Apa Bedanya Trenggiling dan Armadillo?

Mungkin ada sebagian dari Anda yang berpikir bahwa Trenggiling dan Armadillo itu binatang yang sama.

Faktanya bukan. Trenggiling tidak sama dengan Armadillo. Hampir-hampir mirip secara sepintas. Tapi mereka berdua jenis binatang yang berbeda.

Nah sekarang apa bedanya? Saya ingin tahu apakah ada yang bisa menjelaskan dengan singkat perbedaan kedua binatang tersebut. Tuliskan saja penjelasannya di kolom komentar.

Bila benar-benar tidak tahu. Silakan pelajari lebih lanjut di Wikipedia. Semoga bisa mendapat pencerahan.

Situs yang Sederhana

Tiap kali melihat situs di Internet yang menampilkan terlalu banyak gambar, tautan yang berderet-deret yang sepertinya ‘meminta’ untuk diklik dan iklan-iklan yang terpajang di sekeliling halaman, saya merasa capai. Seperti disodorkan banyak hal sekaligus di waktu yang sama.

Sementara itu banyak situs-situs modern yang tampil sederhana dan elegan. Fokus dengan konten yang mudah dipahami, gambar yang sedikit tapi relevan dan bagian-bagian lamannya mudah dipahami.

Saya suka dengan pilihan yang dilakukan oleh situs-situs modern. Sayangnya banyak situs di Asia dan termasuk Indonesia, ada pemahaman bahwa situs yang isinya (baca: konten) banyak sekali memperlihatkan kesan bahwa situsnya berbobot atau penting.

Analoginya seperti toko. Coba lihat toko-toko di Asia, terutama di Asia Utara. Barang-barang berjejalan hingga berjalan dan memilih barang pun sulitnya minta ampun. Bila tokonya tak terlihat ‘penuh’ biasanya dianggap tokonya tak ramai atau tak punya cukup barang untuk dijual.

Beda dengan toko modern seperti toko Apple Inc. atau galeri Tesla. Luas. Rapi. Barang sedikit. Tapi mencolok dan menarik. Navigasinya pun jelas. Mana bagian kasir, tempat aksesoris dan tempat bertanya.

Situs yang sederhana itu membuat pengunjung dan pembacanya nyaman. Memudahkan untuk mengasup kontennya. Toh hidup itu rumit jadi situs yang sederhana itu mempermudah orang lain.

Nasi Bogana yang Gurih

Apakah Anda pernah mengudap Nasi Bogana? Bila sudah pernah tentu langsung ingat dengan nasi gurihnya beserta kombinasi ayam kari suwir, telur pindang, sambal goreng hati yang disajikan dalam bungkusan daun pisang. Lauknya bisa bervariasi tergantung penjual atau pemasaknya.

Nasinya yang gurih berasal dari Santan. Sedangkan aromanya yang khas berasal dari Daun Pandan sebagai penyedap dan Daun Pisang sebagai pembungkusnya.

Meski banyak orang yang suka dengan Nasi Bogana, tak banyak yang menyadari bahwa masakan ini berasal dari Tegal, salah satu kota yang berada di wilayah Jawa Tengah dan terletak di pesisir Utara Pulau Jawa.

Nasi Bogana ini dikenal oleh banyak orang di luar Kota Tegal karena banyaknya orang Tegal yang merantau ke kota-kota besar hingga ke pulau-pulau lain di Nusantara. Kerinduan para perantau Tegal yang jauh dari daerahnya membuat tak sedikit orang Tegal yang membuka warung makan dengan menu utama Nasi Bogana.

Bila Anda menyukai Nasi Bogana tapi tetap tak menemukan warung makan atau restoran yang menyediakan makanan ini, Anda bisa memasaknya sendiri. Resepnya tidak terlalu rumit. Silakan lihat sendiri di tautan berikut.

http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/10576/nasi-bogana

Parkir Liar Penyebab Macet

Jalanan macet karena parkir liar terjadi di banyak ruas jalan. Terutama di perempatan dan pertigaan yang ramai. Solusinya cuma satu yaitu larangan parkir di sekitar persimpangan. Minimal hingga 200 atau 300 meter dari titik persimpangan.

Sayangnya di tanah air tidak ada ketegasan dari instansi yang mengatur penggunaan badan jalan. Jalan umum sebagai bagian dari insfrastruktur umum pun menurun kualitasnya. Dampaknya sangat merugikan bagi para pemakai jalan. Macet yang berimbas pada rasa jengkel pengemudi dan bahan bakar yang terbakar percuma karena jalanan padat merayap.

Memang parkir liar sulit diberantas karena banyak toko atau rumah makan yang berada di jalan yang strategis. Umumnya di sekitar persimpangan jalan. Toko dan rumah makan jelas membutuhkan layanan parkir. Sayangnya tidak banyak toko dan rumah makan yang memiliki lahan yang cukup untuk parkir. Jalan pintasnya dengan menyediakan parkir di jalanan.

Jadi kembali lagi solusinya adalah ketegasan instansi terkait. Bila memang jalanan menjadi macet karena seharusnya jalan umum tersebut tidak diperuntukkan untuk parkir, ya jalan tersebut harus bebas parkir. Artinya tak ada yang boleh yang parkir di bagian jalan tersebut. Bukan malah bebas untuk parkir kapan saja.

Harbolnas

Baru tahu saya kalau hari Jumat, 12 Desember yang lalu merupakan Harbolnas–Hari Belanja Online Nasional. Ada toh. Itu kesan pertama saya.

Lucu juga. Siapa yang berinisiatif seperti itu? Ah, paling-paling Kementerian Perdagangan atau malah para asosiasi toko online di tanah air? Tak tahu saya.

Yang jelas Harbolnas terkesan diciptakan untuk membuat para calon pembeli lebih tertarik untuk melakukan pembelian secara online pada hari tersebut. Maklum karena para toko online berlomba-lomba menawarkan produk dagangan dengan harga diskon yang lebih super ketimbang hari-hari liburan atau event spesial lainnya.

Tak salah memang. Malah bagus. Toko online mendapatkan lebih banyak pembeli. Pembeli pun mendapatkan banyak pilihan barang dengan harga yang aktraktif. Toh, makin banyak transaksi online maka perekonomian di tanah air makin semarak. Makin banyak yang sejahtera.

Sayangnya ketika Harbolnas, banyak situs belanja yang melambat. Wajar karena dihajar oleh kunjungan pembeli yang meluber jauh lebih banyak dari biasanya. Beberapa situs belanja besar sudah mengantisipasinya dengan menambah kapasitas server mereka. Sedangkan situs belanja lainnya kewalahan.

Apapun itu Harbolnas merupakan kesempatan yang ditunggu oleh banyak orang. Makin banyak yang dijual dan dibeli, makin banyak fulus. Dan kesadaran banyak orang untuk melakukan pembelian secara online pun makin tinggi.

Matinya Telepon Umum

Telepon Umum
Foto gratis dari http://gratisography.com/

Sudah pernah memakai perangkat publik bernama Telepon Umm? Belum pernah sama sekali?

Baiklah. Mungkin bagi kita yang sudah permah memakai jasa telepon umum umurnya sudah lebih dari 30 tahun ke atas. Mereka yang umurnya di bawah itu mungkin mengerti konsep telepon umum namun tak pernah memakainya. Sekalipun tak pernah. Anehkah?

Tidak aneh. Banyak telepon umum yang sudah tak bisa melayani fungsinya sebagai perangkat telekomunikasi untuk masyarakat. Tak hanya rusak. Banyak yang hilang gagang teleponnya. Tombol putarnya tak lagi bisa berputar. Hingga kotak telepon yang sudah beralih fungsi; entah menjadi tempat tuna wisma berteduh kala malam atau malah sekedar menjadi tempat buang air kecil.

Di saat yang sama, perangkat telepon selular menjadi makin marak. Ponsel harganya makin marak dan biaya penggunaannya pun makin murah. Ponsel lebih berdaya guna karena bisa digunakan dari mana saja. Tanpa harus mendatangi telepon umum terdekat. Hampir semua orang memilikinya. Jadi untuk apa ada telepon umum?

Tak hanya telepon umum, warung telepon pun lambat-laun menghilang. Sudah hampir tergantikan oleh ponsel. Dan generasi muda sekarang tumbuh dengan ponsel. Tak lagi memerlukan telepon umum.

Memang telepon umum tak serta-merta dihilangkan. Mungkin masih dibutuhkan di kota-kota kecil atau tempat-tempat terpencil. Tapi siapa sih yang masih mau menggelontorkan uang untuk membangun teknologi yang cepat atau lambat bakal ditinggalkan.

Jadi telepon umum sudah mati? Ya. Tamat sudah riwayatnya. Peninggalan budaya yang mulai ditanggalkan namun minimal tercatat dalam lembar sejarah telekomunikasi.

Oplosan

Seharusnya setiap orang bertanggungjawab terhadap kesehatan tubuhnya sendiri. Salah satunya dengan mengetahui apa yang dikonsumsinya. Singkat kata yang masuk melalui mulutnya. Baik makanan atau minuman haruslah aman dan menyehatkan untuk kesehatan tubuh.

Sayangnya tidak semua orang sadar dengan tanggungjawab tersebut. Alih-alih berhati-hati malah mencoba sesuatu yang bisa bikin ‘terbang’. Alhasil minuman beralkohol tak jelas, yang lebih sering disebut sebagai Oplosan, ditenggak meski tak jelas komposisi bahan-bahannya. Harganya jauh lebih murah dan efeknya lebih ‘nendang’ katanya.

Namun kembali lagi dengan sebutannya, minuman keras ini memang ‘oplosan’ atau campuran dari berbagai macam bahan kimia. Entah apa campurannya. Penjualnya atau pengedarnya jarang ada yang tahu. Hanya pembuatnya yang benar-benar tahu apa isinya. Tak jarang pembuatnya juga tak tahu persis apa efek samping dari minuman buatannya. Asal menjual tanpa ada keinginan untuk bertanggungjawab.

Dan karena pembuat, penjual dan pembelinya masa bodoh dengan efek oplosannya; minuman campur-campur ini akhirnya berakhir maut. Mengambil nyawa peminumnya yang tubuhnya tak lagi mampu menahan kerasnya minuman oplosan. Bila sudah seperti ini siapa yang salah?

Tak perlu mencari kambing hitam. Baik pembuat, penjual dan pembelinya sama-sama bersalah. Bukan salah aparat keamanan yang tak selalu bisa mengontrol peredaran minuman beralkohol ilegal. Bukan salah negara yang tak bisa mendidik masyarakatnya. Bukan salah pemuka agama yang tak bisa membuat lingkungan sekitarnya menjauhi oplosan.

Ketika nyawa melayang karena oplosan biarlah menjadi resiko yang sudah diambil oleh peminumnya. Salah sendiri menenggak minuman beralkohol secara asal. Oleh karena pembuat dan penjualnya juga memiliki andil dalam kegiatan yang merugikan publik; mereka pun layak ikut masuk bui.

Oplosan memang berbahaya. Tak perlu dicoba. Toh banyak minuman beralkohol lainnya yang bisa dinikmati dan aman.