Memajang Foto

Seorang bijak berkata “satu gambar bisa mewakili ribuan kata”.

Benar adanya. Sebuah teori pun berkata bahwa ‘manusia berpikir dengan gambar dan bukannya dengan kata-kata’.

Sebuah blog pun akan lebih menarik bila memiliki gambar atau foto.

Sayang, meng-upload foto ke blog kadang makan waktu. Pertama, harus login ke situs penyedia blog. Lalu, secara manual meng-upload foto satu demi satu ke blog tersebut.

Jangan khawatir, karena ada beberapa perangkat lunak yang memudahkan alur upload foto ke blog. Terdapat Picasa – aplikasi pengolah gambar dari Google yang bisa diunduh secara cuma-cuma dari http://www.picasa.com.

Terdapat juga browser bernama Flock. Browser ini memungkinkan kita berselancar di dunia maya seperti biasanya. Kelebihannya, kita bisa juga meng-upload foto ke blog kita.

Foto pun bisa di-upload juga dari layanan olah foto online semacam Flickr dan Photobucket.

Memang, sebuah gambar bisa memberi warna bagi blog yang dulunya hanya mendewakan teks yang dipenuhi kata-kata, frasa dan kalimat yang membentuk pesan verbal.

Iklan

Kata Makian

Manusia memang belum lama memakai bahasa verbal. Namun, ragam bahasa berkembang pesat. Melesat melebihi kemampuan spesies lainnya. Salah satu bentuk bahasa yang cukup populer adalah kata makian.

Pertanyaannya dari mana saja seseorang bisa mengetahui dan belajar bentuk budaya yang dirasa kurang berbudaya tersebut.

Pertama, kita hidup di tengah banyak orang. Tidak semua orang suka memaki. Meskipun begitu bila ada kejadian tidak mengenakkan, sesuci apa pun, orang bisa saja kelepasan memaki. Sebagai insan yang belajar dari meniru, hal memaki pun bisa ditiru dengan mudah.

Kedua, menonton film Hollywood atau pun sinetron produksi anak negeri bisa menambah kosakata kata makian. Mulai dari F**K hingga “sialan”.

Ketiga, modifikasi intonasi dari terminologi yang sudah jamak diketahui orang. Semisal, “anak haram” artinya sesederhana “anak yang lahir dari hubungan tidak sah” yang mulai populer belakangan ini karena pergaulan yang kian bebas dan longgar – baik moral dan celananya. Namun, dengan intonasi, orang bisa marah-marah bila ada orang yang mengatakan dirinya “anak haram”. Begitu juga dengan “pelacur” yang banyak dicari-cari lelaki hidung belang di kawasan Dolly dan daerah lampu merah eks Kramat Tunggak.

Keempat, modifikasi arti yang berasal dari nama binatang kesayangan atau ternak yang bisa dimakan. Contohnya, “babi”, “anjing”, “bunglon” atau “cacing”. Namun, hingga sekarang belum ada yang dimaki dengan “kelinci”, “ubur-ubur” atau “cumi-cumi”. Justru hewan-hewan ini akan membuat yang dimaki akan terpingkal-pingkal.

Kelima, manusia terkenal sebagai insan yang kreatif. Kata makian bisa-bisanya berasal dari kata yang tak bermakna. Contohnya, “gokil”.

Apakah Anda sudah memaki orang hari ini? Atau diri sendiri? Semoga tidak.

Ganti

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata “ganti” di program berita televisi. Semisal: “ganti presiden”, ganti rugi untuk warga korban lumpur Lapindo” dan “ganti bensin dengan minyak jarak”.

Pada intinya “mengganti” adalah menukar eksistensi objek yang satu dengan objek lainnya. Seharusnya objek yang ditukar sebanding dengan objek yang terdahulu. Walaupun pada kenyataannya tidak selalu begitu.

Dari presiden yang terpilih pada pemilu lalu dengan presiden yang baru. Uang kompensasi untuk rumah yang tenggelam dalam gunung lumpur. Minyak jarak sebagai pilihan BBM yang lebih ramah lingkungan dibanding bensin.

Hal ganti-mengganti tentu tidak mudah.

Pergantian presiden bisa jadi mengeruhkan suasana politik dan ekonomi. Bahkan, tidak ada jaminan presiden penggantinya lebih baik dari yang sebelumnya.

Kerugian lumpur Lapindo pun tidak mudah dihitung. Dari aspek rupiah, kompensasi rumah dan tanah tentu besar karena lumpur tersebut bukan hanya menggenangi tetapi mengubur ratusan rumah sekaligus. Dari aspek ekologi, hmm, tak terkira lagi.

Berganti dari bensin ke minyak jarak tak bisa serta merta dilakukan dengan singkat. Mesin kendaraan, mesin produksi dan mesin berbahan bakar bensin lainnya tentu tidak langsung bisa diisi minyak jarak. Pemerintah pun masih bingung bagaimana menanam dan memproses minyak jarak.

Namun, ganti-mengganti juga ramai dipopulerkan.

“Naik kelas, sepatu baru dong!”, “Ganti HP-mu dengan HP termodern era ini!” dan “Ganti nada deringmu dengan nada dering dari Ari Lasso”.

Terkesan barang lama akan lebih baik jika diperbarui. Tentu fenomena ini tidak terlepas dari jerat-jerat komsumerisme yang lebih banyak menguntungkan produsen yang bersaing keras menjual barang sebanyak mungkin.

Ganti-mengganti sendiri adalah ciri khas budaya urban.

“Gue nggak suka apartemen yang dulu, jadi gue ganti apartemen.”, “Sorry, HP-ku sekarang ganti nomor Jakarta, maklum aku tinggal di sana, nih.”, “Pacarku yang dulu nyebelin jadi mending aku ganti pacar.” dan “Aku dah ganti tempat kerja biar gaji lebih besar.”

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang tidak bisa tergantikan. Baik oleh timbunan emas, tumpukan uang, ideologi, instruksi presiden dan bom nuklir.

Cinta sejati sepasang kakek nenek tua renta. Kekolotan pikiran dari orang yang terperangkap dengan kejayaan masa lalu. Juga, iman kokoh dari penghujat yang bertobat.

Dunia ini memang aneh. Tetapi pastilah Anda sepakat dengan saya bahwa tidak akan menggantikan bumi – yang menua ini sebagai tempat tinggal – dengan planet Mars yang gersang atau Pluto – planet kerdil yang dingin.

Layanan Internet Versi Mobile

Layanan internet di bumi pertiwi tampaknya mulai ada kemajuan. Warung Internet yang sering dinamai internet cafe mulai bermunculan di banyak kota. Bahkan sampai di kota kecil yang jarang didengar namanya.

Sayang, kecepatan koneksinya masih kurang cepat. Bahasa Jawanya “nggremet” atau “lelet“. Ya. Memang pelan kecuali kantong cukup tebal untuk berlangganan koneksi internet dengan teknologi ASDL, leased-line atau VSAT.

Namun, yang namanya manusia pastilah berusaha mencari celah. Keterbatasan bisa meningkatkan kreativitas.

Ternyata ada layanan internet yang bisa diakses lebih cepat. Layanan ini sejatinya memang ditujukan untuk akses melalui PDA atau pun ponsel canggih. Namun, dengan browser Opera atau Mozilla Firefox, layanan ini juga bisa diakses di komputer dekstop selaiknya membuka situs biasa dari jendela browser.

Beberapa layanan tersebut adalah:

Gmail via m.gmail.com

WordPress.com via m.wordpress.com

Yahoomail! via wap.oa.yahoo.com

Beberapa layanan Yahoo juga via wap.oa.yahoo.com

Tentu tampilannya tidak seindah dan selengkap versi HTML standar. Minimal bisa digunakan bila terburu-buru atau bila koneksi internet tak memadai

Menulis untuk apa?

Ada banyak alasan mengapa orang menulis. Semisal: mencari uang, agar populer, ingin diakui eksistensinya, tuntutan pekerjaan, menyebarluaskan pengetahuan, mempengaruhi orang lain atau pun sekedar berbagi rasa dan ide.

Bahkan banyak juga yang berpikir seseorang menulis karena tidak ada kerjaan lain, kurang pandai berbicara lisan atau latah ikut-ikutan orang lain.

Padahal di negeri-negeri Barat menulis adalah bentuk suatu budaya. Bahkan ukuran intelektualitas suatu bangsa ditentukan oleh kuantitas dan kualitas produksi buku. Tentu buku tersebut dibaca dan ditulis oleh masyarakat yang tidak asing lagi dengan buku.

Alasan saya menulis sederhana saja. Saya suka dan cukup sering membaca. Baik membaca buku pinjaman, membaca majalah yang boleh dibaca secara gratis di toko-toko buku, berbagai artikel berita dari situs berita online dan membaca halaman koran yang beralih fungsi menjadi lapisan kedua setelah daun pisang dari nasi bungkus yang saya nikmati.

Alasan lainnya pun tak kurang unik. Saya suka dan cukup sering menulis. Ide yang muncul tentu tak selalu berkenan di hati redaktur media masa. Jadi, ide bisa tersalurkan di blog pribadi. Redakturnya cukup tergantikan dengan fitur editor teks dari MS Word yang tidak legal.

Menulis ternyata juga mencandu. Meski tidak seproduktif Goenawan Muhammad dengan Catatan Pinggir-nya, tidak seindah larik-larik puisi Rendra dan tidak semistik J.K. Rowling dengan sihir ala Harry Potter, tapi tidak menulis bisa membuat saya tidak bisa tidur. Minimal membuat saya melamun di kloset membayangkan ratusan kata yang berada di dalam benak.

Makin banyak menulis juga membuat seorang pribadi belajar lebih banyak. Misalnya, seseorang cenderung lebih banyak membaca bila sering ditanya orang. Sedikitnya agar tidak kelihatan kepalanya kosong melompong karena sok tahu dan asal bicara.

Beberapa teman bertanya kepada saya ‘Berapa sih honor mengirim tulisan ke majalah?’. Saya hanya bisa bilang ‘lumayanlah untuk jajan’. Menyadari bahwa saya bukan AW Subarkah yang sering mengisi kolom teknologi informasi di harian Kompas, bukan menteri yang menyanggah suatu tuduhan melalui tulisan di harian nasional dan juga bukan pengamat politik eks pelaku politik semacam Amien Rais.

Menulis itu melegakan karena beberapa kata-kata terkosongkan dari isi kepala saya. Itu pun dengan catatan isi otak saya yang hanya secuil.

Saya tidak bisa membayangkan bilamana penulis Bumi Manusia, pengarang Burung-burung Manyar dan penyair Aku dilarang menulis seumur hidup mereka. Pasti mereka akan marah-marah dan pupus semangat hidupnya.

Menulis itu menyenangkan. Coba saja.

Forward E-mail (2)

Bila kita menerima Forward e-mail entah itu tentang foto porno, humor teks lucu atau cerita menyedihkan dan kata-kata mutiara, pasti terpampang alamat-alamat e-mail orang yang sudah terkirimi pesan e-mail yang sama.

Itu adalah hasil dari Forward dengan CC:. Semuanya terlihat jelas. Siapa saja teman atau rekan orang yang mengirim e-mail kepada kita.

Tentu pada Forward yang kesekian, mungkin nama kita juga akan tercantum. Tanpa sadar mengirim kepada belasan rekan dengan CC: yang sama.

Pernah dengar tentang Tulat-tulit Tulip yang pandai menipu?

Dia adalah seseorang entah di mana. Namun, dia menghubungkan teman yang satu dengan teman yang lain. Juga mengaku bahwa dia ada hubungan dengan keluarga kita tau teman kita. Tujuannya untuk melalukan penipuan. Entah itu pinjam uang dan tak kembali, ingin menginap gratis atau hal-hal yang bertujuan negatif.

Bagaimana dia bisa terhubung dan mendapatkan informasi?

Sepele. Dengan bertemu satu dengan yang lainnya. Bertukar dan menyerap informasi dari satu mulut ke mulut lainnya.

Sama juga dengan e-mail. Toh, juga bisa disalahgunakan. E-mail adalah media komunikas yang relatif anonim, kan?

Jadi, pergunakan Forward dan CC: dengan sebaik-baiknya dan bijak. Bila merasa perlu meneruskan pesan Forward-an dengan fitur Forward, hendaklah menghapus alamat-alamat e-mail di bagian atas tubuh surat terlebih dahulu.

Catatan:
Tulisan ini boleh Anda sebarkan ke teman-teman dengan memakai Bcc: dan Forward yang bijak dan benar. Bila Anda seorang blogger, bolehlah ditaruh di blog Anda – tentu dengan mencantumkan alamat asal tulisan ini.

Beritahu teman-teman kita tentang Forward dan CC: yang bijak, ya.

Forward E-mail

Tak mengira fitur Forward dan CC: di e-mail bisa menjadi bumerang bagi empunya e-mail.

Dulu, fitur tersebut berguna untuk meneruskan satu pesan e-mail ke pengguna e-mail lainnya. Ternyata tak sadar kita sebagai pengguna e-mail masih juga tak sadar menjadi kepanjangan tangan dari SPAMMER dan HOAXER.

Namun, yang paling nyata adalah terpampangnya semua alamat-alamat e-mail yang tertera di badan e-mail. maklum, kebanyakan pengguna e-mail masih suka memakai CC: daripada Bcc:.

Tidak mengenakkan bila suatu hari kita menerima e-mail tak jelas juntrungannya. Maklum, semua orang yang menerima e-mail tersebut bisa melihat dan mengirimi kita e-mail.

Entah ingin berkenalan, beriklan atau sekedar iseng.

Saran saya, marilah kita menahan diri untuk tidak memakai fitur Forward tanpa memperhitungkan efeknya. Juga lebih menutamakan Bcc: daripada CC: agar kehidupan bertukar e-mail menjadi lebih baik.