Perpustakaan Megah

Perpustakaan memiliki nilainya dari banyaknya kumpulan buku yang dikoleksi. Makin banyak, makin bernilai. Tak hanya ribuan buku. Perpustakaan megah nan modern bisa menampung jutaan buku. Luas biasa, bukan?

Pertanyaan yang muncul, apakah masih relevan untuk mendirikan satu atau dua perpustakaan super besar di suatu kota?

Tergantung siapa yang akan menjawabnya. Kaum akademisi tentu akan mengamininya. Begitu pula para pejabat suatu daerah yang bakal bangga bila bisa memberikan layanan perpustakaan yang “wah”.

Padahal di satu sisi, biaya dan usaha untuk mendirikan satu perpustakaan super besar bisa dialokasikan untuk memberikan perpustakaan kecil di banyak bagian kota. Bahkan kalau perlu, biayanya bisa digunakan untuk mengadakan perpustakaan keliling dengan mobilitas tinggi sehingga makin banyak warganya yang bisa mengakses buku-buku yang menambah wawasan.

Gambar dari Tribunnews.

Gambar dari Tribunnews.

Saya lebih mendukung gerakan di mana distribusi perpustakaan tersebar secara merata. Justru daerah pinggiran kota perlu mendapatkan perhatian karena akses ke sumber wawasan terbatas. Berbeda dengan penduduk di pusat kota yang sudah memiliki akses dengan buku-buku di berbagai perpustakaan di tengah kota; seperti perpustakaan instansi atau universitas.

Perpustakaan megah itu seperti menara atau tugu. Berdiri megah untuk dikagumi. Sentralisasi sumber buku sudah kuno dan kurang relevan. Desentralisasi justru menjadi kunci supaya semua lapisan masyarakat mendapatkan akses sumber pengetahuan yang sama. Dengan demikian keadilan sosial akan mudah dicapai.

Perpustakaan Termodern Dunia, di Indonesia?

Salut. Itulah kesan pertama saat membaca artikel berita Indonesia Bakal Miliki Perpustakaan Termodern di Dunia. Boleh juga idenya. Terlebih perpustakaan tersebut dikelola oleh salah satu universitas tertua di Indonesia.

Sangsi. Terlintas di benak berapa banyak orang yang bisa menikmati koleksi buku-buku di universitas tersebut. Bukankah dengan dana sebesar itu akan lebih bijak membangun ribuan perpustakaan skala kecil dan menengah dibanding membangun perpustakaan terpusat. Bukankah manfaatnya lebih terasa secara merata. Boleh jadi, ini sejenis proyek mercusuar.

Memunyai perpustakaan termodern di dunia bukan berarti tingkat baca di Indonesia lalu meningkat, terutama yang di pelosok negeri. Boleh dibilang kualitas perpustakaan sekolah dan milik pemerintah daerah pun masih kalah jauh dibanding perpustakaan negara-negara tetangga yang sama-sama berlabel negara berkembang.

Lagipula ke depan, distribusi informasi termasuk konten buku, majalah dan jurnal lebih mudah didistribusikan dan dicerna melalui teknologi digital. Media yang tercetak di kertas sepertinya akan menjadi uzur. 

Bukan, bukan bangunan yang modern atau megah. Justru yang penting adalah bagaimana caranya agar makin banyak anak bangsa yang melek baca. Kemudian melangkah ke tahap berikutnya, menjadi mereka yang bisa menulis, membagi ilmu, opini dan ide.

Perpustakaan Umum

Saya mengagumi perpustakaan. Tempat di mana buku dipajang berjejer-jejer menanti untuk dibaca. Bila tertarik, bisa dipinjam. Dibaca di rumah. Setelah selesai lalu dikembalikan.

Bahkan, dulu waktu duduk di bangku sekolah dan kuliah, saya betah berlama-lama di sana. Membaca relatif gratis dan banyak variasinya. Lagipula, tak ada cukup uang untuk membeli buku.

Berbeda dengan perpustakaan negeri yang tak teratur dan menurunkan minat baca. Malahan lebih enak menyerap rajutan kata yang tertulis di buku yang terpampang di rak-rak toko buku. Membaca di tempat dengan berdiri karena memang tak disediakan kursi.

Dan salah satu impian saya adalah menyediakan tempat baca untuk umum yang gratis. Untuk mereka yang tak memiliki akses ke perpustakaan yang bagus sekaligus tak cukup pundi-pundi untuk ditukar dengan buku.

Masih di awang-awang. Hanya saja, tak disengaja siang ini impian lama tersebut bangkit  kembali kala ada teman yang memiliki keinginan yang sama. Ada kata, ada rencana. Meski belum terwujud sama sekali, namun senang bertemu mereka yang memiliki impian yang sama. Semoga tak hanya menjadi mimpi siang bolong yang menguap bersama sepoi-sepoi angin dan ditelan sang kala.