Iran

Dulu saya pernah punya keinginan untuk pergi ke Iran. Ada dua sebabnya. Pertama karena novel grafis berjudul Persepolis yang dibuat oleh Marjane Satrapi. Kedua, pernah ada jalur penerbangan AirAsia X yang menjangkau Iran; yang mana sangat menggoda saat itu.

Namun, saya belum pernah pergi ke sana. Belum ada kesempatan dan waktu. Sumber daya terbatas. AirAsia X juga sudah tak ada sepertinya. Minat menjadi pudar. Saat ini hanya merasa bahwa Iran sepertinya suatu negara yang cantik dan hanya untuk dikagumi dari jauh saja.

Siang ini entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan Iran. Penasaran membuat saya mencari video-video yang terkait dengan negara yang menjadi tetangga sekaligus rival abadi Irak. Video-video tersebut membuat saya senang karena bisa “melihat” Iran dari layar monitor saya. Itu saja sudah cukup.

Perjalanan Kereta yang menghubungkan Teluk Persia dan Lau Kaspia melalui jalur darat yang membelah Iran
Street Food Iran di Pasar Kuno di Tabriz, Iran
Tangkapan video aerial Iran

Iran adalah negara yang indah, bukan?

Jalan-Jalan di Sapporo

Hari Minggu ini memang sudah seharusnya menjadi hari yang diisi dengan aktivitas yang ringan dan santai. Tubuh bisa beristirahat. Namun berbeda dengan apa yang ada di benak saya. Ada banyak pikiran terlintas. Tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ini melelahkan. Seperti sebuah kolam yang bergelombang naik turun. Tidak tenang. Penuh riak. Mungkin terpengaruh dengan interaksi dengan banyak orang.

Namun ada satu hal yang ingin saya lakukan untuk menyegarkan diri saya. Dengan “jalan-jalan” di Sapporo; yang pernah saya kunjungi pada tahun 2012. Saya ingat bahwa saya ke kota terbesar yang ada di Pulau Hokkaido itu saat musim semi tiba. Hawanya sudah tidak relatif dingin seperti saat musim dingin. Temperatur mulai menghangat.

Sapporo adalah kota yang relatif muda umurnya. Pemerintah Jepang membangun Sapporo dengan sistem seperti jala yang berkotak-kotak (grid). Hal ini membuat tata kota Sapporo rapi. Dengan jalan utama yang membentang dengan banyak bangunan di kanan dan di kiri. Lengkap dengan taman yang luas dan menara jam.

Terdapat O-Dori, yang berarti jalan besar, membentang dari Timur ke Barat; membelah kota tersebut menjadi bagian Utara dan Selatan. Penataan seperti ini membuat navigasi di dalam kota tersebut sangat mudah. Suatu bangunan ada di Utara atau di Selatan. Apakah ada di Barat atau di Timur. Sederhana.

Terdapat subway yang relatif mudah untuk dipahami; memudahkan transportasi dalam kota. Terdapat juga streetcar; yang berjalan di atas rel di permukaan.

Di tengah kota Sapporo juga ada jalan bawah tanah yang panjang, paralel dengan subway. Di jalan ini, temperaturnya lebih hangat. Orang tidak terkena hembusan angin yang cukup dingin di permukaan tanah. Banyak toko dan kafe yang berjejer-jejer di jalanan ini.

Lumayan banyak tempat menarik untuk dikunjungi di Sapporo. Ada Clock Tower di dekat Stasiun Odori. Ada juga Ishiya Chocolate Factory yang memiliki atraksi menarik selain sajian coklat khusus bernama Shiroi Koibito – White Lovers – yang khas dan menggambarkan pemandangan yang menjadi ciri khas Sapporo yaitu hamparan salju yang memutih.

Selain itu tentu ada Odori Park yang terkenal karena dihiasi bunga, pohon, dan terdapat festival salju di sana pada musim dingin. Kalau ingin melihat Bunga Sakura mekar bisa berkunjung ke Asahiyama Park saat musim semi.

Tak ketinggalan, wajib untuk makan ramen di sini. Saya masih ingat pernah makan ramen di Sumire Sapporo Susukino Shop. Saya makan di sana karena mendapat rekomendasi dari pemilik hostel di mana saya menginap. Ramennya lumayan asin tapi enak. Kuah dengan rasa yang kuat memang tipikal ramen di Sapporo yang dingin.

Jika suka minum bir, jangan lupa untuk mengunjungi Sapporo Beer Museum. Tentu untuk melihat museum, tempat produksi, dan tentunya minum bir.

Saya tak terlalu lama di Sapporo karena waktu yang terbatas. Namun saya merasa sangat menikmati jalan-jalan di jalanan Sapporo, naik streetcar, dan melihat Sakura mekar. Itu saja sudah membuat saya senang. Bersyukur waktu saya datang di Sapporo, Sakura memekar.

Sapporo pun menjadi penutup jalan-jalan dua minggu di Jepang saat itu.

Dan malam ini saya merasa kembali senang mengenang masa di mana saya bisa jalan-jalan dengan lepas bebas meskipun saat itu ada banyak urusan hidup yang perlu diberesi.

“Though Sapporo is pretty cold and quite plain, the city offers the warmth of ramen and the sweetness of the white chocolate. It comes with the nice ride of streetcar and big street with a lot of trees.”

Myself, Autumn, Sapporo, 2012

Itulah memori saya tentang Sapporo.

Ingin tahu seperti apa jalan-jalan di Sapporo? Kita lihat bersama di video ini. Bukan video saya. Namun paling tidak bisa menyegarkan ingatan saya tentang musim semi di Sapporo dengan jiwa yang bebas.

USS Pampanito

Pernah dengar lagunya The Beatles yang berjudul Yellow Submarine? Sepertinya seru berada di kapal selam berwarna kuning.

Kenyataannya, sebuah kapal selam memberikan rasa merinding bagi orang yang tak pernah memasukinya. Orang biasa bisa langsung merasakan efek klaustrofobia, ketakutan akan tempat sempit dan terjebak. Kecemasan ini bisa menjadi-jadi karena kapal selam tak banyak menyediakan ruang yang bisa dijelajahi, berbeda dengan kapal biasa di mana ada dek atas dan sebagian dek relatif terbuka.

Saya merasakan kecemasan itu saat turun tangga memasuki USS Pampanito. Kelam. Remang-remang dengan pencahayaan yang seadanya. Ruangannya terbuat dari besi. Sempit. Sirkulasi udara kurang lancar. Ada rasa takut karena bagaimana pun dulu kapal selam ini benar-benar berperang. Kemungkinan ada orang yang pernah mati di dalamnya.

Namun saya mencoba mengabaikan rasa cemas itu. Saya penasaran dengan yang namanya kapal selam. Itu pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri secara langsung sebuah kapal selam. USS Pampanito adalah kapal selam kelas Balao. Namanya diambil dari sejenis ikan pompano.

USS Pampanito sudah tak lagi menjadi mesin perang. Berubah menjadi museum. Memberikan banyak orang kesempatan untuk menjawab rasa penasaran mereka tentang kapal selam perang. Cukup membeli tiket masuknya, sudah bisa merasakan secuil rasa dan pengalaman berada di sebuah kapal perang yang bisa menyelam di kedalaman laut.

Namun sebesar apa pun rasa penasaran saya, saat orang-orang di depan saya, sesama pengunjung, bergerak ke luar, saya pun mengikuti mereka. Ada rasa khawatir tiba-tiba pintu besinya tertutup dan saya terjebak di dalamnya seorang diri. Merinding, saya pun cepat-cepat keluar dari kungkungan besi tua yang menyimpan sejarah. Masih ingin di dalam tapi tidak mau sendirian.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kondisi di dalam USS Pampanito saat bertugas dalam kedalaman dan kegelapan di lautan yang sedang menjadi arena peperangan. Pasti menyeramkan.

Tak terlalu berlebihan bila ada yang menyebut kapal selam selaiknya peti mati. Begitu kapal terkena torpedo atau tak memiliki cukup daya apung, para kelasi di dalamnya akan terkungkung dalam peti mati yang terbuat dari besi. Bila mereka beruntung bisa keluar sebelum kapal tenggelam, bisa jadi mereka tak selamat karena terkatung-katung di lautan terlalu lama dalam kedinginan.

Salut untuk orang-orang berani yang mampu dan mau menjadi anak buah sebuah kapal selam perang. Mereka memang pemberani.

Sekadar informasi, dulu orang bisa mengunjungi USS Pampanito yang terletak di Pier 45 (Dermaga 45) di area Fisherman’s Wharf, San Francisco, California di Negeri Paman Sam. Namun sayang sepertinya saat ini ditutup untuk sementara waktu.

Untuk yang penasaran seperti apa suasana di dalam USS Pampanito, bisa melihat tayangan video dari YouTube di bawah ini.

Perjalanan ke Shirakawa-go

Foto-foto rumah tradisional yang berdiri di Shirakawa-go membuat saya ingin mengunjungi tempat itu. Saya penasaran seperti apakah berada di dalam tempat tinggal dengan atap yang bentuknya unik itu.

Rumah tradisional itu bernama Gassho-zukuri yang berarti “dibangun seperti telapak tangan yang mengatup saat berdoa”. Mirip dengan posisi tangan para pendeta Buddha yang sedang berdoa. Menariknya, atap-atap rumah tersebut dibangun tanpa menggunakan paku.

Konon dengan arsitektur jaman dulu, rumah-rumah itu bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Bahkan ada beberapa rumah yang bertahan lebih dari 250 tahun. Hebat, bukan? Seperempat abad.

Bentuk segitiga sama sisi tersebut mampu menahan salju lebat yang turun di kawasan tersebut saat musim dingin. Maklum saja, Shirakawa-go merupakan tempat yang dikelilingi oleh hutan. Tempat ini juga menjadi salah satu tempat yang hujan saljunya sangat lebat. Tak jarang salju bisa menumpuk hingga dua meter tingginya.

Kata orang, mereka yang pernah menginap atau tinggal di Shirakawa-go merasa seperti tinggal di dunia tersendiri. Terpisah dari hiruk-pikuk dunia. Hal itu wajar tentunya karena lokasi Shirakawa-go memang benar-benar terisolasi dilihat dari perspektif geografi.

Lokasinya yang susah dijangkau itu yang membuat saya mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan ke Shirakawa-go. Untuk bisa sampai ke tempat itu, dari Stasiun Kyoto harus ke Stasiun Nagoya terlebih dahulu. Setelah itu naik kereta atau bis ke Shirakawa-go. Perjalanannya makan waktu. Terlalu banyak transit. Biayanya terlalu tinggi. Harus menginap di tempat itu; yang sayangnya tidak memiliki banyak opsi penginapan yang relatif murah.

Pilihan harus dibuat. Tak semua hal yang diinginkan bisa diupayakan karena tak masuk prioritas dan pertimbangan lainnya.

Oleh karena itu, saya malam ini sudah cukup senang untuk menikmati “perjalanan” ke Shirakawa-go melalui video yang dibuat oleh Anna Film Production. Dengan video itu, saya bisa melihat dengan detail rumah tradisional dengan atap yang menjulang tinggi tanpa harus repot melakukan perjalanan darat yang makan waktu, dengan duduk saja di rumah, dan menyeruput kopi hitam.

Informasi mengenai Shirakawa-go bisa dilihat di:

Yuk, kita “jalan-jalan” bersama di Shirakawa-go…

Surga Bernama Amalfi

Pagi ini, setelah sarapan dan minun teh, saya “berjalan-jalan” ke Amalfi. Melihat-lihat suasana kota yang terletak di pantai Teluk Salerno, wilayah Campania di provinsi Salerno, Italia.

Saya menikmati keindahan Amalfi dengan duduk santai di rumah. Tepatnya saya menonton video YouTube dengan resolusi 4K di layar monitor lebar. Terasa lapang. Puas memandang surga di dunia itu. Nyaman dan murah. Tak takut pandemi.

Amalfi sendiri dikelilingi oleh tebing. Pesisir pantainya menawarkan lautan biru tanpa batas. Menatap ke arah Laut Tengah. Amalfi memiliki garis pantai sepanjang hampir 50 kilometer, sesuai untuk wisata dan untuk membangun dermaga kapal-kapal.

Amalfi kota yang kaya karena jaman dulu kota pelabuhan ini menjadi titik perdagangan di kota-kota yang berada di Mediterania. Area tempat tinggal penduduknya sangat unik karena didirikan di tebing yang berundak. Rumah-rumah bertumpuk sesuai dengan kontur tebing. Warna-warni dengan warna pastel sehingga kaya warna namun tetap serasi dengan rumah-rumah sekitarnya.

Orang bisa naik kapal untuk menikmati laut di sekitarnya. Bisa juga dengan mencicip makanan dan kafe yang ada di sepanjang jalanan. Ada Amalfi Cathedral yang sudah sangat tua usianya. Arsitektur bangunan di Amalfi juga dipengaruhi oleh budaya Afrika Utara dan memang bertahan lama karena dibangun dengan batu-batu dan struktur yang kokoh.

Alamnya yang indah dan terkesan tua membuatnya menjadi tempat membuat film Wonder Woman. Amalfi menjadi Themyscira; tempat Wonder Woman ditempa saat kecil. Tapi sepertinya banyak penonton yang tak menyangkanya.

Amalfi memang indah. Tempat yang indah untuk menikmati hidup di dunia dengan sesaat berada di surga yang terletak di Benua Biru. Ingin tahu seperti apa cantiknya Amalfi? Yuk, barengan nonton.

April in Paris

Saya memilih musik di YouTube untuk menemani saya menulisi blog siang ini. Secara acak terpilih album lagu berbahasa Perancis. April in Paris. Lagu ini dilantunkan oleh Tatiana Eva Marie & The Avalon Jazz Band. Lagu-lagunya asyik. Ceria. Memberikan nuansa yang cerah. Secerah April di Paris.

Lagu-lagunya membuat saya penasaran. Ada apa di bulan April di Paris?

Oh, ternyata secara resmi, Musim Semi di Perancis berlangsung di bulan Maret, April, dan Mei. Kemudian bulan-bulan selanjutnya sudah masuk Musim Panas.

Bila begitu bulan April pastilah menjadi puncak Musim Semi. Musim yang sangat dinantikan penduduk Perancis dan terutama Paris setelah merasakan kebekuan selama Musim Dingin yang tak nyaman.

Musim Semi pasti indah karena musim di mana bunga-bunga bermekaran dan tunas bermunculan. Musim yang pas bagi binatang dan manusia untuk kawin-mawin. Semangat baru. Semangat hidup. Menghidupi hidup.

Kita tentu sering mendengar bahwa Paris adalah kota yang cantik dan romantis. Bayangkan coba. April, puncaknya Musim Semi, di Paris pula. Romantis pastinya. Lively banget.

Sayangnya saya belum pernah menjejakkan kaki di Paris; yang ada di Benua Biru itu. Namun dengan mendengarkan lagu-lagu di album April in Paris, saya auto merasakan secercah keceriaan dan semangat di pemuncak Musim Semi di Paris. Sedikit membayangkan. Berimajinasi. Tanpa menjadi halu yang kebablasan.

Omong-omong silakan membaca lebih jauh artikel tentang Learn How to Talk About Seasons in French. Menarik untuk menambah wawasan. Siapa tahu ada rejeki, bisa ke sana. Memilih season yang dirasa paling pas. Meskipun kebanyakan orang akan bilang bahwa Musim Semi adalah saat yang terbaik untuk menikmati Perancis, terutama Paris.

Untuk yang masih penasaran, seperti apa sih suasana Musim Semi di Paris di Bulan April, silakan melihat video ini. Semoga menjadi inspirasi tersendiri.

Ledok Sambi

Piknik murah meriah. Dengan pemandangan alam yang asri. Bisa main air di aliran sungai kecil yang bersih dan ada batu-batu yang bisa dipakai duduk. Ada rumput hijau rapi yang bisa dipakai untuk duduk dengan tikar. Ada tempat makannya. Ada toiletnya. Tidak jauh dari tengah Kota Jogja. Tiket masuknya sukarela.

Itulah esensi hakiki dari Ledok Sambi. Terletak di Dusun Sambi. Jalan Kaliurang KM 18,5. Tempat piknik asyik di sebelah Utara kota gudeg ini.

Disarankan untuk datang pas weekday. Hindari weekend. Karena alam yang asri menjadi tak nyaman bila terdapat begitu banyak manusia yang sama-sama ingin menikmati akhir pekan di tempat piknik lumayan viral dan naik daun itu.

Flight to Loyola

Saya suka merancang perjalanan. Bisa jadi karena saya suka dengan geografi, peta dan alat transportasi. Salah satu hal yang mengasyikkan adalah membuat rencana perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Barusan ada teman satu komunitas yang terpilih menjadi wakil dari Indonesia untuk mengikuti acara internasional di Loyola yaitu sebuah tempat di kota Azpeitia, provinsi Gipuzkoa, Spanyol. Loyola tak terlalu dikenal sebagai destinasi wisata. Bukan kota besar. Berbeda dengan Madrid atau Barcelona. Loyola bisa jadi hanya dikenali oleh orang-orang yang belajar tentang Ignatius Loyola. Di Loyola terdapat Tempat Suci untuk Santo Ignatius dari Loyola.

Uniknya teman saya tersebut belum pernah pergi ke luar negeri. Paling jauh hanya terbang dari Yogya ke Jakarta. Tidak ada bayangan sama sekali tentang visa perjalanan, paspor, transit, bandara di luar negeri dan perjalanan darat di negeri orang. Ditambah lagi dia harus pergi sendirian. Tak ada teman seperjalanan. Umur masih muda dan belum berpengalaman pergi jauh sendirian.

Untung saja rencana perjalanannya masih relatif lama. Bulan Juli 2021. Masih ada sekira 7 purnama untuk merencanakan perjalanan tersebut.

Untuk saya, perjalanan dari Yogya ke Loyola termasuk menantang. Perjalanan naik pesawat yang makan waktu hampir seharian. Transit di beberapa kota dunia. Belum lagi stamina dan pendanaan. Pun saya belum pernah sekalipun mengunjungi Benua Biru di mana Loyola itu berada.

Saya dulu pernah membuat rencana perjalanan dari Singapura ke Barcelona. Cita-cita yang belum terwujud untuk menikmati budaya Katalan di kota pelabuhan di tepi Laut Mediterania. Oleh karena itu rasanya jadi menarik untuk mengulik perjalanan dari Yogya ke Loyola. Meskipun itu bukan perjalanan saya.

Baiklah saya segera menggunakan Google Search – Flight untuk melihat opsi penerbangan yang ada. Saya memilih penerbangan pada bulan Juli 2021.

Yogyakarta memiliki bandara internasional yang baru. Yogyakarta International Airport. Sayangnya belum banyak jalur penerbangan internasional yang menuju ke bandara ini. Untuk mendapatkan jalur penerbangan internasional yang terbilang ramai dan memiliki banyak pilihan, saya harus memilih dua kota besar yang memiliki bandara internasional. Ada dua opsi terbaik dan terdekat yaitu Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten (tetangganya Jakarta) dan Bandara Changi di Singapura.

Mari kita lihat dua perjalanan yang di mulai dari 2 bandara tersebut. Saya mengandaikan perjalanannya mulai dari 5 Juli 2021 sampai dengan 11 Juli 2021.

Opsi Pertama: Changi

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Singapore Changi Airport (SIN). Tiket pergi pulang sekira 2,5 juta rupiah naik AirAsia.

Transit di Changi untuk beberapa jam sambil berkeliling di Changi Airport yang memenangkan penghargaan sebagai bandara terbaik di dunia berturut-turut. Transit di Changi itu nyaman dan aman.

Perjalanan dari Changi ke Bilboa menggunakan Qatar Airways dan maskapai rekanannya yaitu White Airways. Biayanya sekira 12 juta untuk tiket pergi pulang.

Kemudian naik Qatar Airways – yang mana pesawatnya nyaman dengan pelayanan yang baik – dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Doha yang memakan waktu hampir 8 jam. Pesawat mendarat di Hamad International Airport (DOH). Waktu transit sekira 3 jam.

Dengan pesawat Qatar Airways yang sama, berangkat dari Hamad International Airport menuju Lisbon Portela Airport (LIS) di Portugal. Penerbangan memakan waktu 8 jam.

Ribetnya ada jarak waktu transit yang lama yaitu 19 jam. Nah, bingung kan mau ngapain?

Setelah itu dari Lisbon Portela Airport (LIS) terbang ke Bilbao Airport (BIO) menggunakan White Airways – maskapai lokal yang bekerja sama dengan Qatar Airways. Hanya 2 jam saja. Pesawatnya adalah ATR 72 – dengan mesin propeler dan bukannya pesawat jet. Pengalaman yang unik tentunya.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Opsi Kedua: Soetta

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Soekarno-Hatta International Airport (CGK). Tiket pergi pulang relatif murah sekira satu juga rupiah.

Transit di Soetta tidak bisa dikatakan mengasyikkan. Namun dipilih karena terhitung masih di Indonesia. Ada rasa aman di negara sendiri meskipun saya sendiri tak pernah merasa aman di bandara itu. Mungkin di Soetta bisa bertemu teman atau keluarga. Lumayanlah.

Perjalanan dari Soetta ke Bilboa menggunakan kombinasi antara Garuda Indonesia dan Lufthansa. Makan biaya sekira 12 juta rupiah. Naik Garuda relatif nyaman karena pramugarinya bisa berbahasa Indonesia. Pesawat Lufthansa meski pesawatnya tak nyaman-nyaman amat tapi terpercaya.

Baiklah, dari Soekarno-Hatta International Airport (CGK) naik Garuda Indonesia menuju Singapore Changi Airport (SIN) memakan waktu 2 jam. Singkat. Transit selama 5 jam di bandara yang nyaman tersebut.

Setelah itu naik Lufthansa dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Munich International Airport (MUC). Makan waktu 12 jam lebih sedikit. Setengah hari perjalanan.

Transit di Munich selama 3 jam. Kemudian dari Munich International Airport (MUC) melanjutkan terbang naik Lufthansa ke Bilbao Airport (BIO). Hanya 2 jam lebih sedikit.

Perjalanan ini lebih banyak transitnya. Transit di Cengkareng (Soetta), Singapura (Changi), Munich (Munich Airport). Namun dengan transit yang banyak otomatis duduk di pesawatnya tak terlalu lama. Hanya saja harus melewati begitu banyak pintu imigrasi. Lumayan juga bisa “mampir” di Singapura dan Jerman; sebelum akhirnya tiba di Spanyol.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Kesimpulannya

Kalau mau pilih nyaman, Opsi Kedua lebih baik. Naik Garuda, transit di Jakarta. Sayangnya harus transit di banyak bandara. Ini opsi gampang. Mudah. Aman.

Kalau mau merasakan Changi lebih lama dan bisa transit lama di Lisbon, ya pilihannya adalah Opsi Pertama. Bias karena saya merasa Lisbon adalah kota yang menarik. Terbang dengan Qatar Airways menurut saya pasti lebih nyaman dibandingkan naik Lufthansa. Hanya sayangnya di tahap terakhir harus berganti dengan White Airways – yang entah seperti apa pesawat dan layanannya.

Tentu saja ini hanya ‘simulasi’ perjalanan dari Yogyakarta ke Loyola. Saya mengambil pilihan bandara di kota Bilboa karena jarak Bilboa ke Loyola relatif pendek. Dua jam dengan kereta. Tentu ada pilihan dari Changi atau Soetta menuju ke Madrid. Sayangnya perjalanan darat dari Madrid ke Loyola itu lumayan jauh dan harus naik transportasi darat. Lebih berat.

Tentang biaya, kedua opsi tersebut relatif sama yaitu 12 juta ditambah dengan perjalanan 1) Yogya ke Singapura (2,5 juta) atau 2) Yogya ke Cengkareng (1 juta). Anggap saja sekira 15 juta dengan asumsi kelebihannya adalah biaya untuk makan minum saat transit.

Baiklah. Cukup rasanya untuk ‘melampiaskan’ hobi unik membuat rencana perjalanan.

Shonan Monorail

Monorail yang ini memang unik. Monorail konvensional memiliki kereta yang berjalan di atas rel kereta. Namun Shonan Monorail justru tergantung pada platform di atasnya yang memiliki rel. Istilah kerennya suspended monorail alias kereta rel tunggal tergantung.

Shonan Monorail beroperasi di kota Kamakura dan Fujisawa di Prefektur Kanagawa. Dalam situs Shonan Monorail, ada ucapan yang menarik. “Have a nice flight.” Ucapan itu biasanya diucapkan pada saat kita naik pesawat terbang. Bukan naik kereta. Namun karena monorailnya seakan-akan melayang maka ucapan tersebut tepat. Bahkan stasiun keretanya mereka sebut sebagai sky station. Keren, kan?

Prefektur Kanagawa tak terlalu jauh dari Tokyo. Dari Tokyo, orang bisa melalui Yokohama untuk menuju prefektur Kanagawa.

Saya sendiri belum pernah mengunjungi Kanagawa. Tak tahu juga apa yang menarik di sana. Namun sebagai seseorang yang punya minat dengan kereta api, sepertinya Shonan Monorail bisa menjadi referensi yang menarik.

Kembali ke situsnya, perusahaan monorailnya mengiklankan bahwa kereta ini seperti naik roller coaster yang melewati gunung dan terowongan. Asyik sekali. Monorail tak sebatas sebagai alat transportasi publik. Namun menjadi wahana wisata kota yang atraktif. Keren!

Di bawah ini ada video dari YouTube yang menggambarkan asyiknya ‘terbang’ dengan suspended monorail. Jangan lewatkan juga mengamati sky station yang menjadi tempat orang untuk naik dan turun kereta.

Enjoy!

Lisbon

Tahu di mana Lisbon? Bila tak tahu coba buka peta dunia.

Ada rasa kagum saat melihat video tentang Lisbon. Arsitektur bangunan-bangunan tua yang begitu indah berada di kota yang tertata rapi. Itu semua ada karena warisan dari masa jaya di masa lalu saat Portugal menjadi salah satu negara yang berhasil mengkoloni berbagai wilayah di dunia. Termasuk daerah Macau dan Timor Leste di masa sekarang. Armada kapalnya bisa jauh menjangkau berbagai lautan dan samudera. Menjelajahi, berdagang, merampas dan juga membawa kembali hasil bumi dan emas. Menjualnya kembali ke negara-negara di Dataran Biru Eropa. Kaya raya sehingga mampu membangun pusat kebudayaan yang indah dengan skala yang besar pada jamannya.

Menonton videonya jadi makin jatuh cinta pada Lisbon. Semoga one day bisa mengalami sendiri jalan-jalan dan menikmati kota pelabuhan itu.

Salah satu yang bikin saya tertarik adalah Trem Lisbon. Alat transportasi yang mumpuni di masa lalu namun kini lebih berfungsi sebagai wahana berkeliling kota untuk para turis yang datang ke sana. Salah satu jalur yang populer adalah Lisbon Tram 28. Rutenya meliuk-liuk, melewati jalan sempit dengan bangunan di kanan kiri dan ada jalur menanjak-menurun. Pasti asyik. Trem seperti itu mengingatkan saya pada cable car alias trem yang ada di San Francisco.

Untuk saat ini sudah cukup puas menonton videonya. Saya anggap ini sebagai dreaming session yang berfungsi sebagai cara visualisasi impian. Semoga tercapai. Pasti asyik bisa menjelajahi kota itu dengan trem dan menikmati suasananya yang hidup dan penuh keramahan.