda sudah menonton? Kalau belum, saya janji Anda akan “ingin tahu” cara mereka. Sebagai tambahan pemanis cerita, ada intrik lain yang terjadi di sela perampokan yang menyingkap rahasia puluhan tahun.

Film kedua mempertontonkan sekelompok “perampok cerdas” dengan keahlian membobol sistem perbankan lewat kecanggihan komputasi. Uang tidak diambil secara konvensional dengan tangan berpeluh keringat tapi dipindahtangankan sekejap mata dari ribuan akun bank. Wah, pasti menghebohkan.

Sayangnya, kematangan rencana harus berhadapan dengan “sang penjaga bank” yang hendak menyelamatkan keluarganya dari tangan penjahat berotak tersebut. Salah satu berhasil mencapai tujuannya, siapakah yang menang?

Terdapat benang merah yang sama dari dua film di atas yaitu bahwa aksi curi, terlepas dari aspek moral, bisa dilakukan dengan 1001 cara. Rupanya mereka menerapkan slogan yang saya juga suka “Think Different“. Namun begitu, pencuri ya tetap pencuri.

ps: Ketika menuliskan resensi ini saya justru ingin menonton film aksi curi lainnya yang berjudul Italian Job – yang mirip dengan Ocean Eleven.

Artikel ini disunting di dan di-publish dari Google Docs & Spreadsheets.

Forgotten, Flight Plan dan Panic Room

Tiga buah film menggambarkan hal yang sama persis. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Ibu-ibu ini rela mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan buah hati mereka. Ketiganya juga berjuang sendirian tanpa bantuan suami atau pasangan hidup mereka. Maklum ketiganya janda karena suatu hal.

Di film Forgotten, seorang ibu harus melawan keyakinannya sendiri bahwa putra tercintanya sudah meninggal. Bahkan, dia harus berhadapan dengan psikiater yang memvonisnya mengidap penyakit gabungan antara amnesia dan halusinasi. Bagian paling parah adalah saat ia menyadari bahwa dia melawan makhluk asing yang kecerdasannya melebihi manusia.

Film Flight Plan mengisahkan seorang ibu yang diperankan dengan apik oleh Jodie Foster. Dia dihadapkan pada fakta bahwa dia menumpang pesawat tanpa putrinya. Itu pun dibuktikan dari daftar penumpang yang dibawa oleh pramugari. Padahal dia yakin membawa serta putri tercintanya satu-satunya di sebelah tempat duduknya. Tak ada seorang pun mempercayainya keberadaan putrinya hingga kebenaran terungkap.

Kisah ibu dan putrinya yang terjebak di ruangan besi dalam film Panic Room membuktikan seberapa besar kekuatan cinta. Lagi-lagi juga diperankan oleh Jodie Foster. Diceritakan di film itu seorang ibu berusaha mati-matian melawan tiga perampok demi anaknya.

Ketiga film ini akan sangat pas ditonton ketika Hari Kartini dan Hari Ibu tiba. Lebih mendidik dan memotivasi daripada sekedar karnaval kaum hawa mengenakan baju tradisional dan bergaya feminin yang tidak pas lagi dengan jamannya. Lebih bermakna dari sebungkus cokelat dan bersih-bersih sehari untuk ibunda tercinta.