Merapikan Meja, Melegakan

4 November 2009

Sore ini memang melelahkan. Rapikan meja di kantor, juga meja di rumah. Sampah musnah, barang-barang tertata lebih sistematis. Isi meja menjadi minimalis. Hanya menyisakan barang yang paling diperlukan saja. Lainnya yang kurang penting, lenyap atau pindah ke tempat lain.

Lega. Itu yang terasa saat membersihkan meja. Tak terlihat tumpukan kertas yang membuat pekerjaan terasa menggunung dan tak selesai-selesai. Rapi juga jadi cerminan pikiran yaitu bahwa sang empunya meja mengurus hal yang tadinya berserakan.

Kabel-kabel yang tadinya terbelit-belit tak keruan menjadi ‘tak tampak lagi karena diatur sedemikian rupa’. Meski tak serta-merta jadi wireless. Pernik-pernik perkakas tulis dan kerja masuk ke lemari kecil. Kertas bekas langsung menuju tempat sampah agar tak mengotori pemandangan.

Mungkin ada yang beropini bahwa meja yang minimalis dan tak berantakan, bisa jadi, menyiratkan yang menduduki tempat itu tak banyak pekerjaan. Padahal fakta berbicara bahwa mereka yang mejanya berantakan mencerminkan ketakmampuan menuntaskan urusan.

Memang merapikan meja tak sepenting menata kehidupan secara keseluruhan. Tapi bersih-bersih bisa menjadi kegiatan yang mengurangi stres. Sempatkan waktu barang 15 hingga 30 menit. Dan meja menjadi lebih lapang, lebih nyaman untuk dipakai berkarya. Benar, kan?


Gudeg Yu Djum

4 November 2009

Bila Anda berada di Yogyakarta, tentu Gudeg merupakan salah satu sajian tradisional yang harus disantap. Coba lihat gambar Gudeg. Coba ulik Wikipedia untuk mengetahui lebih lanjut tentang Gudeg.

Nah, salah satu Gudeg yang baru saja coba beberapa minggu yang lalu adalah Gudeg Yu Djum. Anda bisa menyantapnya di rumah makannya yang berlokasi di Karangasem mbarek CT III/22, Jalan Kaliurang Km. 5. Letaknya masuk ke gang yang ada di kompleks UGM. Jam 5 pagi sudah buka, bagi yang suka sarapan.

Enak rasanya sesuai dengan harganya yang menguras kocek. Karena termasuk sebagai Gudeg Kering, Gudeg ini cocok untuk dibawa ke luar kota. Saat itu pelayannya mengaku bahwa sajian yang terbuat dari buah Nangka itu bisa tahan 2 hari. Tentu saja bila dimasukkan dalam kulkas. Satu hari bila dibiarkan tanpa kulkas.

Sayangnya, mungkin karena sudah populer atau memang dikelola secara keluarga, tampaknya pelayanan mereka kurang memuaskan. Ada kesan para pembeli yang butuh mereka. Kurang ramah dan njawani. Padahal sing dodolan gayeng lan gapyak (penjualnya ramah dan menyenangkan) merupakan ciri khas penjual Gudeg.

Padahal bila dikelola secara profesional, tentu masih mempertahankan cara masak yang sudah bertahun-tahun demi menjaga kualitas rasa, penjual-penjual Gudeg bisa maju sehingga sajian khas Yogyakarta tersebut lebih populer dan diminati masyarakat luas.


Waktu Berjalan Terlalu Cepat

2 November 2009

Tak tahu saya, benar-benar tak tahu, kapan saya punya waktu untuk sekedar menuangkan kata-kata di blog ini lagi. Sepertinya waktu berjalan kian cepat, tak sempat lagi untuk duduk termenung sembari sesekali ngeblog. Padahal, banyak yang ingin saya tuliskan di sini.

Sepertinya waktu tetap berdetak secepat atau selambat yang lalu. Hanya saja ritme kehidupan berputar kian cepat. Tentu harus diperlambat sesekali. Sembari minum teh hangat.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa tergesa-gesa dalam menapaki jalan kehidupan?


Surat Cinta

21 Oktober 2009

Sepertinya kegiatan saling mengirim surat makin lama makin memudar. Maklum, sudah ada surat elektronik (email), pesan pendek (SMS), update status Facebook hingga menyebar serpihan kata di Twitter. Surat tak lagi dianggap punya nilai praktis. Bahkan, sampai sekarang pun Pos Indonesia masih kerap menghilangkan surat. Surat tak sampai tujuan.

Apalagi bila kita memperbincangkan surat cinta, rasa-rasanya terdengar jadoel. Secara waktu, itu tempoe doeloe. Kuno. Coba bayangkan bila seorang gadis ditaksir beberapa lelaki sekaligus di waktu yang sama. Boleh jadi, pesan berisi luapan cinta yang dikirim lewat MMS lebih cepat sampai dibanding datangnya surat. Dan, si buah hati pun terlanjur dimiliki sang Arjuna yang lebih canggih.

Hanya saja, berkirim surat cinta tetap saja lebih romantis. Ada yang terwakili dari amplop berisi lembaran kertas yang dihiasi dengan tulisan romantis. Ada usaha yang lebih dibanding mengetikkan jemari di papan kunci telepon selular. Lagipula, surat yang datang, diterima atau tidak cintanya, pastilah menimbulkan kesan tersendiri. Sesuatu yang terpegang oleh tangan, terlihat oleh mata. Ada rasa senang yang membuncah menerima secuil sesembahan tanda cinta.

Pesan cinta yang dihantar email atau pun sms eksis hanya sebatas belum dihapus. Tapi siapa sih yang tega membuang kata-kata yang tertuang rapi di lembaran surat yang dibungkus amplop khusus untuk mengekspresikan rasa sayang? Belum lagi bila surat tersebut tak sengaja ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian, pasti ada riak nostalgia yang tercipta…

Sudahkah atau pernahkah Anda mengirimkan surat cinta kepada pujaan hati Anda? Bila belum, kirimlah segera. Atau paling tidak mari kita dengarkan bersama lantunan lagu berjudul Love Letter dari BoA Kwan, penyanyi dari Negeri Ginseng.


Magic Mouse

21 Oktober 2009

Jangan salah tangkap. Yang dimaksud adalah Apple Magic Mouse. Tetikus elektronik besutan terbaru dari Apple Inc. Pemakainya bisa menerapkan gerakan click, swipe dan scroll.

Beragam manuver jemari pada badan Magic Mouse yang tampak putih mulus tersebut menghasilkan beragam instruksi navigasi. Dengan begitu, berkomputer makin asyik, tentu menghindarkan rasa capai karena terlalu banyak mengklik tetikus elektronik tradisional.

Pantas bila Apple mengklaim bahwa mouse berharga USD $69 ini merupakan The world’s first Multi-Touch mouse. Maklum, konsep tetikus terbaru yang menggunakan sentuhan ini belum pernah ada yang membuatnya sebelumnya. Umumnya, mouse hanya menerapkan klik jemari pada tombol.

Menarik. Ingin rasanya memboyong satu untuk dipakai sendiri. Sayang, Apple Magic Mouse mensyaratkan Mac OS X v10.5.8. Padahal saya hanya memakai versi Tiger. Apa boleh buat. Cukup membayangkan saja.