Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • Aloysius Heriyanto 11:18 AM pada 9 March 2014 Permalink | Balas  

    Situs Indah yang Menyebalkan 

    Semua orang umumnya senang bila membuka situs yang tampak indah dan berfungsi dengan baik. Terutama bila bisa dibuka dengan cepat.

    Sebaliknya banyak orang akan merasa jengkel bila situs yang mereka buka tersebut membingungkan. Apalagi bila perlu waktu lama untuk membukanya dengan sempurna. *Lemot*. Kemudian dipenuhi oleh banyak iklan yang mengganggu dan harus diklik untuk menghilangkannya.

    Lebih baik tidak usah tampil terlalu indah. Asalkan bisa berfungsi dengan baik dan lancar, itu sudah cukup. Namun *ya* namanya juga selera. Banyak situs yang muncul dengan berbagai dekorasi yang menawan. Pun ada maskot dan ikon yang lucu-lucu. Belum lagi gambar-gambar yang besar dan menyedot perhatian.

    Sayangnya situs-situs indah tadi harus diakses dengan kesabaran yang tinggi para pengunjungnya. Bahkan dengan teknologi Internet yang makin canggih pun, koneksi Internet pun sering *up and down*. Kadang cepat. Kadang lambat. Kadang hilang sama sekali.

    Padahal bila situs diciptakan dengan kesadaran bahwa koneksi Internet masih *ndangdut*, tentunya pembuat situs akan menyadari apa yang seharusnya ditambahkan dan banyak hal yang harusnya dihilangkan.

    Perusahaan Internet kelas dunia paham dengan itu. Contohnya Google dan Facebook. Layanan mereka menjangkau banyak orang, baik pengguna di negara maju yang bisa *ngenet* secepat kilat atau pengguna dari negeri yang fakir *bandwitdh*.

    Situs mereka boleh dibilang lebih menekankan sisi fungsional daripada keindahan. Maklum karena keindahan itu harus dibayar mahal dengan kesabaran yang tinggi; yang mana orang-orang sekarang jarang yang bisa sabar di tengah kehidupan yang katanya berjalan makin cepat. Padahal dua perusahaan itu sudah menggelontorkan sekian banyak uang untuk membangun sentral data yang paling modern dengan teknologi komputasi paling terkini.

    Bagaimana dengan situs-situs yang dimiliki oleh perusahaan atau instansi yang tak canggih-canggih amat dengan kekuatan finansial model gotong-royong? Harusnya sadar diri dan memperbaiki situs mereka agar lebih fungsional daripada memakai terlalu banyak *make-up* yang tak perlu.

    Situs yang indah tapi menyebalkan itu sudah bukan jamannya lagi. Kecepatan dan mudah digunakan merupakan tuntutan netizen di jaman sekarang. Indah *sih* boleh-boleh saja asalkan tak lagi membuat jengkel pengunjungnya.

     
  • Aloysius Heriyanto 6:36 PM pada 4 March 2014 Permalink | Balas  

    Hidup Dengan Lebih Berani 

    Ada beda yang besar antara seseorang yang hidup dengan keberanian berbanding seorang yang dalam hidupnya selalu diliputi oleh ketakutan.

    Ada berbagai macam ketakutan. Takut untuk ketinggalan. Takut untuk kehilangan. Takut untuk tak bahagia. Ada terlalu banyak ketakutan yang sebenarnya bisa membuat orang merasa ‘mati kutu’. Tak bisa bergerak. Tak bisa *moving on*.

    Padahal dengan menjalani hidup penuh keberanian, banyak orang bisa melakukan banyak hal yang luar biasa. Mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Pun juga kehidupan orang lain. Tak ragu-ragu menghadapi kegagalan, penolakan, penyangkalan dan *status quo*.

    Untuk menjadi berani tak diperlukan formula yang rumit. Pun bukan badan besar. Juga bukan kekayaan atau kekuatan yang luar biasa besarnya. Menjadi berani mulai dari hati. Pernah dengar ungkapan *brave heart*, kan? Semuanya berasal dari dalam lubuk hati.

    Yang jelas bukan dari otak karena justru otak memproses fakta-fakta yang cenderung memberikan justifikasi bagi ketakutan yang muncul. Ironis, bukan? Otak yang mampu berpikir membuat manusia menjadi takut. Maklum karena otak mengumpulkan beragam informasi dari panca indra yang akhirnya memberikan perspektif apakah sesuatu itu berbahaya atau tidak.

    Menjadi berani mulai dari hati. Bila hati sudah tergerak maka hidup dengan keberanian membuat manusia naik selangkah lebih baik daripada sebelumnya. Mau dan mampu menghadapi resiko. Berjuang mati-matian untuk mencapai tujuannya.

    Bagaimana dengan Anda, apakah sudah hidup dengan lebih berani? Semoga sudah.

     
  • Aloysius Heriyanto 6:27 PM pada 4 March 2014 Permalink | Balas  

    Ingin Kembali ke Bangku Sekolah 

    Mendadak ingin kembali bisa mengambil bangku pendidikan. Sekolah lagi. Bukan semacam S2. Justru ingin menempuh pendidikan singkat. Setara Diploma atau minimal mendapat sertifikasi.

    Cuma ternyata sekolah lagi itu butuh biaya. Yang mana saya malah sedang perlu biaya untuk hidup sehari-hari. Kontradiksi. Agak menyesal karena tak memutuskan mengambil pendidikan saat masih di Negeri Merlion. *Gregetnya* baru muncul setelah beberapa waktu tinggal di Kota Gudeg.

    Tidak ada kata terlambat untuk kembali sekolah. Cuma *ya* itu tadi. Harus berjuang lebih banyak karena banyak faktor ‘pengganjal’. *Toh* katanya kalau ada semangat, niat dan mau berkeringat pastilah ada jalan. Baiklah…

    Jalan masih panjang. Pun banyak juga yang sudah usia kepala 7 atau 8 yang masih memiliki nafas untuk menempuh pendidikan.

    *So, let us see*… Semoga bisa!

     
  • Aloysius Heriyanto 10:43 AM pada 4 March 2014 Permalink | Balas
    Tags: bendera, partai,   

    Bendera Partai 

    Beberapa hari belakangan ini mulai banyak bendera berwarna-warni dari berbagai partai. Ada yang kuning, merah, biru. Bahkan ada juga yang berwarna-warni. Pemasangan bendera-bendera yang menjuntai di tepi jalanan dan banyak di depan gedung dan rumah membuatnya seperti adegan di film-film perang.

    Setiap bendera memiliki teritori masing-masing. Pamali untuk menyerobot lokasi yang sudah dihiasi oleh bendera yang berbeda warna. Meskipun begitu tak jarang ada tim pemasang bendera yang juga ‘bertugas’ menjadi pencabut bendera. Entah berapa banyak yang sudah tertanam pun hilang dari tempatnya semula.

    Pengibaran bendera yang ukurannya bervariasi dari kecil hingga yang lebih besar daripada tiangnya diprediksi akan makin ramai dan intensif jelang hari-hari terakhir masa kampanye. Pada saat tenang tak ada yang tahu buat apa kain beribu-ribu meter yang memperlihatkan warna dan logo partai. Mungkin didaur-ulang menjadi baju. Bisa juga taplak. Mungkin alas atau pengganti keset welcome. Sayang bukan bila harus berakhir dengan dibuang menjadi sampah yang mencemari lingkungan.

    Makin banyaknya bendera, makin kencang pula agen cetak dan promosi. Tentu para penjual kain dan penjahit. Makin banyak partai, makin banyak pula pembeli yang memesan bendera. Desainnya pun asal jelas dilihat sudah cukup. Tak perlu yang terlalu detil.

    Tempat saya pun tak terlewati pemasangan bendera partai. Saya sendiri bukan simpatisan partai. Mau pilih partai apapun saya juga masih belum ngeh. Masih menunggu untuk mendengar visi misi para konstituen politik yang berlomba mengumpulkan simpati supaya perolehan suaranya moncer. Cuma karena rumah saya di tepi pertigaan yang sangat ramai, sepertinya bakal banyak yang akan pasang bendera di sana. Untuk sementara, sudah satu bendera dengan warna kuning yang menghiasi pertigaan itu. Siapa yang memasang atau kapan memasangnya pun saya tak tahu. Tiba-tiba sudah terpasang di sana.

    Coba kalau bendera-bendera itu kainnya digunakan untuk pembuatan baju masal nan gratis, pasti banyak kalangan rakyat jelata tak mampu yang akhirnya mendapatkan kebutuhan sandang.

    Tapi ya kembali lagi ke topik pemilu. Tak peduli rakyat kebanyakan suka atau tidak, yang jelas pemasangan bendera itu wajib hukumnya. Dengan begitu rakyat banyak bisa punya ide partai apa yang bakal dipilih. Entah itu biru, kuning, merah, hijau, atau warna-warni yang seperti pelangi.

     
  • Aloysius Heriyanto 9:59 AM pada 4 March 2014 Permalink | Balas
    Tags: berkarya, buku,   

    Muda, Rajin Menulis dan Aktif Berkarya 

    Sewaktu mengunjungi toko buku dekat rumah, saya memperhatikan beberapa buku yang dipampangkan di tempat khusus. Biasanya itu tempat untuk buku yang sedang hot. Yang memang baru dipromosikan dengan gencar. Bisa juga buku yang laris manis. Bestseller.

    Buku di tempat khusus tersebut memang jelas menonjol. Dibanding buku yang tertata rapi di rak-rak buku.

    Dari banyak buku itu, banyak yang penulisnya anak-anak muda. Berkisar 20 tahun hingga 30 tahun. Mereka menulis buku karena kesukaan mereka pada beraktivitas. Ada yang menjadi pembicara lalu menuliskan buku motivasi. Ada yang suka berjalan-jalan dan bukunya buku panduan jalan-jalan. Pun ada yang wiraswasta dan sukses lalu bikin buku yang membagikan bagaimana caranya untuk berjuang dan berhasil dalam hidup.

    Boleh juga, kan?

    Tak cukup menulis dalam Bahasa Indonesia. Ada yang membuat buku dalam Bahasa Inggris. Hebat! Tentu mereka mengalokasikan waktu yang banyak untuk membuat buku-buku seperti itu. Di tengah-tengah berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Benar kata orang, makin bijak seseorang menjalani hidupnya, mereka mampu mengatur waktu dengan baik dan berkarya.

    Bandingkan dengan muda-mudi yang banyak bengong, membuang waktu dengan hal-hal yang kurang jelas, menghabiskan waktu untuk menikmati hiburan yang tak bermutu. Hasilnya tidak ada. Kalau ditanya pasti sedang sibuk. Sibuk apa tidak jelas.

    Sedangkan mereka yang produktif di usia muda, sungguh membuat orang terpana. Kok bisa-bisanya ya mereka masih punya waktu untuk menulis di tengah kesibukan mereka? Padahal sehari hanya 24 jam.

    Mungkin tak begitu ‘wow’ kalau orang mempelajari kehidupan mereka yang muda, rajin menulis sekaligus aktif berkarya. Mereka juga makan dan minum. Tidur dan bercanda. Sama seperti yang lain. Bedanya mereka melakukan aktivitas mereka dengan sungguh-sungguh dan senang. Setiap kesempatan waktu luang, langsung mereka isi dengan kegiatan yang menantang badan maupun otak.

    Hasilnya terlihat dengan jelas. Mereka menjadi pribadi yang produktif. Aktif dan rajin. Dalam 5 atau 10 tahun, mereka akan membuat perbedaan yang berarti dibandingkan teman-teman sebaya mereka.

    Salut!

     
  • Aloysius Heriyanto 9:58 AM pada 4 March 2014 Permalink | Balas
    Tags: bill gates, mimli,   

    Bill Gates Muncul di Mimpi Saya 

    Ya, tadi pagi-pagi sekali saya mimpi. Dalam mimpi tersebut saya bertemu Bill Gates. Beliau datang ke rumah saya. Naik mobil tanpa sopir. Hanya ditemani satu orang yang masih muda.

    Namanya juga mimpi. Seringkali tak bisa dipahami mengapa saya memimpikan Bill Gates. Mungkin karena siang atau sore sebelumnya saya membaca artikel tentang Microsoft.

    Kenapa harus Bill Gates? Kenapa tidak artis yang cantik atau orang-orang yang enak dipandang mata? Tapi ya namanya mimpi kan tidak bisa memilih seperti saluran televisi.

    Maklum kalau kata orang mimpi itu bagian refleksi hidup kita dalam kurun satu hari atau lebih. Seperti cermin yang memantulkan pikiran bahwa sadar kita.

    Itupun masih lumayan karena begitu terbangun saya masih ingat mimpi saya. Biasanya malah tidak. Tergantung mimpinya. Bila berkesan, umumnya masih bisa diingat. Malah kalau berbaru horor, susah hilang karena masih terasa takutnya. Pun mimpi yang erotis juga kerap bikin gimana gitu.

    Yang cukup membuat ‘pusing’ yaitu ketika bermimpi hal-hal yang scientific. Pernah saya mengalami mimpi sedang mengajar di kelas. Menerangkan banyak hal yang cukup rumit. Apalagi jika kemudian saya menggumamkan kata-kata itu di tengah tidur saya. Aneh tapi nyata.

    Sedangkan untuk bahasa apa yang ada dalam mimpi saya. Rupanya ada dua bahasa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sehari-hari. Wajar, bukan? Namun juga ada bahasa lain yaitu Bahasa Inggris. Mungkin karena saya kadang-kadang berpikir dalam bahasa tersebut sehingga mimpinya pun kadang-kadang dalam bahasa Inggris.

    Yang saya tak habis pikir, kenapa ya saya jarang sekali bermimpi dalam Bahasa Jawa. Bahasa ibu yang begitu saya lahir sudah saya pakai tapi kemudian terlalu jarang dipakai. Mungkin karena hampir tak pernah dipakai ketika dewasa maka mimpi saya pun jarang dalam bahasa ‘kuno’ tersebut. Sayang sekali, kan?

    Mimpi, oh, mimpi. Saya termasuk orang yang banyak mengalami mimpi ketika tidur. Memang suka kalau ada mimpi. Namanya juga bunga tidur. Hanya kalau dalam satu sesi tidur dalam semalam hadir terlalu banyak mimpi, begitu bangun pasti ada rasa pusing di kepala yang saya rasakan. Otak terbebani dengan banyaknya ‘film’ kehidupan yang dipantulkan ke alam bawah sadar.

    Baiklah, Bill Gates sudah muncul di mimpi saya. Nanti malam entah siapa yang muncul. Nicole Kidman? Asal bukan monster atau hantu, ndak apa-apa.

     
  • Aloysius Heriyanto 3:45 PM pada 3 March 2014 Permalink | Balas  

    P2 Theme 

    Sebagai orang yang suka dengan desain-desain situs dan blog yang enak dipandang di mata, saya masih lebih memilih desain yang ringan dan sederhana. Maklum, esensi lebih penting daripada dekorasi. Tentu kalau hadir dengan kemasan yang mengagumkan tentu lebih mantab.

    Oleh karena itu selain suka dengan theme WordPress bernama White as Milk, sekarang saya mau mencoba theme P2. Tampilannya sangat sederhana. Dengan kolom kiri berisi postingan artikel sesuai kronologi. Kolom kanannya dengan beberapa widget termasuk tag dan kategori. Begitu pengunjung mengeklik salah satu tag atau kategori, terbukalah artikel-artikel yang terkait. Sederhana, bukan?

    Bahkan untuk memperbarui blog dengan artikel terkini, blogger tinggal login dan bisa mengetikkan kata-kata di lajur paling atas. Jauh lebih cepat ketimbang harus update blog melalui dashboard WordPress, yang kadang-kadang agak lambat.

    P2 cocok untuk mereka yang memakai blognya seakan-akan memakai Twitter. P2 juga bisa untuk project management secara tertutup atau terbuka. Selain mudah memperbarui artikel, P2 juga memaksimalkan fitur komentar sehingga mengundang pengunjung untuk ikut menambahkan komentar. Toh, banyak orang suka berkomentar ketimbang menulis.

    P2 bisa tampil lebih indah bila penggunanya bisa mengutak-atik CSS-nya. Untuk mereka yang menginstal blognya di server sendiri atau di server sewaan, bisa menggunakan Houston, versi P2 yang dimodifikasi oleh WooThemes dan dapat diunduh secara gratis.

    Untuk sementara waktu, sepertinya saya akan suka menggunakan P2 untuk blog ini.

     
  • Aloysius Heriyanto 11:44 AM pada 2 March 2014 Permalink | Balas  

    Telegram 

    Yang kita bicarakan ini adalah aplikasi bernama Telegram. Mirip dengan Whatsapp atau Line. Bukan, bukan telegram yang dahulu kala sering kita pakai untuk berkirim beberapa kalimat yang hemat kata-kata melalui jasa kantor pos.

    Aplikasi Telegram ini muncul karena keinginan yang kuat dan kebutuhan masyarakat internasional yang mendambakan alat komunikasi yang cepat, aman, dan terjangkau. Terjangkau karena gratis digunakan dan hanya membutuhkan akses internet seadanya. Penggunanya pun mereka yang suka dengan layanan standar dengan fitur minimalis. Bukan untuk mereka yang suka dengan berbagai macam sticker, permainan, dan pernik-pernik yang justru memberatkan alat komunikasi tersebut.

    Uniknya Telegram ini dapat diinstal di beragam platform telepon selular. Aplikasi yang resmi sudah bisa dipasang di iOS dan Android. Ada pun versi Windows Phone juga ada meski belum resmi.

    Pun Telegram bisa juga digunakan melalui aplikasi yang masih dalam versi beta untuk Windows, Mac dan Linux.

    Beberapa saat menggunakan Telegram baik di iPhone maupun di Mac, kesannya memang baik. Ringan, karena tak ada permainan dan sticker. Cepat, pesan tersampai lebih cepat daripada Whatsapp dan Line dengan internet yang cukup lambat. Mudah, karena memang hampir sama seperti menggunakan aplikasi komunikasi lainnya atau SMS.

    Aplikasi Telegram bisa diunduh di .

     
  • Aloysius Heriyanto 12:49 PM pada 28 February 2014 Permalink | Balas  

    28 

    Yup! Tanggal 28 merupakan tanggal terakhir di bulan Februari pada tahun 2014. Salah satu efek penghitungan dengan pembulatan dari kalender Masehi. Bagi yang berulangtahun pada tanggal 29, ya bisa jadi tak perlu merayakan hari spesial mereka. Maklum, besok sudah tanggal 1 Maret.

    Namun bagi yang gajian, rupanya senang. Hari ini merupakan tanggal yang menyenangkan. Ada pasokan uang untuk satu bulan ke depan. Semoga bisa digunakan untuk tabungan, belanja sehari-hari, dan membeli barang yang diperlukan atau disukai.

    28 hari di bulan ini. Diskon satu hari dari yang biasanya 29. Kita pun baru bisa menikmati bulan yang pendek ini pada 4 tahun ke depan. Jadi nikmatilah kesempatan yang tak datang setiap tahun…

     
  • Aloysius Heriyanto 12:44 PM pada 28 February 2014 Permalink | Balas  

    Menyoal Pocong 

    Saya suka mengakses Internet atau menggunakan laptop di tempat publik. Kalau di rumah bawaannya soalnya ketiduran atau terganggu hal-hal lainnya. Justru di tempat publik saya lebih bisa berkonsentrasi. Lagipula di tempat publik kadang-kadang ada hal lucu yang bisa jadi intermezzo. Selingan. Biar tidak stres dan bosan.

    Nah, kali ini ketika saya sedang asyik di depan laptop saya. Tiba-tiba ada seseorang yang menggunakan laptop dan hendak melakukan komnikasi melalui Internet. Mungkin Skype. Suaranya terdengar meski tak serius mendengarkan. Terdengar secara tak sengaja.

    Dan saya pun mendengar kata ‘pocong’. Ya, pocong! Makhluk yang menyeramkan, bikin merinding, dan banyak dihindari orang-orang. Seperti biasa, modus aktivitasnya adalah melompat secara vertikal. Tanpa aksesoris, seperti di film-film, pocong tampil minimalis dengan one-piece clothing, kain panjang berwarna putih. Wajah tak perlu make-up tapi konon dipastikan akan membuat yang melihat menjadi berteriak. Namun lebih banyak yang langsung pingsan. Tak sadarkan diri. Padahal bila tak takut-takut amat, seharusnya bisa segera melarikan diri dengan berlari. Pasti secepat-cepatnya pocong melompat tak akan menyaingi kecepatan lari orang yang masih hidup dan sehat.

    Orang di depan saya tadi pun dengan semangat rupanya sukses menawarkan permainan pocong di platform Android. Baiklah. Saya pun salut dengan orang di depan saya yang berhasil mengkomersilkan pocong. Pocong yang mengerikan pun bisa dijual. Bahkan kalau lebih ekstrimnya ada yang mengatakan sex’s sell. Tapi kalau pocong? Ternyata bisa juga. Padahal pocong tak perlu pamer paha atau belahan dada.

    Saya hanya bisa senyum-senyum sendiri mendengar percakapan orang di depan saya mengenai pocong. Lucu, sih. Tapi kenapa juga membuat saya berpikir tentang pocong di pagi yang cerah ini…

    Dasar pocong!

     
c
Compose new post
j
Postingan berikutnya/Komentar berikutnya
k
Postingan sebelumnya/Komentar sebelumnya
r
Balas
e
Ganti
o
Tampilkan/Sembunyikan komentar
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 137 pengikut lainnya.