Beban Pikiran

Otak manusia itu sebuah karya Sang Pencipta yang luar biasa komplek. Otak bisa kita analogikan seperti prosesor komputer. Bedanya otak manusia memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal secara sekaligus dan memproses informasi berkali-lipat lebih hebat dari CPU di dalam komputer.

Hanya sayangnya manusia sebagai makhluk hidup memiliki beban pikiran yang menguras kapasitas otaknya. Hanya sedikit orang yang mampu ‘memerdekakan’ pikirannya sehingga bisa fokus pada hal-hal yang penting. Segelintir orang tersebut adalah orang yang bisa mewujudkan sesuatu yang tak mungkin dipahami bagi banyak orang.

Kebanyakan orang pikirannya disibukkan dengan urusan yang sebenarnya relatif sepele dan berulang. Tentang aktivitas harian yang begitu-begitu saja. Belum lagi begitu banyak orang yang memikirkan hal-hal yang tak penting; seperti mempersoalkan orang lain yang tak ada kaitannya dengan diri sendiri seperti selebritas yang kawin cerai atau politisi yang korupsi.

Belum lagi banyak orang suka terlalu khawatir dengan dirinya sendiri. Ada apa dengan diriku, sakitkah? Padahal bisa terjawab dan terselesaikan dengan mudah dengan pergi ke dokter. Mereka yang bertanya-tanya apakah pasangan mereka sedang selingkuh; padahal bisa jadi tidak ada apa-apa. Ada sekian rasa khawatir yang berlebihan untuk sesuatu yang seharusnya sederhana. Membesar-besarkan masalah. Padahal masalahnya kecil atau malah tidak ada sama sekali.

Kita juga maklum bila banyak orang hanya bisa berandai-andai setengah berkhayal di siang bolong alih-alih menggunakan kapasitas otak mereka untuk mewujudkan impian mereka. Makin lama berandai-andai, makin halu, makin tak jelas arah hidupnya.

Kita juga tak menampik bahwa ada orang-orang yang hidup di tengah kondisi yang kurang kondusif. Keluarga yang broken home. Didera kekurangan finansial. Hidup di wilayah yang ga mendukung untuk hidup normal; misal banyak tawuran atau kriminalitas tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu beban pikirannya tentu lebih melelahkan daripada yang hidup di tempat yang positif dan kompetitif.

Namun tiap orang memiliki pilihannya apakah mereka ingin sungguh-sungguh ‘memerdekakan’ pikirannya untuk hal positif atau memilih untuk membebani kapasitas otaknya untuk hal-hal yang sifatnya elementer ga penting.

Tak mudah memang. Kita sebagai manusia memiliki kemampuan prioritas. Dengan prioritas yang tepat, manusia bisa memanfaatkan kapasitas otaknya untuk fokus pada hal penting untuk hidupnya.

Bila memang mengganggu atau membebani, ada sekian hal tak penting yang harusnya bisa dibuang dari benak pikiran. Dengan begitu pikiran bisa merdeka untuk bekerja untuk hal terbaik bagi diri sendiri.

Ngalap Berkah

Ngalap Berkah memiliki makna ‘mencari berkat’. Biasanya tradisi Ngalap Berkah ini terjadi turun-temurun pada suatu masyarakat. Kita bisa melihat saat ada orang yang pergi ke suatu tempat khusus yang diyakini sakral untuk bersujud memohon sesuatu. Ditambahi dengan laku tertentu seperti bertapa atau puasa. Bisa juga hanya mengunjungi suatu tempat yang suci dan berdoa. Harapannya jelas yaitu supaya apa yang diinginkan terkabul.

Ngalap Berkah ini sering kita temui di semua bagian Nusantara; dari Sabang sampai Merauke. Bentuknya berbeda-beda. Tradisi masih dipegang kuat sehingga salah satu tradisi yang masih diturunkan adalah kegiatan Ngalap Berkah.

Bagaimana dengan di negara maju? Dengan kemajuan teknologi dan masyarakatnya menjadi modern, apakah tidak ada lagi acara pergi ke luar kota untuk Ngalap Berkah?

Ternyata masih. Salah satunya di Negeri Matahari Terbit. Tak hanya wisatawan mancanegara yang mendatangi kuil-kuil di Jepang. Sebagian besar wisatawannya adalah orang Jepang sendiri. Mereka datang ke kuil-kuil untuk berdoa dengan khusyuk. Membeli jimat yang bisa memberi keselamatan, mendatangkan rejeki atau enteng jodoh. Perusahaan besar pun menyumbang uang dan sebagai gantinya mendapat doa supaya usahanya lancar. Minum air dari mata air yang sakral pun dilakukan; tak beda di dengan di Indonesia. Mereka juga menggantungkan impian yang dituliskan pada papan-papan doa.

Harapannya satu. Doa terkabul.

Tentu bila keyakinan kita berbeda, ya kita tak perlu ikut-ikutan Ngalap Berkah di kuil-kuil di Jepang. Nikmati saja kecantikan kuil, keindahan alam di sekitarnya dan keramaian dari para pengunjungnya.

Hanya memang tak bisa dipungkiri, tempat-tempat suci – terlepas dari agama dan keyakinannya – memberikan rasa damai. Menjadikannya tempat yang pas untuk berdoa dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Kita tetap bisa berdoa dengan hening dengan duduk diam. Bukankah berdoa bisa di mana saja dan kapan saja. Tentu dengan mengerti unggah-ungguh di tempat tersebut.

Kamu sendiri bagaimana? Apakah ada tempat khusus yang kamu sukai untuk Ngalap Berkah; mengantarkan doa dan syukur kepada Yang Maha Esa?

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa foto di bawah ini memperlihatkan papan doa yang terbuat dari kayu itu ada gambar ayamnya? Apakah ini ditujukan kepada Dewa Ayam? Tentu tidak. Lambang ayam itu karena tahun itu, 2017, adalah Tahun Ayam sesuai dengan urutan Shio Tahun.

Papan Permohonan Doa – Kiyomizu-dera, Kyoto, Jepang – 2017
%d blogger menyukai ini: