Puasa

Tidak makan dan tidak minum dari saat ketika sang surya beranjak ke singgasananya hingga tenggelam ke ufuk Barat. Tentu boleh makan sebelum itu dan sesudahnya, bila tidak pasti ajaib namanya. Bisa dipastikan si empunya perut hanya akan tinggal nama.

Aktivitas ini dilalukan oleh saudara Musim di mana pun di dunia, termasuk di bumi pertiwi selama bulan suci yang baru saja dimulai. 30 hari menahan hawa nafsu dan merenungi jalan hidup. Sambil lebih banyak berbincang dengan Sang Khalik.

Bulan tersebut adalah bulan yang istimewa. Segala aspek kehidupan, bahkan di ibu kota yang terlihat tak pernah berhenti berputar hingga larut malam, akan segera berubah. Ritme menjadi lebih lamban, menyesuaikan dengan jam istirahat berbuka puasa dan bertoleransi dengan yang berpuasa.

Sayang, banyak orang lain juga yang harus rela ikut-ikutan puasa. Pasalnya, ribuan rumah makan dan puluhan toko makanan hanya buka pada senja hari hingga malam. Akibatnya, makanan instan menjadi solusi pertama, meski bukan yang tersehat dan utama. Cukuplah untuk menyibukkan usus daripada sakit maag.

Bila yang menjadi alasan adalah ekonomi, cukup mudah dipahami. Minimnya pembeli di siang hari tentu akan merugikan pedagang makanan, buka sore dan pagi akan memberikan untung yang sepadan. Namun, bila dalihnya hanya berupa toleransi, sangatlah tidak tepat.

Toleransi muncul dari kesadaran bukan paksaan. Justru berpuasa akan lebih afdol bila terdapat godaan di depan mata. Puasa adalah proses internal masing-masing insan kepada Khaliknya tanpa mengganggu eksistensi lain orang.

Untungnya saya sudah terbiasa berpuasa. Bukan karena tuntunan agama tetapi karena finansial pribadi yang tidak beranjak lebih baik. Saya tidak bermaksud menyalahkan ketidakbecusan pemerintah, justru refleksi bahwasannya saya kurang ulet dan kreatif mencari penghasilan.

Dengan begitu, sekarang pastilah terdapat berjuta-juta orang yang menoleransi puasa saya selama ini.

technorati tags:,

Blog Tool dari Flock Memuaskan

Setelah berhasil mem-publish posting di www.munggur.wordpress.com, perasaan senang terbayar sudah. Bahwa dengan satu aplikasi bisa mengerjakan banyak hal sekaligus.

Minimal untuk update blog sembari berselancar di dunia jejaring maya.

Artinya penghematan waktu.

Terjawab sudah akan adanya blog tool yang sederhana namun memuaskan. Setelah hampir menyerah sesudah mencoba blog tool lainnya – mulai dari BlogJet (trial), Qumana (membutuhkan instalasi Java – entah itu apa?) dan w.bloggar (yang sulit diinstalasi) – akhirnya menemukan oase. Perangkat lunak bernama Flock yang dilengkapi dengan blog tool.

Hore! Ekspresi saya ketika melihat post sudah ter-publish di blog yang di-host oleh www.wordpress.com tersebut.

Hore!

Mencoba Flock

Flock, browser internet, mempunyai fitur blog tool atau blog editor. Setelah mengatur dan mengkustomisasi penggunaannya di awal instalasi maka penggunanya bisa memposting blognya kapan dia mau, tentu asalkan terhubung dengan internet.

Cukup klik Tools > Blog maka terbukalah jendela kecil untuk menulis post. Bila sudah usai mengetikkan ide, opini atau pun beragam benak di kepala, editlah dengan teks editornya yang sederhana namun memadai.

Klik Publish untuk memajang post itu di blog yang dituju.

Tentu sebelum memakai browser ini, datangilah situsnya di www.flock.com lalu unduhlah file setup-nya yang berkisar 9 MB.

Selamat mencoba!

Blogged with Flock