Lagu Kritik Untuk Kota Yogya

Kota Yogya merupakan kota yang dikenal sebagai kota budaya. Ada sekian banyak budayawan lahir, tinggal, besar di kota ini. Para budayawan terkenal kritis terhadap berbagai segi kehidupan.

Kritik pun disampaikan oleh budayawan dengan apik dan tetap santun. Salah satunya melalui lagu yang berisi kritikan. Seperti lagu berjudul Jogja (harus) Tetaplah Sederhana di atas. Iramanya sederhana, liriknya jujur apa adanya dan video musiknya menampilkan wajah kota yang sudah mulai berubah; persis seperti apa yang disampaikan di liriknya.

Semoga kritik seperti ini didengar oleh pemangku dan pejabat Kota Yogya. Tindakan untuk memperbaiki dilakukan sehingga kota budaya, kota pelajar dan kota yang nyaman ini tetap menjadi kota yang dinamis namun tetap sederhana.

Jogja Istimewa

Ketika sebuah kota mengganti logo dan slogannya tentu tak sekedar ganti tampilan. Ada pemaknaan di balik logo dan slogan tersebut. Begitu juga Kota Yogyakarta dengan branding terbarunya. Jogja Istimewa.

Jogja selalu istimewa bagi banyak orang. Kota budaya, kota pendidikan dan kota yang unik. Cuma saya sendiri agak sangsi dengan keistimewaan kota ini yang tergerus waktu. Yang saya rasakan istimewa pada jaman dahulu sekarang tak lagi spesial.

Mungkin kuliner di kota ini masih istimewa meskipun harganya menyesuaikan dengan tingkat inflasi. Bila dulunya banyak warung makan dan angkringan, kini berganti menjadi restoran dan kafe.

Sedangkan transportasi yang diwakili oleh sepeda onthel, becak dan andong sudah makin jarang. Sepeda menjadi sepeda motor yang jumlahnya kian banyak. Becak sudah bermotor. Sedangkan andong masih ada tapi kebanyakan untuk turis. Yang belum tersedia dengan memadai adalah angkutan umum masal yang berkualitas dan cukup secara kuantitas.

Budaya? Mungkin sudah mulai terganti dengan budaya individualistis. Tentu saja masih ada kultur gotong royong yang masih banyak ditemui di daerah pinggiran dan pedesaan. Untungnya di Yogya, orang-orang masih suka ngobrol, berdiskusi dan bercanda.

Yang luar biasa, tapi tak istimewa, adalah munculnya bangunan bertingkat yang berukuran besar. Hotel berbintang, pusat perbelanjaan dan rangkaian supermarket kecil hingga menengah di banyak tempat.

Begitu pula dengan mobil dan sepeda motor yang berjejer, baik rapi atau sembarang, di banyak tepian jalan dan trotoar. Sayang sekali karena parkir yang meluber di mana-mana ini susah diatur dan menyempitkan badan jalan. Alhasil jalanan menjadi padat merayap di sore dan malam hari.

Yang terakhir adalah susahnya menemukan angle yang pas untuk memotret street art photography di jalanan kota ini. Sebabnya ada begitu banyak iklan luar ruang yang memenuhi landscape kota. Iklan rokok, reklame properti dan promosi beragam makanan.

Ada banyak hal yang harus diperbaiki, diselaraskan dan dipikirulang sehingga kota ini bisa tetap menjaga keistimewaannya. Mumpung masih istimewa maka harus ada kerja bersama untuk mengembangkan kota ini tanpa harus kehilangan jiwa dan roh yang menggerakkan kota penuh memori ini.

Jogja Istimewa. Ada benarnya. Masih istimewa. Namun perlu kerja keras untuk membuatnya tetap spesial.

Lagu Yogyakarta dari KLa Project

Ada beberapa lagu yang menurut saya berkesan dan membuat merinding saat mendengarnya. Salah satunya adalah lantunan tembang dari KLa Project berjudul ‘Yogyakarta’. 

Lagu yang bisa dikatakan lagu wajib Kota Yogyakarta ini memang sangat sering dilantunkan oleh banyak pemusik dan pengamen di kota yang terkenal akan Gudeg, pendidikan dan budaya ini. 

Sebagai orang Yogya yang lahir dan menghabiskan banyak tahun di kota ini lagu Yogyakarta ini memang sangat berkesan. Lirik lagunya gambarkan apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari di kota ini. Iramanya mendayu enak didengar. Begitu mulai dimainkan alunan nadanya langsung terasa catchy. Satu hal yang terlintas di lagu ini yaitu suasana Yogya. Yang dirindukan oleh orang Yogya dan orang yang mengunjungi kota ini. 

Kemarin pun saat saya sedang mengudap Bakmi Pele (Raharjo) — yang buka sore hingga malam hari di pekarangan SD Keputran dekat dengan area Pagelaran di Alun-Alun Utara di dalam komplek Keraton Yogyakarta — satu grup pengamen membuka sajian musik mereka dengan lagu Yogyakarta dengan diiringi gitar, bass dan sejenis ketipung.   

Mendengar lagunya membuat saya langsung tercenung. Berhenti sejenak untuk melamunkan kota Yogyakarta. Sembari menikmati hawa dingin yang hadir bersama hujan di malam hari. Tersentuh. 

Dan baru kali ini saya menghargai dan betul-betul menikmati makan malam di suatu tempat di Yogyakarta dengan diiringi lantunan lagu-lagu dari pengamen jalanan. Rasanya sungguh berkesan.  

Merinding sembari goyangkan kaki dan jemari seirama dengan lantunan yang (mungkin) menjadi lagu wajib bagi para musisi jalanan. 


Trans Jogja Suka Ngebut?

Benar adanya bahwa Trans Jogja suka ngebut. Bis yang cukup gempal dengan warna cat hijau tua tersebut tak lagi berjalan dengan pelan dan teratur. Jujur saya was-was kalau bertemu dengan Trans Jogja di jalanan. Mengalah saja.

Coba tanya saja orang-orang yang menggunakan jalanan di Kota Yogyakarta. Bis hujau tua, yang catnya sudah banyak yang pudar, itu memang menjadi penguasa jalan. Tak semua bis Trans Jogja suka ngebut tentunya. Tapi jumlah bis Trans Jogja yang ngebut tak sedikit. Ditambah dengan ‘hobi’ Trans Jogja yang cukup sering menggunakan klakson.

Setali tiga uang, coba tanya juga pengguna bis hijau tua yang kini armadanya tak lagi muda. Orang lanjut usia sudah banyak yang takut naik Trans Jogja. Orang tua pun khawatir bila anak-anak mereka yang masih kecil naik bis itu. Takut celaka karena susah untuk berdiri di dalam bis bila bisnya melaju kencang dan bergoyang ke kanan dan ke kiri secara mendadak dan tiba-tiba. Lupakan mereka yang difabel karena bis ini tak mengakomodasi mereka yang menggunakan kursi roda dan tuna netra. Bisa sih bisa tapi resikonya besar.

Banyak penduduk Yogyakarta yang cukup iri dengan Kota Jakarta dan Kota Solo. Ada Transjakarta dan Batik Solo Trans. Transjakarta berjalan relatif cepat tapi stabil, badannya besar sehingga mengakomodasi lebih banyak orang dan memiliki halte yang cukup besar. Sedangkan Batik Solo Trans berjalan cukup santun dan tak cepat-cepat amat. Meski keduanya tak cukup mengakomodasi kaum difabel, minimal cukup nyaman bagi pengguna umum dan tak ngebut di jalanan.

Kalau melihat Trans Jogja jadi ingat dengan Bis Kota, Kopata atau Kobutri yang jumlah armadanya masih besar pada beberapa tahun yang lalu. Identik dalam hal mengebut. Padahal adanya Trans Jogja seyogyanya menjawab kebutuhan transportasi umum yang murah, berkualitas dan santun.

Kenyataan berbeda dengan harapan. Suka ngeri kalau naik Trans Jogja karena harus pegangan dengan erat jika tak ingin jatuh; baik duduk atau berdiri. Lebih ngeri lagi jika berpapasan atau berdekatan dengan bis hijau tua ini di jalan. Bis ini memang tak mewakili lagi ciri khas Yogyakarta. Pelan dan santun.

Atau mungkin… Trans Jogja sudah merepresentasikan ciri khas Yogyakarta masa kini. Asal cepat dan tak lagi santun. Sayang sekali.

Tata Kota dan Yogyakarta

Kota Yogyakarta memiliki cetak biru pembangunan sejak jaman kerajaan. Terbukti dengan adanya Kraton Yogyakarta dan alun-alunnya sebagai pusat kota. Sedangkan jalan-jalannya berbentuk garis-garis kotak (grid) untuk mengakomodasi konektivitas dengan daerah-daerah di sekitar Yogyakarta sekaligus membentuk petak persawahan.

Kemudian tibalah saat jaman koloni Belanda. Sudah tipikal koloni Belanda untuk melakukan pemetaan geografis, hasil bumi dan kependudukan. Fungsinya memang untuk memaksimalkan dua tujuan utama. Pertama menjadikan banyak wilayah koloninya sebagai pusat produksi komoditas jualannya seperti gula dan kopi. Kedua mempersiapkan daerah-daerah koloninya sebagai tempat tinggal mereka di masa depan. Oleh karena itu tata kotanya benar-benar matang. Tentu untuk kepentingan Belanda. Bukan untuk kesejahteraan penduduk setempat. Namanya juga koloni, kepentingan negara mereka sendiri merupakan prioritas utama.

Sayangnya setelah adanya tata kota berdasar kerajaan dan pemerintahan koloni, datanglah penjajah Jepang. Tak ada pembangunan. Semua yang bisa diambil, dengan paksa tentunya, diangkut untuk keperluan perang tentara yang tunduk pada Kaisar Jepang. Hampir tak ada yang tersiksa. Tata kota berubah drastis. Bangunan arsitektural atau rumah rakyat rusak berat atau musnah.

Masa kemerdekaan datang akhirnya. Tata kota bukan menjadi prioritas utama. Asal rakyat bisa makan dan kenyang. Sayangnya karena sentimen nasionalisme yang kurang pada tempatnya, banyak tata kota peninggalan jaman kerajaan dan masa kolonialisme yang sengaja dihilangkan. Infrastruktur seperti jalur kereta api juga dimusnahkan.

Dengan naiknya tingkat kemakmuran rakyat karena ekonomi berkembang, urbanisasi pun merebak. Yogyakarta pun termasuk salah satu kota yang berkembang menjadi besar. Menarik penduduk dari kota-kota kecil di sekitarnya. Jumlah penduduk makin besar tapi tak diimbangi dengan tata kota yang baik. Alhasil kota yang dulunya asri menjadi kota yang ramai dan berantakan.

Asal ada uang, apapun bisa dibangun. Entah itu sekolah, pabrik, toko, hotel atau bangunan yang tak jelas. Ada rumah sakit kecil di tengah daerah pemukiman. Ada komplek perumahan yang berada di dekat bandara. Terkesan tidak adanya pertumbuhan kota berdasarkan zona khusus. Ditambah dengan tiadanya transportasi umum yang memadai sehingga penggunaan kendaraan pribadi meningkat secara pesat.

Lupakan tata kota di Yogyakarta. Kota ini sudah terasa sumpek, panas dan berantakan. Mungkin pemimpin dan pejabat pemerintah daerahnya tak terlalu merasakan ketaknyamanan tersebut karena hidup di wilayah yang nyaman dan asri. Tak seperti penduduk kebanyakan yang hidup di wilayah yang padat penduduk, tak tertata dan tak lagi nyaman.

Saya kangen dengan Yogyakarta yang dulu dengan tata kotanya yang tertata rapi.

Liburan di Yogyakarta

Liburan pergantian tahun kali ini memang lebih panjang. Libur Natal hingga Libur Tahun Baru. Kesempatan yang baik untuk berlibur.

Mulai hari Rabu kemarin Kota Yogyakarta mulai ramai. Banyak penduduk Yogyakarta yang merantau di luar kota pulang kampung. Turis domestik dari luar kota juga berdatangan untuk melewatkan liburan di kota yang menjadi destinasi wisata #2 di Indonesia. Selain itu banyak juga para pemudik yang melewati Kota Yogyakarta untuk menuju kota dan wilayah sekitarnya seperti Klaten, Solo dan Klaten. Jalanan di Yogyakarta pun dilewati oleh mobil dan kendaraan dengan plat nomor kota lain.

Mengapa banyak yang berlibur di Kota Gudeg ini? Alasannya sederhana. Kota yang terletak di tengah Pulau Jawa ini bisa dijangkau dengan mudah dan murah dari banyak kota lainnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain itu kota ini memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Baik dari segi sejarah, kuliner dan event lokal. Penginapan banyak tersedia dengan biaya yang relatif murah.

Ditambah dengan adanya korelasi antara para pemudik dan turis domestik seperti mereka yang sudah pernah bersekolah di Yogyakarta atau memiliki kerabat di kota ini.

Menyenangkan, bukan? Oleh karena semua alasan tersebut Yogyakarta menjadi tempat berlibur yang asyik.

Iklan Luar Ruang yang Makin Liar

Ya ampun! Hanya itu ekspresi yang muncul di benak saya tatkala melihat iklan luar ruang yang makin banyak menghiasi Kota Yogyakarta. Tak hanya makin banyak. Namun secara ukuran juga makin lebar. Lengkap dengan tiang besi yang kokoh berdiri di pinggir jalan. Bila malam hari, lampu sorot yang terang-benderang pun menyinari isi iklan luar ruang tersebut. Iklan makin jelas terlihat meski dari jarak jauh sekalipun.

Tak peduli saya dengan isi iklan atau siapa yang membeli ruang iklan tersebut. Permintaan pasar memang besar untuk beriklan yang disambut gembira oleh pengusaha iklan luar ruang. Ya, billboard yang betul-betul berukuran raksasa. Yang salah bukan yang sedang iklan. Tapi jelas bahwa pengelola iklan luar ruang dan pemerintah daerah yang harus betul-betul menimbang ulang regulasi dan keindahan tata-kota.

Iklan luar ruang memang memberikan pendapatan daerah yang besar. Setara dengan perkembangan ekonomi kota yang masih semi-tradisional ini. Namun seyogyanya sadar bahwa iklan-iklan itu seperti suara sumbang dan cemplang di tengah-tengah alunan harmoni antara modernitas dengan nilai-nilai budaya.

Coba saja ambil potret perempatan besar atau jalan utama di Yogyakarta. Sulit untuk mendapatkan wajah kota yang bopeng karena baliho iklan yang menyembul dan menjadi latar-belakang di mana-mana. Jijik saya dengan iklan-iklan yang berebut perhatian para pemakai jalan. Sungguh jijik!