Hidup itu Seperti Naik Sepeda

Saya lupa dari mana pepatah itu berasal. Pastilah orang bijak yang sudah banyak makan garam.

Laiknya naik sepeda, harus terus mengayuh untuk bisa menggerakkan sepeda ke depan. Makin cepat mengayuh, makin cepat lajunya. Sebaliknya, sepeda menjadi berjalan pelan bila dikayuh pelan-pelan.

Namun penting untuk selalu mengayuh. Tak peduli berapa cepat atau pelan mengayuhnya. Bila sepeda menjadi terlalu pelan, tentu momentumnya hilang. Sepeda pun berhenti. Tak lagi bisa berdiri stabil sepedanya dan satu atau dua kaki menyangganya.

Saat berhenti, mungkin karena lelah, butuh tenaga ekstra untuk memulai kayuhan awal yang menggerakkan sepeda dari posisinya yang statis. Seperti memulai sesuatu dari awal lagi.

Namun bila naik sepeda tanpa henti tentu berbahaya. Lelah yang sangat bisa mengaburkan pandangan, membuat kayuhan tak lagi seirama dan kehilangan kesadaran. Bila lelah tapi tak segera berhenti untuk jeda beristirahat, bisa jadi pesepeda akan terjatuh dari sepedanya. Pesepeda bisa terluka, sepedanya bisa rusak. Pesepeda harus tahu kapan bisa terus lanjut dan kapan berhenti sejenak.

Pesepeda juga harus tahu arah tujuannya dan melewati jalan mana saja. Kadang harus menempuh resiko dengan menyusuri jalanan yang ramai. Sesekali hoki karena jalanan menurun sehingga tetap bisa stabil melaju sekaligus menghemat tenaga.

Namun tak peduli betapa berat dan ringan perjalanannya, pesepeda harus memberikan waktu untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya. Merasakan hembusan angin. Bertemu dengan pesepeda yang lain. Berjuang tetap mengayuh sembari mengalami perjalanannya dengan kesadaran penuh.

Bersepeda tak melulu tentang destinasi yang hendak dituju. Justru nikmatnya bersepeda itu dari menjalani prosesnya. Mengayuh sepeda. Dengan semangat. Dengan tujuan yang pasti. Dengan segenap hati.