Lisbon

Tahu di mana Lisbon? Bila tak tahu coba buka peta dunia.

Ada rasa kagum saat melihat video tentang Lisbon. Arsitektur bangunan-bangunan tua yang begitu indah berada di kota yang tertata rapi. Itu semua ada karena warisan dari masa jaya di masa lalu saat Portugal menjadi salah satu negara yang berhasil mengkoloni berbagai wilayah di dunia. Termasuk daerah Macau dan Timor Leste di masa sekarang. Armada kapalnya bisa jauh menjangkau berbagai lautan dan samudera. Menjelajahi, berdagang, merampas dan juga membawa kembali hasil bumi dan emas. Menjualnya kembali ke negara-negara di Dataran Biru Eropa. Kaya raya sehingga mampu membangun pusat kebudayaan yang indah dengan skala yang besar pada jamannya.

Menonton videonya jadi makin jatuh cinta pada Lisbon. Semoga one day bisa mengalami sendiri jalan-jalan dan menikmati kota pelabuhan itu.

Salah satu yang bikin saya tertarik adalah Trem Lisbon. Alat transportasi yang mumpuni di masa lalu namun kini lebih berfungsi sebagai wahana berkeliling kota untuk para turis yang datang ke sana. Salah satu jalur yang populer adalah Lisbon Tram 28. Rutenya meliuk-liuk, melewati jalan sempit dengan bangunan di kanan kiri dan ada jalur menanjak-menurun. Pasti asyik. Trem seperti itu mengingatkan saya pada cable car alias trem yang ada di San Francisco.

Untuk saat ini sudah cukup puas menonton videonya. Saya anggap ini sebagai dreaming session yang berfungsi sebagai cara visualisasi impian. Semoga tercapai. Pasti asyik bisa menjelajahi kota itu dengan trem dan menikmati suasananya yang hidup dan penuh keramahan.

Mewujud

Orang banyak mengingat seseorang karena karyanya. Bukan karena imajinasi, konsep atau impian seseorang. Bila sesuatu yang sebenarnya baik namun hanya terbatas dalam benak seseorang, tak ada yang akan menikmatinya dan menghargainya.

Michelangelo, Johann Sebastian Bach dan Salvador Dali tak akan dikenang orang bila mereka tak berhasil mewujudkan karya seni mereka. Bayangkan kalau mereka bertiga hanya terus-menerus memikirkannya seni mereka di kepala mereka. Tak ada orang yang melihat dan mendengar hasil seni mereka.

Namun mewujudkan sesuatu itu butuh keterampilan, usaha, perjuangan dan keberanian. Bukan proses instan. Mereka bertiga juga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk belajar, berproses dan akhirnya menyelesaikan karya mereka satu demi satu. Perlu bantuan orang lain pula yaitu para sponsor dan para asisten.

Langkah yang terberat untuk mewujudkan suatu cita adalah dengan memulainya. Orang takut gagal. Orang bisa jadi terlalu khawatir apakah yang dikerjakannya nanti akan menjadi hal baik atau tidak.

Padahal langkah pertama itu adalah langkah yang termudah. Gagal di awal itu biasa. Melanjutkannya itu yang tak mudah. Tak ada yang memberikan ekspetasi terlalu tinggi di sebuah langkah awal.

Impian yang mewujud adalah suatu proses. Diawali, diperjuangkan dan setelah melewati prosesnya menjadi sesuatu yang mewujud. Nyata. Sesuatu yang riil. Tak sekedar imajinasi tanpa bentuk.

Ingat dengan tugas prakarya sewaktu kita masih di bangku sekolah dasar? Tak semua menghasilkan tugas prakarya yang sempurna pada awalnya. Kecuali mereka yang dibantu sepenuhnya oleh orangtuanya. Tak apa tak sempurna. Bila setia dengan prosesnya, niscaya karya berikutnya menjadi sesuatu yang baik dan migunani.

Impian & Tujuan

Tak setiap orang memiliki impian dalam hidupnya. Tak semua orang juga memiliki tujuan hidup. Bisa, ya? Tentu saja bisa. Namun orang yang ingin benar-benar menjalani hidup, tentulah orang yang memiliki impian dan tujuan.

Ada sebuah kalimat bijak. Begini bunyinya.

Go to bed with dreams, wake up with a purpose.

Dalam maknanya. Tidur dengan impian dan bangun dengan tujuan. Tidak hanya seperti zombie yang tak ubahnya mayat hidup. Tak ada impian, tak ada tujuan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah benar-benar tidur dengan sejuta impian dan bangun dengan tujuan yang jelas?