Hadiah Terindah

Duh! Sekali lagi saya terharu biru gara-gara melihat iklan-iklan yang so sad tapi dalam maknanya. Termasuk iklan dari Negeri Matahari Terbit ini.

Ceritanya sederhana. Ayah dari sang mempelai perempuan memberikan hadiah perkawinan berupa permainan piano. Sang mempelai perempuan pun menangis karena tersentuh.

Namun di balik cerita sederhana itu ternyata ada kisah panjang yang mengawalinya. Saat si perempuan masih anak-anak, ibunya mengajarinya piano. Sayangnya saat ibu tersebut meninggal, si anak perempuan itu tidak melanjutkan pelajaran pianonya. Celakanya lagi hubungan anak perempuan dan ayahnya pun tidak terjalin dengan baik hingga akhirnya anak perempuannya memutuskan untuk tinggal di lain tempat.

Untuk memberikan hadiah yang spesial, sang ayah rela menghabiskan waktu dan berusaha sekeras-kerasnya untuk belajar memainkan satu lagu favorit yang dimainkan oleh istrinya dan diajarkan ke anak perempuan mereka.

Dan hasilnya pun luar biasa. Sebuah hadiah yang dalam maknanya. Lantunan musik yang mewakili seluruh perasaan cinta dari seorang ayah ke anaknya.

Dalam…

Termakan Iklan

Iklan mampu menjangkau lebih banyak orang karena iklan muncul melalui banyak media. Tak hanya sebatas iklan di televisi dan di radio. Ada iklan yang tercetak di koran dan majalah. Iklan pun jelas tampil di berbagai situs; banyak iklan yang harus ditutup sekedar bisa melihat konten yang disajikan. Saat di jalanan, berbagai spanduk dan baliho pun penuh dengan iklan yang menonjol dan bisa dilihat dari jarak yang jauh.

Sulit untuk melepaskan diri dari iklan. Bahkan beberapa iklan—yang unik, khas dan ‘pintar’—ramai menjadi perbincangan dan candaan. Otomatis pesan iklannya pun tersampaikan. Yaitu produk atau layanan yang ditawarkan ke masyarakat luas.

Dan suatu iklan boleh dikatakan berhasil bisa ada orang yang membeli produk atau layanan yang dimaksud. Ada produk berupa rokok, makanan, minuman, obat hingga kondom. Layanan pun juga laris manis seperti layanan telekomunikasi berupa berbagai kartu ponsel, hotel dan travel.

Jika suatu saat saya, Anda atau orang lain membeli produk atau menggunakan layanan—baik secara sadar atau tidak—berarti sudah termakan iklan. Entah hanya ingin mencoba barang baru, betul-betul percaya dengan iklannya atau malahan tak terpikir merek lain karena begitu suatu merek memborbardir iklan secara masif.

Iklan sekarang memang hebat. Bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat; yang terlepas dari latar belakang pendidikan dan pemikiran tapi malah terkesan lebih mudah termakan iklan.

Iklan Luar Ruang yang Makin Liar

Ya ampun! Hanya itu ekspresi yang muncul di benak saya tatkala melihat iklan luar ruang yang makin banyak menghiasi Kota Yogyakarta. Tak hanya makin banyak. Namun secara ukuran juga makin lebar. Lengkap dengan tiang besi yang kokoh berdiri di pinggir jalan. Bila malam hari, lampu sorot yang terang-benderang pun menyinari isi iklan luar ruang tersebut. Iklan makin jelas terlihat meski dari jarak jauh sekalipun.

Tak peduli saya dengan isi iklan atau siapa yang membeli ruang iklan tersebut. Permintaan pasar memang besar untuk beriklan yang disambut gembira oleh pengusaha iklan luar ruang. Ya, billboard yang betul-betul berukuran raksasa. Yang salah bukan yang sedang iklan. Tapi jelas bahwa pengelola iklan luar ruang dan pemerintah daerah yang harus betul-betul menimbang ulang regulasi dan keindahan tata-kota.

Iklan luar ruang memang memberikan pendapatan daerah yang besar. Setara dengan perkembangan ekonomi kota yang masih semi-tradisional ini. Namun seyogyanya sadar bahwa iklan-iklan itu seperti suara sumbang dan cemplang di tengah-tengah alunan harmoni antara modernitas dengan nilai-nilai budaya.

Coba saja ambil potret perempatan besar atau jalan utama di Yogyakarta. Sulit untuk mendapatkan wajah kota yang bopeng karena baliho iklan yang menyembul dan menjadi latar-belakang di mana-mana. Jijik saya dengan iklan-iklan yang berebut perhatian para pemakai jalan. Sungguh jijik!

Yogya Tanpa Iklan Luar Ruang

Bila Anda mengunjungi Kota Yogya saat ini, Anda pasti akan mendapati iklan luar ruang yang tampak di berbagai bangunan dan di banyak bagian jalan. Bahkan tak tanggung-tanggung, ada papan iklan yang berdiri kokoh di tengah pembatas jalan utama. Pun disertai dengan lampu yang membuat isi iklannya tampak mencolok di malam hari.

Iklan luar ruang tersebut memberikan kontribusi pemasukan pajak yang besar untuk pemerintah kota. Yang selanjutnya bisa dipergunakan, seyogyanya, untuk perbaikan dan peningkatan infrastruktur kota. Makin banyak iklan berjejalan di berbagai penjuru kota juga mengartikan roda ekonomi bergerak dinamis. Jelas iklan luar ruang mampu mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat kepada produk atau jasa yang ditawarkan di iklan tersebut. Yang akhirnya mempercepat proses mengalirnya uang sekaligus distribusi barang. Iklan luar ruang memang ada gunanya untuk ekonomi.

Namun di lain sisi, iklan luar ruang yang berlebihan dan terlihat tak teratur sudah mengurangi keindahan kota yang identik sebagai salah satu pusat kebudayaan di tanah air. Coba saja untuk mengambil gambar di wilayah perkotaan, ada tantangan tersendiri untuk memotret bagian kota yang tak tercemari oleh iklan komersial. Bahkan di bagian-bagian Yogya yang menjadi atraksi wisata, ada banyak papan-papan iklan, tempelan berbagai poster iklan, dan pesan sponsor yang terlalu vulgar.

Beberapa kota di dunia sudah berani meniadakan, atau setidaknya meminimalisasi, adanya iklan luar ruang. Didukung dengan kebijakan pemerintah kota dan dibantu oleh masyarakatnya, kota-kota tersebut memiliki pemandangan kota yang lebih natural. Lebih indah. Lebih rapi. Tindakan seperti ini tidak mudah dan memerlukan usaha dan proses yang panjang.

Pernahkah Anda merasa jenuh dengan tampilan iklan operator telepon yang bahkan dicat di tembok bangunan besar, tawaran agar hidup Anda lebih ‘macho’ dengan menghisap rokok, atau promosi makanan cepat saji yang terlihat di banyak tempat di Yogyakarta? Ditambah pula dengan iklan berbagai universitas dan sekolah yang seharusnya bisa ditawarkan dengan lebih elegan melalui media massa. Coba bayangkan bila iklan-iklan itu berhasil dihilangkan? Kita akan bisa melihat keindahan Kota Yogyakarta seperti belasan tahun yang silam. Bangunan bersejarah tampak penuh. Jalanan pun enak dipandang. Pun pepohonan yang hijau seperti Beringin akan tampak kokoh dan membuat Yogya menjadi lebih teduh. 

‘Yogya tanpa iklan luar ruang’ menjadi impian bersama. Kecuali bagi para pengusaha iklan luar ruang yang dengan rakusnya ‘melahap’ berbagai ruang publik dan jalanan kemudian menggantinya dengan berbagai iklan yang menarik perhatian sekaligus memuakkan.