Isoman

Ini dia istilah baru di awal tahun 2021. Isoman. Kependekan dari ‘isolasi mandiri‘.

Isoman ini makin gencar muncul di berbagai media massa dan sosial media. Isoman ini ngetrend karena banyak rumah sakit dan fasilitas isolasi yang tak lagi mampu menampung pasien yang positif Covid-19. Isoman menjadi solusi swadaya masyarakat untuk karantina pribadi. Tak hanya rumah pribadi, banyak orang yang mendapati tes kesehatan sudah positif corona virus juga menginap di hotel atau penginapan yang ditujukan untuk keperluan isoman.

Isoman paling tidak sudah harus bisa memenuhi beberapa syarat. Pertama, orang yang terpapar corona virus bisa beraktivitas di suatu ruangan tanpa harus bertemu orang lain sehingga tak menulari orang lain. Kedua, orang yang melakukan isoman bisa mendapatkan makanan sehari-hari, mencuci baju, dan melakukan aktivitas seperti bekerja di dalam ruangan. Ketiga, ada alat komunikasi yang memadai sehingga orang bisa melakukan isoman dengan tetap memelihara percakapan dengan orang lain di luar tempat isoman. Menjaga komunikasi dengan ‘dunia luar’ membuat orang bisa terjaga kesehatan mentalnya.

Penginapan yang sepi karena tak ada turis yang menginap bisa mengubah penginapan mereka menjadi fasilitas isoman. Tentu protokol kesehatan harus dipenuhi. Biaya tinggal isoman juga disesuaikan. Bila terlalu mahal untuk tinggal selama seminggu atau dua minggu tentu tak ada yang mau menggunakan penginapan tersebut sebagai fasilitas isoman.

Isoman menjadi lebih mudah bila seseorang tinggal di apartemen pribadi atau hidup di rumah sendirian. Namun isoman menjadi tantangan saat seseorang tinggal bersama banyak anggota keluarga di rumah yang relatif sempit.

Salah satu hal yang penting dari isoman adalah kesadaran masyarakat sekitarnya untuk tidak mengganggap mereka yang melakukan isoman sebagai penyebar virus. Justru masyarakat sekitar harus menghargai orang yang mau melakukan isolasi mandiri. Jaga jarak tentu harus dilakukan namun tetap memanusiakan mereka yang secara sadar diri melakukan isoman.

184 Juta

Menurut Anda 184 juta itu banyak atau sedikit?

Sedikit. Bila Anda ingin membeli rumah, 184 juta bisa membeli rumah yang mini, dengan satu dua kamar dan terletak di tempat yang jauh dari pusat kota.

Cukup. Cukup untuk membeli mobil kecil. Termasuk uang pajak dan urusan macam-macamnya.

Banyak. Termasuk banyak sebagai rata-rata biaya perawatan pasien Covid-19. Itu pun bisa jadi pasien yang terdampak – yang telah memiliki tingkat komorbiditas tinggi – tetap saja tak terselamatkan jiwanya.

184 juta menjadi rata-rata biaya perawatan pasien berdasar survei yang dilakukan di sejumlah RS di Indonesia. Biaya sebesar itu menjadi tanggungan negara. Dana diambil dari APBN. Makin banyak yang terpapar Covid-19, makin besar pula pengeluaran negara untuk penanggulangan pandemi ini.

Negara mengambil tanggungjawab biaya pasien karena sebagian besar masyarakat Indonesia tak mampu membayarnya secara pribadi. Bisa jadi pasien memilih keluar dari RS karena takut dengan beban biaya RS. Hal ini justru membahayakan karena pasien yang masih terpapar corona virus besar kemungkinan menyebarkan virus kepada lebih banyak orang di sekelilingnya. Lagipula kesehatan masyarakat menjadi kewajiban negara – yang tentu dananya diambil dari uang pajak yang masuk ke APBN.

Sayangnya banyak masyarakat yang abai dan acuh dengan protokol kesehatan. Tak memakai masker karena merasa tak nyaman. Lebih percaya dengan konspirasi kesehatan yang mengada-ada dan tak masuk akal. Masih banyak anggota masyarakat yang tak percaya bahwa corona virus benar-benar eksis. Mereka baru percaya tentunya bila sudah tertular dan ada yang meninggal.

184 juta dikali dengan jumlah penderita corona virus yang masuk ke RS. Banyak. Banyak sekali.

Namun bisa dikurangi dengan menerapkan protokol kesehatan di rumah, di tempat kerja, di tempat publik dan di tempat ibadah.

184 juta itu banyak. Tapi uang sebanyak itu tetap saja bisa dicari. Ada satu hal yang tak bisa digantikan dengan 184 juta yaitu nyawa manusia. Nyawa yang bisa direnggut oleh Covid-19.

New Normal atau Second Wave?

Saya tak habis pikir mengapa orang berpikir bahwa akhir minggu ini saat yang tepat untuk bersepeda dan melakukan rekreasi di tempat publik. Ini memang awal bulan Juni. Padahal menurut pengumuman pemerintah daerah di Jogja, saat ini masih berlaku situasi tanggap darurat. Intinya penyebaran Covid-19 masih terjadi, yang terpapar pun bisa jadi tetap bertambah.

Terpantau ada begitu banyak orang menggowes dan jogging di tempat terbuka yang tragisnya ramai dikunjungi orang. Di Jogja begitu banyak orang yang membawa diri atau sepeda mereka di Titik Nol, Candi Sambisari, Jalan Kaliurang, dan tempat-tempat lainnya.

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya.

Mereka sedang menyambut new normal atau second wave?

Baiklah jika nyatanya tak ada lagi penyebaran corona virus secara masif. Tetap ada yang tertular satu dua. Menjadi pas dengan situasi yang disebut new normal.

180 derajat situasinya bila setelah akhir pekan ini malah ada peningkatan drastis jumlah orang yang reaktif Covid-19 dan akhirnya berbondong-bondong masuk rumah sakit. Belum lagi bila yang terpapar akhirnya sakit parah dan meninggal. Tak lagi bisa disebut new normal. Yang ada justru second wave. Corona virus meruak lagi sehingga makin banyak yang tertular.

Bila ‘gelombang kedua’ datang maka akibatnya pemerintah daerah bisa melakukan PSBB. Alhasil perkantoran, sekolah dan tempat usaha menjadi tutup kembali. Tak lagi bisa buka seperti masa normal sebelum Covid-19.

Meski saya tahu PSBB akan berdampak buruk bagi perekonomian Jojga – kota di mana saya lahir dan tinggal – namun saya kira lebih baik PSBB dilaksanakan sehingga penyebaran corona virus bisa dikendalikan lagi.

Soalnya disiplin masyarakat masih rendah. Menyepelekan corona virus hanya karena jumlah penyebarannya relatif minimal dibandingkan kota-kota lain yang sudah melakukan PSBB.

Makanya bila ada yang ngeyel bisa diberitahu supaya #dirumahsaja dan #jagajarak.

Sepedaan Pada Masa Pandemi

Saya heran saat melihat beberapa toko sepeda di suatu ruas jalan di Jogja yang laris manis. Ada begitu banyak orang yang membeli sepeda. Memangnya ada lomba sepeda? Atau memang lagi trend, ya? Atau diskon gede sepeda?

Di beberapa WhatsApp grup, ada diskusi tentang sepedaan di akhir minggu. Juga beberapa rencana orang yang ingin sepedaan bersama-sama. Bahkan ada yang memberi kabar beberapa jalur yang dipenuhi pesepeda; baik yang atlit atau anak-anak kecil. Duh!

Malam ini pun ada teman yang mengajak sepedaan bersama dengan beberapa teman. Yang saya jawab bahwa saya mau ikut tapi naik pit motor berhubung sepeda saya dalam kondisi tak prima dan tak memadai untuk pit-pitan yang agak jauh. Saya mau ikut sebagai back-up logistik dan sweeper bila ada yang kram atau mengalami kendala. Tentu ditambah lagi dengan rasa mager untuk genjot sepeda.

Satu pertanyaan muncul di benak saya.

Memangnya pandemi sudah selesai, ya?

Saya rasa pandemi masih berlangsung. Tanggap darurat masih diberlakukan. Tentunya si virus corona nakal masih mencari korban selanjutnya. Penyebaran Covid-19 masih terjadi, lho!

Berolahraga dengan sepeda memang asyik. Menyenangkan. Dengan asumsi bahwa jalanan masih sepi. Olahraga juga menyehatkan badan dan mental.

Namun melakukan giat olahraga – yang menguras tenaga – tentu membuat imun tubuh sedikit banyak menurun sesaat setelah melakukan aktivitas tersebut. Dan bahaya penularan Covid-19 yang belum ada obat sekaligus vaksinnya tetap masih ada. Benar ada kewajaran baru alias new normal. Tapi situasinya belumlah normal.

Olahraga sepedaan baik adanya. Namun tetap waspada. Corona virus masih ada di sekitar kita.

Jaman Korona

Sudah sekian lama tak menulisi blog ini. Mendadak saja ingat untuk mengulik dan membaca beberapa unggahan di waktu lampau. Tergelitik untuk menulis lagi di sini.

Tulisan kali ini saya unggah pada saat Jaman Korona. Era di mana kami – warga sedunia – berada di rumah karena himbauan #dirumahsaja. Pembatasan gerak dengan tinggal di rumah masing-masing. Manfaatnya supaya tak terpapar virus Covid-19, yang menjadi kependekan dari Corona Virus Disease 2019. Sudah sejak Maret 2020 berada di rumah saja. Sampai kapan? Entahlah. Semoga Jaman Korona segera berakhir. Ada begitu banyak agenda kegiatan yang harus ditunda karena virus yang bikin hidup menjadi lifeless.

Oleh karena tidak bisa go outside maka lebih baik go inside. Mencoba membereskan apa yang bisa diselesaikan, dikerjakan dan dituntaskan di rumah. Begitu pula yang ada dalam pikiran dan raga. Ini waktu yang tepat untuk memahami diri sendiri.

Ternyata di rumah saja memberikan banyak kesibukan. Bebersih rumah. Masak-masakan. Membaca buku. Selain bekerja WFH alias work from home. Rencana menonton film atau drama pun belum sempat. Tak cukup waktu. Olahraga rutin juga belum tercapai. Ada begitu banyak hal yang harus dilakukan di dalam rumah.

Lalu apa lagi?

Banyak yang bisa diceritakan. Namun untuk sementara ini dulu yang bisa dituliskan hari ini. Masih ada banyak waktu hingga virus Korona dari Wuhan ini segera punah. Semoga bisa menikmati April dengan udara segar. Atau Mei? Semoga secepatnya saja.

Catatan 7 April 2020 – saat Jaman Korona terjadi dan kami sedunia harus #dirumahsaja