Demam Vape

Demam vape sepertinya melanda tanah air. Vape sekilas mirip rokok. Namun ada bedanya. Vape harus dinikmati dengan alat listrik bernama vaporizer yang membuat cairan yang memiliki rasa menjadi uap.

Uap vape benar-benar seperti uap kereta api uap jaman dahulu. Berasap. Bahkan saking banyaknya asapnya bisa membuat penikmat vape serasa dikelilingi kabut.

Makin banyak yang memakai vape, makin banyak pula toko-toko vape yang menjual beragam alat vape beserta cairan warna-warni berisi berbagai rasa campuran. Toko-toko itu kadang menjadi semacam kafe tempat berkumpul para penikmat vape.

Namun fenomena vape ini sepertinya akan menjadi vaporware. Menguap bila faktor penasaran dan gaya sudah tak lagi dirasa keren. Hanya sebuah trend sesaat yang pernah sekilas disesap.

Satu hal yang membuat rasa sedih adalah efek vape yang tidak jelas. Seperti apa efek sampingnya belum benar diketahui. Bahkan belum ada verifikasi bahwa vape legal digunakan dan sehat untuk dinikmati.

Tapi biarkan saja para penikmat vape membuat asap hingga kabut terbentuk. Suatu pilihan untuk tiap-tiap individu. Rokok sudah terbukti tak sehat tetap saja peminatnya banyak. Bila vape terbukti tak sehat juga, tetap saja akan ada yang setia menikmatinya.

Kita lihat saja apakah vape bisa tetap menjadi trend anak muda hingga tahun 2017 berakhir.

Iklan

Kembalikan Uang Kembalian Saya

Tugas dari kasir di mana-mana adalah membantu proses transaksi. Barang ditukar uang. Bila uangnya lebih besar dari nilai barangnya berarti ada uang kembalian. Tentu jumlah uang kembalian haruslah sama dengan yang tertera di mesin penghitung pada meja kasir.

Sayangnya banyak kasir di toko modern, warung makanan, kafe yang tak terlalu cakap untuk membantu proses transaksi dengan sempurna.

Salah hitung jumlah belanja bisa terjadi. Pun dengan salah mengembalikan jumlah uang kembalian. Sesempurna apapun seorang kasir bisa saja kesalahan terjadi. Bila itu terjadi bolehlah membilang kasirnya khilaf. Tak sengaja meskipun sudah sangat berhati-hati. Bisa jadi hari itu sangat melelahkan, banyak pikiran atau ada terlalu banyak pengunjung yang datang.

Saya bisa maklum bila kasir khilaf saat salah hitung atau kurang mengembalikan uang kembalian. Bila saat itu juga saya menemukan kesalahan kasir, saya langsung memberitahukannya kepada kasirnya. Kasir yang baik otomatis minta maaf. Kemudian memperbaiki kesalahannya. Bila itu terjadi, saya memakluminya.

Namun saya jengkel bila mendapati kasir yang dengan santainya berkata, “Maaf, kembaliannya kurang.”

Saya tak bisa mentolerir perilaku merugikan konsumen seperti itu. Tugas kasir haruslah mengembalikan uang kembalian. Kalau tak ada uang kecil, kasir wajib mengusahakan uang kembalian. Bila memang tak ada uang kecil tentu kasir bisa memberikan kembalian berlebih.

Logikanya seperti ini. Pembeli atau pengunjung harus membayar apa yang sudah dinikmatinya atau dibelinya dengan uang pas. Bisa juga dengan lebih banyak. Tapi tak mungkin kurang membayar di kasir, kan?

Oleh karena itu biasanya saya hanya bisa nyinyir kepada kasir yang terang-terangan bilang tak bisa memberikan uang kembalian kepada saya; apapun alasannya. “Mbak/Mas, kalau saya yang kurang membayarnya, boleh ga?”

Biasanya sindiran saya itu membuat para kasir – yang tak mampu atau tak mau memberikan uang kembalian – untuk segera bertindak memperbaiki kesalahan mereka. Saya tak peduli bagaimana caranya yang penting saya memperoleh uang kembalian. Entah itu 500 perak, 200 perak atau 50 perak sekalipun.

Kebanyakan pembeli atau pengunjung pasrah bila tak diberi uang kembalian yang pas. Mungkin mereka pikir toh cuma uang receh. Ada juga yang ingin praktisnya dan tak mau mempermasalahkan hal yang sepele. Dulu saya juga begitu.

Namun lama-lama perilaku ‘korupsi kecil-kecilan’ karena malas memberi uang kembalian ini makin merebak. Para kasir sialan ini tak lagi malu bila tak bisa memberikan hak konsumen berupa uang kembalian yang pas. Malah bisa tersenyum supaya perilaku tak terpuji mereka segera dimaafkan dan tak perlu lagi memberikan uang receh yang pas.

Saya pikir akan lebih baik bila sebagai konsumen yang dirugikan untuk memperjuangkan hak berupa uang kembalian yang pas. Receh. Memang receh. Namun bukan jumlah nominalnya yang penting.

Hal terpenting adalah sebagai konsumen memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh para kasir. Kasir harus mampu memberikan uang kembalian. Titik.

Semakin sering dan semakin banyak konsumen yang sadar akan haknya – dan mengingatkan para kasir akan kesalahannya – lambat laun tindakan merugikan dengan tak memberi recehan uang kembali menjadi pudar. Kualitas para kasir secara kolektif akan membaik.

Coba tengok dari para kasir di Negara Sakura. Mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan uang kembalian dengan sebaik-baiknya. Bahkan di restoran, para kasir mereka menolak yang namanya uang tips. Oleh karena itu konsumen senang karena hak dalam bertransaksi terjaga dengan baik.

Saya berharap bahwa para kasir yang suka “mencuri kecil-kecilan” supaya menyadari bahwa tindakannya merugikan orang lain; terlepas dari segi dosa.

Dan lebih dari sekedar berharap, saya selalu membuat atau memaksa para kasir “yang suka mengutip uang kembalian atau malas memberi kembalian” untuk memberikan uang kembalian dengan pas. Itu hak saya. Sereceh apapun itu, saya berhak dengan uang kecil itu.

Sublime Text

Saya suka menulis, atau tepatnya mengetik, menggunakan laptop saya. Entah itu menuliskan artikel, menyimpan informasi, menulis jurnal harian, ketik-ketik sesuatu secara acak atau sesederhana membaca dan membalas surat elektronik.

Menulis menjadi lebih enak bila alat menulisnya mudah dipakai dan handal. Alat menulis di laptop berupa aplikasi. Ada yang suka menulis menggunakan word procesor. Sebagian orang malah suka menggunakan text editor. Pun ada yang memakai aplikasi seperti notes yang lebih ringan.

Baru-baru ini saya mencoba untuk menggunakan text editor bernama Sublime Text. Umumnya text editor seperti digunakan oleh programer atau developer. Sublime Text memang mumpuni untuk menulis ribuan baris kode untuk membuat situs internet atau aplikasi.

Namun Sublime Text juga bisa dimanfaatkan untuk menulis artikel, prosa atau dokumen. Cocok untuk pengguna seperti saya; yang memang bukan programer.

Sublime Text mudah dipakai karena navigasinya sistematis. Mirip dengan Word Star di jaman komputer masih memakai sistem operasi DOS.

Handal karena Sublime Text bisa menampilkan beberapa dokumen sekaligus dalam mode split screen. Fitur seperti ini sesuai untuk proses penerjemahan yang membutuhkan dua dokumen berjejer bersebelahan; satu dokumen sumber dalam salah satu bahasa dan satu dokumen dalam bahasa yang lain. Split screen bisa dipakai untuk proses penyuntingan dokumen.

Fitur lain yang saya suka adalah latar belakang text editor dengan default warna gelap. Menulis dengan text editor dengan warna terang (biasanya putih) membuat mata cepat lelah. Sebaliknya menulis dengan font berwarna putih dengan latar gelap membuat proses menulis lebih teduh dan nyaman di mata.

Hal lain yang membuat saya suka dengan Sublime Text adalah ‘cepat dibuka aplikasinya’ dan langsung bisa menulis. Beda dengan word procesor yang kaya fitur seperti Apple Pages atau Microsoft Word yang memerlukan waktu cukup lama untuk membuka dan untuk menggunakannya. Terlebih word procesor memakan sumber daya komputer dengan cepat karena kaya fitur sehingga membuat baterai cepat habis.

Hanya saja text editor – yang memang ditujukan untuk fokus pada kata-kata dan kalimat dengan format sederhana – berbeda dengan word procesor dalam kaitannya dengan dokumen yang harus disunting dengan layout guna dicetak. Semisal dokumen perjanjian, surat lamaran, pengumuman atau surat-menyurat (yang harus dicetak).

Sebagai catatan, saya baru saja mengunduh dan memasang Sublime Text. Belum menggunakannya cukup lama. Mungkin cepat atau lambat saya akan menemukan fitur-fitur lainnya yang powerful sehingga bisa jadi makin menyukai text editor ini.

Bila Anda suka menulis dan tertarik untuk mencoba Sublime Text, baik versi gratis atau berbayarnya, silakan mengunduhnya dari situs resminya di Sublime Text.

Tiga Kota Favorit Tujuan Destinasi

Saya punya kebiasaan untuk menanyakan pertanyaan di bawah ini kepada orang lain. Mungkin karena saya cukup kepo atau memang penasaran.

“Kalau mau jalan-jalan, mana tiga kota di dunia yang paling ingin kamu kunjungi; tanpa harus memikirkan tentang uang atau waktu?”

Lain orang, jawabannya tentu berbeda-beda. Sesuai dengan aspirasi setiap individu.

Jawaban paling umum adalah kota-kota dunia yang relatif dekat dengan Indonesia. Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok. Bisa dimaklumi karena ketiga kota tersebut sangat terkenal di Indonesia. Tiga kota itu bisa dijangkau dengan pesawat terbang dalam jarak tempuh kurang dari empat jam dari Jakarta. Tiga kota tersebut paling sering dikunjungi oleh pelancong Indonesia, terutama untuk traveler newbie.

Ada juga yang sangat terinspirasi dengan Eropa. Jawabannya biasanya menyebut kota-kota yang eksotis romantis, seperti: Paris, Milan, London. Tentu untuk mereka yang Nasrani cenderung menambahinya dengan Kota Vatikan; sebagai tempat bersejarah dan ziarah. Uniknya jarang ada yang menyebutkan kota-kota di Jerman seperti Berlin atau Frankfurt. Justru lebih populer Amsterdam; kota di Belanda yang cukup dekat dengan Jerman. Beberapa orang menyebut Barcelona.

Sedangkan teman-teman yang memeluk agama Islam berharap benar bahwa dalam kehidupan ini mereka bisa beroleh barokah dan hidayah untuk mengunjungi Mekah. Biasanya Mekah disebutkan sepaket dengan Medinah dan Jeddah. Perjalanan ke tanah suci baik untuk sekedar umroh atau menunaikan ibadah haji. Umumnya mereka ingin bisa pergi bersama seluruh anggota keluarga. Lebih afdol. Bapak, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek dan handai taulan.

Beda pula dengan rekan-rekan beragama Buddha. Ada keinginan yang kuat untuk bisa sampai ke Bangkok. Namun bagi yang memiliki impian yang besar, kalau bisa mengunjungi Lhasa di Tibet. Jauh memang. Sayangnya Dalai Lama, yang diakui dunia dan bukannya ‘dalai lama’ pilihan China, justru tinggal di Dharamsala – salah satu kota di India.

Untuk para pecinta keindahan alam, bisa ditebak lokasi mana di dunia ini yang ingin mereka kunjungi. Gunung atau laut. Bukan kota yang ingin dituju tetapi bentangan alam yang ingin ditaklukkan. Jadi bukan kota yang ingin dituju meski untuk ke sana mereka harus melalui suatu kota.

Tak melulu orang-orang menyebutkan kota-kota di luar negeri. Banyak yang ingin mengunjungi Raja Ampat, kota-kota di Bali seperti Denpasar atau Kuta, Yogyakarta, Surabaya, Makasar. Bali itu selalu disebutkan sebagai satu destinasi ketimbang menyebut satu kota secara spesifik di Pulau Dewata tersebut.

Untuk para penyuka kebudayaan Asia Utara pilihannya beragam. Tokyo di Jepang bagi orang-orang yang suka dengan sesuatu yang berbau Jepang. Bagi yang terkena wabah Hallyu pasti menyebut Seoul sebagai destinasi kota terfavorit. Sedangkan mereka yang suka dengan film-film Mandarin umumnya memiliki mimpi untuk berjalan-jalan di Hong Kong atau Taipei. Ada juga yang bercita-cita untuk bisa menjejak Beijing dan Shanghai.

Tak semua orang suka bepergian di kota-kota yang terlalu mainstream. Sejumlah orang suka sesuatu yang jarang dan unik. Pergi ke Moskow di Rusia yang misterius; mungkin karena terkenal dengan mata-matanya. Istanbul di Turki yang menarik karena bisa melintasi dua benua yaitu Asia dan Eropa. Teheran di Iran yang membuat saya terheran-heran saat kota itu disebut. Ada pula yang menyebut Xinjiang dan kota-kota di Mongolia yang bikin saya penasaran.

Untuk saya sendiri, saya ingin sekali untuk pergi ke kota Barcelona di Spanyol, Seoul di Korea Selatan dan Istanbul di Turki. Ketiga kota tersebut selalu menggelitik rasa penasaran saya. Kebetulan ketiga kota tersebut memiliki sejarah yang panjang dan kaya dengan kebudayaan. Barcelona menarik karena kebudayaan Katalan dan pernah menjadi pusat perdagangan di seputaran Laut Mediterania. Seoul sebagai ibukota dari negara yang sering diperebutkan oleh tetangga-tetangganya seperti China, Jepang dan tentunya Korea Utara. Dan Turki karena menjadi kota yang menghubungkan Eropa dengan Asia. Entah kapan bisa punya uang dan waktu untuk pergi ke sana. Namun yang penting tiga kota tersebut berada dalam bucket list saya. Menjadi salah satu impian dalam kehidupan saya.

Setiap orang tentu memiliki alasan untuk melancong ke kota-kota impian mereka. Baik untuk alasan yang masuk akal maupun alasan yang karena feeling dan mood. Ada juga yang bilang “tahunya cuma kota-kota itu, je“.

Dan kali ini saya juga ingin menanyakan hal yang sama kepada Anda; yang sudah sudi mampir atau kebetulan tersesat di postingan ini.

“Kalau mau jalan-jalan, mana tiga kota di dunia yang paling ingin kamu kunjungi; tanpa harus memikirkan tentang uang atau waktu?”

Bila berkenan, silakan menuliskan tiga kota favorit Anda di dunia ini di kolom komentar di bawah postingan ini. Tentu akan lebih memuaskan rasa penasaran saya bila Anda bersedia memberikan alasan-alasan mengapa ingin menjelajahi 3 kota di angan-angan Anda tesebut.

Siapa tahu jawaban-jawaban Anda bisa menginspirasi banyak orang atau paling tidak saya untuk pergi ke kota-kota tersebut.

 

 

 

 

Hampir Satu Dekade Bertahan

Mungkin judul tulisan kali ini agak bombastis melankolis. Namun memang itu rasa yang saya dapatkan ketika kembali menekan tombol Power di MacBook warna putih jadul yang sudah sangat jarang saya pakai.

Laptop putih itu saya beli di bulan Juni tahun 2007. Bila dihitung mundur berarti komputer portabel besutan Apple ini sudah berumur 9,5 tahun. Hampir satu dekade. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah komputer.

Ternyata begitu nyala, fungsinya masih berjalan dengan baik. Sistem operasinya maksimal memakai Lion OSX. Beberapa aplikasi untuk Mac sudah tak lagi bisa dipasang. Sayang memang. Mau apa lagi. Kualitas pengeras suaranya sudah cempreng. Baterai sudah tak bisa bertahan lama.

Hanya saja saya masih menemukan aplikasi-aplikasi lamanya masih berjalan dengan baik. Minimal Safari dan iTunes. Begitu juga Mail. Bisa untuk browsing, mendengarkan lantunan lagu, dan membuka email.

Hebatnya lagi ternyata papan kunci atau keyboard masih bekerja dengan sangat baik. Berdebu memang tapi sudah saya bersihkan dengan tisu. Bersih kembali. Dan masih tetap lancar untuk dipakai untuk mengetik. Tidak rusak. Masih sempurna.

Singkat kata, meski sudah renta, MacBook putih yang dulunya jadi produk primadona di tahun 2007 masih bisa berjalan dengan baik. Tak bisa diajak berlari. Tak apa-apa. Namun performa masih boleh diadu dengan laptop-laptop low entry yang berbasiskan sistem operasi Windows XP dan Windows 7; yang usianya masih terbilang muda dua hingga empat tahun.

Laptop ini masih bandel. Masih hidup. Tak menyerah meski harus fighting. Masih kuat bertahan dalam usianya yang hampir satu dekade. Salut. Keputusan yang tepat untuk tak melego atau memberikan laptop ini ke tangan orang lain. Masih bisa untuk menyimpan data-data berupa dokumen dan foto.

Hampir satu dekade bertahan…

 

 

 

Aplikasi Berguna untuk macOS

Aplikasi yang berguna memberikan produktivitas bekerja yang lebih baik. Banyak aplikasi berbayar dan gratis yang kualitasnya sangat baik yang tersedia untuk komputer atau laptop yang memakai sistem operasi macOS.

Berikut aplikasi-aplikasi untuk macOS yang saya pakai untuk bekerja sehari-hari.

Menulis

Apple Pages untuk menyunting dan mencetak dokumen. Aplikasi ini sudah tersedia bersama pembelian unit komputer atau laptop Apple. Dokumen di aplikasi ini sudah otomatis disimpan di iCloud.

Simplenote untuk menulis catatan singkat cepat. Segala yang dituliskan di Simplenote segera terbarui saat itu juga di aplikasi Simplenote di iPhone dan Android.

Quip untuk membuat draft, mendokumentasikan perencanaan, menuliskan jurnal harian. Fitur yang sangat berguna adalah kemampuan membagi akses dokumen secara online dengan pengguna Quip lainnya.

Bear untuk menulis tulisan-tulisan ringan. Terus terang saya suka desain aplikasi ini. Dulu sebelumnya saya memakai Letterspace. Sayangnya Letterspace sempat berbayar dan sistem penyimpanan dokumennya membingungkan.

nvALT untuk corat-coret dengan cepat. Desainnya sangat sederhana sehingga ringan dibuka, digunakan dan ditutup. nvALT memiliki fitur penyimpanan yang terintegrasi ke Simplenote. Namun tidak saya sinkronisasikan karena memang ingin memakai nvAlt sebagai media corat-coret yang kurang penting.

Beberapa aplikasi yang lumayan bagus tapi sayangnya tak lagi saya pakai adalah Evernote dan Typora. Fungsi dan kelebihan mereka sudah tergantikan oleh beberapa aplikasi menulis di atas.

Blogging

WordPress untuk memperbarui, menyunting dan melakukan pengaturan beberapa blog yang berjalan di situs WordPress.

deskPM dulunya sering saya pakai untuk blogging sebelum adanya aplikasi WordPress untuk macOS. Kadang-kadang saya pakai karena memang bagus dan rugi kalau tak dipakai.

Sedangkan blogo sudah tak saya pakai karena fiturnya terbatas, kurang cocok dengan antarmuka yang kurang ramah, dan aplikasi WordPress dan deskPM sudah memiliki fitur yang lengkap.

Foto

photoScape X untuk menyunting foto. Aplikasinya ringan, mudah digunakan dan gratis.

Untuk melihat-lihat foto untuk saat ini saya langsung menggunakan Finder. Sebelumnya saya memakai Apple iPhoto (yang akhirnya sudah diakhiri masa hidupnya oleh Apple), Apple Photos (yang membuat laptop berjalan pelan dan menghabiskan banyak ruang penyimpanan), dan Google Picassa (yang dulu berguna tapi sepertinya tak lagi dikembangkan secara aktif oleh Google).

Mail

Spark Mail karena antarmukanya bagus, bekerja dengan baik dan lancar untuk dipakai.

Sparrow yang meskipun sudah tidak dikembangkan lagi tapi masih bisa digunakan dengan baik.

Untuk saat ini saya masih mempertimbangkan apakah Polymail 2 dan Canary Mail cukup bagus untuk dipakai sebagai klien email sehari-hari.

Dulu ada Mailbox (yang dibeli oleh Dropbox) dan Nylas yang lumayan bagus sebagai klien email gratis. Namun dua klien email di atas menggantikan kedua aplikasi ini. Sedangkan untuk Apple Mail, aplikasi bawaan macOS, saya merasa masih belum nyaman menggunakannya. Kurang intuitif dan fiturnya terbatas. Lagipula saat ini secara reguler saya masih membuka email dari browser di macOS dan aplikasi klien email di iPhone dan Android.

Komunikasi

WhatsApp untuk macOS memudahkan chat dengan banyak orang di laptop.

Telegram untuk chat dan membagi dokumen dan tautan internet.

Twitter untuk membagikan tautan berguna dan menarik yang saya temukan ketika menjelajahi internet.

Skype untuk perbincangan dalam konteks pekerjaan.

Aplikasi Lainnya

Untuk menjelajah internet saya paling suka menggunakan Opera yang memiliki fitur VPN dan Block Ads. Sedangkan untuk bekerja, Chrome masih menjadi standar karena berbagai layanan internet kompatibel dengan Chrome. Safari saya pakai sesekali bila perlu mengakses iCloud versi web; yang bisa bekerja dengan baik di Safari.

Wunderlist untuk menuliskan todo list.

Apple Calendar untuk melihat tanggal dan informasi tentang hari libur dan ulang tahun.

AppCleaner untuk membuang secara sempurna aplikasi yang tak lagi berguna.

Selain aplikasi-aplikasi yang sudah saya sebutkan tadi, ada beberapa aplikasi yang saya pasang dan pakai saat ada keperluan. Namun karena jarang-jarang dipakai maka tak saya sebutkan. Selain itu ada beberapa aplikasi yang menggelitik saya untuk mencobanya dan saya buang bila ternyata kurang berguna atau kualitasnya tak bagus.

Semoga informasi mengenai aplikasi untuk macOS ini berguna bagi Anda yang juga menggunakan macOS. Tentu saja kebutuhan masing-masing orang berbeda. Paling tidak Anda bisa mencoba beberapa aplikasi yang siapa tahu cocok dengan kebutuhan Anda dan membantu meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Bila seyogyanya Anda memiliki usulan aplikasi yang berguna dan belum saya ketahui atau gunakan, silakan berbaik hati untuk menuliskannya di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

212

Wiro Sableng? Ternyata bukan. 212 adalah hari pada tanggal 2 di bulan Desember. Ada apa memangnya di hari itu?

Sepertinya akan ada kumpul-kumpul banyak orang di Monas. Juga di banyak pusat kota-kota lainnya. Konon berdoa bersama. Sepertinya memang baik bila masyarakat di tanah air ini sekali-sekali berkumpul untuk berdoa bersama.

Memangnya berdoa harus bersama? Sepertinya tidak. Tapi katanya, kalau doa bersama-sama doanya lebih didengar Sang Khalik yang ada di atas sana. 10 orang, jos! 100 orang, lebih mantab. 1000 orang, jauh lebih mengena. 10.000, jelas saja gaungnya lebih nyaring terdengar hingga ke atas langit.

Tak puas dengan jumlah itu, mungkin saja lalu ada yang berpikir untuk mengumpulkan teman, saudara, tetangganya hingga bisa berkumpul hingga mencapai angka ratus ribu hingga jutaan. Hingga akhirnya Sang Pencipta berkenan mendengarkan umatnya yang sedang risau, galau, gelisah itu. Dan bila ada kemurahan hati, lalu Yang Maha Esa pun memberikan apa yang dipinta dengan sungguh oleh lautan umat yang berseru-seru dengan lantangnya di satu titik di bumi secara bersama-sama.

Entahlah. Mungkin insan-insan manusianya saja yang memang suka heboh sendiri. Padahal doa bisa dilakukan di tempat ibadah yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana-mana. Bisa juga di rumah. Bahkan di kantor, bila memang waktunya jam kerja. Bisa berbarengan. Bisa juga sendiri-sendiri.

Apakah benar 212 itu demo besar-besaran? Sepertinya tidak juga. Sudah dibilang doa bersama. Bukan demo. Bukan pula makar, seperti yang didengung-dengungkan oleh orang-orang tak jelas. Jadi bila memang ada kerusuhan, pasti tidak dilakukan oleh orang-orang yang awalnya bilang ingin berdoa.

Jadi apa yang harus dilakukan pada tanggal 2 di bulan 12? Ya, bekerja saja seperti biasa. Bersekolah. Mengasuh anak. Menghasilkan barang. Bertransaksi. Di sela-sela aktivitas, bisa juga sedikit banyak luangkan waktu dengan berdoa. Tak perlu ikut-ikutan dengan sekumpulan besar orang – yang entah pekerjaannya apa, tak jelas – bisa menyempatkan untuk doa bersama pagi hingga siang hari di lapangan luas di tengah kota. Memangnya tidak ada yang dikerjakan di hari kerja biasa?

Lalu apa yang harus didoakan di hari yang sepertinya istimewa itu? Hmm. Bisa saja berdoa supaya di hari itu semua orang bisa adem jiwanya dan jernih pikirannya. Damai di tanah air ini. Boleh juga meminta keinginan lainnya. Semisal, berdoa supaya ada gaji ke-13. Liburan akhir tahun tambah satu atau dua hari. Dan syukur-syukur kalau gaji naik di awal tahun 2017.

212? Hari doa bersama sepanjang hari di Indonesia. Hebat, ya? Bangsa yang relijius…