Ngalap Berkah

Ngalap Berkah memiliki makna ‘mencari berkat’. Biasanya tradisi Ngalap Berkah ini terjadi turun-temurun pada suatu masyarakat. Kita bisa melihat saat ada orang yang pergi ke suatu tempat khusus yang diyakini sakral untuk bersujud memohon sesuatu. Ditambahi dengan laku tertentu seperti bertapa atau puasa. Bisa juga hanya mengunjungi suatu tempat yang suci dan berdoa. Harapannya jelas yaitu supaya apa yang diinginkan terkabul.

Ngalap Berkah ini sering kita temui di semua bagian Nusantara; dari Sabang sampai Merauke. Bentuknya berbeda-beda. Tradisi masih dipegang kuat sehingga salah satu tradisi yang masih diturunkan adalah kegiatan Ngalap Berkah.

Bagaimana dengan di negara maju? Dengan kemajuan teknologi dan masyarakatnya menjadi modern, apakah tidak ada lagi acara pergi ke luar kota untuk Ngalap Berkah?

Ternyata masih. Salah satunya di Negeri Matahari Terbit. Tak hanya wisatawan mancanegara yang mendatangi kuil-kuil di Jepang. Sebagian besar wisatawannya adalah orang Jepang sendiri. Mereka datang ke kuil-kuil untuk berdoa dengan khusyuk. Membeli jimat yang bisa memberi keselamatan, mendatangkan rejeki atau enteng jodoh. Perusahaan besar pun menyumbang uang dan sebagai gantinya mendapat doa supaya usahanya lancar. Minum air dari mata air yang sakral pun dilakukan; tak beda di dengan di Indonesia. Mereka juga menggantungkan impian yang dituliskan pada papan-papan doa.

Harapannya satu. Doa terkabul.

Tentu bila keyakinan kita berbeda, ya kita tak perlu ikut-ikutan Ngalap Berkah di kuil-kuil di Jepang. Nikmati saja kecantikan kuil, keindahan alam di sekitarnya dan keramaian dari para pengunjungnya.

Hanya memang tak bisa dipungkiri, tempat-tempat suci – terlepas dari agama dan keyakinannya – memberikan rasa damai. Menjadikannya tempat yang pas untuk berdoa dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Kita tetap bisa berdoa dengan hening dengan duduk diam. Bukankah berdoa bisa di mana saja dan kapan saja. Tentu dengan mengerti unggah-ungguh di tempat tersebut.

Kamu sendiri bagaimana? Apakah ada tempat khusus yang kamu sukai untuk Ngalap Berkah; mengantarkan doa dan syukur kepada Yang Maha Esa?

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa foto di bawah ini memperlihatkan papan doa yang terbuat dari kayu itu ada gambar ayamnya? Apakah ini ditujukan kepada Dewa Ayam? Tentu tidak. Lambang ayam itu karena tahun itu, 2017, adalah Tahun Ayam sesuai dengan urutan Shio Tahun.

Papan Permohonan Doa – Kiyomizu-dera, Kyoto, Jepang – 2017

Karoshi dan Karojishi

Bekerja keras itu baik adanya. Bekerja menjadi salah satu cara manusia untuk mengaktualisasikan dirinya. Berguna karena melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan orang lain. 

Tentu berbeda ceritanya kalau bekerja terlalu keras — entah terpaksa atau memaksakan diri — hingga akhirnya membuat seseorang meninggal dunia.

Salah satu negara yang terkenal karena memiliki puluhan juta penduduk yang giat bekerja adalah Jepang. Konon di negeri itu etos kerja orang-orangnya sangat tinggi sehingga bisa mengubah Jepang — negeri yang minim sumber daya dan hancur karena perang — menjadi negara dengan tingkat ekonomi terbesar nomor tiga di dunia dalam waktu relatif singkat. Negaranya menjadi makmur dengan infrastruktur yang modern dan penduduknya memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Sebuah pertanyaan besar muncul. Mengapa Jepang bisa menjadi negara makmur dan rakyat sejahtera?

Jawabannya singkat. Ekonomi Jepang menjadi besar karena puluhan juta penduduknya yang bekerja keras. Lebih tepatnya lagi yaitu bekerja terlalu keras. 

Bagus, dong?

Tergantung darimana memandangnya. 

Semua di dunia ini ada harganya. Tidak ada yang tiba-tiba terjadi tanpa adanya upaya dan pengorbanan. 

Begitu juga dengan apa yang terjadi di Jepang. Ekonomi Jepang memang memiliki ukuran yang sangat besar. Sangat kontras dengan ukuran negara, jumlah penduduk dan cadangan sumber daya alam yang relatif kecil dibanding Amerika Serikat dan Tiongkok. Tak ada yang meragukan itu.

Tetapi ekonomi Jepang dibangun dengan pengorbanan jutaan penduduknya yang bekerja terlalu keras hingga mengorbankan kesehatan diri mereka sendiri. Karoshi dan Karojishi meningkat drastis setara dengan majunya perekonomian Jepang. 

Karoshi berarti kematian yang disebabkan gangguan otak atau jantung karena bekerja terlalu keras. 

Sedangkan Karojishi adalah bunuh diri yang terjadi karena depresi atau gangguan mental lainnya yang disebabkan oleh bekerja terlalu keras. 

Karoshi dan Karojishi benar-benar nyata dan dialami oleh begitu banyak orang Jepang. Jumlah sebenarnya jauh lebih banyak lagi dari yang disebutkan di berbagai media masa karena umumnya keluarga dari orang yang mengalami kemarian karena Karoshi dan Karojishi enggan mengatakannya kepada tetangga dan orang lain. 

Entah mengapa ada begitu banyak orang yang  mengalami Karoshi dan Karojishi di Jepang padahal sebenarnya bisa menghindarinya sebelum dua hal tersebut terjadi. Sepintas orang akan berpikir bahwa orang Jepang suka bekerja keras. Padahal pada nyatanya orang Jepang dengan sadar, suka atau tidak suka, ‘memperbudak’ dirinya sendiri sehingga bekerja lebih keras daripada kekuatan tubuh dan mental. 

Memperbudak diri? 

Coba bayangkan apa yang ada di pikiran kita masing-masing bila seseorang bekerja lebih dari 10 jam tiap harinya. Lelah? Capai? Keterlaluan?

Umumnya orang bekerja selama 8 jam setiap hari. Misal mulai bekerja jam 9 pagi dan selesai jam 5 sore. Mungkin ada satu jam untuk istirahat makan. Ditambah dengan lembur satu atau dua jam tentu biasa. Perlu dihitung pula waktu yang dibutuhkan untuk transportasi.

Namun hebatnya, atau parahnya, banyak perusahaan, organisasi, instansi dan usaha di Jepang membuat atau memaksa karyawannya atau pegawainya untuk bekerja lebih dari 10 jam per hari. Lembur merupakan hal yang biasa dan tidak dihitung sebagai tambahan gaji. Jarang ada yang mempertanyakan atasan dan perusahaan bila disuruh lembur atau bekerja ekstra. 

Selain itu perusahaan-perusahaan di Jepang kini tak lagi mempekerjakan karyawannya seumur hidup seperti jaman dulu. Hampir separuh karyawan perusahaan jaman sekarang adalah pegawai kontrak atau pekerja lepas.

Tanpa adanya jaminan kerja dan gaji yang stabil membuat banyak orang di Jepang mati-matian bekerja untuk mempertahankan posisinya. Di saat yang sama perusahaan menyadari hal tersebut dan malah memanipulasi dan menekan orang untuk bekerja lebih keras lagi hingga melebihi batas. 

Kondisi bekerja di Jepang seperti itulah yang membuat orang bekerja sekeras-kerasnya tanpa memperhatikan kesehatan tubuh dan mental. Belum lagi dengan tingginya ongkos hidup di Jepang yang dikeluhkan oleh penduduknya. Tak ada yang benar-benar murah di sana. Semuanya serba mahal. Tempat tinggal, makanan, barang-barang, transportasi, pendidikan semuanya sangat mahal. Terutama bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. 

Berbagai gabungan faktor-faktor di atas jelas membuat orang Jepang dihadapkan pada sempitnya pilihan. Bekerja keras sekeras-kerasnya dengan resiko mengalami Karoshi atau Karojishi. Atau tak memiliki pekerjaan dan penghasilan sehingga jatuh miskin dan susah hidupnya.

Lalu bagaimana ke depannya?

Ekonomi Jepang saat ini memang besar skalanya. Namun baru-baru ini posisinya sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia tergeser oleh Tiongkok; yang naik peringkat dari nomor tiga ke nomor dua. Jepang turun satu tingkat dan menjadi negara ekonomi terbesar ketiga.

Indikasinya jelas bahwa ekonomi Jepang menurun yang dibuktikan dengan jatuhnya beberapa perusahaan-perusahaan besar dari Jepang seperti Sharp dan Sony. Belum lagi perusahaan yang skalanya lebih kecil dari dua perusahaan tersebut. 

Di saat yang sama ekonomi negara-negara lainnya bertumbuh menjadi lebih kompetitif. Seperti laiknya Tiongkok dan Korea Selatan; yang berada dalam satu wilayah yang sama. Belum lagi ditambah dengan Thailand, Indonesia dan Vietnam yang jumlah ekspornya meningkat tajam; mengakibatkan barang-barang ekspor Jepang mengalami penurunan dalam permintaan. 

Dengan kompetisi yang sangat ketat dengan negara-negara di kawasan Asia, Jepang memerlukan jutaan penduduk dalam usia produktif — yang malangnya berkurang karena rendahnya angka kelahiran yang tak sebanding dengan pertambahan laju para lanjut usia — untuk bekerja lebih keras lagi. 

Bekerja lebih keras lagi?

Sepertinya memang begitu. Bila saat ini saja sudah banyak orang yang mengalami Karoshi dan Karojishi, bagaimana pula bila Jepang meminta rakyatnya untuk bekerja jauh lebih keras lagi? 

Sepertinya jumlah orang yang akan mengalami Karoshi dan Karojishi akan melonjak dalam tahun-tahun ke depan. Harapan hidup untuk bekerja dengan normal dan hidup sejahtera menjadi makin kabur. Yang ada hanyalah bekerja keras sekeras-kerasnya hingga ajal menjemput. Suka atau tidak suka. 

Kebanggaan karena penduduknya rajin dan bekerja keras? Itu hanyalah slogan yang digaungkan oleh pemerintah saja untuk memacu produktivitas dari rakyatnya. 

Rajin bekerja itu baik.

Bekerja terlalu keras hingga mengorbankan kehidupan? Itu tidak manusiawi namanya. 

  

Alat Produksi, Bukan Alat Perang

Sejarah dunia sudah membuktikan bahwa alat produksi jauh lebih penting bagi manusia ketimbang alat perang. Alat produksi memberikan kontribusi bagi kesejahteraan orang banyak. Sebaliknya alat perang bisa secara efektif mengurangi populasi manusia secara drastis.

Jerman sebagai negara yang terkenal akan kemampuan industrialnya mampu menghasilkan alat-alat teknis yang berkualitas tinggi. Alat-alat produksinya mampu membuat berbagai macam logam. Tak hanya untuk membuat alat pertanian. Tapi juga peralatan untuk membangun.

Sayangnya ketika perekonomian Jerman menjadi kuat, bangsa ini memiliki ambisi untuk mencaplok negara-negara tetangganya. Kapasitas industrinya berpindah arah. Memproduksi alat perang dalam skala yang luar biasa untuk masa itu. Baik dari segi kualitas dan kuantitas. Semua hal yang tidak berkaitan dengan perang dikesampingkan.

Memang Jerman bisa menguasai banyak negara tetangga. Namun pada titik tertentu akhirnya takluk. Menyerah kalah. Sekian banyak manusia dibantai dengan mesin-mesin perang yang mengerikan. Di sisi lain, jutaan penduduknya kelaparan karena alat untuk bertani berkurang drastis sehingga tidak mampu memproduksi pasokan makan yang cukup.

Setali tiga uang, Kekaisaran Jepang pernah mengalami kemajuan ekonomi yang pesat karena mampu memproduksi alat-alat produksi secara masif. Banyak pemuda Jepang dikirim ke negara-negara Eropa untuk belajar bagaimana membuat berbagai alat produksi. Strategi lainnya juga sederhana namun efektif. Membeli barang dari negara lain, mempelajarinya, menirunya dan memodifikasinya. Jepang pun menjadi negara yang maju dalam waktu singkat.

Namun hal ini membuat Jepang memiliki ambisi besar untuk menguasai dunia. Minimal negara-negara di Asia Utara dan di Asia Tenggara. Untuk kepentingan tersebut alat-alat perang diproduksi dengan cepat. Bahkan rakyatnya dipekerjakan di pabrik senjata supaya bisa menghasilkan mesin perang dengan lebih cepat dan lebih banyak.

Dan kemudian Jepang dengan cepat menyerang negara-negara sekitarnya. Benar bahwa dalam waktu singkat banyak negara yang bisa dikuasai. Namun ada hal yang dilupakan Jepang yaitu banyak rakyatnya yang menderita. Selain banyak tentara Jepang yang mati di medan perang, sekian banyak orang baik tua dan muda mengalami kemiskinan dan kelaparan di tanah air mereka sendiri.

Coba bayangkan bila jutaan rakyat dikerahkan hanya untuk keperluan perang? Pasti ada banyak segi kehidupan yang timpang. Dan sehebat-hebatnya alat perang Jepang, akhirnya tumbang juga karena berhadapan dengan perlawanan dari banyak negara yang dijajahnya. Sebagai puncaknya, mungkin karena menuai karma, Jepang tunduk dan menyerah kalah tatkala alat perang paling merusak yaitu Bom Atom dijatuhkan di Kota Nagasaki dan Kota Hiroshima.

Jerman dan Jepang bisa menjadi negara yang jauh lebih kaya sejahtera bila tetap berfokus untuk memproduksi alat-alat produksi. Bukannya malah bikin mesin perang.

Namun sejarah juga memperlihatkan bahwa ambisi pemimpin negara atau bangsa tidak selalu berpihak pada kesejahteraan rakyatnya. Keinginan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar justru membunuh jutaan rakyatnya. Di samping membunuh ratusan juta negara-negara yang mereka jajah.

Alat perang memang penting untuk menjaga kedaulatan wilayah suatu negara. Saat alat perang menjadi lebih penting ketimbang alat produksi, sebuah tanda tanya besar. Bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk bila alat produksi kalah penting ketimbang alat produksi. Berarti akan ada perang. Bukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Tapi untuk memenuhi ambisi pribadi para pemimpin yang haus kekuasaan.