Flight to Loyola

Saya suka merancang perjalanan. Bisa jadi karena saya suka dengan geografi, peta dan alat transportasi. Salah satu hal yang mengasyikkan adalah membuat rencana perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Barusan ada teman satu komunitas yang terpilih menjadi wakil dari Indonesia untuk mengikuti acara internasional di Loyola yaitu sebuah tempat di kota Azpeitia, provinsi Gipuzkoa, Spanyol. Loyola tak terlalu dikenal sebagai destinasi wisata. Bukan kota besar. Berbeda dengan Madrid atau Barcelona. Loyola bisa jadi hanya dikenali oleh orang-orang yang belajar tentang Ignatius Loyola. Di Loyola terdapat Tempat Suci untuk Santo Ignatius dari Loyola.

Uniknya teman saya tersebut belum pernah pergi ke luar negeri. Paling jauh hanya terbang dari Yogya ke Jakarta. Tidak ada bayangan sama sekali tentang visa perjalanan, paspor, transit, bandara di luar negeri dan perjalanan darat di negeri orang. Ditambah lagi dia harus pergi sendirian. Tak ada teman seperjalanan. Umur masih muda dan belum berpengalaman pergi jauh sendirian.

Untung saja rencana perjalanannya masih relatif lama. Bulan Juli 2021. Masih ada sekira 7 purnama untuk merencanakan perjalanan tersebut.

Untuk saya, perjalanan dari Yogya ke Loyola termasuk menantang. Perjalanan naik pesawat yang makan waktu hampir seharian. Transit di beberapa kota dunia. Belum lagi stamina dan pendanaan. Pun saya belum pernah sekalipun mengunjungi Benua Biru di mana Loyola itu berada.

Saya dulu pernah membuat rencana perjalanan dari Singapura ke Barcelona. Cita-cita yang belum terwujud untuk menikmati budaya Katalan di kota pelabuhan di tepi Laut Mediterania. Oleh karena itu rasanya jadi menarik untuk mengulik perjalanan dari Yogya ke Loyola. Meskipun itu bukan perjalanan saya.

Baiklah saya segera menggunakan Google Search – Flight untuk melihat opsi penerbangan yang ada. Saya memilih penerbangan pada bulan Juli 2021.

Yogyakarta memiliki bandara internasional yang baru. Yogyakarta International Airport. Sayangnya belum banyak jalur penerbangan internasional yang menuju ke bandara ini. Untuk mendapatkan jalur penerbangan internasional yang terbilang ramai dan memiliki banyak pilihan, saya harus memilih dua kota besar yang memiliki bandara internasional. Ada dua opsi terbaik dan terdekat yaitu Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten (tetangganya Jakarta) dan Bandara Changi di Singapura.

Mari kita lihat dua perjalanan yang di mulai dari 2 bandara tersebut. Saya mengandaikan perjalanannya mulai dari 5 Juli 2021 sampai dengan 11 Juli 2021.

Opsi Pertama: Changi

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Singapore Changi Airport (SIN). Tiket pergi pulang sekira 2,5 juta rupiah naik AirAsia.

Transit di Changi untuk beberapa jam sambil berkeliling di Changi Airport yang memenangkan penghargaan sebagai bandara terbaik di dunia berturut-turut. Transit di Changi itu nyaman dan aman.

Perjalanan dari Changi ke Bilboa menggunakan Qatar Airways dan maskapai rekanannya yaitu White Airways. Biayanya sekira 12 juta untuk tiket pergi pulang.

Kemudian naik Qatar Airways – yang mana pesawatnya nyaman dengan pelayanan yang baik – dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Doha yang memakan waktu hampir 8 jam. Pesawat mendarat di Hamad International Airport (DOH). Waktu transit sekira 3 jam.

Dengan pesawat Qatar Airways yang sama, berangkat dari Hamad International Airport menuju Lisbon Portela Airport (LIS) di Portugal. Penerbangan memakan waktu 8 jam.

Ribetnya ada jarak waktu transit yang lama yaitu 19 jam. Nah, bingung kan mau ngapain?

Setelah itu dari Lisbon Portela Airport (LIS) terbang ke Bilbao Airport (BIO) menggunakan White Airways – maskapai lokal yang bekerja sama dengan Qatar Airways. Hanya 2 jam saja. Pesawatnya adalah ATR 72 – dengan mesin propeler dan bukannya pesawat jet. Pengalaman yang unik tentunya.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Opsi Kedua: Soetta

Berangkat dari Yogyakarta International Airport menuju Soekarno-Hatta International Airport (CGK). Tiket pergi pulang relatif murah sekira satu juga rupiah.

Transit di Soetta tidak bisa dikatakan mengasyikkan. Namun dipilih karena terhitung masih di Indonesia. Ada rasa aman di negara sendiri meskipun saya sendiri tak pernah merasa aman di bandara itu. Mungkin di Soetta bisa bertemu teman atau keluarga. Lumayanlah.

Perjalanan dari Soetta ke Bilboa menggunakan kombinasi antara Garuda Indonesia dan Lufthansa. Makan biaya sekira 12 juta rupiah. Naik Garuda relatif nyaman karena pramugarinya bisa berbahasa Indonesia. Pesawat Lufthansa meski pesawatnya tak nyaman-nyaman amat tapi terpercaya.

Baiklah, dari Soekarno-Hatta International Airport (CGK) naik Garuda Indonesia menuju Singapore Changi Airport (SIN) memakan waktu 2 jam. Singkat. Transit selama 5 jam di bandara yang nyaman tersebut.

Setelah itu naik Lufthansa dari Singapore Changi Airport (SIN) menuju Munich International Airport (MUC). Makan waktu 12 jam lebih sedikit. Setengah hari perjalanan.

Transit di Munich selama 3 jam. Kemudian dari Munich International Airport (MUC) melanjutkan terbang naik Lufthansa ke Bilbao Airport (BIO). Hanya 2 jam lebih sedikit.

Perjalanan ini lebih banyak transitnya. Transit di Cengkareng (Soetta), Singapura (Changi), Munich (Munich Airport). Namun dengan transit yang banyak otomatis duduk di pesawatnya tak terlalu lama. Hanya saja harus melewati begitu banyak pintu imigrasi. Lumayan juga bisa “mampir” di Singapura dan Jerman; sebelum akhirnya tiba di Spanyol.

Setelah sampai di Bilbao Airport, lanjut dengan perjalanan darat ke Loyola menggunakan kereta.

Kesimpulannya

Kalau mau pilih nyaman, Opsi Kedua lebih baik. Naik Garuda, transit di Jakarta. Sayangnya harus transit di banyak bandara. Ini opsi gampang. Mudah. Aman.

Kalau mau merasakan Changi lebih lama dan bisa transit lama di Lisbon, ya pilihannya adalah Opsi Pertama. Bias karena saya merasa Lisbon adalah kota yang menarik. Terbang dengan Qatar Airways menurut saya pasti lebih nyaman dibandingkan naik Lufthansa. Hanya sayangnya di tahap terakhir harus berganti dengan White Airways – yang entah seperti apa pesawat dan layanannya.

Tentu saja ini hanya ‘simulasi’ perjalanan dari Yogyakarta ke Loyola. Saya mengambil pilihan bandara di kota Bilboa karena jarak Bilboa ke Loyola relatif pendek. Dua jam dengan kereta. Tentu ada pilihan dari Changi atau Soetta menuju ke Madrid. Sayangnya perjalanan darat dari Madrid ke Loyola itu lumayan jauh dan harus naik transportasi darat. Lebih berat.

Tentang biaya, kedua opsi tersebut relatif sama yaitu 12 juta ditambah dengan perjalanan 1) Yogya ke Singapura (2,5 juta) atau 2) Yogya ke Cengkareng (1 juta). Anggap saja sekira 15 juta dengan asumsi kelebihannya adalah biaya untuk makan minum saat transit.

Baiklah. Cukup rasanya untuk ‘melampiaskan’ hobi unik membuat rencana perjalanan.

Changi, Yogya dan AirAsia

Sesuai tradisi, kembali saya ngeblog di Changi. Kali ini dalam perjalanan pulang ke kota halaman. Ya, Kota Gudeg. Ada rasa kangen yang membuncah setiap kali berada di Changi untuk memulai penerbangan, terlebih bila pulang kampung tujuannya.

Kali ini menuju Yogya dari Negeri Merlion menjadi praktis tanpa harus transit di Jakarta terlebih dahulu. Penerbangan langsung yang untungnya jauh lebih murah. Jadi, tak terlalu penat kala hendak mudik. Malah serasa seperti naik bis kota.

Ya, sebentar lagi pasti samapi rumah…