Menulis Cepat

Ada waktu di mana saya ingin menulis dengan baik. Melakukan curah ide. Membuat garis besarnya. Mengembangkannya. Menulis sebanyak mungkin. Kemudian memotong, mengubah, mengganti bagian yang tak relevan dan tak berguna. Dan terakhir menghaluskannya.

Di saat yang lainnya. Saya juga ingin menulis cepat. Melatih kemampuan menuang ide pada halaman kosong. Tak peduli dengan kualitas. Saya hanya ingin tulisan yang jujur. Terlepas dari baik dan tidaknya. Apa yang tertulis adalah sesuatu yang orisinil. Tertuang begitu saja.

Menulis cepat membuat pikiran bekerja lebih cepat. Namun bisa jadi sangat mengurangi kemampuan memproduksi tulisan yang baik.

Menulis dengan cepat juga menjadi terapi tersendiri. Melepaskan apa yang ada di dalam benak secepat mungkin ke suatu halaman yang dipenuhi dengna kata-kata yang diketikkan dengan secepat jari menari di atas papan kunci.

Ada rasa lega begitu pikiran-pikiran di dalam benak sudah tertuang. Sama seperti orang yang buang air. Tak lagi ditahan. Sudah keluar. Sudah lega.

Menulis cepat juga membuat pikiran tak berputar-putar di hal-hal lainnya yang tak relevan. Hanya terfokus pada satu hal. Yaitu menuangkan apa yang ada dalam pikiran secepat-cepatnya.

Menata Kata

Saat kecil saya kagum dengan orang yang bisa berkata-kata dengan indah. Intonasinya menarik. Bisa menyusun kalimat dengan kalimat dalam untaian makna. Begitu menghipnotis. Mempesona.

Saat itu saya adalah bocah pendiam yang sulit untuk berucap kata. Terlalu minim kata. Namun saya ingin seperti mereka yang pandai berkata-kata.

Seraya waktu saya cukup terobsesi dengan mereka yang pandai bicara. Pun mencoba sebaik saya supaya bisa berbicara lebih aktif dan lebih menarik.

Namun ada sesuatu yang saya rasa tak nyaman. Makin lama makin paham bahwa mereka yang mahir berkata-kata ada yang kemudian tergelincir untuk memanipulasi orang lain. Mencuci otak. Mempengaruhi. Menghasut. Memainkan narasi bicara untuk agenda pribadi.

Tentu tak semua orang seperti itu. Ada banyak orang yang hebat berbicara dan memanfaatkan talentanya tersebut untuk banyak kebaikan dalam kehidupan. Menyadarkan banyak orang. Mengajar berbagai keterampilan. Mengkomunikasikan banyak hal yang migunani bagi banyak orang.

Ada batas antara menggunakan kemampuan berkata-kata untuk kebaikan sesama dengan memelintir kata untuk kepentingan yang tak baik.

Ada orang hebat yang mampu berbicara dengan baik dan sekaligus jujur. Namun ada juga yang memanipulasi orang lain dengan keahlian memainkan kata.

Menata kata merupakan sebuah kemampuan. Kemampuan yang bagaikan pedang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan sesama. Bisa juga untuk kepentingan yang tujuannya buruk.

Sebaliknya di saat yang sama. Orang yang tak pandai bicara boleh jadi sosok yang jujur. Tak perlu memainkan kata. Hanya memakai kata seperlunya saja.