BBM Langka di Negeri Kaya Minyak

Aneh bin ajaib. Ladang minyak di mana-mana di banyak penjuru Nusantara. Namun BBM bisa menjadi persoalan yang krusial. 
 
Bahkan ada yang menyebutnya Darurat BBM. Tragedi BBM juga bisa. Bencana BBM? Mungkin. 
 
Ada beberapa alasan, yang masuk akal atau tidak sama sekali, mengapa BBM bisa sulit didapat. Yang jelas perihal tidak lancarnya pasokan BBM membuat pembangunan tersendat dan melambat. 

Kurangnya Armada Taksi di Yogyakarta

Kemana pun Anda pergi di wilayah perkotaan di Kota Gudeg ini, pasti ada taksi yang terlihat sedang berhenti atau sedang mengantar penumpang. Ukuran kota pun relatif tidak besar sehingga orang bisa berasumsi bahwa mendapatkan taksi di Yogya itu mudah.

Sayangnya asumsi tersebut salah.

Sudah sering saya mengalami kesulitan mendapatkan taksi. Bila pun ada yang lewat di jalan, biasanya sudah ada isinya.

Bahkan saking sulitnya, menelepon taksi pun tak selalu tersedia armadanya. Padahal saya sudah menelepon hingga 10 perusahaan taksi yang berbeda. Namun tak ada taksi yang tersedia. Harus sabar dan siap ketika tak ada taksi yang bisa mengantar.

Masih bisa dimengerti bila taksi sulit didapatkan ketika jam pergantian sopir atau ketika sore hendak Maghrib. Namun ternyata taksi tidak tersedia baik pagi atau siang hari.

Untungnya saya merupakan orang Yogya asli yang mengerti keadaan ini. Bagaimana dengan para wisatawan, baik manca maupun domestik, yang kurang mengerti kondisi kelangkaan taksi di Yogya? Bisa jadi mereka akan frustasi. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan karena taksi betul-betul susah didapat.

Bagaimana ini? Seyogyanya para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan kota membuat terobosan. Soalnya para pengusaha taksi pun tak bisa menambah jatah pengadaan tambahan armada.

Bila situasi ini dibiarkan berlarut-larut, taksi pelat hitam pun akan muncul. Yang ada hanyalah kecemburuan para taksi pelat kuning yang merasa terpojokkan karena pangsa pasarnya dimakan oleh taksi-taksi tidak resmi yang bisa memasang tarif semaunya dan beroperasi dengan bebas.

Armada taksi di Yogyakarta harus ditambah dan diperbaiki kualitasnya. Kota Yogya sudah menjadi kota yang mendunia maka sudah sepantasnya berbenah diri.

Jebakan Batman di Facebook

Facebook menjadi tempat berinteraksi banyak orang di dunia maya. Ada yang memang niatnya bisa terkoneksi dengan teman, keluarga dan handai taulan. Juga ada yang ingin sekedar mencari teman baru. Bahkan ada yang hanya sekedar ikut-ikutan dan ingin tahu jejaring sosial ini.

Seperti halnya realitas berhubungan dengan banyak orang, banyak juga interaksi yang memiliki ‘modus’ tertentu. Sesuatu yang tak hanya sekedar berteman. Namun tindakan yang boleh jadi karena iseng, sengaja merugikan orang lain atau hendak mencari keuntungan pribadi. Selalu saja ada motif yang berada di zona abu-abu. Tak jelas apakah ini baik atau tidak. Namun eksis di jejaring sosial seperti laiknya interaksi manusia di kehidupan nyata.

Oleh karena itu, selalu saja ada ‘jebakan batman’ yang bisa ditemui, baik sengaja atau tidak, di dunia jejaring maya. Bukan hanya Facebook tentunya. Jejaring sosial yang lain pun rentan jebakan batman. Hanya saja, Facebook menjadi tempat yang paling ramai dan menjadi sasaran bagi pemasang jebakan batman untuk mendapatkan mangsanya.

Mari kita lihat bersama, jebakan apa saja yang ada di Facebook.

Kenalan untuk MLM

Tak ada yang salah dengan usaha MLM. Sah-sah saja. Toh bagi-bagi rejeki dengan mengajak sebanyak mungkin orang untuk berjualan secara ‘berjemaah’.

Hanya saja, rasanya malas bukan ketika ada undangan pertemanan di Facebook eh ternyata ujung-ujungnya diajak untuk gabung MLM. Belum lagi kalau menolak terus tiba-tiba didiamkan atau unfriend. Ditambah lagi dengan adanya newsfeed yang dipenuhi oleh kata-kata motivasi penuh motif dan produk-produk yang dijual.

Asmara Dunia Maya

Pernah melihat profil seseorang dengan tulisan ‘bekerja di PT. Cinta Abadi’? Tak hanya satu dua tetapi banyak. Mereka ini memang orang-orang yang suka menjalin pertemanan berujung asmara di dunia maya.

Sebenarnya tak ada masalah dengan asmara dunia maya. Toh, siapa tahu kalau memang jodoh malah bisa keterusan di dunia nyata. Menikah dan bahagia untuk selama-lamanya.

Sayangnya hanya segelintir yang menjadi cinta sejati. Umumnya hanya cinta-cintaan. Permainan cinta yang palsu. Semata-mata ingin bersenang-senang. Hitung-hitung membunuh waktu dan kebosanan dengan keisengan penuh romansa.

Kalau sama-sama iseng merajut renda asmara di dunia maya tak apa-apa. Kasihan bila ternyata salah satu pihak benar-benar jatuh cinta sedangkan di ujung dunia maya yang lain malah menganggapnya tak serius. Hanya mainan belaka. Celaka, bukan?

Lagipula di dunia maya di mana banyak orang bisa bersembunyi di profil Facebook fiktif, tak ada jaminan orang yang menjalin cinta dengan Anda tak memiliki hubungan cinta yang lain. Semisal dengan orang lain di dunia nyata. Parahnya lagi bila sekaligus memiliki pasangan cinta lebih dari satu di dunia maya. Nah, lho?

Ada Teroris di Balik Cewek Seksi

Nah ini dia. Bagi banyak mata lelaki, sulit untuk menampik gambar-gambar perempuan berbadan seksi dengan tampilan yang mengundang decak kagum. Menarik. Itu sepintas yang terlihat dari foto profil. Membuat lelaki iseng tak ambil pusing untuk mengirimkan undangan berteman.

Setelah konfirmasi terjadi. Eh, ternyata newsfeed dari cewek seksi tersebut berisi artikel-artikel bertema radikalisme dan penentangan. Gambar-gambarnya pun menampilkan adegan kekerasan dengan tulisan Arab yang tak dipahami banyak orang.

Apakah seseorang ingin direkrut sebagai anggota teroris itu merupakan urusan masing-masing orang. Tapi yang mengecewakan adalah tak adanya gambar-gambar cewek seksi lainnya di newsfeed.

Sensasi Penangguk Jempol

Benar kata orang bahwa hal yang sensasional itu membuat orang tertarik. Sedangkan yang biasa-biasa saja itu membosankan. Makin bombastis suatu artikel atau gambar di newsfeed, makin banyak juga jempol yang diberikan oleh banyak orang di Facebook.

Contohnya beragam. Mulai dari gambar hantu yang terekspos di foto artis. Anak-anak di Etiopia yang tinggal tulang-belulang. Lelaki tua yang setia hingga mati kepada pasangannya atau bahkan anjingnya. Ada yang memang yang memasang hal-hal berbau sensasional karena mengajak banyak orang untuk membantu yang menbutuhkan. Ada kausa utama yang mulia.

Sayangnya banyak yang ‘menjual’ keanehan dunia, kemalangan manusia dan kejadian tak wajar sebagai alat menangguk jempol. Makin banyak jempol makin bagus yang ternyata berujung pada peningkatan popularitas halaman Facebook tertentu. Bisa juga untuk jualan produk.

Coba apa hubungannya berita-berita artis dengan jualan sepatu? Mungkin juga ada berita derita anak pengungsi di Suriah yang kemudian diikuti dengan penawaran mobil bekas? Nah, lho?

Jebakan Batman Lainnya

Masih ada lainnya yang belum tersebut. Masih ada banyak karena banyak manusia yang kreatif dalam menciptakan berbagai jebakan batman yang diam-diam menghanyutkan. Sulit untuk disadari bahwa yang menarik ternyata menyesatkan.

Seperti teman Facebook yang tampan atau cantik yang kemudian minta pulsa ponsel sewaktu hendak dihubungi; setelah diberi lalu raib dengan gaib. Agensi artis gadungan yang hanya ingin menikmati tubuh montok para perempuan cantik yang nafsu ingin menjadi foto model. Jualan ‘ayam kampus’ melalui jejaring sosial. Bahkan penipuan uang dengan dalih donasi tragedi kemanusiaan atau bencana alam.

Bila Anda tahu apa saja jebakan batman lainnya di jejaring sosial terutama di Facebook, silakan membagikannya di kolom komentar.

Bagi yang pernah tertipu malu, ada baiknya memperingatkan orang lain supaya korban yang jatuh tak semakin banyak. Terutama yang punya anak dan keluarga lansia, harus memberi edukasi dan peringatan supaya mereka bisa mengakses Facebook dengan nyaman dan aman; tanpa harus terperosok ke jebakan batman.

Facebook, seperti halnya jejaring sosial yang lain, merupakan alat komunikasi yang efektif dan berguna bagi banyak orang.

Hanya saja, masing-masing penggunanya harus waspada. Bahwa di ranah publik yang maya seperti Facebook, selalu ada pemangsa yang mengincar korbannya yang lengah dan tak berdaya.

Main-main di Facebook boleh-boleh saja. Tapi ingat, jangan sampai jadi mainan orang. Juga tak asal-asalan mempermainkan orang lain di dunia maya.

Fatkini

Secara tiba-tiba rupanya #fatkini sedang ramai diperbicangkan di dunia maya. Rupanya tak hanya mereka yang bertubuh ideal atau kurus yang ingin tampil dengan bikini. Mereka yang bertubuh tambun, gemuk dan besar juga ingin memakai bikini.

Sayangnya dulu bikini dengan ukuran besar jarang atau sulit didapatkan. Berbeda jauh dengan sekarang. Ada produsen atau butik yang membuat dan menjual bikini dengan ukuran ekstra. Meski peminatnya tak terlalu banyak tapi jelas ada segmen pasarnya tersendiri.

Setali tiga uang dengan persepsi masyarakat sekarang. Dulu banyak perempuan bertubuh besar malu untuk memakai bikini. Tidak bisa pamer. Namun seringkali malah dipermalukan banyak orang tanpa memikirkan perasaan mereka.

Trend Fatkini ini juga menjadi indikasi bahwa jumlah orang yang berbadan gemuk meningkat drastis karena menu makanan yang terlalu banyak mengandung karbohidrat, lemak dan gula. Seperti halnya orang lain yang bertubuh normal atau ideal, mereka yang gemuk juga ingin memakai bikini.

Jadi Fatkini menjawab kebutuhan pasar yang unik ini. Fatkini, bikini untuk orang yang bertubuh gemuk.

Jilboobs

Baru saja saya mendengar istilah Jilboobs gara-gara mengulik salah satu koran online di tanah air.

Mendengar istilah tersebut langsung saya menerka bahwa jilboobs lebih kurang adalah pemakaian jilbab namun masih kelihatan lekuk dadanya. Sesuatu yang sebetulnya wajar karena beberapa perempuan memiliki ukuran dada yang besar. Menerawang sedikit pastilah tak masalah.

Nyatanya anggapan saya salah.

Setelah mengulik beberapa gambar di koran online dan mesin pencari, barulah saya paham bahwa jilboobs tak sekedar menerawang. Malah jelas terlihat lekuknya karena kesengajaan pemakainya. Paling tidak, ada kurangnya kesadaraan si pemakai jilbab dan baju tersebut.

Mungkin ada yang berpandangan bahwa bolehlah memakai jilbab tetapi juga ingin tetap menaril. Tapi jelas salah kalau ingin tetap seksi meskipun menggunakan jilbab. Fungsinya malah terbalik. Bila mengenakan jilbab tetapi sengaja tampil menggairahkan jelas itu kontradiktif.

Ada juga yang mengenakan jilbab untuk sekedar bergaya. Maklumlah karena trend selfie yang sudah tak sehat dan tak pada tempatnya. Jadi ya sebatas gaya saja tanpa memperhatikan fungsi dan esensi berjilbab.

Seyogyanya jilbab dipakai dengan kesadaran penuh, memahami fungsinya dan niatnya berasal dari dalam hati dan iman. Bukan untuk lucu-lucuan.

Benar bahwa ada inovasi bentuk dan jenis jilbab. Namun jilbab tak sama dengan kerudung untuk sekedar dekorasi. Namun tak seharusnya disalahgunakan atau menggunakannya dengan salah. Apalagi salah kaprah.

Gerakan Boikot Produk

Memboikot produk tertentu karena alasan tertentu yang jelas merupakan tindakan yang sah dilakukan siapa saja.

Contohnya?

Semisal ada produk makanan kemasan yang kandungan kimianya ternyata membahayakan tubuh. Fatal bila dikonsumsi. Kemudian badan kesehatan mengungkapkan data dan fakta melalui media massa yang kredibel. Bahkan ada surat resmi penarikan produk tersebut dari pasar. Maka memboikot produk tersebut merupakan hal yang logis dan benar.

Ada verifikasi dari badan yang kredibel dan larangan untuk menggunakannya. Dua poin tersebut merupakan alasan yang tepat untuk boikot produk.

Ada contoh lain?

Pernahkah Anda memakan sup sirip ikan hiu? Konon menyehatkan tubuh. Sayangnya proses mendapatkan sirip ikan predator tersebut sangat keji. Nelayan menangkap ikan hiu, memotong siripnya dan kemudian membuang ikan tanpa sirip tersebut ke laut. Ikan malang tersebut akan tenggelam ke dasar laut dan mati tanpa alat geraknya yaitu sirip.

Dengan tidak memesan sup sirip ikan hiu jelas tidak mungkin menghentikan perburuan sirip ikan hiu. Namun paling tidak dapat mengurangi permintaan pasar untuk penyediaan sirip ikan hiu. Pada akhirnya akan menyelamatkan lebih banyak ikan hiu sehingga mereka tidak punah.

Pun dengan makanan ‘eksotis’ lainnya seperti telur penyu, ‘burung’ harimau dan tuna sirip biru.

Bagaimana dengan boikot produk negara tertentu?

Bisa saja. Produk dari negara tertentu bisa jadi berbahaya karena adanya epidemi. Semisal ketika ‘sapi gila’ melanda salah satu negeri di Eropa. Otomatis banyak negara lain menghentikan impor sapi dan olahan daging sapi dari negara tersebut supaya epidemi tersebut tidak melanda negara yang mengimpornya.

Kalau boikot karena alasan politis?

Bisa juga. Pernah mendengar tentang penduduk Tiongkok yang memboikot produk Jepang karena adanya pertikaian batas negara dan pembahasan tentang perang di masa lalu.

Apakah Indonesia pernah memboikot produk negara tertentu?

Sebagai sebuah negara sepertinya tidak seekstrim itu. Coba bayangkan implikasinya. Bila negara kita memboikot produk negara lain bisa jadi produk ekspor kita juga akan diboikot.

Bila ekonomi negara kita berada dalam posisi tawar yang kuat maka tak akan menjadi masalah. Nyatanya kondisi finansial sering loyo dan tak berdaya. Jangankan memboikot, negara kita malah sering kena embargo. Terutama embargo suku cadang peralatan tempur. Yang vital. Akibatnya bisa fatal bila ikut-ikutan asal boikot produk negara lain.

Tapi di surat kabar banyak berita tentang boikot produk di tanah air…

Sebagian masyarakat di tanah air memang cukup sering memboikot produk dari negara tertentu. Entah itu produk Negeri Paman Sam. Begitu juga dengan produk Israel. Dengan berbagai alasan yang berbeda-beda.

Jadi banyak rakyat Indonesia memboikot produk Negeri Paman Sam?

Sebenarnya lebih banyak yang koar-koar untuk boikot produk daripada yang dengan sungguh-sungguh tidak lagi gunakan produk-produk yang dimaksud.

Mengapa begitu?

Sudah ratusan kali banyak golongan masyarakat tertentu yang ingin memboikot produk Amerika. Sayangnya tingkat ketergantungan pada produk yang dimaksud sangat besar. Tak memakainya jelas sangat sulit.

Misalnya?

Komputer. Coba bayangkan kita hendak boikot produk komputasi Amerika. Lihat dulu komputer yang Anda pakai. Bila pun Anda memakai komputer buatan Taiwan, boleh jadi Anda masih menggunakan Windows sebagai sistem operasinya. Bahkan prosesornya pun dari Intel. Kemudian cobalah untuk tidak memakai mesin pencari Google dan tidak menggunakan layanan email Gmail. Susah, bukan?

Itu baru produk komputasi. Bagaimana dengan ponsel? Anda bisa tak menggunakan Apple atau Windows Phone. Tapi bukankah Android juga diciptakan oleh perusahaan Amerika?

Begitu pula dengan mobil, pesawat terbang, modem, obat-obatan dan berbagai macam makanan.

Bila Anda tak siap menerima konsekuensi meninggalkan produk-produk tersebut, tak perlu berkoar-koar untuk boikot. Kelihatan munafik bila Anda memboikot produk Amerika tetapi menyebarkan seruan boikot menggunakan Facebook dan Twitter. Nah, lho? Ironis dan munafik, bukan?

Jadi Anda tak mendukung gerakan boikot produk dengan alasan politis?

Bukan. Bukan begitu. Tak ada keinginan saya untuk mendukung atau membela. Silakan memboikot barang tertentu bila itu keinginan Anda. Itu hak Anda. Hanya seyogyanya Anda harus tahu apa yang Anda katakan harus sesuai dengan yang Anda lakukan.

Lucu bukan bila Anda menyerukan boikot produk Amerika melalui blog Anda di Blogger dari perangkat tablet Android sembari minum kopi di Starbucks. Dan Anda memakai sepatu Nike dan kaos Disney.

Bisa jadi Anda tidak akan dipandang sebagai pahlawan oleh teman dan rekan Anda. Malah menjadi bahan tertawaan karena perbuatan boikot yang latah.

Anda bilang tentang boikot yang latah?

Ya. Banyak orang yang latah karena ikut-ikutan boikot tanpa mengerti kausa utama dari pemboikotan tersebut.

Ketika ada teman yang memboikot suatu produk, Anda ikut berkomentar dan memboikot produk tersebut. Tak jarang malah menyebarluaskan ajakan boikot.

Yang sayangnya orang-orang yang Anda pengaruhi tidak tahu lagi alasan sebenarnya dari pemboikotan tersebut. Gerakan boikot menjadi pepesan kosong karena banyak orang yang memboikot tak tahu dengan benar apa alasan utama boikot tersebut. Hanya samar-samar saja. Kemudian lupa pada suatu hari. Dan tak lagi memboikot produk tersebut.

Pernahkah Anda melihat ajakan boikot produk tertentu di Internet? Mungkin ajakan tersebut meyakinkan. Tetapi bagaimana Anda bisa menvalidasi suatu ajakan benar-benar akurat.

Contohnya?

Baiklah. Ketika ada ajakan untuk boikot produk Amerika lalu ada yang mencantumkan BlackBerry sebagai produk Amerika. Padahal BlackBerry bermarkas dan asli produk Kanada. Tetangga Amerika yang berada di Utara Benua Amerika. Nah?

Silakan boikot produk tertentu setelah jelas bahwa faktanya benar. Tak hanya asal boikot saja.

Kalau kita boikot produk negara tertentu apakah bisa membuat bankrut negara tersebut?

Sayangnya tidak selalu begitu. Perusahaan multinasional memiliki mesin bisnis yang menggurita secara global. Produknya dijual di banyak negara. Boikot di satu atau beberapa negara saja hanya akan mengurangi pendapatan labanya di satu waktu saja.

Misalnya penduduk Indonesia bersama-sama memboikot Windows nyatanya efeknya kecil. Sebabnya banyak yang menggunakan sistem operasi bajakan ketimbang aslinya.

Bahkan boikot produk bisa jadi merugikan bangsa kita sendiri.

Tunggu. Maksudnya bagaimana? Ada contohnya?

Bila boikot produk mengganggu penjualan dan operasi bisnis suatu perusahaan di suatu negara bisa saja ada pemutusan hubungan kerja. Gunanya untuk mengurangi kerugian.

Coba hitung berapa banyak pegawai di rantai restoran waralaba yang kehilangan pekerjaan saat ada boikot produk ayam goreng Amerika?

Pun dengan buruh pabrik pakaian, sepatu dan tas. Dan ada efek domino karena ada ratusan suplai bahan mentah yang bangkrut. Ribuan petani di ujung lainnya pun kena imbas.

Bila tak menyadari implikasi sebuah gerakan boikot maka ada baiknya memahami kondisinya terlebih dahulu. Tidak asal boikot.

Dari tadi Anda sepertinya menyerang gerakan boikot?

Justru saya menganjurkan orang lain untuk melakukan boikot dengan alasan yang jelas, fakta yang kuat dan melakukannya dengan sungguh-sungguh setelah memutuskannya dengan matang.

Memangnya Anda pernah melakukan boikot?

Dulu saya suka dengan rasa gurih dari kentalnya sup sirip ikan hiu. Makanan pembuka yang lezat, unik dan memang jarang ada.

Namun setelah memahami kekejaman dari prosesnya dan kemungkinan punahnya ikan hiu, saya pun berhenti makan sup tersebut. Tak ada lagi keinginan rindu untuk memakan sup itu. Padahal jelas rasanya lezat dan baik bagi tubuh.

Sudah konsekuensi untuk melakukan apa yang sudah kita putuskan. Konsekuensinya adalah saya tak lagi memakan sup tersebut.

Adakah tindakan yang lebih baik dari sekedar asal memboikot produk?

Ada. Lebih baik bagi kita untuk mempromosikan produk-produk dalam negeri kita sendiri. Dengan begitu kita mencintai produk dalam negeri.

Efeknya akan positif karena usaha-usaha dalam negeri menjadi lebih maju. Bahkan bisa menjadi raja yang mendominasi pasar dalam negeri.

Untuk apa boikot ayam goreng Amerika bila akhirnya Anda makan hamburger di restoran Amerika lainnya?

Tapi jika Anda rajin mengajak teman, rekan dan keluarga untuk makan di restoran ayam goreng milik pengusaha Indonesia yang terkenal karena produk halalnya jelas akan menguntungkan bangsa kita sendiri.

Apalagi bila alih-alih memboikot produk luar negeri, Anda menjadi memulai gerakan membuat produk dalam negeri. Jelas lebih baik.

Melakukan penelitian untuk menciptakan teknologi mobil dalam negeri. Memproduksi produk farmasi untuk penyakit epidemi untuk warga negara Indonesia. Membuat alat transportasi sendiri seperti Habibie.

Kesimpulannya?

Gerakan boikot merupakan hak setiap orang. Tentu harus dilakukan dengan bijaksana dan konsekuensinya ditanggung dengan sungguh-sungguh.

Bahkan lebih baik mempromosikan produk dalam negeri dan membuatnya sendiri secara swadaya. Ketimbang membuang enerji untuk ikut-ikutan boikot produk secara latah dan tanpa alasan yang jelas.

Bagaimana kalau saya boikot blog ini dan tak lagi membacanya?

Anda memiliki pilihan bebas untuk mengunjungi blog ini. Pun untuk tak mendatanginya.

Bila Anda memiliki opini yang berbeda juga tak mengapa. Hak berpendapat itu dilindungi negara. Anda pun boleh mengutarakan opini, kesan atau komentar di kolom komentar di bawah ini.

Saya berpikir untuk tidak memboikot blog ini karena tulisannya lumayan renyah dan agak-agak berguna.

Ah, jadi malu saya. Terima kasih.

Silakan mengulik laman-laman dengan berbagai topik di blog ini. Jangan sungkan-sungkan. Bahkan lebih baik lagi kalau membaca-baca di sini sembari minum teh celup produksi negeri sendiri. Tak perlu pakai gula supaya terhindar dari diabetes.

Terima kasih sekali lagi karena sudah membaca postingan blog kali ini yang kepanjangan.

Ramping Pengantin

Saya tertawa dalam hati tatkala mendengar istilah ‘ramping pengantin’. Istilah itu memang sering terdengar tatkala sepasang pengantin hendak melangsungkan akad nikah.

Mengapa ramping pengantin?

Rupanya sudah menjadi rahasia umum. Banyak orang ketika hendak menikah lalu melakukan diet untuk menguruskan tubuh. Supaya lebih ramping daripada biasanya. Tentu dengan tujuan baju pengantin pas dipakai dan penampilannya menjadi lebih baik.

Tak hanya pengantin perempuan yang melakukan usaha merampingkan tubuh ketika hendak menikah. Kaum lelaki pun kini banyak yang ‘berolahraga’ supaya badannya terlihat lebih tegap dan enak dilihat. Minimal mengurangi bagian perut yang membuncit.

Hanya usaha menjadi ramping ketika acara pernikahan sepertinya menjadi perhatian khusus Kaum Hawa. Tak sedikit yang berhasil menjadi lebih ramping di hari istimewa ketika menjadi ‘ratu sehari’.

Mengapa harus ramping?

Tak perlu dibahas panjang lebar. Sudah jelas. Sudah menjadi konsensus masyarakat luas di banyak bangsa dan budaya bahwa pengantin yang ramping itu terlihat lebih cantik. Baju yang indah menjadi pas melekat di tubuh. Bahkan kalau kontur baju bisa mengikuti lekuk tubuh yang seksi, itu lebih diharapkan.

Ada memang segelintir budaya yang malah sebaliknya inginkan pengantin perempuannya tak hanya gemuk. Tapi menjadi sangat gemuk. Mungkin ada hubungannya dengan asumsi gemuk itu subur. Aneh bin ajaib.

Setelah hari pernikahan, masih tetap ramping?

Ini dia masalahnya. Bagi lelaki yang sudah menikah, menggemuk itu menjadi mudah karena kehidupannya lebih terurus. Minimal urusan pangan tercukupi oleh istrinya.

Sedangkan perempuan lebih mudah menjadi besar perut dan pingganggnya karena faktor setelah melahirkan. Pun karena banyak istri yang lebih sering habiskan waktunya di dapur.

Toh bisa jadi karena sudah menikah, keduanya lupa untuk menjaga kondisi tubuh mereka. Perut membuncit. Pinggang melebar. Bentuk badan sudah makin tak keruan ketika umur sudah bertambah.

Jadi sudah tak ramping lagi?

Benar. Ada banyak pasangan yang merasa bersalah karena bentuk tubuhnya tak sebagus ketika mereka melangsungkan pernikahan mereka. Terutama Kaum Hawa. Perempuan juga khawatir bila suaminya sudah tak lagi cinta karena tubuh mereka tak seramping dulu.

Ramping ketika awal menikah. Lalu tak lagi ramping ketika umur pernikahan sudah berjalan bertahun-tahun. Bahkan menjadi gemuk tak karuan.

Tapi masih bisa menjadi ramping lagi, bukan?

Tentu saja. Olahraga. Makan dengan menu yang teratur. Memiliki jam bekerja yang seimbang. Melakukan aktivitas berhubungan intim yang mesra untuk selalu menjaga romansa sekaligus membakar lemak bersama pasangan.

Jadi banyak orang yang idamkan ramping penganting?

Tentu saja. Lihat kanan kiri. Banyak juga pasangan yang tubuhnya tetap ramping meski sudah menikah belasan tahun.

Bukan, bukan pasangan yang karena kondisi keuangan terpuruk jadi tak bisa makan dengan cukup setiap harinya. Itu namanya kurus kelaparan. Bukan ramping pengantin.

Justru mereka yang sadar dengan kesehatan, memiliki kondisi ekonomi yang prima dan pandangan hidup positif memiliki tubuh yang ramping pengantin jauh lebih lama daripada pasangan-pasangan lainnya.

Mengapa pembahasan ramping pengantin ini sepertinya panjang dan cukup heboh?

Wajar saja karena orang selalu membicarakan tentang masa lalu. Saat ketika seseorang terlihat dalam masa puncaknya. Yaitu saat masih muda dan masa pernikahan awal. Titik di mana kehidupan manusia seyogyanya menjadi lebih baik. Siapa sih yang tidak ingin terlihat pada saat yang paling fit? Dan ramping menjadi salah satu acuan di masyarakat umum tentang faktor kesehatan yang optimal.

Alat Komunikasi Sebagai Distraksi Ketika Bekerja

Namanya bekerja tentu memerlukan konsentrasi. Bila ada gangguan, tentu berakibat pada produktivitas. Produktivitas tidak optimal atau minimal menurun.

Setali tiga uang, tanpa konsentrasi kualitas pekerjaan pun juga tak maksimal. Ada pengurangan mutu.

Konsentrasi bisa menurun bila tidak ada fokus bekerja. Namun yang lebih mengganggu adalah distraksi. Entah gangguan kecil atau besar tetap saja membuat produktivitas dan kualitas bekerja menurun. Secara gradual atau secara drastis.

Banyak distraksi yang tak kita anggap sebagai gangguan. Contohnya adalah email dan pesan instan. Banyak orang berasumsi bahwa alat komunikasi begitu pentingnya untuk koordinasi.

Sayangnya banyak orang yang tak begitu paham etika menggunakan alat komunikasi. Banyak yang berpikir bahwa ketika mengirim email pastilah harus cepat-cepat dibalas.

Bahkan yang lebih ‘brutal’ adalah pesan instan. Entah itu Google Chat, Yahoo! Messenger, WhatsApp atau pesan Skype. Ada tuntutan untuk direspon secepatnya. Seakan-akan berbincang langsung kepada orang yang duduk di sebelahnya.

Celakanya, saat beberapa orang mulai menyingkirkan email dan pesan instan sehingga bisa bekerja dengan optimal dan efisien; justru banyak teman kerja dan atasan yang mendorong atau mensyaratkan untuk mengaktifkan alat komunikasi dengan potensi distraksi tersebut setiap saat.

Jadi mau tidak mau, tetap saja ada gangguan, baik diharapkan atau tidak, yang datang melalui alat komunikasi tersebut.

Alasannya sederhana. Dengan komunikasi real-time yang selalu on maka banyak masalah dan tugas bisa dikomunikasikan secepatnya. Semuanya bisa cepat selesai.

Betulkah?

Pada beberapa kondisi memang ada gunanya menggunakan email dan pesan instan. Sayangnya secara keseluruhan, produktivitas menurun drastis. Ada terlalu banyak gangguna yang mengakibatkan pengerjaan tugas-tugas yang lebih penting terganggu.

Bukankah lebih nyaman bila masing-masing individu bisa memiliki waktu produktif tanpa gangguan komunikasi di pagi hari. Kemudian memiliki jam-jam lain yang ditujukan untuk berkomunikasi; secara lisan maupun tulisan. Dengan begitu, penyelesaian tugas berjalan maksimal dan komunikasi pun lancar.

Akun Jejaring Sosial Palsu

Seseorang pernah menuliskan bahwa ‘di dunia maya anjing pun bisa memiliki akun Facebook sendiri’. Apakah orang lain percaya atau tidak bahwa seekor anjing bisa mengelola akun jejaring sosialnya itu soal lain. Namun setidaknya kita bisa berasumsi bahwa pemilik anjing tersebut yang sedemikian rajin membuat, mengelola dan memperbarui status-status di jejaring sosial tersebut.

Bila anjing bisa memiliki akun jejaring sosial, tentunya tak sulit bagi manusia untuk membuat akun jejaring sosial. Tak hanya satu. Bisa dua akun atau lebih.

Kemudahan membuat akun jejaring sosial juga membuat banyak orang bisa membuat akun palsu. Setiap orang bisa menjadi seseorang yang sama sekali baru di dunia maya. Hanya perlu sedikit rekayasa dan imajinasi. Toh, membuat akun jejaring sosial itu gratis dan praktis.

Tiap orang yang membuat akun jejaring sosial palsu pasti memiliki alasannya masing-masing. Ada yang bermaksud untuk sekedar tak mau kehidupan sosialnya diketahui secara gamblang. Namun ingin terlibat dalam komunitas online.

Pun ada yang sengaja membuat akun jejaring palsu untuk tujuan yang negatif. Inilah beberapa tujuan yang kurang baik. Membuat akun khusus untuk menguntit orang lain karena suka tapi malu-malu tanpa ingin ketahuan. Ingin berkenalan dengan banyak orang lalu menipunya. Bahkan ada yang bertujuan untuk aksi spionase. Aduh! Banyak bukan? Apa lagi? Banyak tujuan tak benar yang tak terbayangkan tapi sungguh-sungguh ada. Entah.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk membuat akun jejaring sosial palsu?

Sederhana. Tinggal mendaftar salah satu layanan jejaring sosial dengan akun email gratisan. Beres, bukan?

Ambil sembarang foto yang banyak tersedia di internet. Makin cakep dan seksi, makin mudah menggaet banyak kawan di dunia maya. Kemudian isilah dengan profil diri dengan informasi yang dibuat masuk akal. Keahlian mengarang tentu diperlukan.

Dan seseorang yang baru telah tercipta di dunia maya. Hebatnya tak banyak orang yang tahu dan sadar bahwa akun jejaring sosial tersebut merupakan seorang insan manusia yang tercipta dari imajinasi. Bukan pribadi yang nyata.

Oleh karena itu, waspada bila berkomunikasi dengan orang yang asing di dunia maya. Terutama melalui media jejaring sosial. Siapa tahu seseorang yang Anda kenal di jejaring sosial ternyata hanya karya fiksi yang dikelola oleh seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan yang tak terbayangkan oleh Anda.