Naik Sepeda

Bersepeda. Gowes. Baru saja menjadi fenomena. Mungkin karena jenuh setelah beberapa minggu #dirumahsaja, mendadak banyak orang jadi suka naik sepeda. Bagi mereka yang tak punya sepeda, tetiba tanpa banyak dipikir langsung membeli sepeda. Beberapa orang ada yang menyewa sepeda.

Begitu banyaknya orang yang bersepeda di jalanan yang relatif sepi karena pembatasan gerak memang menjadi keprihatinan. Pertama karena penyebaran virus corona masih terjadi, masih memakan korban. Kedua karena banyak orang yang mengabaikan aturan berlalu-lintas dan tidak menjaga kesehatan. Ada yang tabrakan dan ada juga yang meregang nyawa karena memang terlalu memaksakan diri untuk bersepeda setelah lama tidak berolahraga.

Namun ada kegembiraan bagi para pedagang sepeda. Jualannya laris-manis. Stok sepeda habis. Suku cadang harganya naik padahal sebelumnya sepi. Tentu mereka yang bergerak dalam bidang servis sepeda juga laku jasanya.

Namanya saja fenomena. Setelah gosong dan capai naik sepeda. Pekerjaan menjadi normal di masa kewajaran baru (new normal). Ada tuntutan untuk menyelesaikan banyak urusan dalam hidup. Biasanya fenomena seperti ini akan menyusut dengan sendirinya. Hanya mereka yang benar-benar suka bersepeda yang akan tetap naik sepeda.

Tentang sepeda, saya jadi ingat lagu yang asyik tentang moda transportasi ramah lingkungan ini. Sebuah lagu yang dilantunkan oleh Queen yaitu Bicycle Race.

New Normal atau Second Wave?

Saya tak habis pikir mengapa orang berpikir bahwa akhir minggu ini saat yang tepat untuk bersepeda dan melakukan rekreasi di tempat publik. Ini memang awal bulan Juni. Padahal menurut pengumuman pemerintah daerah di Jogja, saat ini masih berlaku situasi tanggap darurat. Intinya penyebaran Covid-19 masih terjadi, yang terpapar pun bisa jadi tetap bertambah.

Terpantau ada begitu banyak orang menggowes dan jogging di tempat terbuka yang tragisnya ramai dikunjungi orang. Di Jogja begitu banyak orang yang membawa diri atau sepeda mereka di Titik Nol, Candi Sambisari, Jalan Kaliurang, dan tempat-tempat lainnya.

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya.

Mereka sedang menyambut new normal atau second wave?

Baiklah jika nyatanya tak ada lagi penyebaran corona virus secara masif. Tetap ada yang tertular satu dua. Menjadi pas dengan situasi yang disebut new normal.

180 derajat situasinya bila setelah akhir pekan ini malah ada peningkatan drastis jumlah orang yang reaktif Covid-19 dan akhirnya berbondong-bondong masuk rumah sakit. Belum lagi bila yang terpapar akhirnya sakit parah dan meninggal. Tak lagi bisa disebut new normal. Yang ada justru second wave. Corona virus meruak lagi sehingga makin banyak yang tertular.

Bila ‘gelombang kedua’ datang maka akibatnya pemerintah daerah bisa melakukan PSBB. Alhasil perkantoran, sekolah dan tempat usaha menjadi tutup kembali. Tak lagi bisa buka seperti masa normal sebelum Covid-19.

Meski saya tahu PSBB akan berdampak buruk bagi perekonomian Jojga – kota di mana saya lahir dan tinggal – namun saya kira lebih baik PSBB dilaksanakan sehingga penyebaran corona virus bisa dikendalikan lagi.

Soalnya disiplin masyarakat masih rendah. Menyepelekan corona virus hanya karena jumlah penyebarannya relatif minimal dibandingkan kota-kota lain yang sudah melakukan PSBB.

Makanya bila ada yang ngeyel bisa diberitahu supaya #dirumahsaja dan #jagajarak.