184 Juta

Menurut Anda 184 juta itu banyak atau sedikit?

Sedikit. Bila Anda ingin membeli rumah, 184 juta bisa membeli rumah yang mini, dengan satu dua kamar dan terletak di tempat yang jauh dari pusat kota.

Cukup. Cukup untuk membeli mobil kecil. Termasuk uang pajak dan urusan macam-macamnya.

Banyak. Termasuk banyak sebagai rata-rata biaya perawatan pasien Covid-19. Itu pun bisa jadi pasien yang terdampak – yang telah memiliki tingkat komorbiditas tinggi – tetap saja tak terselamatkan jiwanya.

184 juta menjadi rata-rata biaya perawatan pasien berdasar survei yang dilakukan di sejumlah RS di Indonesia. Biaya sebesar itu menjadi tanggungan negara. Dana diambil dari APBN. Makin banyak yang terpapar Covid-19, makin besar pula pengeluaran negara untuk penanggulangan pandemi ini.

Negara mengambil tanggungjawab biaya pasien karena sebagian besar masyarakat Indonesia tak mampu membayarnya secara pribadi. Bisa jadi pasien memilih keluar dari RS karena takut dengan beban biaya RS. Hal ini justru membahayakan karena pasien yang masih terpapar corona virus besar kemungkinan menyebarkan virus kepada lebih banyak orang di sekelilingnya. Lagipula kesehatan masyarakat menjadi kewajiban negara – yang tentu dananya diambil dari uang pajak yang masuk ke APBN.

Sayangnya banyak masyarakat yang abai dan acuh dengan protokol kesehatan. Tak memakai masker karena merasa tak nyaman. Lebih percaya dengan konspirasi kesehatan yang mengada-ada dan tak masuk akal. Masih banyak anggota masyarakat yang tak percaya bahwa corona virus benar-benar eksis. Mereka baru percaya tentunya bila sudah tertular dan ada yang meninggal.

184 juta dikali dengan jumlah penderita corona virus yang masuk ke RS. Banyak. Banyak sekali.

Namun bisa dikurangi dengan menerapkan protokol kesehatan di rumah, di tempat kerja, di tempat publik dan di tempat ibadah.

184 juta itu banyak. Tapi uang sebanyak itu tetap saja bisa dicari. Ada satu hal yang tak bisa digantikan dengan 184 juta yaitu nyawa manusia. Nyawa yang bisa direnggut oleh Covid-19.

New Normal atau Second Wave?

Saya tak habis pikir mengapa orang berpikir bahwa akhir minggu ini saat yang tepat untuk bersepeda dan melakukan rekreasi di tempat publik. Ini memang awal bulan Juni. Padahal menurut pengumuman pemerintah daerah di Jogja, saat ini masih berlaku situasi tanggap darurat. Intinya penyebaran Covid-19 masih terjadi, yang terpapar pun bisa jadi tetap bertambah.

Terpantau ada begitu banyak orang menggowes dan jogging di tempat terbuka yang tragisnya ramai dikunjungi orang. Di Jogja begitu banyak orang yang membawa diri atau sepeda mereka di Titik Nol, Candi Sambisari, Jalan Kaliurang, dan tempat-tempat lainnya.

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya.

Mereka sedang menyambut new normal atau second wave?

Baiklah jika nyatanya tak ada lagi penyebaran corona virus secara masif. Tetap ada yang tertular satu dua. Menjadi pas dengan situasi yang disebut new normal.

180 derajat situasinya bila setelah akhir pekan ini malah ada peningkatan drastis jumlah orang yang reaktif Covid-19 dan akhirnya berbondong-bondong masuk rumah sakit. Belum lagi bila yang terpapar akhirnya sakit parah dan meninggal. Tak lagi bisa disebut new normal. Yang ada justru second wave. Corona virus meruak lagi sehingga makin banyak yang tertular.

Bila ‘gelombang kedua’ datang maka akibatnya pemerintah daerah bisa melakukan PSBB. Alhasil perkantoran, sekolah dan tempat usaha menjadi tutup kembali. Tak lagi bisa buka seperti masa normal sebelum Covid-19.

Meski saya tahu PSBB akan berdampak buruk bagi perekonomian Jojga – kota di mana saya lahir dan tinggal – namun saya kira lebih baik PSBB dilaksanakan sehingga penyebaran corona virus bisa dikendalikan lagi.

Soalnya disiplin masyarakat masih rendah. Menyepelekan corona virus hanya karena jumlah penyebarannya relatif minimal dibandingkan kota-kota lain yang sudah melakukan PSBB.

Makanya bila ada yang ngeyel bisa diberitahu supaya #dirumahsaja dan #jagajarak.

Sepedaan Pada Masa Pandemi

Saya heran saat melihat beberapa toko sepeda di suatu ruas jalan di Jogja yang laris manis. Ada begitu banyak orang yang membeli sepeda. Memangnya ada lomba sepeda? Atau memang lagi trend, ya? Atau diskon gede sepeda?

Di beberapa WhatsApp grup, ada diskusi tentang sepedaan di akhir minggu. Juga beberapa rencana orang yang ingin sepedaan bersama-sama. Bahkan ada yang memberi kabar beberapa jalur yang dipenuhi pesepeda; baik yang atlit atau anak-anak kecil. Duh!

Malam ini pun ada teman yang mengajak sepedaan bersama dengan beberapa teman. Yang saya jawab bahwa saya mau ikut tapi naik pit motor berhubung sepeda saya dalam kondisi tak prima dan tak memadai untuk pit-pitan yang agak jauh. Saya mau ikut sebagai back-up logistik dan sweeper bila ada yang kram atau mengalami kendala. Tentu ditambah lagi dengan rasa mager untuk genjot sepeda.

Satu pertanyaan muncul di benak saya.

Memangnya pandemi sudah selesai, ya?

Saya rasa pandemi masih berlangsung. Tanggap darurat masih diberlakukan. Tentunya si virus corona nakal masih mencari korban selanjutnya. Penyebaran Covid-19 masih terjadi, lho!

Berolahraga dengan sepeda memang asyik. Menyenangkan. Dengan asumsi bahwa jalanan masih sepi. Olahraga juga menyehatkan badan dan mental.

Namun melakukan giat olahraga – yang menguras tenaga – tentu membuat imun tubuh sedikit banyak menurun sesaat setelah melakukan aktivitas tersebut. Dan bahaya penularan Covid-19 yang belum ada obat sekaligus vaksinnya tetap masih ada. Benar ada kewajaran baru alias new normal. Tapi situasinya belumlah normal.

Olahraga sepedaan baik adanya. Namun tetap waspada. Corona virus masih ada di sekitar kita.

Kewajaran Baru

New normal. Alias kewajaran baru. Digaungkan berkali-kali. Oleh pemerintah. Oleh media. Oleh siapa saja. Menjadi topik obrolan terhangat setelah Covid-19 – virus dari jenis corona yang membuat orang gentar. Menakutkan karena virus ini terbukti bisa mengambil nyawa orang banyak. Covid-19 itu salah satu perwujudan dari Si Maut.

Saya tidak tahu lagi apa sih maksudnya kewajaran baru. Mungkin saat ini sudah wajar bila memakai masker kemana-mana. Tak perlu bertukar salam dan cukup menangkupkan kedua tangan di depan dada alias namaste.

Tak wajar bila ada anak-anak belajar di rumah. Biasanya anak didik meluangkan waktu di sekolah. Namun saat ini di rumah seharian. Sehari-hari orang tua mereka harus menjadi ‘guru’ yang mendampingi putra-putrinya belajar. Padahal jaman dulu sekali sebelum ada sekolah, suatu hal yang wajar bagi anak-anak untuk belajar di rumah dari orang tuanya langsung. Aneh, kan?

Saya belum yakin benar dengan istilah kewajaran baru. Apakah hal yang tak wajar, hanya karena pandemi, lalu bisa disebut sebagai hal yang wajar? Entah. Tak tahu.

Semoga kewajaran baru ini bukan menjadi hal yang abnormal atau upnormal. Namun menjadi sesuatu yang baru. Gaya hidup yang baru. Waspada dengan adanya Covid-19 yang belum hilang tapi mau tak mau kita harus hidup berdampingan dengan virus corona tersebut.

Apa yang masih wajar di era yang benar-benar ambyar seperti sekarang ini?

Ronda Malam dan Covid-19

Adanya pandemi tak menyurutkan peran masyarakat desa untuk ronda malam. Namun ronda malam mengalami perubahan. Pertama, tidak ada lagi suguhan cemilan dan minuman untuk melewatkan waktu karena khawatir kalau makan minum berarti harus membuka masker. Belum lagi harus menyediakan tempat cuci tangan dan sabun cair. Ribet. Kedua, waktu jaga dipersingkat semata hanya mengumpulkan uang jimpitan, menghitungnya, dan pulang. Tak lebih dari 60 menit. Lebih cepat lebih baik sehingga bisa meminimalkan penyebaran virus corona dan memaksimalkan physical distancing.

Ronda malam di cakruk sesingkat apapun itu tetap saja ada topik-topik yang diangkat sebagai bahan obrolan ringan. Namanya juga ronda malam di tengah situasi tanggap darurat Covid-19 maka topik yang dibicarakan tak jauh dari seputar pandemi.

Kapan sekolah dibuka kembali?

Bapak-bapak yang ada di cakruk membincang tentang sekolah anak-anak mereka di era Kewajaran Baru alias new normal. Ada yang usul supaya sebaiknya pemerintah meliburkan sekolah hingga akhir tahun dan tahun ajaran baru mulai lagi di bulan Januari tahun 2021.

Saya hanya membatin. Bukan perkara mudah mengubah periode belajar pada saat sekolah menerima siswa-siswi baru. Diliburkan hingga 6 bulan ke depan bisa membuat sekolah kehilangan murid baru – yang berarti uang gedung dan spp – dan akhirnya gulung tikar. Tak hanya sekolah swasta, sekolah negeri juga bisa tutup selamanya bila tak ada cukup murid baru – meski disubsidi oleh pemerintah sekalipun.

Selain itu ada rasa khawatir bila anak sekolah boleh masuk bulan Juli ini maka bisa jadi penyebaran virus gelombang kedua akan meningkat tajam. Cukup satu dua anak atau guru yang positif virus corona, satu sekolah bisa ditutup sementara. Kembali lagi sekolah secara online alias daring.

Dosa karena tak beribadah, siapa yang menanggung?

Pemerintah melalui Departemen Agama memberi instruksi supaya tempat ibadah – untuk semua agama yang diakui di Indonesia – sebaiknya ditutup untuk sementara. Hingga situasinya lebih baik dengan tujuan menghindarkan tempat ibadah menjadi tempat penyebaran virus corona.

Tetap saja ada satu dua bapak ronda yang mempertanyakan hal ini. Kalau saya tak sembahyang di rumah ibadah, memangnya pemerintah yang menanggung dosanya?

Saya hanya diam saja. Pemerintah – menurut saya – tak ingin melarang kegiatan keagamaan di rumah ibadah. Hanya saja kita semua tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan untuk menjamin virus corona tak menyebar di tempat ibadah. Bayangkan ada banyak orang yang datang dan tak diketahui benar akan kondisi tubuhnya. Bila ada satu dua umat yang terjangkit virus corona, sangat mungkin umat yang lainnya tertular. Ingat berita tentang superspreader di mana satu umat yang terkena virus corona setelah pulang dari Wuhan menularkannya pada ratusan umat lain di Korea Selatan.

Ini bukan masalah berdosa terhadap Sang Khalik karena tak sembahyang di rumah ibadah. Bukan pula pelarangan kegiatan agama. Ini tentang mencegah penyebaran virus corona. Sang Khalik memberikan kita akal sehat sehingga bisa terhindar dari virus yang mematikan. Bila semua berbondong-bondong ke rumah ibadah saat pandemi masih terjadi, bisa jadi ada sekian ribu umat yang ‘pergi menghadap Sang Khalik’ secara berjemaah. Akhirnya pemerintah juga yang disalahkan karena tak melakukan pencegahan penyebaran virus corona di tempat ibadah.

Rapid Test

Ada yang membincang tentang rapid test yang bisa dilakukan di rumah sakit terdekat. Biayanya mahal, 400an ribu. Namun tes lainnya yang menggunakan swab lebih mahal lagi hingga 800an ribu. Ya, ini antara perlu dan tidak. Menjadi sebuah ironi bila setelah melakukan tes dengan hasil yang non-reaktif, membayar mahal, dan ketika pulang dari rumah sakit malah tertular pasien yang menderita Covid-19. Kan, malah jadi problem tersendiri yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Aman Terkendali

Untunglah desa kami aman terkendali dari penyebaran Covid-19. Tidak ada yang sakit. Tidak ada yang terbukti reaktif. Terdampak secara ekonomi dan sosial namun tidak ada masalah dengan kesehatan.

Sayangnya tetap saja ada yang terjangkit Demam Berdarah. Ada satu anak yang meninggal karena peran nyamuk. Peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau membuat kondisi lembab karena curah hujan yang terjadi disertai temperatur yang mulai meningkat. Alhasil jumlah populasi nyamuk meningkat drastis.

Portal-portal desa sudah ditutup. Tak ada lagi mobil dan motor yang lewat sembarangan. Namun tetap saja squadron nyamuk tak bisa dibendung. Mungkin karena ada saja warga yang tak sadar untuk menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya.

Semoga

Begitu pandemi mulai, ini salah satu kata yang kerap muncul di perbincangan sehari-hari. Yaitu kata semoga. Semoga, ya ini harapan dari bapak-bapak ronda malam ini – pandemi segera berakhir. Semoga kehidupan menjadi normal kembali. Dan semoga – ini saya yang hanya membatinnya dalam hati – ronda malam bisa kembali menghadirkan sajian enak untuk cemilan dan minuman hangat sehingga bisa menstimulasi semangat untuk giat jaga malam selama dua jam itu.

Salam dari Cakruk di tengah pandemi…

Pembelajaran dengan Multimedia

Saya sudah lama tidak berkecimpung di dunia pendidikan. Sudah lebih dari satu dekade tak lagi mengajar. Namun tiap kali ada yang berbincang tentang dunia pendidikan, saya langsung bersemangat untuk bertukar-pikiran. Paling tidak saya bisa menambah wawasan dengan dunia pendidikan yang sepertinya makin lama makin canggih.

Kemarin seorang teman lama – yang pernah sama-sama kuliah di Pendidikan Bahasa Inggris di USD – bercerita bahwa dia sedang dalam proses membuat penelitian tentang pembelajaran dengan multimedia. Dia bilang bahwa ingin membuat pembelajaran yang interaktif dalam bentuk program komputer. Di titik ini langsung ada sesuatu yang menggelitik rasa penasaran saya. Mengapa harus dalam bentuk program komputer?

Rasa penasaran saya timbul karena sejauh yang saya tahu – karena saat ini saya tidak lagi bekerja di sekolah atau universitas – pembelajaran dengan multimedia biasanya dilakukan dengan cara sederhana seperti ini. Guru menghidupkan laptop dan proyektor yang sudah terpasang di kelas. Guru menjalankan program Microsoft PowerPoint, memutar video atau video supaya menarik, dan kemudian melakukan tanya-jawab dengan murid terkait topik. Interaktif dan menarik. Meskipun kadang membuat guru seakan ‘cuma’ sebagai operator Microsoft PowerPoint.

Kembali ke topik tentang program komputer, saya lalu mengemukakan pertanyaan. Mengapa tidak memakai pembelajaran dengan media Internet, dengan Moodle atau Google Classroom? Mengapa kesannya harus reinvent the wheel bila sudah ada platform canggih yang sudah digunakan secara luas di dunia pendidikan?

Dengan Moodle dan Google Classroom, guru mendapatkan platform pembelajaran berbasis Internet yang bisa diakses, baik oleh guru dan murid-muridnya, dengan laptop dan gawai melalui peramban Internet seperti Google Chrome atau FireFox. Asalkan ada koneksi Internet, guru dan murid bisa melakukan proses belajar dan mengajar melalui platform tersebut.

Memangnya apa sih keuntungan memakai Moodle dan Google Classroom?

  • Keduanya merupakan platform yang paling populer di sekolah dan di universitas. Guru berfokus pada membuat konten pembelajaran beserta konten ujiannya (baca: quiz atau test); tanpa harus membuat aplikasi berbasis Internet.
  • Murid dan orang tua murid bisa mengakses konten pembelajaran, konten ujian dan hasil ujian secara langsung di mana pun juga.
  • Dengan banyaknya orang yang memanfaatkan kedua platform tersebut, para pendidik bisa belajar secara pribadi melalui video pembelajaran di YouTube, belajar dari manual pemakaiannya dan berbagi kemampuan mengoperasikan platform tersebut dengan rekan sesama pendidik.
  • Dengan adanya himbauan untuk #dirumahsaja sebagai dampak dari Covid-19, guru dan murid melakukan belajar-mengajar secara remote dari rumah masing-masing. Kedua platform tersebut membantu proses pembelajaran secara daring (online).
    Tak bisa dipungkiri, ke depannya, pembelajaran melalui platform berbasis Internet akan menjadi suatu hal yang normal.

Pertanyaan berikutnya muncul. Apakah dengan adanya platform pembelajaran berbasis Internet membuat guru tak bisa membuat program pembelajaran yang dijalankan di komputer? Tentu tidak. Boleh-boleh saja.

Bayangan saya, program komputer tersebut lebih kurang seperti CD Pembelajaran Bahasa Jepang yang pernah saya beli belasan tahun yang lalu. Interaktif. Banyak gambar, dengan audio dan video, dan tentunya bagian quiz. Rumah produksi atau penerbit modern membuat program semacam itu karena guru biasanya tak akan memiliki sumber daya yang cukup untuk membuat program sekompleks itu.

Namun ada beberapa hal yang menurut saya menjadi halangan dalam pembuatan program pembelajaran di komputer seperti di bawah ini.

  • Fragmentasi sistem operasi, di mana guru dan murid memakai sistem operasi yang berbeda. Windows 10, Windows 8, Windows XP, dan ada pula yang memakai MacOS. Sebuah tantangan tersendiri untuk guru karena harus memastikan programnya berjalan di semua sistem operasi yang berbeda; kecuali bila programnya hanya dijalankan di lab komputer milik sekolah.
  • Taruh saja ada program komputer yang sudah jadi, lalu bagaimana distribusi datanya? Konten pembelajaran menjadi susah untuk diperbarui karena program komputer cenderung susah untuk diperbarui. Pun ada tantangan ketika harus mengumpulkan hasil ujian melalui program tersebut secara manual karena tidak berbasis Internet.
  • Dengan adanya banyak topik pembelajaran untuk satu mata pelajaran, menjadi suatu tantangan bagi guru untuk mendesain dan membuat program komputer.
  • Oleh karena program komputer tak mudah untuk diperbarui, program untuk tahun ini mungkin sudah ‘basi’ dan tak relevan untuk dipakai di tahun ajaran yang baru.
  • Tak mudah untuk mendapatkan programer yang berorientasi pada pembuatan program komputer saat ini karena kecenderungan untuk membuat layanan berbasis Internet dan aplikasi untuk gawai (baik untuk sistem operasi Android atau iOS). Belum lagi bayarannya mahal. Lalu bahasa pemrograman apa yang akan dipakai? Bingung, kan?
  • Tentu membuat program pembelajaran komputer membutuhkan begitu banyak sumber daya dari sisi guru, programer, pembiayaan dan tentu proses pembaruan program tersebut.

Dengan berbagai halangan di atas, apakah usaha guru untuk menghadirkan pembelajaran dengan multimedia menjadi sepadan dengan hasilnya? Menurut hemat saya tentu tidak. Too expensive to create, too soon to be obsolete. Membuat program pembelajaran di komputer justru menambah berat beban guru; selain kegiatan belajar-mengajar, administrasi sekolah, dan beragam kegiatan ekstra-kulikuler.

Sampai di titik ini, apakah berarti opsi terbaik dari seorang guru adalah memanfaatkan pembelajaran berbasis Internet dengan Moodle atau Google Classroom?

Tergantung. Tergantung dengan kebutuhan pembelajaran di masing-masing sekolah atau universitas. Bila memang sekolah tersebut memiliki sumber daya yang mumpuni, platform seperti Moodle dan Google Classroom jelas sangat membantu proses pembelajaran.

Lalu apa yang sekiranya bisa menjadi kendala dalam pemakaian Moodle dan Google Classroom oleh guru dan murid?

  • Konten pembelajaran secara manual relatif mudah dibuat. Namun memindahkan konten tersebut ke platform pembelajaran tersebut butuh pelatihan dan kesabaran. Tak semua orang melek teknologi dan bahkan memakai surel (surat elektronik) saja sudah kesulitan.
  • Guru dan murid harus memiliki koneksi Internet yang mencukupi. Infrastruktur Internet tak merata dan biaya Internet relatif mahal bagi kebanyakan orang.
  • Tak semua sekolah sudah mendukung penggunaan kedua platform tersebut karena belum paham, gaptek atau kurang familiar. Kebanyakan guru menggunakan platform yang dipilih oleh sekolah masing-masing.
  • Banyak guru yang sudah memakai kedua platform itu sebagai pengguna biasa namun belum sampai benar-benar menguasainya.

Tentu kendala-kendala tersebut menjadi pekerjaan rumah masing-masing guru, murid dan sekolah yang terkait. Apakah dengan begitu membuat guru enggan untuk membuat pembelajaran dengan program komputer? Tidak juga. Namun biasanya program pembelajaran tidak populer. Buktinya? Coba tanya ke sekolah-sekolah lain apakah guru-guru mata pelajaran mereka membuat program komputer? Kecuali tentunya sekolah kejuruan atau fakultas yang memiliki penjurusan di teknologi informasi yang terkait dengan pemrograman komputer.

Namun ada beberapa hasil positif yang bisa diraih dengan penggunaan kedua platform pembelajaran berbasis Internet tersebut.

  • Efisiensi dalam pembuatan konten pembelajaran dan konten ujian di satu platform yang sama. Proses pengujian dan hasil ujian tersaji secara langsung. Guru, murid dan orang tua murid bisa langsung melihat kemajuan dari murid.
  • Otomatisasi dalam penyajian konten pembelajaran. Konten yang sama bisa didesain oleh beberapa guru sekaligus dan digunakan berkali-kali di banyak kelas yang membahas topik yang sama. Guru bisa mengurangi waktu yang digunakan untuk membuat satu topik pembelajaran.
  • Proses pembaruan konten dan modifikasi konten ujian bisa dilakukan kapan saja dengan cepat. Dengan begitu, konten pembelajaran dan konten ujian menjadi relevan dan selalu baru.
  • Proses pembuatan rapor murid menjadi tersentralisasi dan terotomatisasi sehingga tak memakan banyak waktu bagi guru-guru dan guru kelas untuk membuat rapor murid di akhir semester.
  • Mendukung proses pembelajaran jarak jauh di rumah masing-masing guru dan murid saat ada bencana seperti Covid-19 saat ini.

Wow. Sampai di sini saya tertegun. Ternyata bencana Covid-19 ini membuat pembelajaran berbasis Internet menjadi sangat didambakan dan diperlukan. Pembelajaran dengan multimedia seyogyanya harus berbasis Internet supaya distribusi konten pembelajarannya lebih mudah.

Saya jadi teringat satu anekdot dari teman saya yang berprofesi sebagai guru matematika. Dia memberikan pekerjaan rumah ke murid-muridnya. Menuliskan rumus matematika dengan komputer jelas tak mudah. Oleh karena itu para murid menuliskan pekerjaan rumahnya di kertas kemudian dipotret dengan kamera ponsel dan dikirimkan melalui WhatsApp ke gurunya. Persoalannya salah satu anak muridnya terbalik dalam memotret hasil pekerjaan rumahnya. Guru tersebut sampai membilang dalam status WhatsApp, apakah berarti dia harus membalik laptopnya karena hasil potretnya terbalik secara vertikal. Konyol tapi lucu; benar-benar terjadi. Sungguh manual tapi cukup menjawab kebutuhan saat ini.

Saya jadi ingat pula dengan guru-guru saat saya masih di bangku sekolah. Guru sibuk menulis seluruh topik belajar di papan tulis dan murid mencatatnya di buku mereka. Manual sekali, kan? Namun ada saat-saat di mana guru menjadi sumber inspirasi ketika mereka menjelaskan suatu topik hanya berbekal papan tulis dan kapur tulis, tanya-jawab personal yang manusiawi, dan kadang-kadang guru mengajak muridnya untuk melakukan proses observasi di luar kelas. Semuanya berjalan dengan lancar dan menjadi proses pembelajaran yang mendewasakan. Tak seperti sekarang di mana guru dan murid sama-sama sibuk dengan layar monitor komputer masing-masing; yang jelas mengurangi waktu tatap-muka yang membuat manusia muda belajar dari manusia dewasa dalam memahami suatu topik pembelajaran.

Dunia sudah berubah. Makin canggih. Bila tak mengikuti perkembangan jaman, dunia pendidikan akan lapuk, basi dan tak lagi relevan bagi murid-murid – yang belajar dengan pendekatan dan sudut pandang yang jauh berbeda dengan para murid dari belasan tahun yang lalu.

Jaman Korona

Sudah sekian lama tak menulisi blog ini. Mendadak saja ingat untuk mengulik dan membaca beberapa unggahan di waktu lampau. Tergelitik untuk menulis lagi di sini.

Tulisan kali ini saya unggah pada saat Jaman Korona. Era di mana kami – warga sedunia – berada di rumah karena himbauan #dirumahsaja. Pembatasan gerak dengan tinggal di rumah masing-masing. Manfaatnya supaya tak terpapar virus Covid-19, yang menjadi kependekan dari Corona Virus Disease 2019. Sudah sejak Maret 2020 berada di rumah saja. Sampai kapan? Entahlah. Semoga Jaman Korona segera berakhir. Ada begitu banyak agenda kegiatan yang harus ditunda karena virus yang bikin hidup menjadi lifeless.

Oleh karena tidak bisa go outside maka lebih baik go inside. Mencoba membereskan apa yang bisa diselesaikan, dikerjakan dan dituntaskan di rumah. Begitu pula yang ada dalam pikiran dan raga. Ini waktu yang tepat untuk memahami diri sendiri.

Ternyata di rumah saja memberikan banyak kesibukan. Bebersih rumah. Masak-masakan. Membaca buku. Selain bekerja WFH alias work from home. Rencana menonton film atau drama pun belum sempat. Tak cukup waktu. Olahraga rutin juga belum tercapai. Ada begitu banyak hal yang harus dilakukan di dalam rumah.

Lalu apa lagi?

Banyak yang bisa diceritakan. Namun untuk sementara ini dulu yang bisa dituliskan hari ini. Masih ada banyak waktu hingga virus Korona dari Wuhan ini segera punah. Semoga bisa menikmati April dengan udara segar. Atau Mei? Semoga secepatnya saja.

Catatan 7 April 2020 – saat Jaman Korona terjadi dan kami sedunia harus #dirumahsaja