Ledok Sambi

Piknik murah meriah. Dengan pemandangan alam yang asri. Bisa main air di aliran sungai kecil yang bersih dan ada batu-batu yang bisa dipakai duduk. Ada rumput hijau rapi yang bisa dipakai untuk duduk dengan tikar. Ada tempat makannya. Ada toiletnya. Tidak jauh dari tengah Kota Jogja. Tiket masuknya sukarela.

Itulah esensi hakiki dari Ledok Sambi. Terletak di Dusun Sambi. Jalan Kaliurang KM 18,5. Tempat piknik asyik di sebelah Utara kota gudeg ini.

Disarankan untuk datang pas weekday. Hindari weekend. Karena alam yang asri menjadi tak nyaman bila terdapat begitu banyak manusia yang sama-sama ingin menikmati akhir pekan di tempat piknik lumayan viral dan naik daun itu.

Flight to Loyola

Saya suka merancang perjalanan. Bisa jadi karena saya suka dengan geografi, peta dan alat transportasi. Salah satu hal yang mengasyikkan adalah membuat rencana perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Barusan ada teman satu komunitas yang terpilih menjadi wakil dari Indonesia untuk mengikuti acara internasional di Loyola yaitu sebuah tempat di kota Azpeitia, provinsi Gipuzkoa, Spanyol. Loyola tak terlalu dikenal sebagai destinasi wisata. Bukan kota besar. Berbeda dengan Madrid atau Barcelona. Loyola bisa jadi hanya dikenali oleh orang-orang yang belajar tentang Ignatius Loyola. Di Loyola terdapat Tempat Suci untuk Santo Ignatius dari Loyola.

Uniknya teman saya tersebut belum pernah pergi ke luar negeri. Paling jauh hanya terbang dari Yogya ke Jakarta. Tidak ada bayangan sama sekali tentang visa perjalanan, paspor, transit, bandara di luar negeri dan perjalanan darat di negeri orang. Ditambah lagi dia harus pergi sendirian. Tak ada teman seperjalanan. Umur masih muda dan belum berpengalaman pergi jauh sendirian.

Untung saja rencana perjalanannya masih relatif lama. Bulan Juli 2021. Masih ada sekira 7 purnama untuk merencanakan perjalanan tersebut.

Untuk saya, perjalanan dari Yogya ke Loyola termasuk menantang. Perjalanan naik pesawat yang makan waktu hampir seharian. Transit di beberapa kota dunia. Belum lagi stamina dan pendanaan. Pun saya belum pernah sekalipun mengunjungi Benua Biru di mana Loyola itu berada.

Saya dulu pernah membuat rencana perjalanan dari Singapura ke Barcelona. Cita-cita yang belum terwujud untuk menikmati budaya Katalan di kota pelabuhan di tepi Laut Mediterania. Oleh karena itu rasanya jadi menarik untuk mengulik perjalanan dari Yogya ke Loyola. Meskipun itu bukan perjalanan saya.

Baiklah saya segera menggunakan Google Search – Flight untuk melihat opsi penerbangan yang ada. Saya memilih penerbangan pada bulan Juli 2021.

Yogyakarta memiliki bandara internasional yang baru. Yogyakarta International Airport. Sayangnya belum banyak jalur penerbangan internasional yang menuju ke bandara ini. Untuk mendapatkan jalur penerbangan internasional yang terbilang ramai dan memiliki banyak pilihan, saya harus memilih dua kota besar yang memiliki bandara internasional. Ada dua opsi terbaik dan terdekat yaitu Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten (tetangganya Jakarta) dan Bandara Changi di Singapura.

Mari kita lihat dua perjalanan yang di mulai dari 2 bandara tersebut. Saya mengandaikan perjalanannya mulai dari 5 Juli 2021 sampai dengan 11 Juli 2021.

Opsi Pertama: Changi

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Singapore Changi Airport (SIN). Tiket pergi pulang sekira 2,5 juta rupiah naik AirAsia.

Transit di Changi untuk beberapa jam sambil berkeliling di Changi Airport yang memenangkan penghargaan sebagai bandara terbaik di dunia berturut-turut. Transit di Changi itu nyaman dan aman.

Perjalanan dari Changi ke Bilboa menggunakan Qatar Airways dan maskapai rekanannya yaitu White Airways. Biayanya sekira 12 juta untuk tiket pergi pulang.

Kemudian naik Qatar Airways – yang mana pesawatnya nyaman dengan pelayanan yang baik – dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Doha yang memakan waktu hampir 8 jam. Pesawat mendarat di Hamad International Airport (DOH). Waktu transit sekira 3 jam.

Dengan pesawat Qatar Airways yang sama, berangkat dari Hamad International Airport menuju Lisbon Portela Airport (LIS) di Portugal. Penerbangan memakan waktu 8 jam.

Ribetnya ada jarak waktu transit yang lama yaitu 19 jam. Nah, bingung kan mau ngapain?

Setelah itu dari Lisbon Portela Airport (LIS) terbang ke Bilbao Airport (BIO) menggunakan White Airways – maskapai lokal yang bekerja sama dengan Qatar Airways. Hanya 2 jam saja. Pesawatnya adalah ATR 72 – dengan mesin propeler dan bukannya pesawat jet. Pengalaman yang unik tentunya.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Opsi Kedua: Soetta

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Soekarno-Hatta International Airport (CGK). Tiket pergi pulang relatif murah sekira satu juga rupiah.

Transit di Soetta tidak bisa dikatakan mengasyikkan. Namun dipilih karena terhitung masih di Indonesia. Ada rasa aman di negara sendiri meskipun saya sendiri tak pernah merasa aman di bandara itu. Mungkin di Soetta bisa bertemu teman atau keluarga. Lumayanlah.

Perjalanan dari Soetta ke Bilboa menggunakan kombinasi antara Garuda Indonesia dan Lufthansa. Makan biaya sekira 12 juta rupiah. Naik Garuda relatif nyaman karena pramugarinya bisa berbahasa Indonesia. Pesawat Lufthansa meski pesawatnya tak nyaman-nyaman amat tapi terpercaya.

Baiklah, dari Soekarno-Hatta International Airport (CGK) naik Garuda Indonesia menuju Singapore Changi Airport (SIN) memakan waktu 2 jam. Singkat. Transit selama 5 jam di bandara yang nyaman tersebut.

Setelah itu naik Lufthansa dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Munich International Airport (MUC). Makan waktu 12 jam lebih sedikit. Setengah hari perjalanan.

Transit di Munich selama 3 jam. Kemudian dari Munich International Airport (MUC) melanjutkan terbang naik Lufthansa ke Bilbao Airport (BIO). Hanya 2 jam lebih sedikit.

Perjalanan ini lebih banyak transitnya. Transit di Cengkareng (Soetta), Singapura (Changi), Munich (Munich Airport). Namun dengan transit yang banyak otomatis duduk di pesawatnya tak terlalu lama. Hanya saja harus melewati begitu banyak pintu imigrasi. Lumayan juga bisa “mampir” di Singapura dan Jerman; sebelum akhirnya tiba di Spanyol.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Kesimpulannya

Kalau mau pilih nyaman, Opsi Kedua lebih baik. Naik Garuda, transit di Jakarta. Sayangnya harus transit di banyak bandara. Ini opsi gampang. Mudah. Aman.

Kalau mau merasakan Changi lebih lama dan bisa transit lama di Lisbon, ya pilihannya adalah Opsi Pertama. Bias karena saya merasa Lisbon adalah kota yang menarik. Terbang dengan Qatar Airways menurut saya pasti lebih nyaman dibandingkan naik Lufthansa. Hanya sayangnya di tahap terakhir harus berganti dengan White Airways – yang entah seperti apa pesawat dan layanannya.

Tentu saja ini hanya ‘simulasi’ perjalanan dari Yogyakarta ke Loyola. Saya mengambil pilihan bandara di kota Bilboa karena jarak Bilboa ke Loyola relatif pendek. Dua jam dengan kereta. Tentu ada pilihan dari Changi atau Soetta menuju ke Madrid. Sayangnya perjalanan darat dari Madrid ke Loyola itu lumayan jauh dan harus naik transportasi darat. Lebih berat.

Tentang biaya, kedua opsi tersebut relatif sama yaitu 12 juta ditambah dengan perjalanan 1) Yogya ke Singapura (2,5 juta) atau 2) Yogya ke Cengkareng (1 juta). Anggap saja sekira 15 juta dengan asumsi kelebihannya adalah biaya untuk makan minum saat transit.

Baiklah. Cukup rasanya untuk ‘melampiaskan’ hobi unik membuat rencana perjalanan.

Shonan Monorail

Monorail yang ini memang unik. Monorail konvensional memiliki kereta yang berjalan di atas rel kereta. Namun Shonan Monorail justru tergantung pada platform di atasnya yang memiliki rel. Istilah kerennya suspended monorail alias kereta rel tunggal tergantung.

Shonan Monorail beroperasi di kota Kamakura dan Fujisawa di Prefektur Kanagawa. Dalam situs Shonan Monorail, ada ucapan yang menarik. “Have a nice flight.” Ucapan itu biasanya diucapkan pada saat kita naik pesawat terbang. Bukan naik kereta. Namun karena monorailnya seakan-akan melayang maka ucapan tersebut tepat. Bahkan stasiun keretanya mereka sebut sebagai sky station. Keren, kan?

Prefektur Kanagawa tak terlalu jauh dari Tokyo. Dari Tokyo, orang bisa melalui Yokohama untuk menuju prefektur Kanagawa.

Saya sendiri belum pernah mengunjungi Kanagawa. Tak tahu juga apa yang menarik di sana. Namun sebagai seseorang yang punya minat dengan kereta api, sepertinya Shonan Monorail bisa menjadi referensi yang menarik.

Kembali ke situsnya, perusahaan monorailnya mengiklankan bahwa kereta ini seperti naik roller coaster yang melewati gunung dan terowongan. Asyik sekali. Monorail tak sebatas sebagai alat transportasi publik. Namun menjadi wahana wisata kota yang atraktif. Keren!

Di bawah ini ada video dari YouTube yang menggambarkan asyiknya ‘terbang’ dengan suspended monorail. Jangan lewatkan juga mengamati sky station yang menjadi tempat orang untuk naik dan turun kereta.

Enjoy!

Lisbon

Tahu di mana Lisbon? Bila tak tahu coba buka peta dunia.

Ada rasa kagum saat melihat video tentang Lisbon. Arsitektur bangunan-bangunan tua yang begitu indah berada di kota yang tertata rapi. Itu semua ada karena warisan dari masa jaya di masa lalu saat Portugal menjadi salah satu negara yang berhasil mengkoloni berbagai wilayah di dunia. Termasuk daerah Macau dan Timor Leste di masa sekarang. Armada kapalnya bisa jauh menjangkau berbagai lautan dan samudera. Menjelajahi, berdagang, merampas dan juga membawa kembali hasil bumi dan emas. Menjualnya kembali ke negara-negara di Dataran Biru Eropa. Kaya raya sehingga mampu membangun pusat kebudayaan yang indah dengan skala yang besar pada jamannya.

Menonton videonya jadi makin jatuh cinta pada Lisbon. Semoga one day bisa mengalami sendiri jalan-jalan dan menikmati kota pelabuhan itu.

Salah satu yang bikin saya tertarik adalah Trem Lisbon. Alat transportasi yang mumpuni di masa lalu namun kini lebih berfungsi sebagai wahana berkeliling kota untuk para turis yang datang ke sana. Salah satu jalur yang populer adalah Lisbon Tram 28. Rutenya meliuk-liuk, melewati jalan sempit dengan bangunan di kanan kiri dan ada jalur menanjak-menurun. Pasti asyik. Trem seperti itu mengingatkan saya pada cable car alias trem yang ada di San Francisco.

Untuk saat ini sudah cukup puas menonton videonya. Saya anggap ini sebagai dreaming session yang berfungsi sebagai cara visualisasi impian. Semoga tercapai. Pasti asyik bisa menjelajahi kota itu dengan trem dan menikmati suasananya yang hidup dan penuh keramahan.

Inspirasi Perjalanan

Saya suka dengan informasi tentang perjalanan. Menginspirasi. Bahkan meski saya tak sampai ke tempat wisata tersebut, paling tidak imajinasi saya sudah cukup terpuaskan. Merasa senang karena bisa membayangkan tempat-tempat yang membangkitkan minat berpetualang.

Saat ini sudah ada Instagram yang menyajikan ragam destinasi wisata melalui foto-foto yang Instagramable, yang indah dan yang menarik. Pun ada YouTube yang membuat penontonnya bisa melihat langsung aktivitas di tempat wisata yang sedang diputar. Tentu ada pula beragam situs informasi wisata di dunia maya.

Dengan foto, video dan kisah perjalanan jadi bisa membayangkan seperti apa kalau jalan-jalan di suatu tempat.

Tersebutlah seorang pengarang sekaligus kartunis Herge – yang bernama asli Georges Remi – yang menciptakan serial kartun Petualangan Tintin. Tak tanggung-tanggung, Tintin pergi ke banyak belahan dunia. Uniknya Herge menggunakan riset serius berbasis referensi buku-buku untuk mendukung latar-belakang beragam tempat yang dikunjungi Tintin; alih-alih pernah secara fisik mengunjungi sendiri tempat-tempat di dunia tersebut. Hebat, kan?

Melihat-lihat berbagai tempat di dunia juga bisa dilakukan dengan melihat peta online. Mudah. Tak lagi harus membolak-balik peta dunia dari cetakan kertas atau memutar bola dunia dari plastik.

Bumi ini tidak begitu besar dibandingkan Planet Jupiter. Namun Bumi ini juga luas. Sepanjang apapun seseorang hidup di dunia, tak akan pernah bisa menjangkau seluruh kota-kota di dunia. Pun dengan pegunungan, samudera dan hutan-hutan.

Namun bagi yang sudah pernah merasakan perjalanan mengunjungi beberapa tempat di dunia ini, bersyukurlah karena menyadari bahwa Bumi ini tempat yang indah untuk menjalani kehidupan ini.

Omong-omong bila ada kesempatan untuk jalan-jalan – tanpa harus melihat tebalnya dompet atau ribetnya perjalanan – Anda mau pergi ke mana?

Bukit Klangon

Suka jalan-jalan ke pegunungan yang sejuk di Jogja? Suka touring naik sepeda motor ke medan yang menantang dan pemandangannya hijau menyejukkan? Mau menjajal menaklukkan tanjakan di Jogja bagian Utara?

Jawabannya ada di Bukit Klangon.

Bukit ini ada di kaki Gunung Merapi. Terletak di Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Terdapat gardu pandang di sini yang terbuat dari kayu. Tingginya 5 meter. Tujuannya adalah memandangi indahnya Gunung Merapi – gunung berapi yang masih aktif statusnya dan terkadang memuntahkan lahar.

Waktu tempuh memakan satu jam dari Tugu Pal Putih – yang sering menjadi patokan arah di kota ini – hingga mencapai Bukit Klangon dengan kendaraan bermotor. Cukup arahkan kendaraan ke arah Utara melewati Jalan Kaliurang.

Biasanya wisawatan akan pergi sepagi mungkin ke arah Bukit Klangon. Kemudian pulangnya akan mampir ke tempat wisata lainnya di sebelah Selatannya. Bila ingin kulineran, cukup mampir di salah satu tempat makan yang banyak didapati di sepanjang Jalan Kaliurang. Sesuai selera masing-masing.

Seperti apa sih asyiknya pemandangan aerial bukit yang menjadi magnet wisata baru Jogja ini?

Dan ini adalah video asyiknya touring menuju bukit di kaki Merapi.

Bagi yang suka gowes, jangan anggap remeh tanjakan ke bukit ini. Menguji fisik.

Nepal van Java

Saya suka Instagram karena menambah wawasan destinasi wisata. Foto-fotonya bagus. Salah satu tempat jalan-jalan yang lagi viral adalah Nepal van Java. Apa?

Ya, begitulah kesan yang didapat oleh orang-orang tatkala mereka mengunjungi Dusun Butuh, Kaliangkrik. Mereka yang ingin mendaki Gunung Sumbing biasanya menjadikan desa ini basecamp mereka.

Sepintas memang mirip desa di Nepal. Tertutup kabut di dataran tinggi. Rumah-rumah berjejer menyesuaikan dengan kontur pegunungan yang miring. Jalannya tentu menanjak. Bedanya Dusun Butuh ini lebih hijau dibanding di Nepal; yang alamnya benar-benar menantang.

Viral maka dusun ini menjadi magnet wisata alternatif yang relatif baru. Padahal dulunya biasa saja dan hanya dikunjungi para pendaki gunung.

Meski pandemi coronavirus masih berlangsung, toh tetap saja ada yang tak bisa menahan godaan untuk berkunjung ke dataran tinggi Nepal van Java. Untuk sekedar selfie. Juga untuk rileks setelah lama berdiam diri di rumah karena Covid-19.

Ngalap Berkah

Ngalap Berkah memiliki makna ‘mencari berkat’. Biasanya tradisi Ngalap Berkah ini terjadi turun-temurun pada suatu masyarakat. Kita bisa melihat saat ada orang yang pergi ke suatu tempat khusus yang diyakini sakral untuk bersujud memohon sesuatu. Ditambahi dengan laku tertentu seperti bertapa atau puasa. Bisa juga hanya mengunjungi suatu tempat yang suci dan berdoa. Harapannya jelas yaitu supaya apa yang diinginkan terkabul.

Ngalap Berkah ini sering kita temui di semua bagian Nusantara; dari Sabang sampai Merauke. Bentuknya berbeda-beda. Tradisi masih dipegang kuat sehingga salah satu tradisi yang masih diturunkan adalah kegiatan Ngalap Berkah.

Bagaimana dengan di negara maju? Dengan kemajuan teknologi dan masyarakatnya menjadi modern, apakah tidak ada lagi acara pergi ke luar kota untuk Ngalap Berkah?

Ternyata masih. Salah satunya di Negeri Matahari Terbit. Tak hanya wisatawan mancanegara yang mendatangi kuil-kuil di Jepang. Sebagian besar wisatawannya adalah orang Jepang sendiri. Mereka datang ke kuil-kuil untuk berdoa dengan khusyuk. Membeli jimat yang bisa memberi keselamatan, mendatangkan rejeki atau enteng jodoh. Perusahaan besar pun menyumbang uang dan sebagai gantinya mendapat doa supaya usahanya lancar. Minum air dari mata air yang sakral pun dilakukan; tak beda di dengan di Indonesia. Mereka juga menggantungkan impian yang dituliskan pada papan-papan doa.

Harapannya satu. Doa terkabul.

Tentu bila keyakinan kita berbeda, ya kita tak perlu ikut-ikutan Ngalap Berkah di kuil-kuil di Jepang. Nikmati saja kecantikan kuil, keindahan alam di sekitarnya dan keramaian dari para pengunjungnya.

Hanya memang tak bisa dipungkiri, tempat-tempat suci – terlepas dari agama dan keyakinannya – memberikan rasa damai. Menjadikannya tempat yang pas untuk berdoa dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Kita tetap bisa berdoa dengan hening dengan duduk diam. Bukankah berdoa bisa di mana saja dan kapan saja. Tentu dengan mengerti unggah-ungguh di tempat tersebut.

Kamu sendiri bagaimana? Apakah ada tempat khusus yang kamu sukai untuk Ngalap Berkah; mengantarkan doa dan syukur kepada Yang Maha Esa?

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa foto di bawah ini memperlihatkan papan doa yang terbuat dari kayu itu ada gambar ayamnya? Apakah ini ditujukan kepada Dewa Ayam? Tentu tidak. Lambang ayam itu karena tahun itu, 2017, adalah Tahun Ayam sesuai dengan urutan Shio Tahun.

Papan Permohonan Doa – Kiyomizu-dera, Kyoto, Jepang – 2017

Dataran Iberia

Saya dulu hanya berpikir tentang impian ke kota Barcelona. Negeri Katalan itu memang menarik. Arsitektur kotanya, budayanya, makanannya dan sedikit juga tentang klub sepak bolanya yang sering menang di Liga Spanyol.

Seiring waktu, membaca sejarah Eropa, mendapat cerita dari orang lain, dan menonton YouTube, saya jadi lebih tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Dataran Iberia atau Semenanjung Iberia.

Ada Spanyol dan Portugal yang berbagi wilayah di Semenanjung Iberia itu. Kedua negara itu pernah menjadi kerajaan besar. Masing-masing memiliki daya jelajah yang tinggi dalam mengarungi samudera. Spanyol dan Portugal sama-sama punya wilayah koloni di berbagai penjuru dunia. Paling menonjol adalah jajahan mereka di Benua Amerika; terutama di Amerika Latin.

Portugal berhasil mendapatkan Brazil sebagai koloni mereka. Brazil yang wilayahnya sangat luas berbahasa Portugis. Sedangkan wilayah-wilayah lain di Amerika Latin dikuasai oleh Spanyol sehingga penggunaan bahasa Spanyol sangat lazim.

Dari mengulik informasi mengenai Portugal, saya menyadari bahwa Portugal memiliki kota-kota yang indah menawan. Tersebutlah Lisbon dan Porto. Lisbon merupakan ibukota Portugal. Porto adalah kota pelabuhan utama Portugal. Melihat foto-foto dan video tentang dua kota tersebut membuat saya jatuh cinta dan ingin mengunjungi dua kota tersebut.

Impian saya tak hanya ingin mengunjungi Barcelona. Saya juga ingin menambah Lisbon dan Porto sebagai destinasi wisata di Benua Biru.

Tertarik ingin tahu seperti apa sih tiga kota tersebut? Silakan menontonnya langsung di YouTube. Meski saat ini sedang pandemi dan finansial masih belum gagah, tentu boleh membangun impian untuk waktu yang indah di masa depan. Bermimpi itu gratis.

Barcelona

 

Lisbon

 

Porto

Tiga Kota Favorit

Sudah hobi saya untuk bertanya ke orang lain – biasanya yang suka traveling – tentang tiga kota favorit yang sudah mereka singgahi di dunia ini. Pertanyaan sederhana ini saya tanyakan karena saya ingin tahu kota apa yang menarik. Siapa tahu bisa memberikan inspirasi untuk saya. Saya juga selalu kepo penasaran dengan kisah-kisah perjalanan yang seru dari orang lain.

Tiga Kota Favorit Tujuan Destinasi | Munggur

Setiap kali saya menanyakan pertanyaan “apa tiga kota favoritmu” kepada banyak orang, saya selalu ditanya pertanyaan yang sama, “kamu sendiri apa?”

Hingga saat ini jawaban saya tetap sama. Kyoto, San Francisco, Lhasa. Begitu urutannya. Nomor satu Kyoto. Kemudian San Francisco. Lhasa menjadi nomor tiga.

Ingin tahu alasannya?

#1 Kyoto

Kyoto itu kota yang menurut saya The Most Beautiful City di dunia ini. Kota ini memiliki tatanan kota yang rapi. Ruas jalanan yang terencana dengan baik, lebar dan tersusun seperti kotak-kotak. Kuil tua nan megah. Tak banyak bangunan tinggi modern sehingga mata relatif bebas memandang jauh di mana pun. Banyak hasil tradisi masih kental terasa. Pun ada banyak orang mengenakan kimono di mana-mana.

#2 San Francisco

The Romantic City. Kejayaan masa lalu terlihat dari gedung-gedung menua yang masih angkuh kokoh berdiri. Dengan dermaga memanjang ramai dengan orang dan pemandangan tepi lautan yang indah. Trem lalu-lalang hadirkan transportasi lokal yang unik. Kontur kotanya yang berbukit-bukit dipenuhi dengan bangunan kuno seperti rumah-rumah berjejer gaya Victoria. Pengamen ada di mana-mana dan bahkan ada yang memainkan Saxophone. Dan ketika sore datang, pelan-pelan tapi pasti, kabut tebal akan menelan kota di tepian Samudera Pasifik ini. Kota tua ini akan menghilang di remang malam untuk kemudian muncul kembali di pagi hari.

#3 Lhasa

Top of the World. Kota tertinggi di dunia. Kota yang ada di atas deretan awan yang mengambang tinggi di atmosfer. Puncak dunia. Beda jauh dengan Puncak di Bogor. Bagai bumi dan langit. Saking tingginya, kota ini sangat cocok sebagai tempat untuk memanjatkan doa. Buktinya Istana Potala dibangun di tempat ini. Banyak peziarah datang dari mana-mana untuk berdoa. Mungkin sinyal doa di sini bisa diterima tanpa distorsi karena posisinya yang paling dekat dengan langit di mana Sang Pencipta berada.

Tiga kota tersebut sangat berkesan untuk saya. Bersyukur boleh menikmati keindahan Kota Kyoto, jatuh cinta dengan Kota San Francisco dan menapakkan kaki di Kota Lhasa.