Pilpres dan Jin

6 Juli 2009

Tak mampu saya berkomentar saat membaca artikel bertajuk Berharap Pilpres Lancar, Ratusan Jin Dikerahkan. Pilpres berada di ranah dunia politik. Sedangkan pasukan jin yang tak kasat mata tinggal di tataran dunia lain. Lalu, apa hubungan pilpres dengan kehadiran jin? Bagaimana ini bisa terjadi di jaman Blackberry dan netbook.

Bila makhluk dunia lain membantu pilpres manusia apakah berarti manusia bisa membantu ‘pemilu’ di dunia para jin? Aneh-aneh saja. Tak logis. Bisa jadi mereka yang ‘halus’ ini disalahkan ketika ada kotak suara yang raib dengan ajaib ke alam gaib. Bagaimana KPU bisa bertindak? Justru merepotkan.

Pilpres hendaknya hanya melibatkan manusia yang termasuk dalam kategori warga negara Indonesia. Pihak asing, asal tak campur-tangan, tentu boleh ikut mengawasi agar meminimalkan kecurangan yang mungkin terjadi.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran mensukseskan pesta demokrasi. Jadi para jin tak perlu disibukkan. Biarkan mereka mengerjakan tugas mereka di dunia lain. Mereka juga boleh menjadi lakon antagonis atau cameo di film-film horor produksi tanah air. Tapi jangan sampai mereka ikut-ikutan melenggang di panggung demokrasi. Cape deh, kan serem.


Tulis, Bicara dan Baca

3 Juli 2009

Sederhana, kutipan dari Lawrence Clark Powell. Write to be understood, speak to be heard, read to grow. Namun, sangat berarti bagi kehidupan manusia.

Bayangkan bila om Darwin tak pernah tuliskan teori evolusinya. Winston Churchill urung berorasi di Perang Dunia ke-2. Dan sekian banyak orang memilih untuk tidak membaca buku-buku yang membuka wawasan. Pasti akan banyak kemajuan dunia yang tak akan kita dapati.

Hanya saja tulis, bicara dan baca boleh jadi tak semudah yang orang pikirkan. Coba lihat bagaimana pendidikan di tanah air. Murid di bangku sekolah, bahkan di tingkat kuliah, tak dibiasakan untuk sungguh-sungguh menulis opini, mengungkapkan ide secara lisan dan membaca pengetahuan dan wawasan secara selektif. Tentu, ada sekolah-sekolah yang mulai merintis budaya tulis, bicara dan baca meski tak banyak jumlahnya.

Yang umum didapati adalah menonton. Saat di bangku sekolah, sibuk menonton televisi sepulang sekolah. Saat sudah besar, hanya manyun dan bengong menonton kemajuan yang diraih negara-negara tetangga. Bagaimana ini?

Terima kasih untuk para guru yang tak pernah lelah mengajari tulis, bicara dan baca. Sungguh pengajaran yang tak ternilai.


Industri Rokok

3 Juli 2009

Usaha sigaret yang membikin asap mengepul memang laris manis. Bahaya bila menghisapnya tapi tetap saja banyak yang menghisapnya. Harga sembako naik, banyak yang protes. Mahalnya harga rokok, tak berpengaruh karena ada semacam keharusan menghisapnya. Bahkan, yang penting merokok dan rela kelaparan. Kelihatan jelas, industri ini menggiurkan karena sangat menguntungkan.

Lalu, tiba-tiba muncul rencana pemerintah untuk mengendalikan industri rokok ini. Seperti dalam artikel Dilarang, Pemain Baru Masuk di Industri Rokok, jelas bahwa pemerintah sepertinya akan menolak perusahaan rokok besar yang ingin ikut menikmati kue usaha bakar-bakar tembakau ini.

Salut. Itu yang terlintas di benak. Akhirnya pemerintah sadar untuk tak menambah banyak penderita paru-paru, kanker dan gagal janin yang dipicu racikan beracun dari batangan rokok. Kemudian, kata ‘tapi’ muncul di otak saya.

Tak ada pemain baru bukan berarti industri rokok tak bisa ekspansi dan berkembang. Bahkan, makin asyik melenggang karena tak bakal ada kompetitor baru yang muncul. Hal ini bisa jadi akal-akalan pemegang regulasi dengan para pengusaha lama. Terbatas jumlah pemainnya tak serta merta menjadikan pasarnya menciut.

Pada akhirnya saya hanya manggut-manggut. Yang dibutuhkan adalah bagaimana mengurangi produksi rokok yang didistribusikan di dalam negeri. Dengan begitu, makin banyak generasi bangsa yang kesehatan dan umurnya didiskon oleh Nikotin dan teman-temannya.


Masihkah Indonesia memiliki BUMN?

30 Juni 2009

BUMN, Badan Usaha Milik Negara. Begitu besarnya badan usaha milik negara sehingga eksistensinya sangat penting bagi kesejahteraan warga negara. Ada pertanyaan sederhana mengusik benak, berapa banyak sih BUMN yang masih kita miliki? Mungkin lebih tepatnya, berapa banyak BUMN yang masih dimiliki NKRI secara penuh? Coba jawab bila Anda tahu jawabnya.

Ibu Mega mengemukakan wacana ‘menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan ujung tombak kebangkitan dan kedaulatan ekonomi’. Salut dan setuju dengan premis tersebut. Cuma, setelah Ibu Mega melego sekian banyak BUMN sewaktu menjadi presiden, apakah masih ada BUMN yang tersisa yang mumpuni menjadi lokomotif?

Secara fisik semua BUMN berdiri tegak di ranah Bumi Pertiwi. Namun, bukan berarti negara kita memiliki secara penuh BUMN-BUMN tersebut. Banyak yang pendapatan dan keuntungannya dibagi secara tak proporsional dengan pihak asing. Limbahnya dan ekses negatif industrinya, tentu dinikmati rakyat bersama-sama.

Mungkin perlu dijelaskan, ‘kedaulatan ekonomi’ siapa? Negara tetangga? Gabungan negara-negara maju dan industrial dari Barat? Hebat, ingin menggerakkan gerbong ekonomi tanpa lokomotif? Hal tersebut cuma mungkin terjadi dalam ranah ‘dunia lain’ seperti Kereta Hantu Manggarai. Sungguh mengerikan.

Disclaimer: tulisan ini muncul karena sebatas heran, tak ada maksud menyerang atau pun memihak capres tertentu.


Menyoal Membuka Jutaan Hektar Lahan

30 Juni 2009

Barusan saya melihat salah satu visi Ibu Mega. Mencetak 2 juta hektar lahan baru sekaligus membuka 4 juta hektar lahan aren. Namun, di nomor visi yang kesekian terdapat rencana penghijauan kembali 59 hektar lahan yang rusak. Kontradiksi?

Membuka lahan baru merupakan hal yang tak mudah. Juga tak segampang itu mereboisasi lahan rusak. Namun, semua upaya tersebut masih mungkin terjadi. Hanya saja, saya hanya saja geleng-geleng kepala dengan luasan jutaan hektar. Ukurannya benar-benar mega. Fantastis.

Masih ingatkah Anda dengan proyek sawah satu juta hektar di Tanah Borneo? Hayo, berapa banyak hasil panennya hingga hari ini? Sejahterakah warga sekitarnya? Sulit untuk memaklumi kegagalan mengubah hutan menjadi area persawahan yang berakhir menjadi padang-ilalang.

Tiba-tiba saya masih teringat kisah hancurnya Bangsa Maya berabad-abad silam. Kebudayaan tertinggi pada masanya jatuh karena pembukaan lahan secara besar-besaran. Bumi pertiwi tak sanggup menyembuhkan dirinya karena ditanami secara masal. Lalu, panen pun gagal, masyarakatnya mati kelaparan atau terpaksa mengungsi ke tempat lain. Secara green revolution yang bergema di seluruh penjuru dunia, jelas-jelas visi lahan berukuran mega menurut pemikiran Ibu Mega hanya akan merusak lingkungan.

Disclaimer: tulisan ini netral ditulis karena keheranan semata, tak ada maksud menyerang atau pun memihak capres.