Endapan Kopi

Punya masalah? Tiba-tiba emosi tak terkendali? Menghadapi jalan buntu? Sebaiknya tenangkan diri terlebih dahulu. Diam. Hentikan atau redakan pikiran. Tak berbuat apa-apa.

Kira-kira sama seperti saat kita membuat kopi bubuk. Kita menuang air panas ke dalam gelas berisi kopi bubuk. Mengaduk kopi tersebut supaya bubuk kopinya tercampur rata dengan air panasnya. Bubuknya tentu akan berputar-putar di dalam gelas tersebut. Namun tunggu sesaat sebelum meminumnya. Biarkan panasnya sedikit turun. Beri waktu supaya endapannya turun pelan-pelan ke dasar gelas.

Sembari menunggu kopinya mengendap, kita bisa menikmati suasana. Bisa juga berbincang-bincang santai. Pada saat yang tepat barulah kita meminum kopi tersebut. Rasanya pas. Endapannya pas sudah turun semua.

Beda dengan mereka yang tergesa-gesa meminum kopi yang barusan diseduh. Bibir bisa melepuh kepanasan. Bubuk kopinya tercampur sehingga kopinya terasa aneh dengan bubuk yang belum mengendap.

Oleh karena itu bila tiba-tiba hati dan pikiran kacau balau tak perlu panik. Berdiam sebentar. Biarkan segala hal yang tak tertata tersebut mengendap terlebih dahulu. Setelah itu ada ketenangan pikir dan kedamaian hati. Barulah masalahnya diselesaikan dengan baik-baik.

Bingung menghadapi hidup? Jangan lupa minum kopi dulu. Semoga bisa membantu.

Minim Kata, Minim Masalah

Photo by Pixabay on Pexels.com

Benar adanya kata orang bijak. “Diam itu emas.”

Orang yang berkata-kata hanya bila perlu dan ada hal penting yang ingin disampaikan itu tergolong orang yang bijak.

Sedang orang yang suka mengobrol, malah disadari atau tidak, sering terkena masalah. Salah paham. Ada yang merasa tersinggung. Ada yang menentang. Dan ada yang menantang.

Saya ingat saat kecil saya jarang berbicara. Lebih banyak menyerap informasi dengan mengamati keadaan sekitar dan membaca buku. Rasanya sepi. Namun ada banyak kesempatan belajar. Namun yang jelas minim masalah.

Sekarang saat sudah berumur, saya lebih banyak mengobrol. Bahkan terasa aneh bila ada sepi terasa ketika orang-orang diam atau tak banyak bicara. Dan mau tidak mau, harus saya terima, bahwa makin banyak berkata-kata, makin banyak pula masalah yang menghampiri.

Ada salah paham. Ada yang tersinggung. Ada yang kurang nyaman dengan saya.

Di lain sisi, ada banyak informasi baru yang saya dapati dengan mengobrol. Ada nuansa baru sehingga bisa memahami sesama manusia dengan lebih baik dengan bertukar-kata. Ada begitu banyak kesempatan dan wawasan baru yang mengalir ke saya melalui saling bertanya dan bertukar informasi.

Kadang saya merasa ingin lebih banyak diam. Dengan demikian lebih sedikit masalah. Orang diam seperti batu tentu tidak akan mengganggu orang lain.

Tapi bila saya diam saja, saya tidak mau melewatkan banyak hal menarik. Berbincang-bincang membuat hidup lebih hidup, lebih berwarna.

Satu hal yang saya pelajari dari lika-liku kehidupan adalah tidak diam seperti batu. Tidak juga terlalu banyak bicara seperti burung berkicau. Yang ideal adalah dengan mengatur kapan harus membuka mulut dan kapan harus menutup mulut. Menjadi bijak untuk menggunakan mulut.

Dan kemampuan wicara adalah suatu pekerjaan rumah bagi saya. Masih banyak yang harus diperbaiki.