Meditasi dan Pasrah

Sebagian besar orang meyakini bahwa meditasi itu cara supaya bisa mengosongkan pikiran. Orang berpikir dengan pikiran yang kosong – dari segala urusan duniawi dan beragam masalah – rasanya damai dan menyenangkan.

Namun meditasi bukanlah sebuah escapism. Lari dari kenyataan hidup – yang sedang rumit, pahit atau bergejolak. Meditasi berbeda 180 derajat dengan menonton film yang seru, merokok atau narkotika – sesuatu yang “menyenangkan” untuk “membius” rasa negatif yang ingin didiamkan untuk sementara waktu.

Seorang kawan lama bahkan menceritakan pada saya bahwa dia lebih memilih bekerja dari pagi hingga malam supaya tak sempat merasakan sedih karena relasi yang buruk dengan keluarga dan rumah yang tak lagi nyaman untuk ditinggali. Di titik tersebut bekerja – atau berlama-lama di tempat kerja – membuatnya bisa “membius” rasa gerah dan lelah rasa yang dialaminya bertahun-tahun; tanpa ada solusi dan rekonsiliasi dalam jangka dekat.

Meditasi malah bisa memberikan rasa tidak enak. Tidak nyaman. Bila ada kemarahan yang dipendam, kemarahan bisa terasa menyala-nyala membakar panas saat meditasi. Kenapa? Karena meditasi sebenarnya mempertajam rasa yang ada pada kita. Rasa yang mungkin tidak kita sadari karena kita sibuk berpikir atau beraktivitas. Belum lagi bila kita disibukkan dengan tuntutan pekerjaan atau medsos/hiburan.

Bahkan ada pula yang saat bermeditasi seketika ada luka batin di masa lalu – yang mungkin telah lupa tapi belum tersembuhkan – muncul lagi. Terasa lagi. Perih. Pedih. Namun ada baiknya luka lama digali kembali dan dicari akar masalahnya. Dicoba untuk mengatasi dan syukur bila bisa mencapai tahap menyembuhkan diri.

Meditasi tak selalu memunculkan rasa negatif. Bisa pula rasa membuncah mengingat suatu momen yang membahagiakan; yang tentunya patut disyukuri. Lebih baik pula bisa bisa mengulang rasa bahagia itu di saat sekarang atau di masa depan.

Dengan mengenali rasa yang kita benar-benar rasakan, orang memberi kesempatan pada dirinya untuk mengenali dirinya. Mengenali apa yang dirasakan saat ini.

Perlu diingat bahwa meditasi ini adalah meditasi kesadaran. Kita ingin benar-benar mengenali diri kita melalui meditasi sebagai alatnya.

Selain itu meditasi menjadi salah satu cara untuk Sowan Gusti. Vertikal ke atas. Sikap meditasi adalah pasrah. Sikap pasrah ini memudahkan insan manusia untuk mendekatkan diri ke Gusti. Uniknya saat kita mendekati Tuhan satu langkah di saat itulah Tuhan mendekati kita dua langkah. Menjadi makin dekat karena sebagai pribadi kita memang menginginkan pertemuan dengan Gusti.

Sikap berpasrah – bukan menyerah kalah lho ya – bukan hal yang mudah. Kebanyakan orang di jaman now merasa mampu mengatasi segala permasalahan kehidupan. Entah itu terlalu pede atau memang pede. Pasrah di sini lebih pas dimaknai sebagai menyerahkan diri pada Gusti.

Omong-omong tentang mengosongkan, kosong bukan berarti tidak ada apa-apa. Kosong atau Suwung tapi ada. Lalu apa yang akan mengisinya kita serahkan pada rasa pasrah diri. Syukur bila akhirnya kita bisa terkoneksi dengan Gusti. Bila tidak, ya tidak apa-apa. Kita biarkan energi tuntunan yang menuntun kita. Tak perlu diatur-atur. Tak perlu dipaksakan. Tak perlu merasa harus berhasil atau tidak. Pelan-pelan pasrah. Ada yang bisa mendadak terkoneksi dengan Gusti. Ada juga yang membutuhkan proses yang lebih panjang.

Meditasi juga memberikan kesempatan bagi diri kita untuk tidak mengontrol – setiap saat – diri kita. Ada kalanya seseorang tak nyaman bermeditasi karena pikirannya terlalu aktif. Meloncat-loncat. Tak tenang laiknya air yang beriak atau bergelombang. Namun bila seseorang tersebut sudah mencapai titik pasrahnya bisa jadi pikirannya menjadi tenang. Bahkan bisa jadi malah tertidur karena efek rileks yang menenangkan. Syukuri saja. Ada perasaan lepas dari keinginan mengontrol diri yang berlebihan.

Namun begitu meditasi juga bukan salah satu cara untuk mendapatkan rasa mengantuk yang nyaman. Tentu kebiasaan meditasi – dalam jangka panjang – bisa membuat seseorang bisa menjadi lebih tenang hidupnya dan tak punya kesulitan untuk tidur. Namun meditasi – sekali lagi – bukan jalan pintas untuk tidur. Meditasi adalah jalan untuk menjadi sadar diri – awareness.

Jadi bila dalam meditasi lalu tertidur ya disyukuri saja. Rasa mengantuk bisa jadi sinyal bahwa keinginan diri untuk mengontrol pikiran berkurang. Melepaskan. Rileks. Terutama banyak orang yang curhat bahwa di jaman now itu mau tidur saja susah hingga ada orang yang harus minum obat tidur supaya bisa tidur.

Meditasi membuat kita bisa pelan-pelan tertuntun menuju rasa pasrah. Mencapai kekosongan diri. Hingga akhirnya bisa terhubung vertikal dengan Sang Pencipta. Sowan Gusti.

Setelah itu bagaimana? Biarkan saja Gusti menuntun diri kita dalam perjalanan hidup ini. Pasrah.

Rahayu…

Here I am, Lord

Baru saja lagu ini dilantunkan saat penutupan retret yang dilakukan secara virtual melalui Zoom beberapa hari ini. Mendengar lagu berjudul Here I am, Lord langsung membuat hati saya terharu. Saya putar berkali-kali. Ada rasa hangat di hati sekaligus rasa yang sulit dijelaskan. Bikin saya speechless.

Retret ini terkait tentang perutusan untuk menjadi Sahabat bagi siapa saja. Seturut dengan ensiklik baru yang berjudul Fratelli Tutti pada peringatan St. Fransiskus Assisi, 3 Oktober 2020 – yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus. Fratelli Tutti dalam bahasa Indonesia lebih kurang adalah “Semua Bersaudara“. Intinya sebagai pribadi kita bersahabat dengan semua orang. Silakan membaca ringkasannya di Ringkasan Ensiklik Fratelli Tutti.

Kembali ke lagunya, nadanya lembut memanggil. Liriknya menyentuh.

Here I am, Lord
Is it I, Lord?
I have heard You calling in the night
I will go, Lord
If You lead me
I will hold Your people in my heart

dari lirik lagu Here I am, Lord

Bilamana Tuhan memanggilku. Aku akan pergi melakukan perutusan Tuhan. Bimbinglah aku, Tuhan. Aku akan merengkuh sesamaku dalam hatiku.

Begitulah sekira isi lagu itu.

Dalam sekali. Apakah aku pantas untuk menjalani perutusan untuk menganggap sesamaku – siapa pun itu – sebagai Sahabat? Entahlah. Dalam kehidupan yang multikultural tetap saja ada sekat-sekat yang menghambat. Tetap merasa bahwa ada jarak untuk menjadikan siapa pun yang kita temui sebagai Sesama.

Untuk saya sendiri, saya berharap bisa menjadikan orang lain sebagai Sesama. Nguwongke manusia. Memanusiakan manusia. Semoga bisa menjadi makin terlibat dalam gerak kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Entahlah…

Yang penting saya menikmati lagunya. Terharu sampai ke relung hati.

AMDG

Umur Panjang itu Anugerah Terindah

Manusia ingin bisa punya umur panjang. Makin panjang umurnya, makin banyak hal yang bisa dinikmati, dialami dan dijelajahi. Berbagai cara diupayakan manusia selama berabad-abad supaya bisa memperpanjang masa hidupnya.

Jaman ini sudah banyak kemajuan medis yang dicapai. Banyak penemuan teknologi baru yang bisa mengobati berbagai penyakit. Wawasan dan pengetahuan baru tentang gaya hidup sehat sudah ditemukan dan disosialisasikan. Secara rerata umur manusia di era modern bisa melampaui umur manusia yang hidup di jaman dulu.

Sayangnya tetap saja begitu banyak manusia yang tak sempat merasakan panjang usia. Ada saja virus baru yang lebih berbahaya dan mampu menyebar dengan sangat cepat. Tetap ada perang yang merenggut nyawa orang-orang tak berdosa. Kriminalitas dengan pembunuhan tetap terjadi.

Namun itu belum seberapa dibandingkan faktor pembunuh manusia nomor wahid. Yaitu perubahan gaya hidup. Menjalani kehidupan di era modern yang sangat kompleks membuat manusia cepat stres. Penyakit tak hanya persoalan fisik yang melemah dan organ yang rusak. Banyak penyakit jiwa yang berasal dari rasa depresi yang lama tak terobati. Penyakit jaman sekarang lebih komplit, lebih mematikan dan lebih mahal biayanya.

Gaya hidup yang baik bisa ditemukan di buku dan di internet. Masalahnya terletak pada manusianya sendiri. Apakah mau mengubah gaya hidupnya? Apakah tetap setia dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang jelas merusak tubuh?

Di sisi lain memang ada yang namanya aral melintang. Orang sehat bisa meninggal tiba-tiba. Kecelakaan. Bencana alam. Pembunuhan. Ada berbagai sebab kematian yang bukan disebabkan oleh tingkat kesehatan manusia.

Kesimpulannya adalah dari dulu hingga sekarang tetap saja tak ada yang tahu kapan seseorang itu meninggal. Kemajuan jaman tetap saja tak membuat manusia menjadi makhluk abadi yang bisa hidup selama-lamanya.

Oleh karena itu pantaslah disebut bila “umur panjang itu anugerah terindah” yang kita dapatkan dari Sang Pencipta.

Saya menulis tentang umur panjang karena pagi ini ada kabar duka. Seorang teman kuliah meninggal karena gagal jantung. Masih muda usianya. Lama sekali tak pernah berjumpa sejak lulus kuliah. Sewaktu melihat namanya disebut di grup WhatsApp teman alumni ternyata sudah tinggal nama. Beristirahatlah dengan damai. Semoga segera bertemu dengan Sang Pencipta.