Sepeda Tandem

Idealnya sebuah hubungan antar pria dan perempuan itu seperti sepasang pesepeda yang naik sepeda tandem.

Genjot bareng atau bergantian; dengan berirama. Satu tujuan yang sama. Satu di depan untuk menetapkan arah sementara yang di belakang percaya dengan pasangan bersepedanya. Saling berkontribusi. Sama-sama menikmati perjalanan. Sama-sama lelah. Sama-sama senang.

Bukan, bukan Bahagia yang menjadi tujuan akhirnya. Justru Bahagia adalah suasana yang bisa dirasakan dan dibagikan bersama sepanjang perjalanan. Bahagia bisa dialami sejak awal bersama menggenjot bersepeda. Bukan tujuan dari perjalanan.

Filosofi sepeda tandem ini 11/12 dengan peran Pilot dan Kopilot. Kerja bersama untuk tujuan yang sama.

Hidup itu Seperti Naik Sepeda

Saya lupa dari mana pepatah itu berasal. Pastilah orang bijak yang sudah banyak makan garam.

Laiknya naik sepeda, harus terus mengayuh untuk bisa menggerakkan sepeda ke depan. Makin cepat mengayuh, makin cepat lajunya. Sebaliknya, sepeda menjadi berjalan pelan bila dikayuh pelan-pelan.

Namun penting untuk selalu mengayuh. Tak peduli berapa cepat atau pelan mengayuhnya. Bila sepeda menjadi terlalu pelan, tentu momentumnya hilang. Sepeda pun berhenti. Tak lagi bisa berdiri stabil sepedanya dan satu atau dua kaki menyangganya.

Saat berhenti, mungkin karena lelah, butuh tenaga ekstra untuk memulai kayuhan awal yang menggerakkan sepeda dari posisinya yang statis. Seperti memulai sesuatu dari awal lagi.

Namun bila naik sepeda tanpa henti tentu berbahaya. Lelah yang sangat bisa mengaburkan pandangan, membuat kayuhan tak lagi seirama dan kehilangan kesadaran. Bila lelah tapi tak segera berhenti untuk jeda beristirahat, bisa jadi pesepeda akan terjatuh dari sepedanya. Pesepeda bisa terluka, sepedanya bisa rusak. Pesepeda harus tahu kapan bisa terus lanjut dan kapan berhenti sejenak.

Pesepeda juga harus tahu arah tujuannya dan melewati jalan mana saja. Kadang harus menempuh resiko dengan menyusuri jalanan yang ramai. Sesekali hoki karena jalanan menurun sehingga tetap bisa stabil melaju sekaligus menghemat tenaga.

Namun tak peduli betapa berat dan ringan perjalanannya, pesepeda harus memberikan waktu untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya. Merasakan hembusan angin. Bertemu dengan pesepeda yang lain. Berjuang tetap mengayuh sembari mengalami perjalanannya dengan kesadaran penuh.

Bersepeda tak melulu tentang destinasi yang hendak dituju. Justru nikmatnya bersepeda itu dari menjalani prosesnya. Mengayuh sepeda. Dengan semangat. Dengan tujuan yang pasti. Dengan segenap hati.

Naik Sepeda

Bersepeda. Gowes. Baru saja menjadi fenomena. Mungkin karena jenuh setelah beberapa minggu #dirumahsaja, mendadak banyak orang jadi suka naik sepeda. Bagi mereka yang tak punya sepeda, tetiba tanpa banyak dipikir langsung membeli sepeda. Beberapa orang ada yang menyewa sepeda.

Begitu banyaknya orang yang bersepeda di jalanan yang relatif sepi karena pembatasan gerak memang menjadi keprihatinan. Pertama karena penyebaran virus corona masih terjadi, masih memakan korban. Kedua karena banyak orang yang mengabaikan aturan berlalu-lintas dan tidak menjaga kesehatan. Ada yang tabrakan dan ada juga yang meregang nyawa karena memang terlalu memaksakan diri untuk bersepeda setelah lama tidak berolahraga.

Namun ada kegembiraan bagi para pedagang sepeda. Jualannya laris-manis. Stok sepeda habis. Suku cadang harganya naik padahal sebelumnya sepi. Tentu mereka yang bergerak dalam bidang servis sepeda juga laku jasanya.

Namanya saja fenomena. Setelah gosong dan capai naik sepeda. Pekerjaan menjadi normal di masa kewajaran baru (new normal). Ada tuntutan untuk menyelesaikan banyak urusan dalam hidup. Biasanya fenomena seperti ini akan menyusut dengan sendirinya. Hanya mereka yang benar-benar suka bersepeda yang akan tetap naik sepeda.

Tentang sepeda, saya jadi ingat lagu yang asyik tentang moda transportasi ramah lingkungan ini. Sebuah lagu yang dilantunkan oleh Queen yaitu Bicycle Race.