Menghapuskan KPK?

Rupanya beberapa anggota wakil rakyat yang duduk di DPR ingin adanya peniadaan KPK. Alasannya sederhana yaitu peradilan di Indonesia sudah membaik dan korupsi sudah berkurang banyak.

Sepertinya usaha untuk menyetir, melemahkan, mengintimidasi dan membekukan KPR tak berhasil sehingga oknum-oknum pejabat negara yang suka ‘bermain-main’ dan dapatkan ‘keuntungan yang ilegal’ merasa kebakaran jenggot. Upaya besar harus dilakukan karena cepat atau lambat KPK bisa jadi menangkap lebih banyak pejabat yang korup. KPK menjadi kucing ganas yang sigap menangkap tikus-tikus yang menggerogoti lumbung negara.

KPK tentu harus maju terus. Bila perlu, Istana ada baiknya menambah kekuatan KPK sehingga pemberantasan korupsi menjadi lebih dahsyat dan hasilnya berlipat. Semakin independen dan kuat KPK, makin berdaya menghadapi maling-maling berdasi yang seyogyanya melayani masyarakat dan konstituen yang diwakilinya.

Menghapuskan KPK jelas akan membuat para tikus leluasa beroperasi memperkaya dirinya sendiri. Bila KPK tak ada, pembangunan terhambat karena proses dan hasil kerja pemerintah hanya akan dinikmati para tikus; yang jelas tak memikirkan penderitaan dan kesusahan rakyat di tingkat bawah.

Bukan berarti bila ada anggota DPR yang ingin meniadakan KPK dianggap korupsi. Tentu tidak. Mereka jelas punya alasannya sendiri.

Namun bila seseorang atau sekelompok orang ingin menjadi wakil rakyat yang baik tentu cenderung untuk mendukung adanya upaya pemberantasan korupsi; salah satunya melalui KPK sebagai alat bersih-bersih yang efektif.

Tiap orang memiliki motif dalam perbuatannya. Hanya saja siapapun akan menduga ada niat yang tak baik bila tikus mengatakan kepada pemilik rumah supaya kucing diusir dari dalam rumah. Sebagai pemilik rumah yang bijak, kiranya Anda ingin supaya kucing menjadi lebih rajin menangkap tikus atau malah membuang kucing tersebut di jalanan?

 

 

Iklan

Pemindahan Ibu Kota

Topik pindahnya ibu kota Indonesia menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Ramai dibincangkan. Banyak yang berharap ibu kota yang baru bukan sebatas wacana. Tapi rencana nyata. Pelaksanaannya tentu akan makan waktu karena harus dipikirkan masak-masak untung dan ruginya.

Menyoal Naypidaw

Di dunia ini pemindahan ibu kota bukan hal yang baru. Myanmar memindahkan ibu kota dari Kota Yangon ke Kota Naypidaw. Myanmar mulai membangun Naypidaw pada tahun 2002 dan meresmikan ibu kota barunya pada tahun 2006. Empat tahun untuk membangun kota yang konon 6 kali lipat lebih besar daripada luasan Kota New York.

Tentu pemindahan ibu kota membutuhkan waktu yang tak sedikit. Setelah pembangunan empat tahun, ternyata masih banyak fasilitas umum pendukung kehidupan kota yang masih belum tersedia. Seraya waktu, Myanmar berharap Naypidaw akan memiliki jumlah populasi yang meningkat. Maklum karena ibu kota ini masih minim penduduk yang terlalu sedikit untuk sebuah kota yang menjadi ibu kota sekaligus pusat pemerintahan di sebuah negara.

Alasan Memindahkan Ibu Kota

Memindahkan ibu kota haruslah memiliki alasan yang kuat. Naypidaw menjadi ibu kota Myanmar karea letaknya yang berada di tengah-tengah. Kontrol pemerintahan menjadi lebih berimbang ke semua penjuru negara. Selain itu pihak pemerintahan Myanmar memberi argumen bahwa Kota Yangon sudah terlalu sesak untuk perluasan perkantoran pemerintah. Di sisi lain, ada beberapa analis yang berpikir bahwa Naypydaw menjadi pilihan strategis untuk alasan keamanan negara. Posisi ibu kota yang berada di tengah-tengah membuat Myanmar tak mudah diserang oleh negara lain.

Di atas tadi adalah alasan-alasan yang rasional. Ada juga alasan – yang disampaikan oleh pihak-pihak di luar pemerintahan –  tak masuk akal yaitu pemindahan ibu kota sebagai sebuah proyek mercusuar dari pemerintahan sekarang. Begitu juga alasan bahwa ibu kota yang baru akan lebih aman dari serangan di masa depan menurut para ahli nujum negara itu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah Indonesia perlu memiliki ibu kota yang baru? Mungkin. Mungkin tidak. Keputusan memindahkan ibu kota merupakan keputusan besar. Bila ada kebutuhan di masa depan tentu pemerintah harus serius memikirkan hal tersebut.

Bila melihat Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, dengan populasi penduduknya yang teramat besar jelas membebani kota tersebut. Kota yang meluas berkali-lipat sejak jaman Belanda ketika namanya masih Batavia tak lagi mampu mendukung kehidupan yang layak bagi pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis.

Di sisi lain, posisi Jakarta berada di sebelah Barat Indonesia. Dampaknya terlihat pada pembangunan wilayah tengah dan Timur yang tak merata. Berbeda dengan pembangunan wilayah Barat yang masif, terutama di Pulau Jawa.

Tak mengada-ada bila ada usulan supaya ibu kota Indonesia berada di tengah-tengah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau Kalimantan menjadi wilayah yang menjadi acuan favorit. Setelah itu baru dipilih kota yang akan dijadikan ibu kota yang baru. Dari banyak kota di pulau yang luas tersebut, Palangkaraya digadang-gadang menjadi ibu kota yang baru.

Mengapa Palangkaraya di Kalimantan?

Bila pusat pemerintahan terletak di kota ini, jelas pemerintah menjadi mudah untuk mengontrol wilayah yang berada di Timur sekaligus di Barat. Presiden, seluruh menteri dan pejabat-pejabat penting memiliki kemampuan mobilitas yang lebih tinggi ke segala arah.

Dari Palangkaraya, bukan sekarang tapi di masa depan ketika infrastruktur sudah meningkat terutama sektor transportasi udara, pejabat pemerintah bisa mengunjungi kota-kota di Sumatera di bagian Barat dengan mudah. Sama mudahnya dengan kota-kota di Papua di bagian Timur. Dan tentunya sangat mudah untuk menjangkau kota-kota di Jawa yang sudah memiliki sistem transportasi udara yang sangat memadai.

Ada yang disayangkan karena Palangkaraya relatif tak dekat dengan laut. Posisi yang dekat laut menjadi kebutuhan yang strategis karena berhubungan dengan transportasi laut dan impor ekspor barang. Toh, Naypydaw di Myanmar malah menghindari tepian laut guna menghindari serangan musuh dari laut. Kekurangan Palangkaraya malah bisa menjadi kelebihannya dari segi keamanan ibu kota.

Selain itu, kota-kota di Pulau Kalimantan relatif aman dari bencana alam. Minim aktivitas seismik yang berujung pada gempa bumi karena tak memiliki banyak gunung berapi seperti di Pulau Jawa. Jauh dari laut berarti tak ada ancaman tsunami. Tentu masih ada bencana banjir dan kekeringan namun dengan perencanaan kota yang baik, dua bencana tersebut bisa diminimalisasi.

Bagaimana dengan kota-kota lainnya?

Tentu banyak kota di negara ini yang ingin kotanya menjadi ibu kota. Status ibu kota menjadi gengsi tersendiri. Pun bisa tingkatkan pembangunan dan ekonomi di suatu kota.

Semisal Samarinda, yang sama-sama terletak di Kalimantan. Makassar yang merasa menjadi magnet pembangunan wilayah Timur. Bisa juga Surabaya yang jelas memiliki fasilitas memadai untuk mendukung pusat pemerintahan. Tapi tentunya ada yang tak ingin Denpasar atau Yogyakarta menjadi ibu kota karena sudah terlanjur menjadi destinasi wisata sekaligus memiliki luasan kota yang sangat terbatas.

Pusat Pemerintahan dan Pusat Bisnis?

Tentu ibu kota yang baru tak selamanya harus menjadi kota dengan kombinasi pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Bila Palangkaraya, atau kota lainnya di Nusantara, menjadi ibu kota yang baru, jelas akan menjadi pusat pemerintahan saja. Sedangkan pusat bisnis tetaplah berada di Jakarta.

Bisa dimaklumi karena banyak perusahaan tak akan mau dan mampu untuk memindahkan kantor pusat dan usaha utamanya ke kota lain karena sangat beresiko dan harus menggelontorkan dana yang besar. Lagipula ekosistem bisnis di Indonesia memang sebagian besar terletak di Pulau Jawa sejak dulu.

Pemisahan pusat pemerintahan dan pusat bisnis bukan hal yang aneh. Amerika Serikat memiliki Washington D.C. sebagai pusat pemerintahan sedangkan New York menjadi pusat bisnis. Begitu juga dengan Beijing sebagai pusat kekuasaan dan politik Republik Rakyat China dan Shanghai menjadi tempat perputaran uang.

Bandingkan dengan Tokyo dan London. Tokyo menjadi pusat segalanya di Jepang. Tokyo sebagai ibu kota yang menampung jumlah penduduk yang sangat besar karena berperan sebagai pusat bisnis dunia sekaligus pusat pemerintahan Jepang; hebatnya pula lokasinya berada di area yang rawan gempa. Setali tiga uang dengan London yang menjadi pusat pemerintahan Inggris Raya dan berperan sebagai pusat bisnis di Benua Eropa dan dunia. Alhasil Tokyo dan London menjadi kota yang terlalu padat dan terlalu mahal ongkos hidupnya bagi penduduknya.

Apakah ada keuntungan lain dari pemindahan ibu kota?

Ada. Pertama, pertumbuhan insfrastruktur di ibu kota yang baru menstimulasi geliat perekonomian di ibu kota yang baru dan kota-kota di sekelilingnya. Pembangunan berarti penyerapan tenaga kerja, perputaran uang yang meningkat dan perpindahan penduduk ke tempat baru secara signifikan.

Kedua adalah berkurangnya beban Jakarta sebagai ibu kota yang lama karena pusat pemerintahan beralih ke kota lain. Di saat yang sama, Jakarta bisa memfokuskan sumber daya manusia dan alamnya untuk kepentingan bisnis. Jakarta tak hanya menjadi pusat bisnis Indonesia tetapi bisa meningkat menjadi pusat bisnis regional di regional Asia Tenggara atau pun Asia.

Keuntungan ketiga yaitu proyeksi pembangunan yang lebih merata di Indonesia. Pembangunan Indonesia ke depannya bisa memprioritaskan pembangunan Indonesia Timur secara umum dan Pulau Kalimantan secara khusus. Dengan catatan bila ibu kota yang baru berada di Kalimantan. Lebih baik lagi bila banyak penduduk kota lain, terutama yang kelebihan penduduk, pindah ke ibu kota yang baru.

Ada untung tentu ada ruginya, kan?

Bisa jadi. Transisi ibu kota yang lama ke kota yang baru bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Pertama karena adanya perpindahan yang masif bagi para pejabat negara dan pegawai negeri ke ibu kota yang baru. Mereka harus mencari tempat tinggal yang baru padahal keluarga dan rumah mereka sudah sejak lama berada di Jakarta.

Kedua yaitu fokus pemerintahan yang harus terbagi karena memikirkan proses transisi ke lokasi ibu kota yang baru. Padahal negara ini menghadapi tantangan ekonomi dan politik yang tak habis-habisnya mengguncang stabilitas nasional.

Ketiga adalah kebutuhan pendanaan yang sangat besar untuk membangun ibu kota yang baru. Salah kalkulasi bisa jadi negara harus menambal biaya pembangunan ibu kota yang baru dengan mencari data talangan berupa pinjaman. Belum lagi pasti ada spekulan-spekulan lahan yang bermain, kontraktor-kontraktor yang berebut proyek pembangunan dan bisa muncul oknum-oknum pejabat yang ingin mengambil keuntungan sesaat dengan korupsi di sana-sini.

Kesimpulan

Ibu kota yang baru memberikan harapan yang baru bagi proyeksi pembangunan ke depan yang lebih merata. Membangun ibu kota bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Tentu memindahkan ibu kota bukan perkara mudah. Kalkulasi secara politis dan finansial yang matang menjadi syarat keberhasilan ibu kota yang baru. Ada untung rugi yang didapatkan dari pemindahan ibu kota.

Menjadi harapan bersama bagi penduduk Indonesia bahwa ibu kota yang baru bukan hanya wacana tetapi benar-benar menjadi rencana pembangunan yang konkret dan memiliki hasil positif bagi negara ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Taiwan

Dulu saya berpikir bahwa Taiwan – negara kepulauan yang menjadi tetangga China sekaligus diklaim sebagai wilayahnya – merupakan destinasi wisata yang menarik. Namun daya tariknya biasa-biasa saja. Taiwan – terutama Taipei – masih kalah menarik dibanding tempat-tempat jalan-jalan di belahan dunia lainnya.

Namun kisah perjalanan seorang kawan lama, yang tersaji melalui penggalan-penggalan pesan pendek dan foto-foto di Whatsapp, membuat ketertarikan saya akan Taiwan meningkat. Saya menyimpulkan bahwa Taiwan ternyata bagus juga. Menarik.

Kawan lama tersebut berjanji akan membagi lebih banyak cerita dan gambar bila sudah sampai di tanah air. Siapa tahu apa yang dia bagi akan memberi inspirasi untuk mengunjungi pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Formosa itu.

Taiwan. Ketertarikan itu membuat saya mengulik informasi, gambar dan peta tentang Taiwan. Dua tempat yang paling memukau buat saya saat ini – berdasar dari cerita lewat Whatsapp – adalah Jiufen dan Taipei 101.

Untuk lebih mempermudah membayangkan seperti apa sih Jiufen dan Taipei 101, yuk kita lihat videonya sama-sama di bawah ini.

Jiufen

Taipei 101

Kafe Vape

Bisa saya pahami bila orang minum kopi maka akan mengunjungi kafe. Bersama-sama orang lainnya menikmati racikan secangkir kopi dari seorang barista. Pun dengan pub yang suguhkan ramuan minuman beralkohol yang dicampurkan oleh bartender yang tentunya tak asal mengoplos.

Beda dengan ‘kafe’ vape yang bertebaran di beberapa tempat di Kota Yogya. Saya maklum bila ada toko vape; tempat untuk para penggemar vape mencicip dan membeli vape – baik alat maupun ‘flavor’ (baca: rasa) yang diinginkan. Namun kalau tempat khusus untuk bersama-sama menikmati vape?

Rasanya aneh membayangkan tempat yang mirip kafe namun suguhannya adalah beragam rasa vape. Beberapa orang bersama-sama menyemburkan dan menghisap ‘uap’ yang keluar dari alat vapor. Tempat tersebut cepat atau lambat menjadi ‘berkabut’ karena ‘asap putih’ yang menguar dan menyebar.

Setahu saya belum ada larangan untuk menggunakan vape. Tak ada juga anjuran yang sarankan bahwa mengasup vape itu baik bagi kesehatan. Tak ada aturan karena belum ada regulasinya. Jadi tak jelas apakah mengkonsumsi vape berbarengan di satu tempat yang sama baik atau tidak bagi kesehatan.

Tentu tempat-tempat seperti kafe vape menjadi lokasi yang lebih pas untuk menikmati vape karena para penikmatnya sama-sama menikmati. Tak ada yang protes. Mungkin bisa saling tukar-menukar ‘rasa’ dan berbagi cerita. Entahlah.

Beda kalau pengguna vape menyemburkan ‘uap air’ di dalam warung makan atau kafe pada umumnya. Tentu akan mengundang protes dari banyak orang lainnya.

Sebagai catatan lainnya, dengan munculnya kafe vape yang marak dalam waktu singkat tentu akan membuat fenomena vape menjadi lebih kekinian. Makin banyak orang yang ingin coba-coba menjadi pelanggan setia. Namun bisa jadi terlalu banyaknya jumlah kafe vape akan ‘membunuh’ usaha di bidang vapor tersebut. Pemakai vape belumlah terlalu banyak, bahkan mungkin akan menurun jumlahnya bila trendnya memudar, sehingga porsi kue masing-masing kafe vape akan mengecil.

Bila pendapatan dan keuntungan tak berbanding dengan pengeluaran operasional kafe vape, tentu kafe-kafe yang selalu diselimuti dengan vapor ini akan tamat. Tak berlanjut. Selanjutnya demam vape pun akan menguap. Hilang ditelan trend baru yang mungkin lebih menarik.

Airship Ventures

 

Birunya langit memang indah. Dan terasa lebih indah lagi bila bisa mengarunginya. Rasanya ‘sesuatu’ bila bisa terbang di antara awan-awan putih dan memandangi dataran bumi atau hamparan laut dari atas langit.

Ada rasa kagum ketika naik pesawat terbang komersial, pesawat terbang kecil dan helikopter. Namun ada dua wahana yang bisa mengarungi langit yang belum pernah saya naiki. Balon Zeppelin dan Balon Udara.

Saat dulu saya singgah ke San Francisco, saya melihat di iklan bahwa ada wisata naik balon Zeppelin swasta. Tawaran menarik ini. Alasannya sederhana. Tak pernah lagi ada perjalanan dengan balon Zeppelin sejak lama. Nama operator wahana Zeppelin itu bernama Airship Ventures.

Sayang sekali tanggal penerbangannya tak sesuai dengan lama tinggal saya di kota San Francisco. Urung naik. Padahal sebenarnya saya sudah rela kalau harus membayar biayanya yang tak murah demi merasakan ‘mengambang’ di langit.

Dan sangat disayangkan karena ternyata tur wisata terbang di angkasa tersebut sudah berakhir November 2012. Tak ada lagi penerbangan Zeppelin yang memukau itu. Paling tidak ada blog yang menceritakan kisah menarik perjalanan dari Airship Ventures.

Untungnya ada orang-orang yang suka merekam bagaimana asyiknya naik Airship Ventures. Dengan begitu, minimal, saya bisa melihat bagaimana sih rasanya naik balon Zeppelin. Melihat video rekamannya lumayan bisa membuat rasa kecewa saya berkurang.

Semoga di masa depan, ada tur wisata seperti Airship Ventures. Siapa tahu malah ada wisata seperti itu di tanah air. Tentu mengasyikkan melihat alam Indonesia yang memukau dengan ‘mengambang’ di langit pelan-pelan sambil menyeruput teh hangat.

Marah

Namanya juga emosi. Susah dikendalikan. Namun saat marah datang, seyogyanya tak memutuskan sesuatu tergesa-gesa. Tenangkan pikiran. Apapun keputusan yang diambil saat amarah menggelegak biasanya tak berakhir dengan baik.

Sebuah lantunan lagu berjudul Jangan Marah Lagi dari Armada Band mencoba ingatkan banyak orang supaya jangan marah-marah hingga melakukan kesalahan fatal dalam hidup.