Pengalaman Bekerja di Masa Muda

9 Februari 2010

Siapa bilang masa muda hanya untuk hura-hura semata. Sebenarnya banyak orang yang sewaktu muda memiliki pengalaman bekerja. Baik untuk sekedar uang saku atau memang benar-benar bertahan hidup. Tidak percaya? Coba tanya teman atau keluarga Anda. Kemungkinan besar mereka pernah mencicip rasanya bekerja sewaktu masih hijau.

Tempo hari saat mengudap makan siang, entah mengapa topik pembicaraan beralih ke topik tersebut. Ternyata ada yang pernah membantu orangtuanya mendistribusikan barang-barang stationery. Berbeda dengan teman yang pernah magang di warung makan waralaba dari Negeri Paman Sam. Yang lainnya malah menjual kue ke sekolah dan teman karena kecintaannya terhadap hobi memasak. Sedangkan saya sendiri pernah membantu orangtua membuka warung kelontong.

Ada suka dan duka. Pengalaman lucu. Tidak jarang juga mendapat cobaan. Dari situlah kami sama-sama merasakan bahwa mencari uang tidak mudah. Dengan begitu, kami lebih menghargai nilai uang, tak hambur-hamburkan dengan sembarang.

Malahan, kami berkhayal setengah bercanda bahwa mungkin suatu hari nanti ada dari kami yang akan membuka restoran karena suka menikmati makanan. Ada juga yang mungkin membuka toko kue. Lucu. Ada kenangan masa lalu sebagai, kurang lebih, ‘child labor‘. Membahagiakan mengingat masa lalu yang berkesan. Ada susah payah yang sedikit banyak membentuk karakter yang lebih kuat sekarang ini.

Jadi bila ada anak muda yang ingin magang atau coba-coba usaha kecil-kecilan, orangtua seyogyanya memperbolehkan, menganjurkan atau bila bisa membimbing mereka. dengan begitu ketika mereka bertumbuh dewasa, siapa tahu, mereka menjadi pribadi yang tahan banting dan sukses.


Sayang dan Arisan Tante

7 Februari 2010

Katanya bulan Februari merupakan bulan kasih sayang. Warna merah muda dan biru mendominasi. Tentu kata ’sayang’ sangat populer di bulan ini. Kata ’sayang’ pula yang saat ini didiskusikan (baca: dipergunjingkan) oleh para tante dalam arisan kali ini.

Tante 1 berujar, "Sungguh aku beruntung, suamiku suka memanggilku dengan kata ’sayang’. Romantis, deh!". Tante 2 pun menanggapi dengan sewot, "Hubby I bakal panggil ’sayang’ kalau dia mau I buatkan kopi, masakkan makan malam atau minta pijit. Pasti ada maunya kalau panggil-panggil ’sayang’."

Tante 3 pun tampaknya mengamini pernyataan Tante 2. "Benar, jeng. Laki gue selalu bilang ’sayang’ dengan nada imperatif. Kata ’sayang’ itu artinya ‘menyuruh’." Tante 3 berhenti sejenak sambil menyeruput kopi Latte-nya. "Kayak gini, ‘Sayang, setrika bajunya yang cepat dikit, dong‘, sebel, ga?"

"Ah, itu belum seberapa", celetuk Tante 4 sembari mengiris brownies-nya. "Suami saya ini jarang-jarang pakai kata ’sayang’. Cuma kalau puas." Tante 1 penasaran, "Maksudnya, jeng?" Tante 4 menjelaskan dengan agak sungkan, "Itu lho jeng, kalau dia puas karena masakan saya enak atau kalau puas di ranjang, baru bilang ’sayang’. Kalau tidak terpuaskan, ya diam saja." Sontak, tante lain pun tertawa.

Dan terakhir, Tante 5 pun ikut bersuara, "Beda dengan suami saya. Pas lihat-lihat kalung bagus, dia hanya bilang ‘bagus banget, sayang mahal banget. Pas lapar dan lewat di depan restoran yang enak, dia juga bilang ‘Pasti enak, sayang harganya pasti mahal. Pas lagi di ranjang, saya sedang bergairah, dia lagi-lagi bilang, ‘Mama seksi banget, sayang masih harus ngerjain laporan keuangan kantor buat besok." Nah, saat ini para tante lain tak tergelak. Semua memandangi Tante 5 dengan pandangan memelas, kasihan. Lucu sih, tapi tak tega untuk tertawa.

Kata ’sayang’ memang memiliki banyak nuansa dan makna. Tergantung pengucapnya, waktunya hingga tujuannya.


Beda Bangsa, Beda Pula Etos Kerjanya

7 Februari 2010

Saat mandi di bawah pancuran air tadi siang, tiba-tiba saya mendapat pencerahan. Bahwasannya masing-masing bangsa memiliki etos kerjanya masing-masing.

Bagi bangsa Amerika, yang penting adalah hasil akhir. Naik turunnya kinerja dihitung dalam tabel data yang akurat. Berbanding terbalik dengan bangsa-bangsa Eropa yang mengutamakan proses kerja. Suatu produksi yang berkualitas haruslah diproduksi melalu proses sempurna. Contohnya, BMW atau Rolex.

Sedangkan bangsa Jepang, yang penting adalah kebanggaan dan pengabdian. Bekerja merupakan gaya hidup dan seseorang bisa merasa terhormat bila kerja hingga usia lanjut atau bahkan mati saat bekerja. Lain pula dengan di China, segala cara dihalalkan asal mencapai tujuan kerja. Lagipula, dengan melimpahnya tenaga kerja, persaingan sangat ketat. Bagaimana dengan bangsa Arab? Hasil dan proses tak terlalu penting. Yang penting niatnya. Semoga dengan begitu amal baik pekerjaan dapat diterima oleh yang yang di atas. Bekerja pun dijadikan sebagai bentuk ibadah. Jadi bekerja, bisa masuk surga. Lalu, bangsa Indonesia?

Justru ini yang unik. Di tanah air, tak ada yang peduli hasil, proses dan niat. Jawabannya sederhana, "Yang penting beres, pak! Gampang deh!" Etos kerja yang diterapkan mulai dari pejabat pemerintahan hingga kuli bangunan. Jadi tak perlu bingung bila ada RUU yang aneh bin ajaib, gedung yang runtuh sebelum diresmikan, uang nasabah bank hilang secara tiba-tiba atau guru-guru yang membuat karya ilmiah secara tak ilmiah. Gampang kok! Cukup membuat aneka Pansus, beri ide pesangon 35 kali gaji atau rombak kabinet.

Gus Dur pun pernah berujar, "Gitu aja kok repot!". Singkat kata, "Gampang, dab!"


Makanan Favorit

4 Februari 2010

Terdapat banyak sekali makanan tradisional asli Indonesia. Rasanya enak, sesuai dengan lidah. Tentu karena sejak lahir, kita sudah mencicipnya. Masing-masing orang tentu seleranya beda. Makanan favoritnya juga beda-beda.

Bagi saya pribadi, saya suka makan Gudeg Yogya dan Kwetiau Manis.

Bagaimana dengan Anda, apa makanan favorit cita rasa Nusantara yang disuka?


Berbagai Macam Soto

4 Februari 2010

Soto, ya, soto. Apa pun bentuknya ya tetap soto. Tapi ternyata ada banyak variasi soto.

Kalau dari ‘kandungan lokal’ di dalamnya, pasti tak sulit membedakannya. Soto Ayam, Soto Sapi atau pun Soto Kambing. Jelas bahwa masing-masing soto tersebut dicampur daging hewan tersebut. Sesuai selera masing-masing orang.

Lalu, bagaimana dengan soto yang berasal dari macam-macam daerah. Ada Soto Banjar, Soto Betawi, Soto Kudus dan Soto Lamongan. Masih ada lagi? Tentu. Soto Madura dan Soto Semarang. Ah, juga Soto Bandung, Soto Padang dan Soto Sokaraja. Lalu, bedanya apa?

Menurut saya, soto ya tetap soto. Coba tengok keterangan Wikipedia tentang Soto. Paling-paling ‘komponen’ dan rasanya beda sedikit. Kalau menurut Anda, apa sih bedanya soto-soto tersebut?

Namun, yang jelas ada yang pernah berujar bahwa ‘kejujuran Soto Betawi (yang bening)’. Hmm… Boleh juga. Saya jadi teringat Soto Pak Tembong yang rumah makannya terletak di dekat Stasiun Lempuyangan, di kota Yogyakarta.