Banyak Pikiran Saat Meditasi

Beberapa teman meditasi membilang satu hal yang kerap terjadi waktu meditasi. Saat di tengah sesi meditasi, kok, malah sepertinya banyak pikiran yang datang.

Benarkah seperti itu?

Menurut pamong yang menuntun meditasi kami, beliau menyampaikan bahwa otak kita itu memang tiap saat bekerja. Yaitu berpikir. 24 jam. Tanpa henti.

Apa yang terjadi adalah saat sunyi di tengah meditasi maka seseorang jadi lebih menyadari dirinya sedang berpikir. Hal yang lumrah. Bukan karena sedang banyak pikiran.

Aneh tapi nyata. Banyak orang tak menyadari pikirannya sedang berputar. Namun karena rutinitas sehar-hari, tak disadari, otaknya sedang berpikir.

Justru baik-baik saja dan alami untuk menyadari otak sedang berpikir.

Mengistirahatkan tubuh memang mudah. Tak bergerak. Untuk sementara waktu. Tubuh bisa kita atur supaya rileks.

Tak demikian dengan otak yang selalu berpikir.

Justru dengan menjalankan meditasi, seseorang bisa sadar akan keberadaan pikiran-pikirannya. Tak perlu ditolak saat pikiran datang. Biarkan saja. Ikuti.

Dalam meditasi, seseorang haruslah seperti cangkir kosong. Menyiapkan diri kita untuk menerima enerji Ilahi dari Sang Pencipta.

Bila kondisi pikiran dan tubuh seseorang sudah siap, bisa selaras untuk menerima enerji yang menghidupi jiwa raga. Memberikan kesempatan lebih baik untuk mencapai titik kesadaran yang lebih tinggi.

Membatasi Diri

Seorang bijak memberikan wejangan untuk saya dalam sebuah sesi meditasi. Sederhana pesannya. Beliau ‘membaca’ saya bahwasannya saya seperti membatasi diri.

Awalnya saya tak paham benar apa yang beliau sampaikan. Setelah mencoba mencernanya, saya menyadari sesuatu yang ada dalam diri saya.

Sebenarnya saya memiliki kemampuan dalam beberapa hal namun menahan diri. Kurang berani. Tidak membebaskan diri saya. Kurang los. Meskipun ada greget.

Saya berpikir. Mungkin karena saya takut. Takut bahwa sesuatu itu beresiko. Takut kehilangan. Takut perubahan. Takut keluar dari zona nyaman. Padahal hidup sendiri penuh resiko. Untuk apa takut?

Benar juga. Bila bisa mengerahkan 100% kemampuan. Kenapa saya hanya, katakanlah, mengeluarkan 50% atau kurang dari kapasitas saya.

Mungkin saya punya sifat yang gampang pesimis. Bisa juga agak paranoid. Terlalu berhati-hati. Dikombinasikan dengan malas gerak. Nah. Komplit, kan?

Baiklah. Sebuah cermin dihadapkan di depan muka saya. Sudah saya pahami. Untuk kemudian saya proses. Supaya menjadi pribadi yang bisa bilang, “gas poll!

Nrimo Ing pandum

Sungguh saya tidak paham dengan ujaran dalam Bahasa Jawa ini. Banyak orang membicarakannya. Tetap saja saya tak paham.

Sebuah sesi meditasi yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan seorang pamong akhirnya memberikan sebuah jawaban yang mencerahkan. Baru kali itu saya paham ujaran Bahasa Jawa itu. Di bawah ini adalah intisari dari yang saya dapatkan dari pamong tersebut. Semoga saya tak salah menuangkannya di sini.

Arti Nrimo Ing Pandum

“Nrimo” adalah sikap menerima dengan tulus ikhlas. “Pandum” adalah diri seseorang beserta kemampuan dan potensinya; yang diberikan oleh Sang Pencipta. “Nrimo ing Pandum” adalah menerima dengan syukur banyak hal yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta kepada diri kita.

Pandum itu secara fisik bisa berupa tubuh kita. Tinggi pendek, besar kecil, sehat dan kurang sehat, cakep dan tidak. Apa saja yang terlihat oleh mata dari luar. Dalam bentuk yang tidak fisik, bisa berupa watak dasar, kecerdasan, kelebihan dalam tindak-tanduk. Tentu ada hal-hal yang sifatnya kondisional; seperti halnya di mana kita terlahir, lingkungan apa kita bertumbuh dan situasi masyarakat sekitarnya.

Isi dari Koper

Lebih mudah bila kita membayangkan diri kita itu seperti sebuah koper. Kita lahir sudah membawa koper itu. Koper itu bisa berisi baju, celana, sepatu, topi. Ada yang kopernya isinya banyak, pun ada juga yang minim isinya. Isinya itu adalah pandum. Suatu anugerah dari Sang Pencipta. Bekal yang kita bawa untuk menjalani kehidupan ini.

Pandum itu Sebuah Potensi

Pandum adalah sebuah potensi seseorang. Tak mudah mengenali pandum kita. Butuh waktu dan butuh proses. Seseorang harus mau dan mampu untuk memahami pandumnya. Barulah bisa mengembangkan potensi dirinya. Mencapai kondisi yang optimal bagi perkembangan dirinya.

Paradoks Pandum

Pandum sendiri adalah sebuah paradoks.

Di satu sisi, pandum adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. You are created as you are.

Di lain sisi, dengan menyadari dan mengembangkan pandum, seseorang bisa memilih jalan hidupnya. You make your own destiny.

Seorang insan manusia dimonggokan untuk mengenali pandumnya. Kemudian dengan penuh kesadaran menumbuhkannya mau jadi seperti apa. Hidup ini untuk apa dan kemana. Pada intinya memaknai hidupnya.

Pandum itu seperti spiral. Bisa dikembangkan dengan berproses. Tentu seperti spiral, bisa menjadi seperti spiral yang berkembang ke atas. Bisa juga sebaliknya, menurun dan terlupakan. Tak hilang. Namun tak disadari dan tak dikembangkan.

Menjadi Diri Sendiri

Dalam memahami pandumnya, seseorang harus menjadi dirinya sendiri. Jangan sampai memaksa diri menjadi orang lain; yang mana menjadikannya asing bagi dirinya sendiri dan tak alami dalam menjalani kehidupan.

Sebagai contohnya, seseorang yang introver (sebagai watak aslinya) tak perlu mengubah dirinya menjadi ekstrover. Hal yang utama adalah mengolah wataknya sehingga menjadi introver yang memiliki kesadaran tinggi. Menjadi pribadi yang bermakna bagi dirinya dan migunani bagi sesamanya.

Tak perlu menjadi orang lain. Bila memaksakan diri, sepanjang hidupnya, orang tersebut akan bekerja keras karena mengembangkan hal-hal yang bukan pandumnya, potensinya. Seseorang harus benar-benar memahami diri sendiri dengna pandum yang sudah dimilikinya sejak awal kehidupan.

Mengolah Pandum

Pandum harus diolah. Kita bisa mengolahnya dengan pembelajaran dari rumah dan orang tua, pendidikan formal di sekolah, pengalaman hidup, belajar dari orang lain dan mendapatkan tuntunan dari mentor atau guru.

Pandum sendiri sayangnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diakses oleh tiap-tiap orang. Perlu mengenali, memahami dan barulah mengembangkannya.

Bisa jadi seseorang tidak paham dengan pandumnya karena berbagai hal; baik kondisi internal dan eksternal. Itulah kenapa kita harus sering-sering menyapa diri kita. Say hello to ourselves. Menemukan, berbicara dan mengenali diri sendiri. Tak sekedar ‘me time’ yang di jaman now identik dengan waktu sendiri untuk memanjakan diri sendiri. Bukan itu. Tapi memberi kesempatan untuk sungguh berbicara dengan diri sendiri.

Ironis bila kita bisa memahami orang lain ketimbang memahami diri sendiri. Aneh juga bila kita bisa ramah ke orang lain tapi tak kenal diri sendiri. Bahkan ada orang-orang yang sudah tidak kenal dirinya dan bahkan menolak dirinya. Menolak pandumnya.

Utamakan Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Sebagai insan manusia, kita harus ingat bahwa kita harus menomorsatukan diri sendiri sebelum membantu orang lain. Setelah kita secara pribadi bisa mengenal diri sendiri dengan kokoh, barulah kita bantu orang lain.

Hal tersebut bukan sesuatu yang egois. Sebagai ilustrasinya adalah penumpang pesawat yang dalam kondisi darurat harus memakai masker oksigen ke dirinya sendiri sebelum menolong orang lain menggunakan masker oksigen. Salah prioritas, bisa jadi si penumpang pingsan dan menjadi beban bagi orang lain.

Begitulah pandum yang saya terima dari sebuah sesi menuju mindfullnes. Sebuah proses panjang untuk memahami diri sendiri secara sadar sepenuhnya. Semoga saya dan teman-teman dalam meditasi bisa memahami pandum kami masing-masing.

Sudut Pandang yang Berbeda

Interpretasi Nrimo Ing Pandum beragam. Monggo bila ingin melihat tulisan-tulisan orang lain yang memaknainya secara sama atau berbeda.

Memaknai Falsafah “Nrimo Ing Pandum”

“Nrimo ing Pandum” tak Semudah Kedengarannya

Arti Nrimo Ing Pandum” Sesungguhnya

3 Pelajaran Penting dari Sikap Narima Ing Pandum

Nrimo Ing Pandum

Falsafah Jawa Nrimo ing Pandum Serupa Tawakal dalam Islam