New Normal atau Second Wave?

Saya tak habis pikir mengapa orang berpikir bahwa akhir minggu ini saat yang tepat untuk bersepeda dan melakukan rekreasi di tempat publik. Ini memang awal bulan Juni. Padahal menurut pengumuman pemerintah daerah di Jogja, saat ini masih berlaku situasi tanggap darurat. Intinya penyebaran Covid-19 masih terjadi, yang terpapar pun bisa jadi tetap bertambah.

Terpantau ada begitu banyak orang menggowes dan jogging di tempat terbuka yang tragisnya ramai dikunjungi orang. Di Jogja begitu banyak orang yang membawa diri atau sepeda mereka di Titik Nol, Candi Sambisari, Jalan Kaliurang, dan tempat-tempat lainnya.

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya.

Mereka sedang menyambut new normal atau second wave?

Baiklah jika nyatanya tak ada lagi penyebaran corona virus secara masif. Tetap ada yang tertular satu dua. Menjadi pas dengan situasi yang disebut new normal.

180 derajat situasinya bila setelah akhir pekan ini malah ada peningkatan drastis jumlah orang yang reaktif Covid-19 dan akhirnya berbondong-bondong masuk rumah sakit. Belum lagi bila yang terpapar akhirnya sakit parah dan meninggal. Tak lagi bisa disebut new normal. Yang ada justru second wave. Corona virus meruak lagi sehingga makin banyak yang tertular.

Bila ‘gelombang kedua’ datang maka akibatnya pemerintah daerah bisa melakukan PSBB. Alhasil perkantoran, sekolah dan tempat usaha menjadi tutup kembali. Tak lagi bisa buka seperti masa normal sebelum Covid-19.

Meski saya tahu PSBB akan berdampak buruk bagi perekonomian Jojga – kota di mana saya lahir dan tinggal – namun saya kira lebih baik PSBB dilaksanakan sehingga penyebaran corona virus bisa dikendalikan lagi.

Soalnya disiplin masyarakat masih rendah. Menyepelekan corona virus hanya karena jumlah penyebarannya relatif minimal dibandingkan kota-kota lain yang sudah melakukan PSBB.

Makanya bila ada yang ngeyel bisa diberitahu supaya #dirumahsaja dan #jagajarak.