Prihatin dengan Fenomena Enjo Kosai

Entah mengapa saat menjelajahi Internet, tiba-tiba ada artikel menyoal Enjo Kosai—compensated dating—yang dulu pernah saya ulas di blog ini.

http://munggur.wordpress.com/2008/08/18/enjo-kosai/

Artikel itu membuat saya prihatin bahwa gadis-gadis belia ini menjadi ‘pelacur amatir’ demi bisa memuaskan dahaga mereka akan barang-barang mewah dan kesenangan duniawi semata.

Lebih sedih lagi bila banyak dari mereka yang terjerumus ke praktek tersebut hanya gara-gara situasi rumah dan orang tua yang kurang bisa mendidik anaknya. Juga karena tekanan masyarakat dan sekolah yang sangat ketat. Pun tak banyak yang bisa memberi mereka pengertian sehngga mereka sadar. Biasanya banyak orang dewasa yang tak dewasa karena sekedar menyalahkan mereka. Lalu memberikan stigma yang sulit lepas dari benak anak-anak remaja tersebut.

Lagipula apapun istilahnya tak mengubah kenyataan bahwa ada remaja-remaja putri yang menderita baik tubuh maupun mentalnya di luar sana. Entah itu enjo kosai, kimcil atau cabe-cabean. Apapun namanya itu.

Ingat bahwa meskipun memakai istilah Jepang, Enjo Kosai terjadi di banyak tempat di dunia ini. Istilahnya saya yang berbeda. Intinya sama yaitu ‘kencan berbayar’. Prostitusi dalam bentuk yang tersamar.

Bagaimana Kehidupan Setelah 70 Tahun?

Makin jarang orang-orang di sekitar saya yang umurnya lebih dari 70 tahun. Memang ada beberapa orang yang mencapai umur hingga 80 dan 90 tahun. Tapi tak banyak.

Sepertinya 70 tahun merupakan batas yang makin susah ditembus oleh kehidupan banyak orang. 60 tahun sudah punya komplikasi penyakit. 50 tahun sudah sering berkunjung ke rumah sakit. 40 tahun sudah tak lagi bertenaga karena satu dua penyakit. Malahan ada yang di bawah 30 tahun yang sudah meregang nyawa karena tak bisa diri dan menderita sakit yang tak perlu.

Sakit yang tak perlu? Ya. Seperti gagal ginjal karena berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol gara-gara unjuk gigi minum oplosan. Ada juga yang liver tak berfungsi lagi karena bekerja tanpa mengenal istirahat.

Lainnya ya kejadian seperti kebut-kebutan maut, selfie di atas gedung bertingkat lalu jatuh atau coba-coba bermain senjata api.

Oleh karena itu, makin sedikit orang yang bisa menikmati kehidupan setelah 70 tahun. Boleh dibilang, orang sekarang nyawanya banyak didiskon karena perilakunya sendiri. Disamping ada pengaruh lingkungan yang kurang sehat karena polusi, bertambahnya tingkat kriminalitas dan depresi yang melanda banyak orang tanpa pandang usia.

Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah Anda ingin tahu kehidupan seperti apa setelah Anda mencapai umur 70 tahun? Bila ya, tentu harus menjaga diri sebaik-baiknya sehingga tubuh bisa bertahan hingga umur segitu.

Bila tak sabar, cukup dengan berinteraksi atau bertanya dengan anggota keluarga atau tetangga yang umurnya lebih dari 70 tahun. Tentu ada yang bahagia dan masih sehat. Ada pula yang sudah tinggal menunggu waktu kontrak hidup selesai dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan.

Kehidupan setelah 70 tahun itu ‘sesuatu banget’. Tak semua orang bisa menikmatinya. Hanya berharap. Karena tak semua orang tak benar-benar berusaha untuk tetap bijak dan tetap sehat.

Catatan. Saya terinspirasi untuk menulis ini setelah pagi tadi bertemu dengan tiga nenek-nenek di keluarga saya yang umurnya lebih dari 70 tahun. Satu nenek berumur 90 tahun sedangkan yang dua lainnya berumur 80 tahun. Saya kagum bahwa mereka bisa melalui banyak hal dan masih bertahan hidup dengan relatif sehat hingga saat ini.

Katrol Nilai dan Subsidi BBM

Ah, ramai benar perdebatan tentang bahan bakar minyak yang baru saja dikurangi nilai subsidinya. Ya, itu istilah yang tepat. Yaitu pengurangan subsidi BBM. Bukan menaikkan harga BBM.

Masih bingung? Baiklah. Harga BBM yang dibeli, baik impor atau produksi sendiri, oleh pemerintah melalui Pertamina tetap relatif sama. Oleh karena jumlahan subsidinya dikurangi maka masyarakat harus membeli BBM dengan harga yang disesuaikan tersebut.

Sayangnya banyak ormas dan mahasiswa ‘yang kurang pintar’ yang berdemo dengan embel-embel ‘tolak kenaikan harga BBM’. Oleh karena itu, masyarakat awam yang kurang bijaksana otomatis berpikir bahwa harga BBM naik. Tanpa mengerti bahwa ada subsidi dan pengalihan alokasi dana pemerintah ke sektor lainnya yang lebih produktif.

Tapi bukannya harga BBM naik dua ribu perak?

Ya. Benar adanya. Seharusnya harga BBM jauh lebih mahal dari harga BBM yang baru. Hanya saja pemerintahan Jokowi tak mau benar-benar menghilangkan subsidi BBM karena bisa menyebabkan inflasi. Tak baik bagi perkembangan ekonomi.

Dampak positif dari pengurangan subsidi tersebut, secara teori karena belum terbukti, adalah bertambahnya dana pemerintah yang selama ini tersedot untuk BBM semata ke sektor lain yang jauh lebih membutuhkan.

Bahkan bila merunut beberapa tahun belakangan, konsumsi BBM meningkat drastis karena kurangnya kesadaran masyarakan untuk menghemat BBM. Makin banyak orang yang memutuskan untuk membeli sepeda motor atau mobil secara kredit—baca: berhutang—untuk keperluan pribadi. Padahal masih bisa menggunakan transportasi umum.

Maklum karena BBM tempo hari harganya relatif murah. Seperti laiknya pulsa telepon selular. Murah meriah makanya tak perlu berhemat. Bisa telepon sana-sini selama mungkin.

Coba bila pulsa telepon selular mahal maka masyarakat luas akan secara otomatis menggunakan telepon selular dengan lebih efisien. Berhemat.

Lagipula, subsidi BBM itu seperti katrol nilai di sekolah dasar. Makin tinggi katrol nilainya maka makin malas pula siswa belajar. Toh, untuk apa belajar bila nantinya nilainya ‘diangkat’ oleh gurunya. Guru dan sekolah senang karena makin sedikit yang tinggal kelas sehingga akreditasi sekolah meningkat. Murid senang karena tak perlu kerja keras menghasilkan nilai bagus.

Dengan subsidi yang kelewat banyak, pemakaian BBM menjadi tak efisien. Terjangkau oleh banyak orang. Tak perlu berhemat. Padahal dengan BBM yang disubsidi tersebut, pemerintah selama bertahun-tahun selalu sibuk mencari pinjaman internasional untuk menalangi selisih harga BBM di SPBU dengan harga BBM dari produsen minyak.

Ironisnya pula pemerintah menjadi tak sempat atau tak menyempatkan diri untuk menaikkan pendapatan negara untuk membayar hutang-hutang yang menumpuk karena, salah satunya, membayari sekian banyak subsidi BBM. Demi kesejahteraan rakyat? Atau supaya rakyat tak menjadi vokal karena dininabobokan dengan harga BBM yang lebih murah.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Tentu ada dampak yang bisa dirasakan yaitu menambah pengeluaran untuk membeli bensin. Di sisi lain, saya tak lagi seboros dulu menggunakan kendaraan pribadi saya. Mencoba lebih berhemat.

Namun saya tetap setuju saat subsidi BBM dikurangi. Bila memang pemerintahan yang baru bisa mengalokasikan dana tersebut untuk kepentingan yang lebih krusial seperti membangun puluhan waduk, belasan pelabuhan dan meningkatkan kualitas infrastruktur wilayah tertinggal; tentunya kehidupan di negara ini menjadi meningkat kualitasnya. Kesejahteraan bagi banyak orang.

Oleh karena itu saya cukup prihatin dengan demo-demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang gagal paham dengan kebijakan pemerintahan baru yang jelas-jelas lebih transparan dan bijak dibanding era pemerintahan yang lalu.

Meskipun saya belum menjadi orang kaya, naiknya harga BBM karena dikurangi subsidinya, masih bisa dipahami dan dimaklumi demi masa depan bersama yang lebih baik.

Ejaan Bahasa Indonesia di Wikisource

Pernah dengar tentang EYD? Bila belum pastilah tak sungguh menyimak pelajaran Bahasa Indonesia saat di sekolah dasar.

Mempelajari dan menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mempermudah kita untuk menulis dengan benar.

Menulis sendiri merupakan tantangan bagi banyak orang. Namun tantangan yang lebih besar lagi untuk menulis dengan sedikit atau tanpa kesalahan ejaan.

Bahkan bila kita mencermati artikel-artikel di media online maka kita akan mendapati banyak kesalahan penulisan kata dan pemakaian tanda baca.

Bagaimana dengan kita sendiri? Bila tak yakin dengan ejaan yang benar ada baiknya membuka buku EYD yang bisa didapat di berbagai toko buku.

Bila ingin lebih praktis, bisa mengulik Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang disediakan secara cuma-cuma di Wikisource.

http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Selamat menulis dalam Bahasa Indonesia, bahasa kita sendiri, dengan lebih baik dan benar.

Kursi Ajaib Bernama Honda UNI-CUB

Kreativitas manusia mampu menghadirkan berbagai teknologi transportasi yang berguna. Makin canggih teknologi transportasi yang digunakan maka makin tinggi pula tingkat mobilitas manusia.

Menyoal teknologi transportasi tak melulu tentang kereta api, pesawat dan mobil. Teknologi transportasi meliputi alat transportasi personal seperti halnya Segway.

Sebelum mencobanya, dulu saya selalu penasaran bagaimana cara Segway bergerak dengan kedua rodanya yang sejajar tanpa membuat penumpangnya jatuh terjerembab. Setelah menggunakannya beberapa kali, baru saya merasa yakin bahwa Segway aman digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari.

Sayangnya karena harganya yang mahal, Segway sampai saat ini baru bisa digunakan sebagai wahana atraksi di beberapa taman hiburan. Bukan sebagai alat transportasi sehari-hari seperti sepeda yang harganya relatif murah.

Dan teknologi baru pun muncul yaitu Honda UNI-CUB. Melihat gambar dan videonya membuat saya penasaran seperti apa rasanya menggunakan ‘personal mobility device’ buatan Honda tersebut.

Sepintas dari gambar dan videonya, lucu juga melihat orang tinggal duduk di ‘kursi ajaib’ tersebut dan cukup menggerakkan badan ke depan, ke samping atau duduk secara lurus untuk mengontrol pergerakan UNI-CUB yang bertenaga baterai.

Unik. Semoga suatu hari bisa mencobanya. Penasaran. Bagaimana dengan Anda, penasaran juga?

http://world.honda.com/UNI-CUB/

https://www.youtube.com/watch?hl=id&v=_Me1P0JljVk&gl=ID

Meja Kerja Berdiri dan Hemingway

Ide tentang bekerja dengan standing desk bukan hal yang baru. Ternyata Hemingway – salah satu penulis terkenal di dunia – sudah gemar melakukannya sebelum trend meja kerja berdiri ramai dibicarakan orang.

Namun konsep meja kerja berdiri belum ada saat itu. Jadilah Hemingway melakukannya dengan cara sederhana. Dia menggunakan rak buku dan tumpukan buku-buku sebagai landasan menempatkan mesin ketiknya. Dengan begitu Hemingway bisa mengetik sambil berdiri ketimbang duduk manis di kursi.

Untuk ukuran jaman dulu, apa yang dilakukan Hemingway sungguh unik. Orang pun maklum karena biasanya penulis punya kebiasaan yang tidak biasa. Hanya saja, untuk ukuran era kini menulis dan bekerja sambil berdiri juga belum biasa. Masih dirasa aneh.

Padahal bekerja dengan berdiri itu lebih sehat ketimbang bekerja dengan duduk dalam jangka waktu yang lama. Tentunya kita tidak berasumsi bahwa seseorang harus berdiri sepanjang jam kerja 6 hingga 8 jam. Tentu capai dan boleh jadi malah menimbulkan varises. Setali tiga uang, bekerja sambil duduk selama 6 hingga 8 jam sehari juga bisa menimbulkan kepenatan dan gangguan kesehatan. Ditambah dengan cara duduk yang tidak benar dan kursi yang kurang ergonomis.

Yang pasti bekerja sambil berdiri membuat seseorang bisa bekerja dengan konsentrasi lebih tinggi karena darah mengalir relatif lebih lancar. Bandingkan dengan posisi duduk di mana sirkulasi darah di dekat punggung bagian bawah dan kaki terhambat.

Bekerja sambil berdiri juga menghindari rasa mengantuk. Bebasnya diafragma perut dan paru-paru dari posisi terhimpit ketika duduk membuat oksigen mengalir lancar. Sulit untuk mengantuk bila asupan oksigen maksimal mengalir ke dalam aliran darah dan seluruh tubuh.

Tentu saja tidak semua orang suka dengan ide bekerja sambil berdiri karena tidak biasa. Saat pertama-tama mencobanya pun saya merasa super pegal. Satu jam pun terasa sangat lama. Juga capai. Namun lama-lama terbiasa. Dua atau tiga jam sudah lumayan biasa. Saat capai berdiri, ya, tinggal duduk. Intinya bekerja bisa sambil berdiri dan duduk.

Saat mencoba bekerja sambil berdiri, saya teringat pada mereka yang profesinya menuntut mereka untuk berdiri untuk jangka waktu yang lama. Seperti polisi lalu-lintas, penjaga toko, satpam dan koki. Mereka bisa berdiri berjam-jam karena terbiasa; selain tuntutan pekerjaan. Toh, mereka memiliki postur yang lumayan lebih baik ketimbang mereka yang bekerja di kantoran dan duduk berjam-jam.

Jika banyak profesi bisa bekerja dengan berdiri, orang yang bekerja dengan komputer atau laptop pun bisa bekerja dengan berdiri. Bila tak ada meja kerja berdiri, bisa menggunakan meja biasa dan mencari kardus atau kotak yang cukup kuat. Lalu letakkan laptop di atasnya.

Buktikan sendiri. Lalu lihat efeknya dalam satu bulan. Apakah badan terasa lebih segar atau malah pegal-pegal? Bila cocok bekerja sambil berdiri, Anda pun bisa menganjurkan kebiasaan sehat ini kepada rekan kerja, teman dan orang lain.

Siaran Langsung yang Bermutu

Memang sudah jamannya ketika televisi berlomba-lomba menayangkan siaran langsung. Berita di tempat kejadian, sidang korupsi, kuis, pembagian penghargaan film atau pelbagai konser musik. Siaran langsung lebih afdol dibanding acara rekaman karena mampu menampilkan peristiwa di waktu yang sama kepada penontonnya.

Tentang teknologi siaran langsung, hampir semua televisi sudah memilikinya. Tinggal menggelar acara dan melakukan koordinasi dalam melakukan siaran langsung. Bukan suatu proses yang terlalu sulit.

Namun tak semua televisi bisa paham mana siaran langsung yang bermutu dan mana yang kurang mutunya. Pagi ini ada siaran langsung Pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Yusuf Kalla. Jelas ini peristiwa yang dinanti-nantikan oleh banyak warga Indonesia. Ini momentum bersejarah. Penting dan bermutu.

Beda dengan tayangan siaran langsung beberapa hari sebelumnya. Siaran langsung yang disiarkan dua stasiun televisi yang berbeda. Mereka menyiarkan proses pernikahan pesohor dalam negeri. Sah-sah saja karena penayangan langsung pesohor tentu menarik minat banyak penonton.

Namun ada yang kurang tepat karena siaran langsung tersebut terlalu lama. Hampir menyita sebagian waktu tayang masing-masing stasiun televisi tersebut. Jelas ada tayangan iklan produk secara langsung di tengah-tengah sorotan ke pelbagai pesohor yang hadir di prosesi pernikahan tersebut.

Saking lamanya siaran langsung tersebut hingga mengorbankan banyak program televisi yang lainnya. Ada drama yang tak diputar. Berita yang porsinya memendek. Pun ada sekian program televisi yang urung tak ditayangkan padahal sudah ada jadwal regulernya.

Padahal pesohor yang menikah juga tak terlalu penting. Pesohor yang memang terkenal di kalangan anak muda tapi tidak terlalu signifikan. Bukan setingkat pernikahan Pangeran William dari Kerajaan Inggris atau anggota keluarga keluarga Kraton Yogyakarta. Pun penampilan siaran langsung mereka pun tak selama prosesi pernikahan pesohor bernama Raffi Ahmad dan Gita Slavina tersebut.

Pantas bila ada teguran dari KPi menyoal siaran langsung yang terlalu lama dan tak substansial isinya. Sudah jelas ada pembodohan penonton yang disajikan pernikahan yang dibuat seakan-akan heboh. Padahal biasa saja.

Siaran langsung itu berguna bila isinya bermutu. Maklum karena stasiun televisi merupakan media massa yang wajib memfasilitasi berita dan peristiwa kepada khalayak umum. Bukan sekedar sebagai sponsor pernikahan mewah yang dipenuhi dengan iklan produk di sana-sini.