PT, CV dan Firma

Pertanyaan saya terjawab dengan gamblang hari ini. Pertanyaan yang sederhana. Apa sih bedanya PT, CV dan Firma? Sebelumnya hanya mengerti samar-samar. Kini sudah lebih mengerti.

Bukan bermaksud iklan, perbedaan ketiganya bisa dibaca di perbandingan yang dimuat oleh Lawindo.biz.

Ternyata ada beda dalam bentuk perusahaan, dasar hukum, pendiri perusahaan, nama perusahaan, modal perusahaan, bidang usaha, pengurus perusahaan, proses pendiriannya hingga perubahan anggaran dasar perusahaan. Banyak bedanya yang ternyata berpengaruh terhadap usaha yang hendak didirikan.

Tentu legalitas usaha memakan biaya tersendiri. Namanya juga investasi. Sebenarnya banyak usaha yang tak memiliki ijin usaha karena memang tak memiliki legalitas. Namun untuk mereka yang serius membangun bisnis, memiliki legalitas merupakan hal yang wajib.

Coba bayangkan bila suatu usaha yang besar kemudian dituntut oleh konsumen atau rekanan bisnis. Tanpa legalitas, suatu usaha menjadi rentan terhadap tuntutan hukum. Tanpa legalitas, pemilik usaha yang otomatis memikul semua tanggung jawab.

Tapi wajar bila usaha yang baru dirintis belum memiliki legalitas. Maklum karena memulai usaha itu beresiko. Kemungkinan gagal lebih besar daripada keberhasilannya. Ironis bukan bila suatu usaha sudah memiliki nama dan legalitas namun kandas dalam usia seumur jagung.

Legalitas itu memang penting dalam memulai usaha. Namun lebih penting untuk bertahan atau berkembang dalam melakukan usaha.

Menulis Buku itu Olahraga Mental

Sudah lama saya tidak aktif menulis buku. Kadang-kadang membuat draft. Sesekali mengembangkan menjadi paragraf. Namun belum tuntas. Ide ada. Bahkan hasil akhirnya sudah bisa ‘dilihat’. Tak selesai juga.

Mungkin benar adanya menulis itu memerlukan ketekunan. Ide mudah didapat. Namun yang paling diperlukan adalah kemauan dan kemampuan untuk menuangkannya sedikit demi sedikit ke dalam halaman-halaman kosong.

Lebih daripada itu, menulis buku merupakan olahraga mental. Bila rajin mengolah raga maka badan sehat. Bila kerap dan konsisten menulis maka tuntaslah sebuah buku. Bahkan bisa lebih.

Sudah lama memang… Namun jemari kaku tak bergeming meski tangan sudah ‘bertengger’ di atas papan kunci laptop.

Sebuah obsesi yang tertunda. Maklum bukan prioritas utama saat ini.

Content Marketing

Marketing menggunakan konten bukan hal yang baru bagi saya. Sebutannya memang keren yaitu content marketing. Namun ternyata banyak yang belum saya pahami tentang industri ini.

Industri ini sedang booming di tanah air. Maklum karena munculnya banyak situs yang saling bersaing menarik pengunjung memang membutuhkan sesuatu yang menimbulkan ketertarikan pengunjung sekaligus meningkatkan trafik yang diperoleh dari mesin pencari; melalui aktivitas Search Engine Optimization.

Karena memang termasuk industri yang baru berkembang maka belum mencapai tingkat maturity dan saturity. Ada potensi yang terbuka lebar sekaligus belum adanya standarisasi. Asalkan bisa menulis, sepertinya sah disebut content marketing.

Masih banyak penghasil konten, baik blogger atau pun penulis, yang kurang dihargai dengan sistem pendapatan yang layak. Uniknya karena kebutuhan ekonomi, para penghasil konten pun rela banting harga. Banting harga seperti ini pun juga berimbas kuantitas melimpah tetapi kualitas kurang terjamin. Tulisan tanpa makna pun membanjiri dunia maya. Terutama konten yang memang ditujukan untuk ‘dibaca’ oleh robot mesin pencari ketimbang asupan buat pengunjung manusia.

Jelas ada kebutuhan akan konten, baik secara kualitas dan kuantitas. Namun belum cukup banyak penghasil konten yang berpengalaman dalam jumlah yang mencukupi. Bagi mereka yang ingin memiliki karir atau usaha dalam bisnis tulis-menulis, industri content marketing cukup menggiurkan saat ini. Terutama karena di tanah air, banyak yang ingin dan sebenarnya mampu menjadi penulis. Terlepas dari sebutannya; entah itu blogger, penulis, ataucopywriter. Pada intinya kerjaannya sama yaitu menghasilkan konten.

Content marketing sudah bukan barang baru tetapi masih perlu dipahami lebih lanjut. Menarik, bukan?

[tag menulis]

Konseling Akademis dan Karir

Ada perbedaan antara orang yang sukses dengan yang tidak sukses. Orang yang sukses mengerti dengan benar tujuan hidupnya, memahami tahapan-tahapan yang harus dilaluinya, dan sungguh-sungguh mengerjakannya dengan kerja keras.

Sedangkan yang tidak sukses, pada umumnya tidak memiliki tujuan hidup. Masih bingung dengan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Bila bekerja keras pun menjadi tak maksimal karena tak mengerti dengan sungguh apa yang diinginkannya.

Sepertinya tahapan bertumbuh seseorang cukup sederhana. Sekolah di pendidikan dasar. Kemudian melanjutkan ke pendidikan tinggi; baik universitas atau akademi. Setelah lulus, lalu bekerja atau membuka usaha. Hanya saja tak semua orang lancar menapaki tahapan-tahapan tersebut.

Oleh karena itu, bila sekolah memiliki staf yang bisa memberikan konseling akademis dan karir, murid-muridnya bisa mendapatkan jalur yang mengarah ke cita-cita mereka dengan lebih jelas. Maklum bila para murid dan mahasiswa seringkali tak tahu yang mereka harus lakukan selain belajar sesuai kurikulum. Ditambah bahwa mereka masih labil karena usia yang masih muda dan belum terlalu berpengalaman.

Bahkan fungsi konseling akademis dan karir menjadi lebih signifikan bila orangtua siswa atau mahasiswa tak memiliki kemampuan untuk mengarahkan jalan pendidikan dan karir anak mereka.

Tentu konseling akademis dan karir bukan orang yang paling menentukan keberhasilan siswa dan mahasiswa. Justru yang paling berperan adalah siswa dan mahasiswa itu sendiri. Tugas konseling akademis dan karir hanya mengarahkan. Memberi jawaban yang berkenaan dengan informasi dan pengalaman.

Konseling akademis dan karir masih jarang didapati di sekolah dan akademia. Namun pengalaman membuktikan bahwa sekolah dan akademia yang memiliki layanan konseling akan mendapati alumninya menjadi orang-orang yang lebih berhasil dibanding mereka yang tak memiliki layanan mengarahkan jalan akademis dan karir siswa dan mahasiswa.

Perlombaan Senjata Negara-Negara di Asia

Ketegangan di wilayah Asia rupanya membuat banyak negara untuk memutakhirkan persenjataannya. Bukan hanya China; yang dikhawatirkan menjadi kekuatan adi daya baru di wilayah Asia Utara hingga Asia Tenggara. Negara-negara yang berbatasan langsung juga siap sedia; seperti halnya Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Negara seperti Vietnam, Philipina, Malaysia juga memperbaiki persenjataan yang mereka punyai meski dananya tak sebesar negara-negara lain.

Seperti laiknya pertahanan sebuah negara, masing-masing negara memiliki beberapa angkatan bersenjata. Negara kepulauan cenderung meningkatkan persenjataan udara. Berbeda dengan negara yang sebagian besar wilayahnya daratan sehingga memilih meningkatkan persenjataan darat. Tentu bila memungkinkan semua angkatan akan dimaksimalkan sehingga bisa mengurangi ancaman yang datang.

Angkatan Laut menambah jumlah armada kapalnya sehingga daya jelajahnya lebih luas. Tak cukup kapal yang di permukaan, bila perlu tambah jumlah kapal selam. Tak hanya persenjataan yang sifatnya defensif. Bila perlu, *hovercraft* dan kapal pendarat amfibi wajib dimiliki untuk serangan ofensif.

Digdaya di laut saja tak cukup. Armada kapal terbatas dalam hal kecepatan yang tak dipunyai Angkatan Udara. Pesawat tempur mampu melibas jarak ribuan kilometer dalam waktu singkat. Pun ada pesawat pengebom dan pesawat pengangkut alat perang dan tentara. Saat ini, pesawat pengintai menjadi kebutuhan pokok sehingga infiltrasi pasukan asing bisa dideteksi lebih dini.

Sedangkan Angkatan Darat haruslah kuat. Tank, panser, peralatan artileri dengan mobilitas tinggi, radar, dan kendaraan pengangkut menjadi tulang punggung pertahanan darat yang menyeluruh; baik di pusat kota atau pun daerah-daerah perbatasan. Lagipula, Angkatan Darat memegang kendali untuk menjaga pertahanan fasilitas negara yang vital dan stabilitas keamanan warga negara.

Tiga angkatan bersenjata saja tak cukup. Harus ditambah dengan kemajuan peralatan spionase dan modernisasi pertahanan *cyber*. Wajar karena perang yang terjadi sekarang ini atau di masa depan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Perang bisa dimulai tanpa harus adanya konfrontasi fisik di tempat terbuka. Justru serangan pertama kali akan muncul di ranah maya dan infiltrasi teknologi komunikasi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya tertinggal memodernisasi peralatan perangnya. Yang mana dampaknya merugikan negara kita. Banyak negara yang tak menaruh hormat karena angkatan bersenjata negeri ini tak lagi menakutkan. Tak lagi punya wibawa.

Entah itu pesawat tempur yang suku cadangnya harus dikanibal dari pesawat lain. Kapal selam yang jumlah sangat sedikit dan tak semuanya bisa menyelam. Kapal tempur yang selalu kalah cepat sehingga tak bisa mengejar kapal ikan. Tank yang sudah tua. Radar yang daya jangkaunya tak luas. Yang lebih parah lagi, bila sudah menyoal urusan spionase selalu yang menjadi korban sadap atau pencurian data.

Kawasan Asia memanas. Negara yang ketinggalan dalam memutakhirkan persenjataan perangnya bakal menjadi bulan-bulanan negara lain. Anehnya, sepertinya Indonesia tetap *adem ayem* dan terkesan mengabaikan kebutuhan untuk meremajakan mesin perang. Banyak warga negaranya yang merasa gerah. Tapi mau apa lagi. Justru di saat yang rawan ini, para pejabat pemerintah, jajaran angkatan bersenjata, dan purnawirawan pun lebih asyik dengan bursa pemilihan umum.

Pasti nanti baru teriak-teriak ketika ada wilayah laut yang hilang karena menjadi wilayah resmi negara lain di peta internasional. Pulau yang dicaplok negara lain. Hingga fasilitas negara yang diakuisisi perusahaan asing.

Finding Mr. Right

Alasan satu-satunya saya menonton film Mandarin yang rilis di tahun 2013 ini karena adanya Tang Wei sebagai aktris utamanya. Tang Wei terkenal namanya saat membintangi film Lust, Caution.

Saya tak terlalu yakin dengan judulnya. Terkesan seperti film drama cinta yang generik. Sinopsisnya pun tak spesial amat. Seorang perempuan muda bernama Wen jiajia yang menjadi simpanan pengusaha kaya China dan hamil muda; yang bertemu lelaki China bernama Frank yang tinggal di Seattle, Amerika Serikat. Ada dilema, gegar budaya, dan impian menemukan cinta sejati.

Adegan-adegan kemudian berjalan tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat. Jiajia yang hamil ini memulai hari-harinya di Seattle dengan boros. Uang tak jadi masalah karena kartu kredit tanpa batas yang diberikan oleh pengusaha kaya yang sudah beristri.

Namun semuanya berubah total tatkala kartu kredit tak lagi bisa digunakan karena aliran dana dibekukan. Masalah besar bila tak memiliki uang di negeri orang. Justru masalah ini menjadi titik balik Jiajia yang sombong dan mau menang sendiri.

Bahkan di tengah-tengah kehidupannya di Seattle, Jiajia menemukan sesosok lelaki kebapakan beranak satu yang baik budinya meskipun tak kaya dan hanya menjadi sopir yang bekerja serabutan.

Saat asmara tumbuh di antara Jiajia dan Frank itu dengan puncaknya ketika si jabang bayi lahir, justru harus balik ke Beijing, China karena sudah habis visa tinggalnya dan akan dinikahi oleh pengusaha kaya; yang mana sudah menceraikan istrinya.

Berpisah sudah. Ada jarak yang sangat jauh antara Seattle dan Beijing. Namun keduanya menyimpan perasaan cinta yang sama dalamnya.

Dan dua tahun kemudian, keduanya bertemu lagi di Sears Tower yang berada di New York. Jiajia sudah bercerai dengan pengusaha kaya.Frank pun sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Keduanya akhirnya kembali dalam kebersamaan.

Di akhir cerita, Jiajia tersebut meraih impiannya. Bertemu dan bersama dengan Mr. Right. Lelaki idalam yang memberinya cinta sejati.

Saya terharu dengan kisah film ini. Tak menyangka bila film yang tadinya saya kira biasa-biasa saja malah membuat mata saya berkaca-kaca dan mendapat pelajaran berharga bahwa lelaki yang baik, *gentleman*, dan lemah lembut lebih dicari ketimbang laki-laki kaya yang dingin dan tak pernah sempatkan waktu demi wanita pasangannya.

Film Switch

Pemerannya aktor dan artis yang termasyur. Andy Lau dan Lin Chi-ling. Kisahnya tentang aksi menantang curi-mencuri lukisan kuno Dinasti Yuan yang sangat tinggi nilainya dan diincar oleh kolektor kaya raya hingga penguasa dunia hitam dari negara-negara yang berbeda.

Saya berharap banyak film berjudul Switch yang dirilis tahun 2013 ini akan memukau. Sayangnya tidak.

Film Mandarin ini seperti bunga yang layu sebelum berkembang. Modal pemain bintang, plot yang penuh intrik, dan efek film yang canggih tak membuat filmnya enak ditonton. Itupun ditambah dengan bangunan dan kendaraan yang kesannya glamor tapi sebatas dekorasi saja.

Selain itu ada banyak iklan terselubung yang muncul secara vulgar. Mulai dari hotel berbintang, maskapai penerbangan, telepon selular, hingga mobil mewah.

Film ini membosankan sehingga bikin saya mengantuk. Akhirnya film ini kelar juga dengan *ending* yang bisa ditebak. Biasa saja. Datar.

Intinya saya kecewa. Film yang memiliki banyak komponen yang bisa membuatnya menjadi film penuh aksi yang seru justru menjadi film yang dipenuhi adegan-adegan yang tak terjalin rapi, terlalu banyak dekorasi yang bombastis, dan terlalu banyak adegan hiperbola.