Nglakoni Urip

Malam Jumat ini kami duduk bersama sekira dua jam. Tempat berbeda, di rumah masing-masing. Namun, hadir di jam yang sama. Kami terhubung melalui Zoom. Lebih dari itu, kami terhubung dalam satu niat yang sama untuk memberikan jeda sesaat bagi jiwa raga. Jeda yang sangat diperlukan dalam kehidupan masa kini yang relatif cepat dan sibuk dengan segala urusan hidup. Kami juga melatih diri untuk bisa berkomunikasi dengan guru sejati kami. Tentu, kami juga mendapat kesempatan untuk mendengarkan satu dua petuah kehidupan dari pamong kami yang semoga bisa menjadi bekal untuk menjalani kehidupan (nglakoni urip) ini dengan lebih baik.

Tempat untuk Pulang

Dalam kehidupan ini, manusia melakukan perjalanan. Ada yang perjalanannya panjang dan berliku. Ada juga yang cukup pendek dan lurus. Masing-masing individu memiliki jalannya masing-masing. Namun, dalam perjalanannya tiap insan merindukan ‘tempat untuk pulang’.

Tempat untuk pulang bisa berbeda-beda. Ada yang merasakan bahwa pulang ke rumah orang adalah tempat untuk pulang. Orang lain ada yang berpikir suatu tempat ibadah itu rumahnya. Mungkin juga kampung halaman. Apa pun itu ada suatu tempat di mana “after walking far far away, I want to go back at my home“.

Pamong kami mengandaikan tempat untuk pulang itu seperti terminal bis. Setiap hari bis memulai perjalanannya berkeliling menuju ke banyak tempat dari sebuah tempat bernama terminal. Pergi jauh, pergi ke banyak tempat, dan akhirnya kembali ke terminal yang sama. Bis kembali untuk dirawat, dibersihkan, dan dipersiapkan untuk perjalanan esok harinya. Begitu seterusnya seperti siklus kehidupan.

Hal tersebut mengingatkan saya tentang binatang-binatang yang terlahir di suatu tempat. Bertumbuh besar. Memulai perjalanan. Kemudian kembali ke tempat yang sama untuk beranak-pinak, sebentar membesarkan anak-anaknya, dan kemudian berpulang ke Sang Pencipta Semesta. Tak hanya manusia yang bisa ‘mudik’. Baik ikan, burung, binatang berkaki empat pun ingin ‘mudik’ ke tempat untuk pulang.

Dan sebagai insan manusia, pertanyaan yang muncul adalah ‘di mana tempat yang bisa aku sebut sebaga tempat untuk pulang?” Seperti sebuah siklus, ada awal dan akhir dari suatu perjalanan kehidupan.

Mengubah Sesuatu

Manusia memiliki keinginan yang kuat untuk mengubah sesuatu dalam hidupnya. Ketika melihat sesuatu yang merasa perlu perbaikan atau peningkatan, seseorang bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang bisa saya ubah?

Tentu banyak hal yang bisa kita ubah. Ada rasa puas saat bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Hal yang sulit diterima adalah ketika kita tidak bisa mengubah sesuatu; setelah melakukan sebuah usaha yang penuh perjuangan. Rasa yang muncul bisa dalam bentuk rasa jengkel, rasa kecewa, dan bahkan frustasi. Tak semua di dunia ini bisa kita ubah, kan?

Oleh karena itu, alangkah bijak jika kita memiliki kekuatan untuk menerima yang tidak bisa saya ubah. Niatnya sudah baik. Jika akhirnya suatu perubahan belum atau tidak terjadi, ya nrimo (menerima).

Memilih Langkah dalam Kehidupan

Begitu juga dengan menghadapi suatu pilihan dalam langkah kehidupan. Kadang jelas apa yang harus kita pilih. Pilih A atau pilih B. Di saat yang lain, pilihannya tak sejelas itu. Orang takut salah. Salah untuk memilih. Pertanyaan muncul, “Bagaimana jika saya pilih A?”, “Seandainya saya pilih B, apakah membuat saya bahagia?”, atau “Sebenarnya lebih benar yang mana, pilih A, pilih B, atau pilih C?”.

Kalau pilihan saya salah, bagaimana ya? Itu inti dari pertanyaan yang sering membuat banyak pribadi gundah gulana hingga pusing tujuh keliling. Memutuskan pilihan karier, pasangan hidup, cara hidup, tempat hidup, hingga jalan hidup.

Adanya pilihan yang jumlahnya lebih dari satu itu bisa membingungkan manusia. Ada hal yang sederhana seperti makan di warung bakso. Tidak ada pilihan menu karena sajiannya cuma satu. Bakso. Mungkin ada pilihan kecil, apakah mau pakai mie, tambah bakso goreng, atau kuahnya dikurangi.

Terbalik 180 derajat dengan makan di restoran ala tionghoa. Orang biasanya perlu waktu untuk memilih makanan. Pilihan menunya teramat banyak. Seperti rumah makan Hao Mei di Yogya, untuk menu mie saja ada banyak pilihan. Mau pilih mana, mie goreng ayam, mie goreng sapi, mie siram polos, mie kuah ayam, mie kuah seafood, mie kangkung terasi, atau tamie? Galau memilih tapi sudah ingin cepat-cepat makan.

Ada juga tempat makan yang menyajikan tiga menu. Soto, bakso, dan gado-gado. Memilih satu dari tiga jauh lebih mudah, kan? Jika yang dipilih adalah bakso, ya makan bakso. Setali tiga uang, makan soto jika sudah memesannya. Pilihan mana yang hendak dipilih, itulah pengalaman yang akan didapatkan. Tak ada pilihan yang salah.

Sama seperti langkah kehidupan, jika seseorang sudah memutuskan langkah, jalani saja. Nglakoni. Apa pun yang nantinya dihadapi, ya harus dihadapi. Bukan untuk dihindari. Bukan untuk disesalkan di kemudian hari.

Justru yang membuat pikiran pusing adalah suara-suara dari orang lain; terutama yang dekat dengan kita. Keluarga, teman dekat, atau pasangan. Ada saja yang ‘menyalahkan’ kita saat terjadi sesuatu yang mungkin tidak mengenakkan – yang berasal dari pilihan yang dibuat sendiri. Suara sumbang, parau, dan negatif.

Oleh karena itu, sebagai individu perlu untuk jeda dari suara-suara yang riuh. Untuk bermeditasi. Menemui guru pribadi. Untuk menanyakan ke diri sendiri. Untuk mendapatkan jawaban-jawaban dari saat yang tenang dan jernih. Hingga akhirnya menemukan sikap yang harus diambil. Hingga akhirnya bisa Let It Go. Legowo. Untuk mengakui bahwa pilihan yang saya ambil merupakan tanggung jawab saya pribadi. Bukan karena terpengaruh oleh orang lain; yang pada umumnya tak terlalu peduli atau tak terlalu paham dengan apa yang diri kita rasakan, pikirkan, dan alami.

Dan yang paling tidak bijak adalah menyerahkan pengambilan keputusan ke orang lain; siapa pun orang itu bagi kita. Waton manut (hanya menurut) karena tidak mau berpikir lagi. Menggantungkan diri dan kehidpan kita pada orang lain.

Perubahan dan Peningkatan

Suatu pertanyaan muncul. Bagaimana meditasi kami, apakah ada perubahan dan peningkatan?

Lebih kurang jawabannya seperti ini. Di dalam meditasi ada suatu perubahan yang terjadi. Perubahan kondisi. Perubahan suasana. Perubahan dalam diri. Suasana orang-orang yang hadir dalam meditasi. Adanya perubahan belum tentu ada peningkatan. Itu pun tak semua orang cukup peka untuk merasakan perubahan yang terjadi.

Ada juga yang mengalami peningkatan. Tak instan tentunya. Perlu waktu dan proses. Bisa jadi ada sebagian di antara yang bermeditasi bersama ‘diangkat’ ke kesadaran yang lebih dari sebelumnya. Semisal, menjadi lebih dewasa. Tentu pengalamannya lain.

Namun tidak perlu memikirkan apakah saya sudah bisa menyadari perubahan dalam meditasi saya. Juga tidak perlu berjuang untuk bisa meningkat ke kesadaran yang lebih tinggi. Bermeditasi saja, rileks, dan berbincang-bincang dengan guru pribadi dengan jujur. Jika memang diberi anugerah, diri sendiri bisa menjadi lebih peka dan siapa tahu bisa ‘diangkat’ ke kesadaran yang lebih tinggi.

Takut dengan Pengalaman Baru

Pernah mengalami rasa takut karena masuk sekolah untuk pertama kalinya saat masih kecil? Ada rasa khawatir ketika bekerja di tempat baru? Rasa berdebar penuh tanya dan penasaran setelah mengucapkan janji pernikahan dengan pasangan? Naik pesawat untuk pertama kalinya? Pertama kali menyelam di kedalaman laut?

Ada begitu banyak pengalaman baru yang membuat kita berdebar-debar. Ada saja pengalaman yang membuat orang takut atau setidaknya khawatir hingga membatalkan sesuatu. Tentu tak semua pengalaman sama menyeramkannya seperti halnya orang yang akhirnya memilih duduk di kursi pesawat karena saking takutnya untuk terjun payung. Ada juga semacam “runaway bride” yang mengalami “cold feed” di saat hendak mengikat janji perkawinan karena takut dengan komitmen di detik-detik terakhir. Untuk mengajukan surat mengundurkan diri ke atasan yang galak. Untuk membilang selamat tinggal kepada pacar karena tak ingin melanjutkan asmasa yang sudah dirajut bersama. Untuk urung membeli rumah karena tak khawatir tak bisa melunasi cicilannya.

Apa yang harus dilakukan supaya diri kita berani untuk menghadapi suatu pengalaman baru? Jawabannya bisa jadi adalah tindakan gradual. Sedikit demi sedikit memproses suatu pengalaman baru.

Pamong kami bercerita tentang anak kecil yang tidak mau berenang di pantai. Takut airnya dingin. Wajar jika anak kecil pun tahu cara melindungi dirinya dari kemungkinan bahaya. Caranya sederhana. Orang tuanya memberinya kesempatan untuk mencelupkan kakinya dulu. Jika sudah merasa lebih baik, maju lagi hingga permukaan air mencapai lutut. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit, pelan-pelan tapi pasti, anak itu “embrace the water“. Bermain-main air dengan penuh keriangan. Tak lagi takut kena air yang dingin.

Topo Rame

Kontradiksi. Apa itu Topo Rame? Bukankah bertapa itu paling ideal dilakukan di tempat yang sepi dan sunyi? Sedangkan Topo Rame (bertama dalam keramaian) malah mencari tempat yang kebalikan dari sepi dan sunyi.

Namun, begitulah adanya Topo Rame. Membawa topo di dalam hati. Tempat sunyi itu bisa ditemukan di mana saja. Intinya adalah suasana hati kita sendiri. Topo Rame ini cocok untuk kondisi saat ini yang makin susah menemukan tempat bertama yang sepi dan sunyi. Maklum karena banyak individu yang tinggal dan hidup di kota besar dengan segala hiruk-pikuk kehidupan.

Tentu Topo Rame ada baiknya dilakukan secara gradual. Mirip dengan pengalaman anak kecil yang takut air dingin di pantai. Pelan-pelan saja mencoba topo di tempat yang agak ramai. Seperti pasar atau mall. Bisa juga tempat bekerja. Ini yang dalam konsep Kejawen disebut sebagai meditasi harian. Melakukan tindak meditatif dalam keseharian.

Jika sudah terbiasa, carilah tempat yang lebih ramai. Setelah bisa melakukannya dengan baik, lakukan Topo Rame di tempat yang tidak menyenangkan. Seperti dalam antrian, dalam kemacetan, dan dalam perjalanan. Saat orang lain saling memaki, saling mengumpat, dan marah-marah, justru dengan Topo Rame, seseorang bisa menghadapi suasana tak menyenangkan dengan sikap yang tenang. Tetap menjaga jernihnya hati, pikiran dan tindakan. Itulah kenapa ada slogan ‘sejernih akal sehat’ karena akal sehat hanya muncul saat kondisi perasaan dan pikiran dalam kondisi jernih. Kebalikannya tentulah membabi buta atau hilangnya akal sehat.

Kenyamanan

Konsep nyaman itu muncul di generasi kekinian. Ingin nyaman bepergian. Ingin tempat kerja yang nyaman. Ingin tinggal di rumah yang nyaman. Ingin punya pasangan yang bikin hati nyaman.

Bahkan karena ada sedikit obsesi tentang kenyamanan, bermunculanlah layanan yang memberikan kenyamanan. Pijat relaksasi. Kafe dengan konsep modern yang suasananya cozy. Sistem pembayaran yang mudah digunakan. Pesan makanan minuman diantar dari rumah. Bisa kemana-mana dengan mudah memakai transportasi online. Nyaman itu tentu ada harganya. Orang sering tak peduli harus bayar berapa duit karena yang penting nyaman bisa didapatkan. Pokoknya nyaman.

Namun, apakah semuanya melulu tentang kenyamanan? Nyaman dan tak nyaman? Orang jaman dulu, yang menghadapi segala keterbatasan dan kondisi yang menantang, umumnya tak terlalu memikirkan kebutuhan untuk merasa nyaman. Orang-orang tua hanya Nglakoni Urip (menjalani kehidupan). Tanpa banyak berpikir. Tanpa dirasakan hal tersebut nyaman atau tidak. Mereka ini generasi yang memiliki suatu niat yang kuat, menjalaninya dengan tabah, dan kemudian menikmati buah kerja kerasnya.

Beda sekali dengan orang jaman now yang mengedepankan rasa nyaman. Ada aspek manja. Tidak nyaman sedikit, langsung protes. Bisa juga mutung (urung melakukan sesuatu). Teman-teman yang bekerja sebagai personalia sering curhat bahwa karyawan baru saat ini rentang usianya muda namun manjanya luar biasa. Ada kecenderungan untuk bekerja di posisi aman dengan suasana yang nyaman. Kalau kantornya keren dengan beragam fasilitas, semangat kerjanya naik. Begitu mengalami situasi tak nyaman, semisal urusan dengan klien atau kendala dalam tugasnya, langsung curhat ke siapa saja hingga ke sosmed. Tak jarang, durasi bekerjanya singkat. Hanya seumuran jagung hanya karena tempat kerjanya kurang nyaman. Luar biasa, kan?

Perjalanan hidup ini tak selalu menghadirkan rasa nyaman. Nyaman atau tidak itu tidak penting. Hal yang esensial adalah Nglakoni Urip. Menjalani Kehidupan. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.

Pertanyaan berikutnya muncul. Jika seperti itu, lalu apa yang kita cari dalam hidup ini?

Kebahagiaan

Orang ingin bahagia. Itu salah satu dorongan dalam hidup. Namun, bukan kebahagiaan yang semu.

Rasa bahagia itu suatu kondisi dalam hati. Bahagia bukanlah sesuatu yang datang dari luar, seperti karena kaya, punya pasangan hidup yang baik, pekerjaan yang baik, atau memiliki ini itu.

Bahagia berasal dari suatu sikap hidup. Salah satu caranya yaitu dengan belajar spiritual. Melakukan pengolahan diri. Mencari keseimbangan. Dorongan untuk bahagia berasal dari adanya niat atau tekad. Lumrah karena semua orang seperti itu. Siapa yang tak ingin bahagia?

Dan semuanya kembali lagi ke diri kita sendiri. Untuk mengetahui jawabannya, kita belajar berkomunikasi dengan diri sendiri. Apakah yang aku inginkan dalam perjalanan hidupku saat ini? Apa yang menjadi real intention saya? Niat hidup.

Oleh karena jawabannya kita dapati dari diri sendiri, menjadi perlu untuk terus-terusan ‘berbicara’ dengan guru pribadi. Berbincang dengan diri pribadi secara rutin, terutama saat kita harus mengambil langkah kehidupan. Saat harus ambil keputusan, tak perlu tergesa-gesa. Jika berani dan sudah yakin, ya lakukan saja. Jika masih belum berani dan ragu, tunggu dulu. Perasaan yang ada saat proses pengambilan keputusan biasanya tak nyaman; bahkan ada yang mengalami pergulatan hebat. Namun, sekali lagi, ini bukan masalah nyaman atau tidak. Hal paling penting adalah mengambil langkah yang tepat dengan kesadaran tinggi.

Ada kata-kata, dari seorang pamong terdahulu, yang bisa menjadi bahan untuk termenung sejenak. Lebih kurang seperti ini (jika saya tidak salah tangkap).

yang bener belum tentu pener
yang bener belum tentu pas
yang pas belum tentu nyata

Kata ‘pener‘ sendiri memiliki nuansa sesuatu yang akurat, pas, atau sesuai.

Jika menghadapi sesuatu yang pelik, dengan kadar gundah yang tinggi dan bau-bau galau, ambil waktu untuk jeda yang cukup bagi diri sendiri. Untuk bertanya pada guru pribadi dan akhirnya mendapatkan jawaban “apa langkah yang akan saya ambil sudah pener?”

Akhir Kata

Banyak orang merasa hidupnya ruwet dan rumit. Mungkin karena gaya hidup yang kakean (kebanyakan) gaya. Terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting dan kurang penting. Sibuk dengan urusan yang mungkin tak perlu diurus. Memiliki terlalu banyak kesibukan sehingga kurang waktu untuk Me Time. Bahkan ada yang jalan kehidupannya begitu berliku sehingga tak menikmati kehidupannya. Mungkin saja orang-orang seperti itu menjalani kehidupan seperti sinetron di Negeri +62. Terlalu emosional. Menye-menye. Tidak jelas maunya apa. Keinginannya terlalu banyak seperti Nobita saat meminta ini itu kepada Doraemon. Berambisi ingin mencapai ini dan itu yang tiada habisnya. Hingga akhirnya pengalaman hidupnya menjadi melelahkan. Lelah jiwa dan raga.

Jeda diperlukan untuk diri sendiri. Ada saat untuk Topo Rame, yang menjaga kejernihan rasa dan pikir, di dalam suasana kehidupan jaman sekarang yang penuh hiruk-pikuk. Namun, ada saat-saat tertentu, diri kita perlu kembali ke ‘tempat untuk pulang’. Karena sejauh apa pun kita melakukan suatu perjalanan hidup, kita akan kembali ke suatu tempat yang menjadi awal perjalanan kita. Waktu di mana sebagai pribadi telah menjalani sikluk hidup. Bukan ke mana tujuan kita yang perlu diutamakan, tetapi bagaimana kita mau Nglakoni Urip ini.

Rahayu

20.05.2021

Konflik dan Berduka

Seperti biasa kami bermeditasi di hari Kamis. Juga belajar secuil tentang kehidupan dari pamong kami. Kamis malam itu kami mendapat tuntunan tentang bagaimana menghadapi sesuatu yang berat, yaitu konflik dan berduka.

Konflik Dalam Diri

Apabila kita tidak mengalami bencana, bukankah kita jadi merasa beruntung dan lega? Sekilas terasa seperti itu. Namun kenyataannya tidak begitu.

Orang yang tidak menghadapi masalah yang besar, seperti orang lainnya yang terkena dampaknya secara langsung, bisa jadi timbul konflik di dalam dirinya.

Saat ini banyak orang yang masih ketakutan dengan pandemi yang tak kunjung berakhir. Tetangga, teman, atau orang-orang lain banyak yang terinfeksi coronavirus. Beberapa orang sakit parah, dirawat, dan sembuh. Sedangkan mereka yang tak beruntung, meninggal dunia. Tentunya banyak lagi yang terkena dampak tak langsung; kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, dan hidup serba terbatas.

Ironisnya, ada orang-orang yang kelihatannya tak terpengaruh. Hidupnya baik-baik saja. Masih bisa bekerja seperti biasa. Tapi apakah benar-benar orang-orang ini tak terpengaruh sama sekali?

Nyatanya tetap terpengaruh. Mau tidak mau, kita terpengaruh saat ada berita duka di sana sini. Enerjinya menggoyangkan hati. Kita sepertinya merasa ikut menderita. Bagaimana pun kita terlibat dan terpengaruh sehingga mempengaruhi enerji kita. Ini yang memberikan rasa tak enak. Tak mungkin kita menjadi imun sama sekali dari apa yang terjadi di sekitar kita.

Meditasi Saat Berduka

Banyak orang saat merasakan kesedihan yang sangat pedih merasa kesulitan untuk bermeditasi. Rasanya susah. Memang susah. Meditasi tak selalu memberikan rasa tenang. Meditasi bukan semacam pil ajaib yang bisa menghilangkan duka secara instan.

Ada dua hal yang disarankan. Pertama, mungkin lebih tidak bermeditasi dulu untuk sementara waktu. Memberikan jeda yang cukup bagi diri sendiri untuk mencerna kejadian yang barusan terjadi. Perasaan yang sedih memang rasanya tidak enak. Suka atau tidak suka, perasaan tidak enak itu harus diterima saja. Pikiran dan perasaan masih memprosesnya setelah badai duka menerjang. Harus ada poin bahwa “ini benar-benar terjadi. Ini membuat saya sedih. Saya menerimanya.”

Kedua, meditasi bersama-sama (dengan jemaah) memberikan enerji dan vibrasi yang mendukung. Saling menguatkan. Ada yang sedang berduka, bisa dikuatkan oleh enerji yang ada. Begitu pula yang sedang banyak pikiran, kurang semangat, atau sekadar malas meditasi; bisa mendapat penguatan enerji.

Sebagian orang ada yang merasa kesulitan untuk bermeditasi sendiri. Mereka yang kesulitan bisa terbantu dengan enerji meditasi berjemaah,

Meditasi Tidak Menawarkan Kenyamanan

Banyak orang menganggap bahwa bermeditasi bisa memberikan rasa enak. Mungkin seperti ke spa atau pijat refleksi. Kelar meditasi, bisa rileks.

Sayangnya meditasi tidak seperti itu. Meditasi tidak menawarkan rasa nyaman. Bukan zona anti-masalah. Bukan pula alat untuk menghilangkan masalah.

Meditasi itu melatih diri untuk terlibat. Meditasi itu alat. Bayangkan saja bila ada hujan turun. Bermeditasi tak menjadikan kita waterproof – tak terimbas air. Tetap saja kita basah bila kena hujan. Hanya saja karena kita punya alat ini – bermeditasi, anggap saja seperti payung – maka kita bisa mengurangi dampak hujan. Jadi tak sakit atau masuk angin. Mungkin malah bisa mendapatkan persepsi lain sehingga bisa menikmati hujannya; alih-alih mengutuki hujan tersebut dan mengeluh.

Tentu saja orang bisa merasakan hal yang nyaman dalam dirinya bila dalam meditasinya bisa mengeluarkan apa yang selama ini dipendam, dipertanyakan, dikhawatirkan/ditakutkan dan/atau dipikirkan. Ada yang bisa merasa tubuhnya yang sakitnya mereda karena proses relaksasi yang didapat.

Mendengarkan

Kami mengawali sujud kali ini dengan mendengarkan hal yang paradoks dari pamong kami. Tentang mendengarkan saat bermeditasi. Apakah mendengarkan ini sesuatu kegiatan yang aktif? Apakah sebaliknya ini sesuatu yang sifatnya pasif?

Kemudian berlanjut dengan uraian berikut. Mendengarkan dalam meditasi itu tidak aktif dan juga tidak pasif. Hmm. Maksudnya?

Posisi kita dalam meditasi memang menerima suara. Raga kita diam, tidak melakukan apapun selain mencoba duduk rileks. Namun kita juga aktif mendengarkan. Mendengarkan datangnya “tamu”.

“Tamu” yang dimaksud di sini tak harus sesuatu yang datang dari dalam pikiran sendiri-sendiri. “Tamu” juga bisa dari jemaah (teman meditasi) dan dari luar (lingkungan sekitar kita). Jadi dalam meditasi kita aktif dan pasif secara sekaligus. Kita terlibat.

Kita tidak mengundang “tamu” itu datang. Itu artinya kita tidak dengan sengaja mengundangnya dan seolah-olah menyambut “tamu” itu dan mengolah itu. Bukan itu.

Kita duduk. Rileks. Membuka diri. Dan menyilakan “tamu” itu untuk datang dengan sendirinya. Kita monggokan saja. Kita tidak memilih. Yang muncul adalah yang sebenarnya kita perlukan. Apa yang dominan dalam hati saya – itulah yang akan muncul ke permukaan. “Tamu” itu datang sendiri.

“Tamu” itu bisa berupa teman, bisa juga musuh. Kadang menjadi teman yang ingin mengungkapkan sesuatu kepada diri kita. Kadang juga menjadi seperti musuh, yang datang dengan segala perasaan tak mengenakkan. Apapun itu, ya kita ajak untuk mengobrol.

Positive Thinking

Tidak ada yang salah dengan positive thinking. Itu baik adanya. Hanya saja kita harus berhati-hati dengan itu. Bisa jadi kepleset dan kebablasan.

Semisal saja bila kita terluka (entah tersayat pisau saat memasak atau jatuh saat berolahraga). Kita bisa saja bilang ke diri sendiri (afirmasi) bahwa saya tidak sakit. Diulang-ulang dengan harapan lukanya tak terasa sakit lagi. Hal ini bisa jadi semu. Bisa saja sesuatu yang rasanya sakit seakan hilang, padahal sumber lukanya serius; misalkan ada tulang yang patah atau pendarahan di dalam. Afirmasi seperti itu menjadi hal yang semu.

Hal yang terbaik adalah mengakuinya (acknowledge it). Saya luka dan saya sakit. Itu saja. Tidak perlu mencoba menolaknya.

Begitu pula dengan kejadian lainnya dalam hidup. Afirmasi yang kebablasan bisa berbahaya. Seseorang jadi tidak bisa menimbang dan memahami situasi nyatanya seperti apa. Ini sering terjadi karena rasa berani (braveness) dan rasa takut (fear) bisa muncul berbarengan. Takut tapi sok berani. Merasa berani tapi sebenarnya takut. Justru bisa membingungkan diri sendiri.

Kita tak bisa bilang “don’t worry, everything will be OK”. Semuanya menjadi beres dengan sendirinya? Tentu tidak. Namun bisa diubah menjadi sebuah harapan. Masalah memang benar-benar ada secara nyata, oleh karena itu saya tetap berusaha mengatasinya, ini adalah niatnya. Menyadari, mengupayakan, dan meniatkannya.

Sedangkan apa yang nanti terjadi (hasilnya, konsekuensinya, dampaknya), itu bukan tergantung pada saya sendiri, namun tergantung banyak faktornya. Kita bukan dewa maka kita tak tahu bagaimana nantinya.

Yang biasanya terjadi ada idealisme yang terlalu tinggi atau ekspetasi yang sangat tinggi. Nantinya ini malah bisa membuat seseorang merasa jatuh atau/dan merasa bersalah; bila akhirnya tak mewujudkan apa yang menjadi harapannya yang terlalu tinggi. Orang bisa menyiksa diri, menyalahkan diri, dan/atau tak mencintai dirinya lagi.

Ini setali tiga uang dengan kalimat “saya berusaha semaksimal mungkin“. Kata maksimalnya itu embel-embel yang bisa jadi tidak sehat dan bias. “Semaksimal” itu tak berarti apa-apa. Maksimal, takarannya apa?

“Saya berusaha semaksimal mungkin.” Ini bisa jadi ada orang yang sebetulnya sudah tidak kuat tapi memaksa untuk kuat. Coba bayangkan bila seseorang tak lagi bisa menanggung beban perasaannya lagi. Jebol. Justru kacau. Menjadi masalah lebih besar.

Sebaliknya ada juga orang yang bilang, “Saya sudah tidak kuat.” Padahal sebetulnya masih kuat hanya saja cepat menyerah atau tidak percaya diri. Malah tidak mampu mengatasi masalah yang sebenarnya bisa dia atasi.

Bagaimana pun kita bukan makhluk yang maha kuasa (omnipotent). Tak bisa mengubah banyak hal yang sudah terjadi. Mengatasi ini dan itu secara instan dengan dampak yang besar. Tak seperti itu. Kita, sebagai manusia, bagian kita itu kecil. Kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan dengan porsi kita masing-masing.

Intensi dan aspirasi, but not too much ambition.

Kesimpulannya, positive thinking itu baik hanya saja tetap dalam porsi yang sewajarnya. Tidak kebablasan. Bila kebablasan justru positive thinking memberi sugesti yang sebenarnya tidak kita rasakan. Semu.

Tambahan

Ada dua hal yang saya tangkap namun tak terlalu jelas untuk saat ini. Baik untuk direnungkan.
We meditate when we cannot meditate.
– We take responsibility when it is not our responsibility.

Rahayu

Kamis, 1 April 2021

Persiapan

Kembali lagi kami bermeditasi bersama di hari Kamis ini. Juga belajar kehidupan dari pamong kami. Berikut ini beberapa catatan yang saya bisa tangkap dari tanya jawab setelah meditasi. Semoga migunani.

Persiapan Dalam Meditasi

Dalam proses meditasi, pamong kami mewanti-wanti supaya kami bersiap-siap sebelum mengikuti meditasi. Ya, saya pikir itu hal yang sifatnya teknis. Menyiapkan waktu untuk bermeditasi bersama. Tentu ditambah menyiapkan Zoom karena menggunakan medium tersebut untuk bisa bersama-sama bermeditasi dari rumah masing-masing.

Menyiapkan diri itu ternyata penting. Mempersiapkan pikiran, suasana hati, dan fisik. Malam ini sayangnya saya benar-benar tak mempersiapkan ketiganya. Masih memikirkan urusan ini itu. Suasana hati sedang tidak enak; yang mana artinya hati tidak bersih. Meski sudah menyegarkan diri dengan mandi, tetap saja badan masih lelah dengan kegiatan sejak pagi hingga sore hari.

Alhasil saya merasa hanya duduk-duduk diam saja selama sesi meditasi. Bukan bermeditasi. Setelah meditasi saya juga merasa tak paham benar apa yang ditanyakan dan apa yang menjadi jawabannya. Tak ubahnya penumpang bis yang bingung bisnya sedang mau ke mana dan kapan sampainya. Clueless.

Semuanya karena saya kurang mempersiapkan diri sebelum meditasi bersama. Jadinya saya merasa ambyar meditasinya. Khusus untuk malam ini.

Sebuah poin refleksi. Bila seseorang tak mempersiapkan diri untuk bermeditasi bisa jadi tak sungguh siap dalam menjalani kehidupan tiap harinya. Karena dalam kehidupan sehari-hari – harus kita akui – ada saja waktu-waktu di mana diri kita menjadi goyah tak seimbang karena banyak pikiran, suasana hati tak jernih, dan badan tak fit karena kelelahan.

Dalam hidup di jaman now yang serba cepat, sangat kompetitif, dan lebih kompleks – kondisi pikiran, hati, fisik menjadi lebih cepat lelah. Kadang kita menyadarinya. Kadang kita mengabaikannya.

Oleh karena itu seseorang perlu memberi jeda pada laku kehidupan ini. Tak menghindari hidup yang polanya memang bergerak cepat. Namun juga tak berarti menyerah terhanyut dalam kehidupan yang tanpa henti. Jeda saja sejenak. Kemudian kembali menghadapi dan menghidupi kenyataan.

Bagaimana dengan orang-orang yang tak memberi jeda pada alur kehidupannya?

Bila kita perhatikan di sekitar kita, banyak orang yang terlihat linglung, mudah lupa, dan tak tanggap bila diajak berkomunikasi. Padahal mereka adalah orang-orang yang pandai dan memiliki kapasitas tinggi. Mereka bisa mengalami hal-hal tersebut karena terlalu lelah pikiran, hati, dan fisiknya. Otak menjadi tumpul. Hati mengeras. Fisik melemah.

Mungkin kita juga bisa bertanya pada diri kita. Apakah pernah mendadak pikun? Mungkin juga tidak memahami sesuatu padahal hal itu hal yang mudah? Mungkin di saat itu, kita lupa memberi jeda pada diri kita.

Menyoal Resonansi

Lalu bagaimana bila dalam meditasi tidak merasakan apa-apa? Jawabannya, ya tidak apa-apa. Bila memang diri kita tak siap, ya tetap saja bermeditasi meskipun tak merasakan apapun.

Bila tidak merasakan apapun atau tidak menyaksikan apapun berarti tidak ada resonansi.

Bila ada resonansi, tentu kita bisa merasakan atau menyaksikan (witnessing) sesuatu. Pengalaman yang biasanya sulit diterangkan dengan kata-kata dan sulit dibuktikan. Tapi lebih pada pengalaman yang dirasakan.

Give Up vs Surrender

Ada perbedaan antara keduanya. Give up atau menyerah itu bisa jadi karena beberapa faktor seperti tidak berani, lelah, atau tak punya niatan kuat. Berbeda dengan Surrender atau pasrah yang mana artinya sudah tidak perlu kerja keras atau usaha karena sudah sampai (pada tujuan yang hendak dicapai). Catatan: pasrah bukan berarti tak berbuat apapun.

Yang membedakannya adalah suasana hati mempengaruhi usaha kita. Bila kita sudah berhenti karena sudah sampai (pada yang ingin kita tuju) maka itu sesuatu pengalaman yang indah.

Menyoal Ego

Kita semua punya ego. Ego kita itu kecil. Yang membedakannya dengan egois adalah saat kita berkonsentrasi pada ego kita sendiri. Yang penting tentang ego adalah ada baiknya kita tak memberi terlalu banyak power pada ego tersebut. Makin besar kekuatan yang kita berikan pada ego, makin besar pula ego kita tersebut. Ingatlah kembali bahwa ego itu hanyalah salah satu bagian dari diri kita.

Permainan Kesempurnaan

Manusia ingin menjadi sempurna. Di lain sisi, manusia bukan makhluk yang sempurna. Human being is not meant to be perfect. Mengupayakan menjadi lebih baik itu baik adanya. Ingin menjadi sempurna itu adalah hal yang sia-sia.

Namun itulah yang terjadi. Semuanya selalu memiliki dua sisi koin. Manusia tidak ingin ada dua aspek itu. Inilah yang disebut sebagai Permainan Kesempurnaan.

Oleh karena itu orang dihadapkan pada dilema (yang sering muncul). Seseorang bisa bingung apakah saya harus mengerjakan ini. Atau malah sebaliknya sebaiknya saya lebih baik tak mengerjakannya. Harus dikerjakan atau tidak? Bingung.

Kemudian orang terjebak dalam pikirannya. Terlalu lama berpikir.

Padahal sebenarnya bila memang baik dikerjakan, ya dikerjakan saja. Tak perlu menunggu terlalu lama dan terlalu banyak menimbang-nimbang. Bagaimana pun semuanya memiliki resiko.

Terlalu hati-hati juga membuat kita tidak berbuat apa-apa. Tidak menghasilkan apapun. Padahal biasanya resikonya hanyalah sebatas (menghasilkan) kesalahan. Wajar bila orang melakukan hal yang salah (atau tak benar) karena itulah bumbu kehidupan.

Akhir Kata

Karena tak menyiapkan diri dengan baik akhirnya saya tak benar-benar merasakan apapun selama bermeditasi. Tak ada resonansi. Pun tak menyerap benar pelajaran hidup yang diutarakan oleh pamong kami. Namun justru di titik inilah saya memahami makna kata “persiapan“.

Dan apakah kita sebagai insan manusia sudah siap menghadapi tiap momen dalam kenyataan hidup sehari-hari?

Rahayu

P.S. Next time, sepertinya saya harus mandi sore, ngopi dulu, dan duduk manis dalam sikap hening beberapa menit sebelum sesi meditasi bersama dimulai.

Jujur dengan Diri Sendiri

Seperti biasa kami bersama-sama bermeditasi di hari Kamis sembari belajar tentang kehidupan dari pamong kami. Kamis malam ini kami mendapat tuntunan tentang kejujuran. Juga beberapa hal lain tentang meditasi. Berikut ini poin-poin yang bisa saya tangkap sesuai tingkat asupan gizi saya. Semoga migunani.

Mengapa kejujuran itu tak mudah?

Berlaku jujur itu tidak mudah. Kita sebagai pribadi ingin menjadi manusia sempurna. Itu suatu hal yang wajar. Namun menjadi sempurna itu tidak mungkin karena ciri khas manusia adalah makhluk yang tak sempurna (imperfection). Oleh karena itu hal ini menjadi konflik yang berlangsung terus-menerus dalam hidup manusia.

Tentu kita harus ingat bahwa menjadi manusia utuh itu bukan berarti seseorang harus menjadi manusia yang sempurna. Manusia utuh tidak identik dengan manusia sempurna.

Untuk menjadi manusia utuh itu orang harus mengakui dirinya sendiri dan mengakui pada Sang Pencipta Hidup. Lebih baik lagi bila kita bisa mengakui pada orang lain. Dalam prosesnya mengakui itu dibutuhkan kejujuran. Bila kita sedang malu, ya diakui saja bahwa saya malu. Begitu juga dengan rasa yang lain, entah itu rasa takut, rasa khawatir, rasa benci. Mengakui perasaan yang ada itu wajar karena itu bagian dari manusia. Untuk mengakui diri kita sendiri.

Apakah kita harus jujur terus-menerus?

Ya, tentu saja. Kejujuran harus dilakukan terus-menerus. Berlanjut. Tidak bisa kita jujur hanya bila diperlukan atau dalam kondisi tertentu.

Saat diri kita melakukan hal yang baik tentu kita bisa dan boleh-boleh saja berbangga dengan diri sendiri. Begitu juga bila kita melakukan hal yang jelek maka kita harus mengakuinya kalau itu memang jelek. Ini menjadi poin penting untuk memperbaiki diri sendiri.

Intinya adalah jujur dengan perasaan yang ada, yang kita rasakan. Bila merasa tidak enak, bilang saja tidak enak. Saat merasa takut, akui kita merasa takut. Kita terima dengan apa adanya. Dengan begitu kita bisa lebih mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Menajamkan Perasaan

Kita bisa menganalogikan perasaan itu seperti pisau. Ada perasaan yang tajam. Ada yang tumpul. Ada juga yang berkarat.

Pertanyaannya kenapa bisa ada perasaan yang karatan? Bisa jadi perasaan yang karatan itu timbul karena emosi. Bisa juga karena luka lama atau trauma. Salah satu contohnya, bila rasa kita tak bersih, kita bisa saja menjadi mudah tersinggung.

Meditasi menjadi salah satu cara untuk membersihkan atau menajamkan perasaan. Dengan begitu rasa kita jadi makin bersih, makin sensitif, makin tajam. Menjadi makin tahu mana yang benar. Perasaan menjadi alat yang berfungsi, berguna, dan tajam.

Pun begitu juga dengan pikiran dan badan. Pikiran juga merupakan alat. Bila pikiran kita terlalu penuh maka kita menjadi sulit untuk berkonsentrasi. Setali tiga uang, badan harus dalam kondisi baik dan fit. Sebaliknya badan yang lelah letih tidak bisa digunakan untuk menjalani kehidupan dengan memadai.

Untuk itu orang perlu kejujuran untuk tahu kondisi rasa, pikiran, dan badannya. Meditasi menjadi cara untuk sejenak diam. Sejenak istirahat bagi rasa, pikiran, dan badan. Dengan begitu orang bisa makin kenal dengan dirinya sendiri. Dengan mengenal dirinya sendiri, seseorang mengalami sebuah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang utuh.

Apakah rasa dan intuisi itu sama?

Saat rasa sudah menjadi bersih, rasa akan memiliki kecerdasan lain; selain kecerdasan intelektual. Inilah yang disebut sebagai intuisi. Intuisi itu seperti “tidak berpikir tapi bisa seperti tahu”. Itulah kecerdasan rasa.

Namun intuisi itu mensyaratkan bahwa rasanya harus benar-benar bersih. Bila rasa tidak sungguh-sungguh bersih maka ada resiko yang timbul yaitu ilusi. Di titik ini orang harus bisa membedakan mana yang intuisi dan mana yang ilusi.

Seperti sebuah kejadian orang yang hendak naik pesawat terbang. Orang tersebut tiba-tiba merasakan bahwa pesawat yang hendak dia tumpangi bakal kecelakaan. Orang tersebut merasa bahwa itu adalah intuisi. Benar bahwa itu adalah sebuah rasa. Namun itu bisa jadi rasa takut yang berasal dari emosi. Bisa jadi terpicu karena ada riwayat masa lalunya atau berita kecelakaan pesawat yang barusan orang itu baca. Hal tersebut bisa dibilang ‘kotor’ – tidak jernih. Menjadi suatu ilusi. Orang tersebut tidak benar-benar perasaannya tajam namun “merasa perasaannya tajam”.

Dengan adanya berita online, medsos, chat yang tiap hari dan tiap saat menampilkan banyak berita bencana, pandemi, kecelakaan, dan kriminal – membuat banyak orang merasa khawatir dan takut setiap saat. “Polusi” atau “kotoran” seperti ini membuat rasa menjadi karatan – tak tajam lagi atau tumpul. Orang bisa menjadi penuh emosi dan menjadi mudah membayangkan peristiwa yang fatal dan berbahaya. Orang jadi mudah mendapatkan ilusi. Bukan intuisi.

Tentu orang harus melatih rasa dalam kehidupan sehari-hari. Tapi juga tak perlu dicari-cari selaiknya ingin mencari kesaktian. Kesaktian seperti memprediksi hal-hal yang terjadi di masa depan, meramal, atau tahu sebelum yang lain tahu. Bukan seperti itu. Yang kira cari itu adalah kondisi manusia utuh yang membutuhkan hati yang bersih.

Menyoal Ego dan Egois

Kita bisa mengandaikan bahwa ego itu adalah seorang kusir. Manusia memiliki ego. Menyadari bahwa inilah aku. This is me. Aku ada. Dan eksistensi “aku” itu adalah alami. Tak ada yang salah dengan keberadaan “aku”.

Berbeda dengan egois. Egois itu adalah saat tak seimbang terkait ke-aku-an itu. Egois itu berarti lupa segala-galanya dan hanya mengingat tentang diriku sendiri.

Selama kehidupan manusia, “aku” itu selalu ada.

Yang perlu ditanyakan adalah pertanyaan berikut. Apakah kita kenal dengan aku-nya? Apakah kita berteman dengan aku-nya? Apa aku-nya sehat atau sakit? Aku-nya dalam kondisi utuh atau terpecah-belah?

“Aku” atau I am” itu adalah suatu anugerah. Aku ada dan hidup – yang merupakan pemberian dari Sang Pencipta Hidup. Kita harus mensyukurinya. Ego itu bukan untuk dibunuh, diredam, atau ditiadakan. Selama kita hidup, ego tak mungkin dibunuh, kecuali kita sudah mati.

Sedangkan yang menjadi masalah jikalau kita memaksakan itu ke orang lain. Mendominasi dan mengganggu orang lain. Jadi ada beda antara ego dan egois.

Meditasi adalah salah satu alat untuk sadar dan kenal diri. Begitu juga untuk membersihkan diri. Meditasi bukan cara untuk menghilangkan “aku”. Itu tidak mungkin. Lagipula itu bukan tujuan bermeditasi.

Ada analogi yang pas dari tradisi Jawa. Tentang kereta kencana. Di kereta tersebut ada kusirnya. Kusir itu adalah “aku”. “Aku” belajar untuk mengenali kereta, kuda, dan penumpangnya. Tanpa kusir tersebut, kereta tak mungkin berjalan dengan baik. Untuk itulah kita belajar bagaimana menjalankan kereta kencananya tersebut dengan baik. Berusaha sebaik mungkin untuk menapaki perjalanan yang baik (a good journey).

Menghindari Perasaan Tidak Enak

Menghindari suatu perasaan itu tak berarti mengubah perasaan. Misalnya saja saat kita takut saat menonton film horor kemudian kita mengalihkannya dengan menonton film komedi. Itu disebut menghindari perasaan takut (dan beralih ke perasaan yang lain). Apakah kita masih merasa takut menonton film horor? Ya, tentu masih takut. Itu adalah kenyatannya.

Seperti halnya bila kita takut kemudian kita ingin berlari menjauh. Ya, boleh saja. Tidak ada yang melarang. Menghindari (sesuatu yang menakutkan itu) sah-sah saja. Ada kalanya diri kita tidak siap untuk menghadapi perasaan yang terlalu kuat itu, semisal rasa takut yang sangat.

Namun kita jangan membohongi diri. Mencoba bilang ke diri sendiri kalau itu sebenarnya tidak menakutkan padahal merasa sangat takut. Karena bagaimana pun juga perasaan tersebut akan kembali lagi.

Kita menghindari sesuatu yang terlalu berat. Kemudian setelah kita merasa lebih baik, kita bisa kembali lagi ke perasaan itu. Visiting. Misalnya saja seperti kesedihan yang sangat atau trauma yang begitu mendalam seperti berkabung, cerai, kehilangan harta benda, terkena bencana alam, atau mengalami kejadian yang berat.

Tentu hal-hal seperti itu tak bisa begitu saja selesai. Biasanya orang lari dari hal-hal yang teramat berat. Kemudian mencoba menghibur diri. Dengan begitu perasaan yang terlalu kuat itu tak terlalu mendominasi. Bila dirasa sudah fit atau lebih kuat, ya kita bisa kembali ke rasa itu. Demikian terus-menerus hingga secara pelan-pelan penyembuhannya datang.

Dalam proses penyembuhan, kejujuran itu penting. Orang harus bisa menakar diri sendiri seberapa kekuatannya. Tak perlu memaksakan diri bila tak kuat. Harus tahu diri. Sadar diri.

Tentang Menerima Diri Sendiri

Kita tak sebaiknya menuntun diri sendiri menjadi orang yang lain. Orang yang harus berubah seperti ini atau seperti itu. Menerima saja dan menikmatinya tanpa terlalu menilai. Sebab ini adalah my journey – perjalanan hidup saya. Terima diri sendiri as perfect as you are. Pertanyaan yang muncul adalah “kenapa harus berbeda?”

Melabeli vs Menghakimi (Menilai)

Apakah melabeli dan menghakimi (menilai) itu sama? Tentu tidak. Melabeli itu membuat definisi. Sedangkan menilai itu lebih dari sekedar melabeli.

Label itu netral. Laiknya label harga. Definisi yang menyatakan suatu barang tersebut. Sedangkan bila kita tiba-tiba berpikir “oh itu murah atau mahal”, itu adalah menilai karena kita sudah menambahkan sesuatu “embel-embel” sesuai perspektif kita masing-masing.

Contoh mudahnya – saat kita sudah memberi penilaian pada suatu hal – yaitu saat kita membilang, “kursinya bagus”, “marah itu tak baik”, “makanannya ngga enak”.

Gangguan dalam Meditasi

Apakah Anda pernah terganggu saat melakukan meditasi? Pernah. Tentu saja semua pernah mengalaminya. Dua hal yang mengganggu itu adalah emosi dan pikiran.

Bayangkan saat Sang Buddha sedang bermeditasi dan diganggu oleh kedatangan para bidadari nan cantik jelita yang berusaha menggoda Sang Buddha. Sulit ditolak. Bahkan mati-matian bagaimana caranya supaya tetap tahan godaan.

Pun seperti kita saat meditasi. Bidadari itu adalah simbol dari hal-hal nyata seperti pikiran akan rencana di masa datang, rasa yang tak senang dan negatif, atau laiknya monyet yang berloncatan kesana-kemari tanpa arah di dalam benak kita.

Lalu bagaimana menghadapi bidadari tersebut? Ya, kita ujarkan saja dulu. Tak perlu buru-buru meredam mereka atau berusaha menghilangkannya. Godaan itu akan selalu ada selama hidup kita. Apakah ada cara melatih supaya tahan godaan? Ada. Yaitu dengan berlatih Topo Ngrame.

Topo Ngrame

Salah satu hal yang khas dari meditasi yang kami ikuti adalah Topo Ngrame. Bermeditasi dalam keramaian bersama banyak orang. Bukan sejenis meditasi yang dilakukan di tempat sunyi sepi nir-gangguan seperti di gua, di hutan, atau di pantai.

Ada baiknya berlatih meditasi di tempat yang nyata. Tempat sehari-hari kita menjalankan kehidupan kita. Yang jelas memiliki banyak godaan. Menariknya, dari semua godaan yang ada saat bermeditasi, godaan terbesar justru pikiran yang muncul di kepala kita sendiri.

Dalam bermeditasi diperlukan kesabaran dalam mengikuti prosesnya. Dalam meditasi model yang kita pakai, kita tidak memimpin prosesnya atau dipimpin oleh orang lain. Dalam proses meditasi ini kita membutuhkan energi tuntunan; yang membuat kita mampu beresonansi dengan orang lain yang ikut dalam meditasi bersama.

Resonansi dalam bermeditasi

Saat kita melakukan meditasi bersama banyak orang – topo ngrame – tentu saja ada kemungkinan diri kita beresonansi dengan orang lainnya. Ada waktunya bisa selaras dengan resonansi yang lain. Kadang juga tidak. Bagaimana kalau tidak? Ya, tidak masalah. Oleh karena itu bila ada yang cocok, ambil dan resapi. Bila tidak cocok, diabaikan saja. Dalam meditasi topo ngrame memang pamong itu momong yang bertugas mengantarkan saja. Bukan sebagai guru.

Kemudian ada pertanyaan. Apa yang terjadi saat atau sesudah meditasi? Biasanya yang terjadi adalah pembersihan. Pembersihan hati dan pikiran. Dalam meditasi, allow yourself to enjoy it. Beri kesempatan untuk diri sendiri menikmati prosesnya. Kita sebaiknya menghindari untuk memaksakan atau mengatur prosesnya. Energi tuntunan akan menunjukkannya pada kita dalam keheningan.

Catatan Kecil

  • Angen-angen (mind) adalah kemampuan pikir manusia. Produknya adalah pikiran (thought).
  • Tiga alat utama manusia itu adalah “rasa” (hati), “raga” (tubuh), dan “angan-angan” (pikiran) – yang disebut sebagai Trimukti.

Rahayu

4 Februari 2021

Meditasi dan Pasrah

Sebagian besar orang meyakini bahwa meditasi itu cara supaya bisa mengosongkan pikiran. Orang berpikir dengan pikiran yang kosong – dari segala urusan duniawi dan beragam masalah – rasanya damai dan menyenangkan.

Namun meditasi bukanlah sebuah escapism. Lari dari kenyataan hidup – yang sedang rumit, pahit atau bergejolak. Meditasi berbeda 180 derajat dengan menonton film yang seru, merokok atau narkotika – sesuatu yang “menyenangkan” untuk “membius” rasa negatif yang ingin didiamkan untuk sementara waktu.

Seorang kawan lama bahkan menceritakan pada saya bahwa dia lebih memilih bekerja dari pagi hingga malam supaya tak sempat merasakan sedih karena relasi yang buruk dengan keluarga dan rumah yang tak lagi nyaman untuk ditinggali. Di titik tersebut bekerja – atau berlama-lama di tempat kerja – membuatnya bisa “membius” rasa gerah dan lelah rasa yang dialaminya bertahun-tahun; tanpa ada solusi dan rekonsiliasi dalam jangka dekat.

Meditasi malah bisa memberikan rasa tidak enak. Tidak nyaman. Bila ada kemarahan yang dipendam, kemarahan bisa terasa menyala-nyala membakar panas saat meditasi. Kenapa? Karena meditasi sebenarnya mempertajam rasa yang ada pada kita. Rasa yang mungkin tidak kita sadari karena kita sibuk berpikir atau beraktivitas. Belum lagi bila kita disibukkan dengan tuntutan pekerjaan atau medsos/hiburan.

Bahkan ada pula yang saat bermeditasi seketika ada luka batin di masa lalu – yang mungkin telah lupa tapi belum tersembuhkan – muncul lagi. Terasa lagi. Perih. Pedih. Namun ada baiknya luka lama digali kembali dan dicari akar masalahnya. Dicoba untuk mengatasi dan syukur bila bisa mencapai tahap menyembuhkan diri.

Meditasi tak selalu memunculkan rasa negatif. Bisa pula rasa membuncah mengingat suatu momen yang membahagiakan; yang tentunya patut disyukuri. Lebih baik pula bisa bisa mengulang rasa bahagia itu di saat sekarang atau di masa depan.

Dengan mengenali rasa yang kita benar-benar rasakan, orang memberi kesempatan pada dirinya untuk mengenali dirinya. Mengenali apa yang dirasakan saat ini.

Perlu diingat bahwa meditasi ini adalah meditasi kesadaran. Kita ingin benar-benar mengenali diri kita melalui meditasi sebagai alatnya.

Selain itu meditasi menjadi salah satu cara untuk Sowan Gusti. Vertikal ke atas. Sikap meditasi adalah pasrah. Sikap pasrah ini memudahkan insan manusia untuk mendekatkan diri ke Gusti. Uniknya saat kita mendekati Tuhan satu langkah di saat itulah Tuhan mendekati kita dua langkah. Menjadi makin dekat karena sebagai pribadi kita memang menginginkan pertemuan dengan Gusti.

Sikap berpasrah – bukan menyerah kalah lho ya – bukan hal yang mudah. Kebanyakan orang di jaman now merasa mampu mengatasi segala permasalahan kehidupan. Entah itu terlalu pede atau memang pede. Pasrah di sini lebih pas dimaknai sebagai menyerahkan diri pada Gusti.

Omong-omong tentang mengosongkan, kosong bukan berarti tidak ada apa-apa. Kosong atau Suwung tapi ada. Lalu apa yang akan mengisinya kita serahkan pada rasa pasrah diri. Syukur bila akhirnya kita bisa terkoneksi dengan Gusti. Bila tidak, ya tidak apa-apa. Kita biarkan energi tuntunan yang menuntun kita. Tak perlu diatur-atur. Tak perlu dipaksakan. Tak perlu merasa harus berhasil atau tidak. Pelan-pelan pasrah. Ada yang bisa mendadak terkoneksi dengan Gusti. Ada juga yang membutuhkan proses yang lebih panjang.

Meditasi juga memberikan kesempatan bagi diri kita untuk tidak mengontrol – setiap saat – diri kita. Ada kalanya seseorang tak nyaman bermeditasi karena pikirannya terlalu aktif. Meloncat-loncat. Tak tenang laiknya air yang beriak atau bergelombang. Namun bila seseorang tersebut sudah mencapai titik pasrahnya bisa jadi pikirannya menjadi tenang. Bahkan bisa jadi malah tertidur karena efek rileks yang menenangkan. Syukuri saja. Ada perasaan lepas dari keinginan mengontrol diri yang berlebihan.

Namun begitu meditasi juga bukan salah satu cara untuk mendapatkan rasa mengantuk yang nyaman. Tentu kebiasaan meditasi – dalam jangka panjang – bisa membuat seseorang bisa menjadi lebih tenang hidupnya dan tak punya kesulitan untuk tidur. Namun meditasi – sekali lagi – bukan jalan pintas untuk tidur. Meditasi adalah jalan untuk menjadi sadar diri – awareness.

Jadi bila dalam meditasi lalu tertidur ya disyukuri saja. Rasa mengantuk bisa jadi sinyal bahwa keinginan diri untuk mengontrol pikiran berkurang. Melepaskan. Rileks. Terutama banyak orang yang curhat bahwa di jaman now itu mau tidur saja susah hingga ada orang yang harus minum obat tidur supaya bisa tidur.

Meditasi membuat kita bisa pelan-pelan tertuntun menuju rasa pasrah. Mencapai kekosongan diri. Hingga akhirnya bisa terhubung vertikal dengan Sang Pencipta. Sowan Gusti.

Setelah itu bagaimana? Biarkan saja Gusti menuntun diri kita dalam perjalanan hidup ini. Pasrah.

Rahayu…

Let It Go

“Let it go” adalah hal yang mudah dikatakan. Lepaskan. Biarkan berlalu. Namun pada kenyataannya tak seperti itu.

Kita hidup dalam kehidupan masa kini yang sibuk. Sibuk dengan pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Sibuk dengan urusan kehidupan. Sibuk dengan protokol kesehatan dalam masa pandemi. Sibuk menjadi warna yang menonjol dalam hidup saat ini.

Dalam kesempatan meditasi malam ini pamong – seperti biasanya – menuntun kami supaya memberikan jeda pada diri sendiri dengan rileksasi. Mengistirahatkan diri dari beban pikiran.

Pikiran yang datang dan pergi tak harus diusir saat meditasi. Tak perlu dikekang. Biarkan saja. Hingga akhirnya ketenangan datang saat waktunya tiba.

Saat pikiran dan perasaan terasa tenang. Kita menjadi lebih mudah untuk berpasrah. Surrender. Pada Sang Pencipta.

Dan saat seseorang merasakan titik di mana tak bisa melakukan apa-apa lagi atau memikirkan sesuatu, justru Gift – dari Sang Pencipta – kita terima atau rasakan. Gift itu mungkin bisa berupa jawaban, pemahaman, kurnia. Sesuatu yang mungkin tak langsung kita pahami namun sesuatu yang kita terima sebagai Berkah. Pasrah menjadi jalan untuk menerima Berkah.

Pada saat itulah Let It Go berproses.

let it go

Bukan berarti lalu masalah hilang. Kesulitan hidup mendadak raib. Rasa kecewa atau khawatir tak lagi dirasakan. Bukan. Bukan seperti itu.

Dengan Let It Go, sesuatu yang terasa berat menjadi terasa lain. Menjadi lain karena perspektif yang berbeda. Bisa jadi karena acceptance – penerimaan akan sesuatu. Hidup terasa ringan.

Dan kehidupan tetap sibuk. Namun dijalani dan dialami dengan rasa yang berbeda. Rasa yang terasa nyaman dan ringan.

Saat meditasi selesai, kita kembali ke ritme kehidupan yang sama. Namun dengan kesadaran yang lebih baik. Menjalani kehidupan dengan tuntunan ke arah yang lebih berarti. Meaningful. Tak hanya sibuk berlari dan kelelahan tanpa bisa menikmati kehidupan.

Rahayu, rahayu, rahayu…

Catatan. Meditasi tak perlu dipaksakan. Lakukan bila terasa ingin melakukannya. Bahkan bila merasa ‘gagal’ saat meditasi, entah karena tak bisa ‘masuk’ atau kehilangan konsentrasi, tak perlu merasa tak nyaman atau ilfil. Biarkan saja. Berusaha untuk melepaskannya. Just let it go.

Banyak Pikiran Saat Meditasi

Beberapa teman meditasi membilang satu hal yang kerap terjadi waktu meditasi. Saat di tengah sesi meditasi, kok, malah sepertinya banyak pikiran yang datang.

Benarkah seperti itu?

Menurut pamong yang menuntun meditasi kami, beliau menyampaikan bahwa otak kita itu memang tiap saat bekerja. Yaitu berpikir. 24 jam. Tanpa henti.

Apa yang terjadi adalah saat sunyi di tengah meditasi maka seseorang jadi lebih menyadari dirinya sedang berpikir. Hal yang lumrah. Bukan karena sedang banyak pikiran.

Aneh tapi nyata. Banyak orang tak menyadari pikirannya sedang berputar. Namun karena rutinitas sehar-hari, tak disadari, otaknya sedang berpikir.

Justru baik-baik saja dan alami untuk menyadari otak sedang berpikir.

Mengistirahatkan tubuh memang mudah. Tak bergerak. Untuk sementara waktu. Tubuh bisa kita atur supaya rileks.

Tak demikian dengan otak yang selalu berpikir.

Justru dengan menjalankan meditasi, seseorang bisa sadar akan keberadaan pikiran-pikirannya. Tak perlu ditolak saat pikiran datang. Biarkan saja. Ikuti.

Dalam meditasi, seseorang haruslah seperti cangkir kosong. Menyiapkan diri kita untuk menerima enerji Ilahi dari Sang Pencipta.

Bila kondisi pikiran dan tubuh seseorang sudah siap, bisa selaras untuk menerima enerji yang menghidupi jiwa raga. Memberikan kesempatan lebih baik untuk mencapai titik kesadaran yang lebih tinggi.

Membatasi Diri

Seorang bijak memberikan wejangan untuk saya dalam sebuah sesi meditasi. Sederhana pesannya. Beliau ‘membaca’ saya bahwasannya saya seperti membatasi diri.

Awalnya saya tak paham benar apa yang beliau sampaikan. Setelah mencoba mencernanya, saya menyadari sesuatu yang ada dalam diri saya.

Sebenarnya saya memiliki kemampuan dalam beberapa hal namun menahan diri. Kurang berani. Tidak membebaskan diri saya. Kurang los. Meskipun ada greget.

Saya berpikir. Mungkin karena saya takut. Takut bahwa sesuatu itu beresiko. Takut kehilangan. Takut perubahan. Takut keluar dari zona nyaman. Padahal hidup sendiri penuh resiko. Untuk apa takut?

Benar juga. Bila bisa mengerahkan 100% kemampuan. Kenapa saya hanya, katakanlah, mengeluarkan 50% atau kurang dari kapasitas saya.

Mungkin saya punya sifat yang gampang pesimis. Bisa juga agak paranoid. Terlalu berhati-hati. Dikombinasikan dengan malas gerak. Nah. Komplit, kan?

Baiklah. Sebuah cermin dihadapkan di depan muka saya. Sudah saya pahami. Untuk kemudian saya proses. Supaya menjadi pribadi yang bisa bilang, “gas poll!

Sibuk Berpikir dan Meditasi

Photo by Prasanth Inturi on Pexels.com

Saat mengikuti salah satu komunitas meditasi. Saya mendapati bahwa beberapa teman meditasi sering berbagi pengalaman bahwa pikiran mereka sering meloncat-loncat. Terlalu aktif. Banyak pikiran. Menyulitkan untuk masuk dalam keheningan. Saya juga demikian.

Tak bisa dipungkiri kehidupan modern memang kompleks. Ada banyak aspek kehidupan. Belajar. Bekerja. Berkomunitas. Cicilan ini itu. Keinginan yang terlalu banyak. Beragam kewajiban. Pajak. Belum lagi ramenya sosial media. Hiburan bermacam-macam. Hidup ini begitu menjadi terlalu berwarna. Dengan irama tempo tinggi yang seakan tak pernah punya jeda.

Dengan begitu ‘ramenya’ pikiran dari pagi hingga malam, hal ini menjadikan saat teduh dan saat hening menjadi sesuatu yang begitu berharga sekaligus sulit dicapai.

Namun betapa sulitnya mencapai keheningan, meditasi adalah jawaban untuk beristirahat sejenak bagi pikiran. Dengan berlatih mendapatkan ketenangan pikiran, membuat pikiran menjadi seimbang dan sehat.

Bila tak pernah mengistirahatkan pikiran, justru membenani pikiran. Otak menjadi terlalu lelah. Bahkan tak jarang membuat seseorang menjadi gampang patah semangat, tersulut emosinya hingga tak lagi berhasrat untuk hidup.

Berilah waktu untuk berpikir. Berilah waktu untuk berada dalam keheningan. Merasakan diri menyatu dengan alam semesta.

Rahayu, rahayu, rahayu…