Kesan Pribadi Terhadap Forum Internet

Forum internet bukan barang baru di dunia maya. Hanya saja saya selalu merasa bahwa forum internet itu kurang bersahabat terhadap penggunanya. Singkat kata, susah pakainya.

Forum internet, yang umumnya juga disebut sebagai message board, web forum atau malah disingkat sebagai forum, memiliki antarmuka yang cukup kompleks. Disamping itu juga ada aturan-aturan yang berasal dari penyedia layanan forum sendiri. Aturan tertulis dan tak tertulis juga dibuat oleh para admin dan moderator.

Mengenai tampilan internet forum terus terang saya harus mengelus dada. Dari jaman dulu hingga era yang lebih modern, antarmuka forum masih sama saja. Bentuknya masih jendela-jendela dengan banyak thread, kategori dan pohon direktori.

Untuk membuat posting, harus memasukkannya ke kategori dan thread yang sesuai. Bila tidak maka otomatis bisa dihapus oleh admin yang aktif bertugas.

Bahkan konsep membuat thread pun sampai sekarang kurang saya pahami. Mengapa harus ada thread dan bukannya tag atau label. Mungkin memang dari dulu memang begitu teknologinya.

Yang kurang nyaman adalah saat hendak membuat postingan baru. Ternyata setelah selesai mengetik dan menambah gambar, eh, harus mengisi kolom isian dengan captcha. Sepenuhnya saya sadar bahwa fitur pengaman ini diperlukan karena ada saja pengguna yang ingin menempatkan banyak postingan tidak penting atau spammy. Jauh berbeda dengan memperbarui status atau memberi komentar di layanan jejaring sosial.

Ada memang perbedaan forum yang dulu dengan sekarang. Yaitu kecepatan proses berpindah halaman, memberikan komentar dan menjelajahi konten forum. Namun secepat-cepatnya forum tak akan menyamai kecepatan layanan jejaring sosial. Terutama ketika hendak memposting artikel, mengunggah gambar dan menyematkan video. Makan waktu yang terlalu lama.

Bicara tentang kontennya. Tergantung forum yang diikuti, kontennya berasal dari tulisan dan gambar yang orisinal para penggunanya. Namun sekarang ini terkesan lebih banyak comot dari konten di luar forum. Jadi untuk apa ikut forum bila bisa mendapatkan konten yang lebih banyak dengan cepat hanya dengan memakai mesin pencari.

Forum, setahu kesan yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman, juga diminati karena pengguna bisa menggunakan nama anonim. Disamping itu sifat forum yang tertutup dari dunia luar membuatnya menjadi medium yang lebih bebas untuk berkomunikasi, membagi informasi dan bertukar opini. Oleh karena itu, wajar bila forum mengharuskan penggunanya untuk mendaftar dan login. Fungsi administrator dan moderator pun juga dibutuhkan sebagai pengguna yang bisa membuat suatu forum lebih aktif sekaligus lebih nyaman untuk banyak anggotanya.

Beberapa hari terakhir ini saya mencoba untuk menggunakan beberapa forum yang ada di Indonesia. Tak tanggung-tanggung. Enam forum yang paling besar penggunanya di tanah air.

Kesan yang saya dapatkan. Forum itu layanan yang berguna. Saya percaya bahwa sebagian besar penggunanya juga mendapatkan keasyikan mereka sendiri. Hanya saja forum bukan medium yang saya sukai. Tak ada kenyamanan dan kemudahan saat memakainya.

Sungguh. Saya masih bingung cara menggunakannya. Tak familiar. Perlu waktu untuk menggunakannya selain membaca-baca forum; yang hadir dengan jenis font yang kurang elegan.

Dari enam forum, hanya tiga forum di mana saya bisa mendaftar, memposting dan memberikan komentar. Entah kenapa, tiga forum sisanya membuat saya frustasi. Meskipun sudah bisa login tapi tetap saja tak bisa memposting dan berkomentar.

Dengan kesan yang saya terima, saya pribadi berasumsi bahwa cepat atau lambat forum akan ditinggalkan oleh penggunanya. Terlebih dengan adanya layanan jejaring sosial yang lebih mudah digunakan; barik dari layar dekstop maupun perangkat bergerak. Coba bandingkan dengan forum. Hanya satu atau dua yang bisa dinikmati dari ponsel.

Forum sudah ketinggalan jaman. Bahkan ketika beberapa forum sudah memperbarui layanan dan menyempurnakan tampilannya, konsep bertukar pesan ala forum sudah tak lagi menarik.

Namun semua pendapat saya di atas mungkin berbeda dengan orang lain. Sesulit-sulitnya saya menggunakan layanan internet, forum adalah layanan internet yang paling membingungkan buat saya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda rajin dan suka menggunakan forum? Mungkin pula ada dari Anda yang sama-sama frustasi menggunakan forum seperti saya?

Kontrak Karya di Tanah Air

Soal outsourcing atau kontrak karya bukan topik yang baru di tanah air. Kontrak karya memang bisa didapati di mana-mana. Terutama di kota besar yang dekat dengan pelabuhan atau kota yang sarat dengan pabrik-pabrik.

Kontrak karya menjadi solusi bagi banyak pihak. Siapa saja mereka?

Pertama adalah pemerintah. Kontrak karya yang berada di suatu daerah tentu menyerap banyak tenaga kerja. Wajar karena kontrak karya umumnya jenis pekerjaan yang berkaitan dengan manufaktur. Makin banyak tenaga kerja yang terserap, makin senang pula pemerintah suatu daerah karena jumlah pengangguran berkurang di wilayahnya.

Kedua tentunya perusahaan yang membutuhkan jasa buruh kontrak karya. Sebagai perusahaan yang berorientasi pada profit tentu kontrak karya menguntungkan. Alasannya sederhana. Memiliki sekian ratus atau bahkan ribu pekerja kontrak karya lebih ekonomis daripada mempekerjakan mereka semua sebagai buruh tetap. Tenaga kontrak karya bekerja berdasarkan kontrak bulanan atau tahunan. Beda dengan pekerja tetap yang wajib diberi pesangon bila dirumahkan.

Ketiga adalah para pekerja kontrak karya. Meskipun jaminan kesehatan tidak pasti, kesempatan untuk perpanjangan kontrak tidak jelas dan fasilitas yang kurang dari yang didapatkan oleh karyawan tetap; toh mendapat kesempatan bekerja dan memperoleh penghasilan sangat menolong para pekerja kontrak karya. Coba bila tidak ada perusahaan kontrak karya, mereka akan menjadi generasi produktif yang hidup tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan. Hanya saja, sudah semestinya para pekerja berpikir ke depan untuk tetap mencoba mendapatkan lapangan pekerjaan yang lebih cerah di perusahaan lainnya. Bukan hanya bersandar sepenuhnya di perusahaan kontrak karya tanpa kejelasan masa depan.

Yang menjadi persoalan adalah kondisi timpang antara perusahaan kontrak karya dengan pekerjanya. Banyak perusahaan kontrak karya yang terlalu mengejar profit semata tanpa memperhitungkan kesejahteraan pekerjanya. Kemudian memberikan klausul kontrak kerja yang hanya menguntungkan perusahaan. Pekerja dalam posisi tawar yang rendah dan hanya bisa menerima nasib bila mendapatkan musibah kecelakaan atau pemberhentian kerja.

Persoalan seperti ini bisa diatasi bila pemerintah sebagai regulator secara aktif dan inisiatif mengontrol keseimbangan hak dan kewajiban antara perusahaan kontrak karya dan pekerjanya.

Sayangnya selalu saja ada oknum pemerintah yang mempengaruhi regulasi, atau minimal tidak bertindak apa-apa, karena mendapat uang suap dari perusahaan kontrak karya.

Hebatnya lagi, alih-alih memperkuat sektor manufaktur dari pengusaha-pengusaha dalam negeri, para oknum pemerintah justru memberikan karpet merah dan berbagai fasilitas berlebih bagi para perusahaan kontrak karya; yang banyak berasal dari luar negeri sebagai bagian dari Penanaman Modal Asing.

Padahal banyak pengusaha dari dalam negeri yang memiliki jiwa usaha yang kuat dan berminat untuk menyerap tenaga kerja lokal sebagai karyawan tetap.

Tambahan pula, pemerintah terkesan tak ambil pusing dengan posisi timpang perusahaan kontrak karya dengan pekerjanya. Tak peduli juga dengan masa depan pekerja di usia produktif yang bisa terkatung-katung ketika ada PHK tiba-tiba. Bagi pemerintah, sepertinya sudah cukup senang dengan adanya penyerapan tenaga kerja, retribusi pajak dari perusahaan karya dan produktivitas di wilayahnya.

Ketika ada wacana untuk mengurangi secara drastis perusahaan kontrak karya di tanah air, mungkin harus dipikirkan dulu apa yang akan terjadi dengan para pekerja tersebut. Apakah sudah ada cara untuk memberikan tempat berkarya bagi para pekerja tersebut?

Notes di Mac

Tadinya saya meremehkan aplikasi Notes yang tersedia bersama OS X Mavericks. Terasa kurang nyaman dengan fitur yang terlalu sederhana. Bahkan pada awal-awal Notes tersedia dalam versi dekstopnya kesannya buggy. Sering bermasalah dan catatan-catatan kadang menghilang.

Untuk tulis-menulis singkat saya memilih untuk menggunakan Evernote ketimbang Notes. Evernote gratis dan memiliki fitur yang lengkap. Bahkan catatan yang saya buat selalu disinkronkan dengan Evernote di iPhone saya.

Sayangnya Evernote makin lama makin berat. Dipikir-pikir malah kurang praktis. Namun untuk mengoleksi beragam catatan penting, Evernote masih mumpuni. Bahkan mampu diandalkan. Lagipula layanan dasar Evernote gratis.

Kemudian saya beralih ke The Journalist. Aplikasi yang enak buat membuat catatan atau mengarang karena antarmukanya sederhana dan tidak memberikan distraksi. Kelemahan aplikasi ini terletak pada tidak sinkron di perangkat bergerak. Tapi sejauh ini memang aplikasi gratis ini memang paling mantab untuk mengarang panjang. Apapun yang dituliskan otomatis tersimpan di aplikasi tersebut. Tanpa harus menekan tombol Simpan setiap kali selesai menulis.

Eh, anehnya karena akhir-akhir ini sering menggunakan Notes karena butuh meletakkan catatan kecil tapi beda-beda akhirnya merasa nyaman dengan aplikasi ini. Tambahan pula karena otomatis apa yang tercatat di Notes bakal tersinkronkan sehingga dapat dilihat dan disunting di iPad atau iPhone.

Notes yang minim fitur ini memang berguna. Makin sering dipakai, makin bikin senang. Gratis pula. Malah rugi kalau tidak dipakai.

Aral Melintang, Pesawat MH17 Tumbang

Tak banyak orang yang bakal menduga bahwa di abad ke-21 ada pesawat komersil yang ditembak jatuh dengan sengaja. Mengingat kecanggihan teknologi radar, komunikasi pesawat dengan operator lalu-lintas udara dan konvensi bersama yang berlaku secara global untuk tidak menembak pesawat sipil; seyogyanya tak ada lagi pihak-pihak yang menjatuhkan pesawat bukan militer dengan misil.

Namun nasib berkata lain. Malaysia Airways dengan kode penerbangan MH17 tumbang setelah sebuah misil surface-to-air tepat mengenai badan pesawat. MH17 pun hancur di udara. Korban jiwa pun berjatuhan secara harafiah ke tanah. Menurut berbagai berita, tak ada korban selamat. Seluruh penumpang beserta kru pesawat menemui ajalnya saat itu juga.

Benar adanya bahwa sudah ada peringatan dari badan penerbangan Eropa untuk sebisa mungkin menghindari wilayah udara tertentu di atas wilayah Ukraina. Maklum karena negara yang bertetangga langsung dengan Rusia tersebut sedang menjadi lokasi sarat konflik. Yang mengerikan, banyak orang-orang yang tak jelas statusnya kemungkinan besar menguasai persenjataan canggih. Salah satunya adalah misil bernama Buk. Misil ini sanggup menjatuhkan pesawat hingga ketinggian 75 ribu kaki di atas permukaan laut. Sedangkan MH17 diperkirakan hanya terbang sekira 33 ribu kaki.

Sedangkan di saat yang bersamaan, ada dua pesawat dari Singapore Airlines dan India Air yang melintas di waktu dan wilayah udara yang relatif sama. Bayangkan perasaan para penumpang kedua pesawat komersil tersebut ketika mereka mendarat dan mengetahui bahwa pesawat yang mereka tumpangi selamat sampai ke tujuan. Berbeda dengan MH17 yang jatuh sebelum mencapai bandara tujuan.

Namanya juga aral melintang. Oleh karena itu tak ada gunanya berandai-andai bahwa pesawat naas tersebut bisa selamat bila menghindari wilayah berbahaya tersebut. Bahkan alasan supaya menghemat bahan bakar dengan melintasi wilayah yang dekat dengan wilayah larangan terbang pun tak lagi ada gunanya. Wajar bila banyak maskapai penerbangan tetap ingin menghemat bahan bakar demi mengejar keuntungan. Sayangnya memang tak dinyana ada misil yang diluncurkan di wilayah yang masih dianggap aman untuk dilintasi pesawat komersil.

Saat bencana sudah terjadi, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengantarkan jenazah ke keluarga masing-masing, melakukan investigasi dengan detil, membuka kotak hitam dan belajar dari peristiwa tersebut. Selebihnya kita hanya bisa memanjatkan doa untuk mereka yang meninggal dalam peristiwa itu beserta keluarga-keluarga mereka.

Semoga di masa depan tak ada lagi pesawat komersil yang ditembak jatuh. Apapun alasannya. Baik salah tembak atau memang sengaja menembak.

Petasan di Bulan Puasa

Apakah ada korelasi budaya antara petasan dan bulan puasa? Tentu tidak. Anehnya setiap kali bulan puasa datang, petasan pun ramai dijual dan dibeli di berbagai tempat di tanah air.

Sepertinya tidak ada tradisi khusus petasan di negara-negara lain ketika bulan puasa datang. Tak ada seperti itu di Arab Saudi. Setali tiga uang dengan Malaysia, Brunei, Singapura dan di mana pun juga. Hanya di Indonesia. Apa alasannya?

Bisa dimaklumi bila petasan dijual ketika menjelang tahun baru berdasar kalender internasional. Namanya juga perayaan besar, tak hanya petasan namun kembang api yang ukurannya besar dan mampu menyemarakkan pergantian tahun.

Beda dengan bulan puasa. Pada bulan yang suci tentunya masyarakat menjaga lingkungan dan tingkah laku. Semuanya berlatih sabar dan mencoba menjadi lebih tawakal. Tentu adanya petasan sangat mengganggu terselenggaranya bulan puasa.

Coba bayangkan apa yang terjadi bila ada petasan yang bunyinya memekakkan telinga tiba-tiba meledak di dekat kita. Ada rasa jengkel. Rasa sabar diuji. Marah pun percuma karena sudah petasan sudah membuat kaget.

Mungkin banyak yang beralasan, banyaknya petasan yang dijual bebas memang membuat banyak orang tertarik untuk membelinya. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Ada sedikit kesadaran untuk seyogyanya tidak membuang uang untuk membeli petasan yang tak ada manfaatnya. Malah petasan memiliki lebih banyak mudarat. Uang terbakar percuma, luka-luka karena salah menyalakan petasan hingga rumah terbakar habis karena percikan api dari petasan.

Hebatnya lagi petasan bebas dijual. Pastilah petasan dilarang secara hukum. Hanya saja penegakannya tidak berjalan dengan efektif. Bahkan tidak ada sanksi sosial dari tingkat lingkungan setempat bagi penjual petasan. Hanya sebatas berkeluh-kesah atau marah-marah sendiri.

Mengenai mengapa petasan selalu muncul di bulan puasa, saya memiliki satu teori sederhana. Pada bulan puasa, banyak sekolah yang libur atau hanya beroperasi lebih pendek ketimbang hari-hari biasa. Anak-anak pun berusaha mencari kegiatan atau sesuatu untuk dilakukan. Ketersediaan petasan yang dijual di mana-mana membuat banyak anak-anak pun tertarik untuk menyalakannya. Tak hanya dinyalakan ketika Lebaran tiba. Justru dinyalakan saat sore hari ketika banyak orang pergi ke Mesjid untuk melakukan Tarawih atau saat sore hari ketika orang melakukan Ngabuburit menunggu suara Bedug bergema tanda berbuka puasa dimulai.

Alhasil sore dan malam hari diramaikan dengan suara petasan yang mengganggu. Tak ada hubungan antara bulan puasa dengan petasan. Petasan ada karena ada kebutuhan dan ada yang jual meski sudah dilarang. Petasan di bulan puasa merupakan pekerjaan rumah bagi aparat hukum dan para pemimpin lingkungan. Seyogyanya petasan tak harus selalu ada setiap kali bulan puasa datang. Biarkan bulan puasa berlangsung dengan damai.

Risak

Menurut Anda apa arti kata ‘risak’? Tidak tahu? Apa mungkin malah belum pernah mendengarnya sama sekali?

Saya baru menemui kata tersebut gara-gara membaca artikel sebuah koran online nasional menyoal Tudung Fatimah dari Syahrini. Bukan Syahrini, selebritas sensasional ini, yang menjadi perhatian saya. Kata risak yang menjadi keheranan saya.

Ternyata risak sebanding dengan bully. Sudah lama saya penasaran kata apa yang kiranya tepat dengan kata bully dalam Bahasa Indonesia.

Dalam artikel tersebut rupanya para netizen merisak baju Syahrini yang warnanya kuning dari atas hingga bawah. Syahrini dirisak dengan kata-kata candaan yang bernada mengejek. Ada yang mengatakan baju kuning tersebut seperti pisang berlapis margarin. Begitu pula dengan beragam perkataan yang jelas tidak memuji.

Memang fakta bahwa baju yang dikenakan Syahrini tersebut memang jauh dari normal. Serba kuning yang meskipun mirip baju muslimah namun ternyata hanya tudung biasa. Bukan kerudung. Tak heran Syahrini menjadi bulan-bulanan di dunia maya.

Risak-merisak memang tindakan yang kurang baik. Sebuah penghakiman asal-asalan yang membuat malu yang dirisak. Namun tak bisa dipungkiri, ada saja tingkah laku para selebritas yang membuat para perisak menjadi gatal tangannya. Tingkah laku yang bikin alis mengerut memang mengundang perisakan. Jadi sudah ada resiko tersendiri bila selebritas bertingkah aneh kemudian menuai ejekan dan menjadi bahan tertawaan.

Merisak di dunia maya menjadi lebih mudah karena banyak perisak yang bisa bersembunyi di balik akun-akun anonim. Tak ada tanggung jawab sosial. Bahkan memang jelas pengecut karena berani merisak tanpa mempertunjukkan jati diri sebenarnya.

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah pernah merisak orang lain di dunia maya? Semoga tidak. Apakah sudah pernah mengalami perisakan? Semoga juga tidak. Bila tingkah laku memang benar, tak ada alasan perisak akan merisak Anda.

Bagaimana Cara Menulis Buku?

Kadang-kadang orang bertanya kepada saya cara untuk menulis buku. Mungkin karena saya pernah menerbitkan dua buku. Mungkin juga karena sering mendorong orang lain untuk menulis melalui blog hingga menulis buku.

Tentu saja saya menjawab semampu saya meskipun sadar sepenuhnya bahwa ada banyak penulis yang jauh lebih pantas untuk menjawab pertanyaan mengenai langkah demi langkah untuk menulis buku. Pun ada banyak buku yang tuntas mengupas tentang menulis di berbagai toko buku.

Jawaban saya standar. Semampu saya. Berikut ini pertanyaan dan jawaban yang umumnya disampaikan, baik melalui lisan, email dan Facebook.

Saya ingin menulis buku. Bagaimana?

Mantab! Salut dengan keinginan tersebut. Menulis buku itu seperti laiknya menulis diari atau jurnal harian. Menulis dengan ringan, sederhana dan semakin sering dilakukan makin baik. Tak sesulit membuat skripsi sebagai syarat gelar sarjana. Bila Anda rajin menulis di blog, menulis buku itu sesuatu yang beda-beda tipis.

Tapi saya tak pernah menulis blog atau diari sebelumnya.

Baiklah. Tak semua orang punya kebiasaan menulis. Mungkin menulis karena terpaksa jika harus membuat laporan di tempat kerja. Banyak orang yang lebih banyak mengobrol ketimbang menulis. Itu kata kuncinya. Bila Anda bisa banyak bercerita berbagai hal dalam hidup ini ke teman-teman sembari minum kopi berarti Anda memiliki banyak sumber ide. Apa yang Anda bicarakan bisa dituangkan ke dalam lembaran kosong atau laman putih di laptop.

Langkah kecil yang harus dilakukan cukup sederhana. Ambil buku kosong untuk menulis ide-ide yang terlintas di benak. Tulis saja tanpa harus repot menyuntingnya. Tetap tuliskan tanpa harus mempedulikan apakah tulisan tersebut bagus atau tidak. Bila Anda ingin tulisan dibaca dan dikomentari oleh orang lain, bikin saja blog dengan menggunakan layanan WordPress.com yang gratis.

Ide Saya Banyak Sekali Tapi Sulit Menuliskannya

Hmm. Coba sebutkan tiga ide yang Anda pikirkan!

Sebagian besar orang tidak bisa menyebutkan ide mereka meskipun sudah bilang bahwa mereka punya banyak ide. Sedangkan mereka yang langsung bisa mengutarakan tiga ide yang mereka sukai umumnya malah benar-benar punya ide.

Ada baiknya bila memikirkan ide dari hal-hal yang memang Anda sukai. Bisa apa saja. Hobi jalan-jalan. Kesukaan tentang kuliner dan cita rasa. Pengalaman hidup. Lika-liku percintaan. Berbagai hal di tempat kerja. Segala sesuatu yang familiar dengan kehidupan Anda bisa menjadi ide.

Baiklah. Sekarang Anda ingin menulis buku apa?

Mari kita asumsikan tak ada lagi kesulitan dengan ide. Ide sudah ada di benak Anda. Bahkan Anda sudah menuliskannya di buku atau laptop. Sekarang buku apa sih yang ingin Anda buat?

Buku jalan-jalan. Buku masakan. Buku fotografi. Cerita romansa. Apapun itu, yang penting Anda benar-benar menyukainya.

Bila Anda benar-benar menguasai topik tersebut, mantab! Bila tidak, bagaimana? Tak apa-apa. Tetap saja Anda bisa membuat buku tersebut. Justru proses pembelajaran bisa menambah wawasan Anda seiring pembuatan buku.

Jenis buku apa yang sedang trend saat ini?

Pertanyaan bagus. Ada saatnya untuk memikirkan buku-buku yang sedang populer di pasaran. Buku catatan perjalanan sedang laris manis seiring makin banyaknya orang yang ingin jalan-jalan.

Ada juga buku berisi cerita mirip-mirip dengan drama Korea dan fan-fiction. Asal latar belakangnya Korea agaknya lumayan laris. Namun yang namanya trend bisa berakhir dengan cepat. Bukankah trend selalu berubah seraya waktu?

Bukan berarti buku yang kurang trendy tidak layak dibuat. Selalu ada jenis-jenis buku yang digemari dan dibeli oleh banyak orang justru karena termasuk buku yang memberi wawasan.

Buktinya selalu ada permintaan akan buku menggunakan komputer. Buku masak-memasak. Buku motivasi. Buku tentang mendekorasi rumah. Bahkan buku yang menyangkut agama dan beribadah tetap ada di rak-rak toko buku.

Saatnya berkunjung ke toko buku.

Katakan saja Anda ingin membuat buku perjalanan karena suka dan sering jalan-jalan. Anda sudah punya ide, beberapa coret-coret di kertas, kumpulan foto dan memori yang indah tentang perjalanan-perjalanan tersebut.

Sekarang waktunya untuk main ke toko buku untuk melihat-lihat buku perjalanan yang bisa bagus-bagus. Pakailah buku tersebut sebagai sarana inspirasi. Pelajari format penulisan bukunya. Bila perlu belilah buku perjalanan yang membuat Anda terkesan. Bukan, bukan menconteknya. Melainkan belajar dari buku tersebut bagaimana sistematika penulisannya melalui bab-bab. Catatlah hal-hal yang membuat Anda terkesan dengan buku-buku tersebut.

Anggap saja kunjungan ke toko buku sebagai studi banding murah meriah. Bila ada perpustakaan, kunjungi juga. Nikmati saja studi bandingnya. Ada terlalu banyak inspirasi yang bisa didapatkan di toko buku dan perpustakaan untuk membuat buku.

Mulai menulis.

Langsung tulis saja. Tak perlu banyak teori. Kumpulkan apa saja yang Anda punyai. Entah itu foto-foto, kumpulan artikel sebagai sumber penulisan atau catatan-catatan kecil yang selama ini tersebar.

Saat tulisan sudah terkumpul banyak. Lihat lagi skema penulisan bab-bab di buku yang menjadi inspirasi Anda.

Coba susunlah tulisan-tulisan tersebut ke dalam bab-bab yang terkait. Tak perlu ambisius. Menulis satu bab dalam satu minggu atau satu bulan sudah bagus. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kan?

Saat bab-bab sudah tersusun dan bahan tulisan sudah habis, perlihatkan tulisan tersebut ke keluarga atau teman Anda. Umpan balik perlu. Bahkan bisa jadi menambah ide atau bahan yang diperlukan.

Tak perlu terlalu menyunting draft buku Anda tersebut. Yang penting Anda fun dengan draft tersebut.

Istirahatlah sejenak dari draft tersebut. Dengan begitu Anda tak begitu tertekan.

Setelah itu coba tambahkan yang perlu ditambahkan. Ubah yang perlu diubah. Tulis juga hal-hal kecil namun diperlukan seperti daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka; yang memang selalu ada dalam sebuah buku.

Lalu?

Kirimkan naskah ke penerbit.

Setelah draft menjadi sempurna, setidaknya menurut versi Anda, Anda bisa mempersiapkannya menjadi naskah yang siap kirim.

Ada penerbit yang menerima naskah dalam bentuk salinan berkas elektronik melalui email (softcopy). Ada juga yang mensyaratkan Anda untuk mencetaknya di lembaran kertas (hardcopy). Lihat syarat yang dibutuhkan yang umumnya terdapat di situs penerbit tersebut.

Bila tak Anda temukan, kirimkan email atau mengontak secara langsung melalui alat komunikasi yang ada.

Ingatlah bahwa masing-masing penerbit memiliki proses dan jangka waktu yang berbeda-beda. Anda bisa mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus. Bila sudah ada persetujuan dari satu penerbit, hubungi dan tarik naskah tersebut dari penerbit-penerbit yang lain sehingga tidak ada penerbitan buku secara ganda yang jelas tidak etis.

Buku sudah disetujui tapi mengapa belum terbit?

Saat kata sepakat sudah didapat berarti naskah Anda sedang melalui proses yang panjang. Redaksi akan menyunting naskah tersebut. Ilustrator akan membuat kreasi grafis yang mempercantik buku. Hingga waktunya petugas cetak mencetak lembaran-lembaran buku Anda.

Mengapa lama? Banyak naskah antri di meja redaksi dan proses-proses selanjutnya. Oleh karena itu bersabarlah. Sesekali dua kali bolehlah mengontak staf yang menangani buku Anda. Tak perlu menuntut penerbit untuk menerbitkan lebih cepat dari seharusnya karena selalu ada urutan prioritas.

Lalu apa yang harus saya lakukan?

Bagaimana kalau mulai mencari ide-ide segar yang baru untuk disusun menjadi buku Anda yang kedua dan seterusnya?

Menulis bukanlah hobi. Bukan pula profesi. Dalam kebudayaan di negara-negara maju dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, menulis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Membuat buku bukan pula barang baru. Buku boleh jadi merupakan produk sampingan karena kebiasaan menulis setiap harinya. Nah, lho? Asyik bukan?

Saya ingin bikin blog supaya kemampuan menulis saya meningkat. Bagaimana, ya?

Luangkan waktu untuk membuat blog gratis yang bisa dibuat dengan WordPress, Tumblr atau Blogger. Bila sudah membuat blog, silakan memberikan alamat blog Anda di kolom komentar di bawah. Saya sukablogwalking berbagai blog; terutama bila berkaitan dengan tulis-menulis.

Baiklah menulis buku itu mudah. Tapi mengapa tidak banyak yang melakukannya?

Pertanyaan tersebut membuat saya tertegun sesaat. Mengapa, ya? Ya, mungkin karena banyak orang yang merasa takut menulis atau berpikir tidak mampu melakukannya. Bisa juga karena malas. Malah sepertinya lebih banyak yang memilih menonton acara televisi yang makin tak bermutu ketimbang meluangkan waktu untuk menulis buku.

Bagaimana, masih mau menulis buku dan meninggalkan kegiatan lain yang kurang produktif? Menulis itu menyenangkan asal dibikin enteng dan fun.

Saya ingin tanya-tanya lagi. Bolehkah?

Tentu saja boleh. Bila ada pertanyaan, cukup ketikkan pertanyaan di kolom komentar. Bila ada kesempatan dan kemampuan, saya akan menjawabnya.

Cuma sampai sini saja artikelnya?

Cukup sekian untuk sekarang. Nanti disambung di artikel lainnya. Terima kasih sudah membaca hingga selesai.

Lokalisasi, Ditutup atau Tidak?

Rencana penutupan daerah lampu merah bernama Gang Dolly berhasil dieksekusi oleh Ibu Risma, Walikota Surabaya, sebelum Bulan Suci Ramadhan mulai.

Banyak orang memuji usaha Ibu Risma untuk menutup lokalisasi yang terkenal hingga ke mancanegara tersebut. Bahkan selama ini, tak ada walikota-walikota sebelumnya yang mau sekaligus mampu menutup tempat mangkal para pekerja seks yang konon dimulai oleh Dolly, mucikari keturunan Belanda.

Saya termasuk orang yang setuju dan salut dengan keputusan Ibu Risma menutup Gang Dolly dan mengubahnya menjadi wilayah yang bersih dari segala jenis usaha yang terkait dengan pelacuran. Hanya saja ada pertanyaan yang menohok. Bila Gang Dolly tutup, bagaimana kalau prostitusi dan pelakunya menyebar ke segala penjuru kota Surabaya? Bukankah malah lebih sulit bagi pemerintah untuk mengatur dan membatasi kegiatan prostitusi?

Sepertinya dilematis, bukan? Bila daerah lampu merah tetap eksis berarti pemerintah dan masyarakat setempat setuju dengan adanya pelacuran. Sebaliknya, saat pemerintah dan masyarakat menutup suatu tempat lokalisasi bisa berarti membantu penyebaran pramunikmat ke banyak tempat publik.

Namun ada garis terangnya. Ada atau tidak adanya daerah lampu merah, tetap saja akan ada aktivitas prostitusi. Hanya saja, eksistensi daerah lampu merah jelas mempermudah akses banyak lelaki untuk mendapatkan jasa esek-esek ini.

Berbeda bila tidak ada daerah lampu merah. Meskipun pelaku prostitusi menyebar ke banyak tempat, akses terhadap layanan memberi kepuasan syahwat menjadi tidak semudah seperti yang didapati dengan adanya lokalisasi.

Ada beberapa poin yang bisa menjadi argumentasi bahwa lebih baik untuk menutup lokalisasi ketimbang membiarkannya tetap eksis.

Lokalisasi dan Perdagangan Manusia

Tak bisa dipungkiri bahwa perdagangan manusia, terutama perempuan, menjadi salah satu cara untuk menambah jumlah ‘dagangan’ yang bisa dijual ke lelaki hidung belang. Teramat banyak perempuan yang ditipu dan disekap di rumah para mucikari yang kemudian dipaksa melayani para lelaki hidung belang; tanpa ada kesempatan untuk membela diri atau paling tidak melarikan diri dari tempat tersebut.

Memang ada banyak cerita bahwa tetap ada perempuan yang ingin terjun ke dunia hitam atas keinginannya sendiri. Namun alasannya biasanya berasal dari keterpaksaan. Entah itu kebutuhan ekonomi, berasal dari keluarga yang berantakan, balas dendam karena ditipu oleh pasangannya atau karena dibuang oleh keluarga dan masyarakatnya. Kata kuncinya adalah terpaksa. Bukan karena cita-cita.

Dengan adanya lokalisasi, perdagangan manusia makin menjadi-jadi karena para mucikari selalu membutuhkan pramunikmat yang baru dan lebih muda; yang bisa memuaskan pelanggan dan menghasilkan pundi-pundi tak halal yang lebih banyak lagi.

Lokalisasi dan Anak-anak

Tak perlu kaget bila ada anak-anak yang menghuni daerah lokalisasi. Anak-anak tersebut ada karena orangtua mereka hidup dari jasa esek-esek. Bahkan tak jarang, ada banyak anak-anak yang terlahir karena ‘kecelakaan’ yang terjadi antara pramunikmat dan pelanggannya. Masa depan mereka suram karena tumbuh di tempat yang sangat jauh dari ideal.

Anak-anak tersebut mendapat pengaruh yang buruk dari lingkungan sekitarnya. Tak jarang anak-anak tersebut mendapat perlakuan kasar secara verbal dan fisik. Selain itu, anak-anak malang tersebut dijauhi oleh anggota masyarakat karena latar belakang mereka yang kelam. Alhasil banyak anak-anak tersebut yang berakhir seperti orangtua mereka. Menjadi para pekerja seks atau yang terkait dengan prostitusi.

Lokalisasi dan Kesehatan Seksual

Banyak yang berpikiran bahwa adanya lokalisasi mempermudah para pekerja kesehatan dan pekerja sosial untuk memantau dan menfasilitasi kesehatan para pramunikmat. Ada benarnya. Namun prosentasenya tak begitu signifikan.

Coba bayangkan bila salah seorang pramunikmat terkena penyakit menular seksual. Mungkin karena kebutuhan untuk hidup, tetap saja melakukan aktivitas jual beli seks. Toh, para pekerja kesehatan dan pekerja sosial tak mampu berbuat banyak untuk membatasi penularan penyakit menular seksual.

Lokalisasi, sebaik apapun kondisinya, tak pernah mendapatkan perhatian yang semestinya dari pemerintah. Tak perlu mengharapkan adanya pengawasan dan bantuan kesehatan. Itu hanya sebatas teori. Justru yang terjadi, pemerintah daerah membiarkan lokalisasi tetap ada karena tak mampu memberikan solusi mengentaskan kemiskinan. Pemerintah daerah juga tak berani untuk menutup lokalisasi karena adanya backing dari oknum aparat keamanan.

Lokalisasi, Mempermudah Jasa Esek-esek

Yang namanya lelaki hidung belang, bila syahwat sudah tak bisa dibendung pastilah akan mencari pemuasan diri. Cara termudahnya adalah membeli jasa para pramunikmat. Meskipun banyak pelaku prostitusi yang berada di segala lapisan masyarakat, toh, tak banyak yang tahu bagaimana mendapati keberadaan para pramunikmat. Cara yang paling praktis yaitu dengan mendatangi daerah lampu merah.

Tak hanya para pelanggan semata, banyak anak-anak muda atau newbie yang penasaran dengan jasa esek-esek pun sengaja mampir ke lokalisasi. Pada awalnya hanya iseng dan ingin tahu. Bisa jadi berakhir menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan tetap yang rajin menyambangi daerah lampu merah. Jelas, lokalisasi menjadi magnet yang menarik banyak lelaki untuk datang dan menikmati kesenangan yang diharamkan tersebut.

Jadi lokalisasi lebih baik ditutup atau tidak?

Dengan empat poin argumentasi di atas, lokalisasi jelas harus ditutup. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Tidak ada pembenaran yang cukup baik dan masuk akal untuk membiarkan daerah lampu merah eksis di tengah-tengah masyarakat.

Apakah penutupan lokalisasi akan menghentikan prostitusi? Jelas tidak. Prostitusi tetap akan ada selama ada kebutuhan dan ketersediaan.

Tentu harus ada solusi cerdas yang manjur yang diberikan kepada para pramunikmat sehingga mereka bisa hidup mandiri. Tak sekedar menutup daerah lokalisasi dan tak memikirkan nasib para penghuninya.

Dengan alasan-alasan di atas, penutupan daerah lampu merah menjadi suatu cara yang efektif untuk memberantas atau menurunkan aktivitas jual beli seks. Yang otomatis akan menurunkan penularan penyakit menular seksual, menghambat perdagangan manusia dan menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat dan bermoral.

Ponsel Pintar Murah Meriah

Beda dulu dengan sekarang. Dengan adanya kemajuan teknologi manufaktur, ponsel pintar bisa diproduksi secara masal, semi-otomatis dan cepat. Di sisi lain, beberapa produsen ponsel berlomba-lomba mendapatkan pelanggan dengan mengurangi margin keuntungan sehingga harga per satuan ponselnya menjadi makin murah. Lebih banyak lagi pembeli ponsel yang mampu menjangkau harganya.

Dampak positifnya langsung dirasakan. Ponsel pintar tak lagi mahal. Murah meriah sudah bisa mendapat ponsel yang bisa memiliki beragam fitur canggih. Sebut saja akses Internet, navigasi GPS, kamera yang mumpuni, mampu dipasangi berbagai aplikasi terkini dan memiliki kapasitas penyimpanan yang memadai.

Bahkan saking bersaingnya ponsel pintar, harganya pun tak jauh beda dengan feature phone; yang hanya bisa sekedar melakukan panggilan telepon, terima kirim sms dan beberapa aplikasi sangat sederhana. Oleh karena itu, makin banyak konsumen yang lebih memilih memiliki ponsel pintar yang murah meriah ketimbang membeli ponsel yang ketinggalan jaman meski harganya lebih murah.

Ponsel pintar murah meriah memang menjamur. Hampir semua orang yang memegang ponsel kini bisa melakukan banyak hal dengan ponselnya. Memotret. Menonton layanan video. Mengirim email dengan lampiran. Hingga menggunakan ponsel untuk keperluan bisnis.

Sayangnya, ponsel pintar yang ada di mana-mana tak menjamin bahwa pemiliknya mampu menggunakannya dengan maksimal. Masih banyak yang tak paham benar dengan ponsel pintar karena tak terlalu pintar menggunakannya. Alhasil, ponsel pintar hanya digunakan seperti laiknya ponsel sederhana minim fitur.

Prahara Hitung Cepat

Hitung cepat atau quick count merupakan salah satu cara untuk mengetahui gambaran persentase perolehan suara yang berdasarkan pengolahan data sampling. Itu pengertian yang saya peroleh sejauh ini. Untuk lebih jelasnya, silakan melihat referensi yang lebih afdol.

Tentu pelaksaan hitung cepat tak bisa sembarangan. Harus ada metode penghitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Wajib adanya pengecekan berulang dan sistematis dari pengambilan data di lapangan hingga saat hasilnya ditampilkan ke publik.

Kesalahan memang bisa terjadi namun bisa diminimalisir. Kesalahan data 1% masih bisa ditolerir. Lebih dari itu, keabsahan data dipertanyakan. Pasti ada kesalahan pengambilan atau pengolahan data. Bisa juga adanya manipulasi angka.

Untuk Pilihan Presiden kali ini, kesalahan data 1% saja sudah mewakili sekian banyak suara pemilih. Bahkan ketika pertarungan dan dukungan saling berkejaran dan berlangsung sangat ketat, kesalahan marjin kesalahan harus seminimal mungkin. Salah tampilkan hasil bisa berujung pada kesalahan hasil secara total. Bila ada dua belah pihak yang bersaing, hasil yang sedikit di atas 50% atau di bawahnya jelas membuat perbedaan besar. Oleh karena itu, hitung cepat tak bisa dilakukan sembarangan dan tergesa-gesa ditayangkan di berbagai media.

Salah satu yang membuat gerah di Pilpres kali ini mengemuka ketika dari sekian banyak lembaga dan media yang melakukan hitung cepat; ada segelintir hitung cepat yang hasilnya jauh berbeda dengan hitung cepat kebanyakan.

Tentu saja suara mayoritas bukan jaminan kebenaran. Namun menjadi pertanyaan ketika segelintir hitung cepat tersebut, yang dianggap belum memiliki kredibilitas, telah beberapa kali salah melakukan hitung cepat secara fatal dalam beberapa Pilkada sebelumnya dan Pilihan Legislatif. Terlebih lagi ketika ditayangkan di salah satu stasiun televisi, jumlah totalnya melebihi 100%. Salah ketik di layar televisi bisa terjadi. Tapi ingat bahwa ini momen yang penting, krusial dan sensitif. Tak seharusnya ada kesalahan elementer yang terjadi karena imbasnya sangat besar.

Memang perlu adanya audit untuk membuktikan apakah segelintir hitung cepat yang hasilnya sumbang tersebut kredibel atau tidak. Namun bila ada pihak yang bertanding sudah memakai hitung cepat, yang disangsikan tersebut oleh sekian banyak ahli dan masyarakat, dan memakainya untuk melegitimasi kemenangannya; rasanya sungguh menjijikkan.

Bayangkan Anda saat ini menonton pertandingan Brazil melawan Jerman pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2014. Kemudian di layar televisi Anda melihat pemain Tim Samba beserta seluruh warga Brazil bersorak-sorak setelah peluit tanda kelarnya pertandingan berbunyi. Anda secara otomatis akan merasa aneh. Mengapa Brazil yang hanya berhasil menceploskan satu gol kegirangan menang. Sementara Tim Panzer Jerman hanya bengong tak percaya karena merasa berhasil membuat 7 gol di gawang lawan. Tak wajar, bukan?

Hal sama pun dirasakan sekian banyak penonton televisi dan masyarakat Indonesia di tanah air. Salah satu pasangan capres dan cawapres bersorak-sorai bersama para pendukungnya karena merasa menang. Padahal dasar yang dipakai adalah hasil hitung cepat yang dianggap tidak kredibel oleh para ahli hitung cepat dan pengamat politik.

Hitung cepat yang berbeda tersebut benar-benar membuat prahara. Ada semacam hasil tandingan. Ada persepsi yang mungkin sengaja dipaksakan bahwa pemenangnya ada dua. Aneh, bukan?

Lebih aneh lagi saat pihak yang ‘kalah’, berdasarkan beberapa hitung cepat yang kredibel, mencoba untuk underestimateperan dan hasil dari hitung-hitungan cepat hasil Pilpres. Padahal pihak tersebutlah yang getol untuk sesegara mungkin mengklaim kemenangannya. Kemudian jurus lain pun diluncurkan. Berusaha sekuatnya untuk mempengaruhi opini pemilih bahwa keputusan pemenang baru sah nanti setelah hasi dari KPU yang resmi sudah keluar beberapa hari ke depan.

Memang keputusan yang sah ada di hasil yang akan disampaikan KPU. Namun hitung cepat yang kredibel sudah terbukti mampu memberikan gambaran yang akurat. Bahkan TVRI dan RRI yang notabene merupakan milik pemerintah dan dianggap cukup netral karena tidak partisan sudah menampilkan hasil hitung cepat.

Semoga saja permasalahan mengenai perbedaan hasil hitung cepat mereda dan pada saat yang sama hasil dari KPU diumumkan ke publik. Dengan adanya legitimasi hasil Pilpres, pasangan calon terpilih bisa segera maju untuk memulai babak baru negara yang sangat mendambakan pemimpin yang bisa membawa perubahan, mau bekerja keras dan tetap berwibawa dalam kesederhaannya.