Aral Melintang, Pesawat MH17 Tumbang

Tak banyak orang yang bakal menduga bahwa di abad ke-21 ada pesawat komersil yang ditembak jatuh dengan sengaja. Mengingat kecanggihan teknologi radar, komunikasi pesawat dengan operator lalu-lintas udara dan konvensi bersama yang berlaku secara global untuk tidak menembak pesawat sipil; seyogyanya tak ada lagi pihak-pihak yang menjatuhkan pesawat bukan militer dengan misil.

Namun nasib berkata lain. Malaysia Airways dengan kode penerbangan MH17 tumbang setelah sebuah misil surface-to-air tepat mengenai badan pesawat. MH17 pun hancur di udara. Korban jiwa pun berjatuhan secara harafiah ke tanah. Menurut berbagai berita, tak ada korban selamat. Seluruh penumpang beserta kru pesawat menemui ajalnya saat itu juga.

Benar adanya bahwa sudah ada peringatan dari badan penerbangan Eropa untuk sebisa mungkin menghindari wilayah udara tertentu di atas wilayah Ukraina. Maklum karena negara yang bertetangga langsung dengan Rusia tersebut sedang menjadi lokasi sarat konflik. Yang mengerikan, banyak orang-orang yang tak jelas statusnya kemungkinan besar menguasai persenjataan canggih. Salah satunya adalah misil bernama Buk. Misil ini sanggup menjatuhkan pesawat hingga ketinggian 75 ribu kaki di atas permukaan laut. Sedangkan MH17 diperkirakan hanya terbang sekira 33 ribu kaki.

Sedangkan di saat yang bersamaan, ada dua pesawat dari Singapore Airlines dan India Air yang melintas di waktu dan wilayah udara yang relatif sama. Bayangkan perasaan para penumpang kedua pesawat komersil tersebut ketika mereka mendarat dan mengetahui bahwa pesawat yang mereka tumpangi selamat sampai ke tujuan. Berbeda dengan MH17 yang jatuh sebelum mencapai bandara tujuan.

Namanya juga aral melintang. Oleh karena itu tak ada gunanya berandai-andai bahwa pesawat naas tersebut bisa selamat bila menghindari wilayah berbahaya tersebut. Bahkan alasan supaya menghemat bahan bakar dengan melintasi wilayah yang dekat dengan wilayah larangan terbang pun tak lagi ada gunanya. Wajar bila banyak maskapai penerbangan tetap ingin menghemat bahan bakar demi mengejar keuntungan. Sayangnya memang tak dinyana ada misil yang diluncurkan di wilayah yang masih dianggap aman untuk dilintasi pesawat komersil.

Saat bencana sudah terjadi, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengantarkan jenazah ke keluarga masing-masing, melakukan investigasi dengan detil, membuka kotak hitam dan belajar dari peristiwa tersebut. Selebihnya kita hanya bisa memanjatkan doa untuk mereka yang meninggal dalam peristiwa itu beserta keluarga-keluarga mereka.

Semoga di masa depan tak ada lagi pesawat komersil yang ditembak jatuh. Apapun alasannya. Baik salah tembak atau memang sengaja menembak.

Petasan di Bulan Puasa

Apakah ada korelasi budaya antara petasan dan bulan puasa? Tentu tidak. Anehnya setiap kali bulan puasa datang, petasan pun ramai dijual dan dibeli di berbagai tempat di tanah air.

Sepertinya tidak ada tradisi khusus petasan di negara-negara lain ketika bulan puasa datang. Tak ada seperti itu di Arab Saudi. Setali tiga uang dengan Malaysia, Brunei, Singapura dan di mana pun juga. Hanya di Indonesia. Apa alasannya?

Bisa dimaklumi bila petasan dijual ketika menjelang tahun baru berdasar kalender internasional. Namanya juga perayaan besar, tak hanya petasan namun kembang api yang ukurannya besar dan mampu menyemarakkan pergantian tahun.

Beda dengan bulan puasa. Pada bulan yang suci tentunya masyarakat menjaga lingkungan dan tingkah laku. Semuanya berlatih sabar dan mencoba menjadi lebih tawakal. Tentu adanya petasan sangat mengganggu terselenggaranya bulan puasa.

Coba bayangkan apa yang terjadi bila ada petasan yang bunyinya memekakkan telinga tiba-tiba meledak di dekat kita. Ada rasa jengkel. Rasa sabar diuji. Marah pun percuma karena sudah petasan sudah membuat kaget.

Mungkin banyak yang beralasan, banyaknya petasan yang dijual bebas memang membuat banyak orang tertarik untuk membelinya. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Ada sedikit kesadaran untuk seyogyanya tidak membuang uang untuk membeli petasan yang tak ada manfaatnya. Malah petasan memiliki lebih banyak mudarat. Uang terbakar percuma, luka-luka karena salah menyalakan petasan hingga rumah terbakar habis karena percikan api dari petasan.

Hebatnya lagi petasan bebas dijual. Pastilah petasan dilarang secara hukum. Hanya saja penegakannya tidak berjalan dengan efektif. Bahkan tidak ada sanksi sosial dari tingkat lingkungan setempat bagi penjual petasan. Hanya sebatas berkeluh-kesah atau marah-marah sendiri.

Mengenai mengapa petasan selalu muncul di bulan puasa, saya memiliki satu teori sederhana. Pada bulan puasa, banyak sekolah yang libur atau hanya beroperasi lebih pendek ketimbang hari-hari biasa. Anak-anak pun berusaha mencari kegiatan atau sesuatu untuk dilakukan. Ketersediaan petasan yang dijual di mana-mana membuat banyak anak-anak pun tertarik untuk menyalakannya. Tak hanya dinyalakan ketika Lebaran tiba. Justru dinyalakan saat sore hari ketika banyak orang pergi ke Mesjid untuk melakukan Tarawih atau saat sore hari ketika orang melakukan Ngabuburit menunggu suara Bedug bergema tanda berbuka puasa dimulai.

Alhasil sore dan malam hari diramaikan dengan suara petasan yang mengganggu. Tak ada hubungan antara bulan puasa dengan petasan. Petasan ada karena ada kebutuhan dan ada yang jual meski sudah dilarang. Petasan di bulan puasa merupakan pekerjaan rumah bagi aparat hukum dan para pemimpin lingkungan. Seyogyanya petasan tak harus selalu ada setiap kali bulan puasa datang. Biarkan bulan puasa berlangsung dengan damai.

Risak

Menurut Anda apa arti kata ‘risak’? Tidak tahu? Apa mungkin malah belum pernah mendengarnya sama sekali?

Saya baru menemui kata tersebut gara-gara membaca artikel sebuah koran online nasional menyoal Tudung Fatimah dari Syahrini. Bukan Syahrini, selebritas sensasional ini, yang menjadi perhatian saya. Kata risak yang menjadi keheranan saya.

Ternyata risak sebanding dengan bully. Sudah lama saya penasaran kata apa yang kiranya tepat dengan kata bully dalam Bahasa Indonesia.

Dalam artikel tersebut rupanya para netizen merisak baju Syahrini yang warnanya kuning dari atas hingga bawah. Syahrini dirisak dengan kata-kata candaan yang bernada mengejek. Ada yang mengatakan baju kuning tersebut seperti pisang berlapis margarin. Begitu pula dengan beragam perkataan yang jelas tidak memuji.

Memang fakta bahwa baju yang dikenakan Syahrini tersebut memang jauh dari normal. Serba kuning yang meskipun mirip baju muslimah namun ternyata hanya tudung biasa. Bukan kerudung. Tak heran Syahrini menjadi bulan-bulanan di dunia maya.

Risak-merisak memang tindakan yang kurang baik. Sebuah penghakiman asal-asalan yang membuat malu yang dirisak. Namun tak bisa dipungkiri, ada saja tingkah laku para selebritas yang membuat para perisak menjadi gatal tangannya. Tingkah laku yang bikin alis mengerut memang mengundang perisakan. Jadi sudah ada resiko tersendiri bila selebritas bertingkah aneh kemudian menuai ejekan dan menjadi bahan tertawaan.

Merisak di dunia maya menjadi lebih mudah karena banyak perisak yang bisa bersembunyi di balik akun-akun anonim. Tak ada tanggung jawab sosial. Bahkan memang jelas pengecut karena berani merisak tanpa mempertunjukkan jati diri sebenarnya.

Bagaimana dengan Anda, apakah sudah pernah merisak orang lain di dunia maya? Semoga tidak. Apakah sudah pernah mengalami perisakan? Semoga juga tidak. Bila tingkah laku memang benar, tak ada alasan perisak akan merisak Anda.

Bagaimana Cara Menulis Buku?

Kadang-kadang orang bertanya kepada saya cara untuk menulis buku. Mungkin karena saya pernah menerbitkan dua buku. Mungkin juga karena sering mendorong orang lain untuk menulis melalui blog hingga menulis buku.

Tentu saja saya menjawab semampu saya meskipun sadar sepenuhnya bahwa ada banyak penulis yang jauh lebih pantas untuk menjawab pertanyaan mengenai langkah demi langkah untuk menulis buku. Pun ada banyak buku yang tuntas mengupas tentang menulis di berbagai toko buku.

Jawaban saya standar. Semampu saya. Berikut ini pertanyaan dan jawaban yang umumnya disampaikan, baik melalui lisan, email dan Facebook.

Saya ingin menulis buku. Bagaimana?

Mantab! Salut dengan keinginan tersebut. Menulis buku itu seperti laiknya menulis diari atau jurnal harian. Menulis dengan ringan, sederhana dan semakin sering dilakukan makin baik. Tak sesulit membuat skripsi sebagai syarat gelar sarjana. Bila Anda rajin menulis di blog, menulis buku itu sesuatu yang beda-beda tipis.

Tapi saya tak pernah menulis blog atau diari sebelumnya.

Baiklah. Tak semua orang punya kebiasaan menulis. Mungkin menulis karena terpaksa jika harus membuat laporan di tempat kerja. Banyak orang yang lebih banyak mengobrol ketimbang menulis. Itu kata kuncinya. Bila Anda bisa banyak bercerita berbagai hal dalam hidup ini ke teman-teman sembari minum kopi berarti Anda memiliki banyak sumber ide. Apa yang Anda bicarakan bisa dituangkan ke dalam lembaran kosong atau laman putih di laptop.

Langkah kecil yang harus dilakukan cukup sederhana. Ambil buku kosong untuk menulis ide-ide yang terlintas di benak. Tulis saja tanpa harus repot menyuntingnya. Tetap tuliskan tanpa harus mempedulikan apakah tulisan tersebut bagus atau tidak. Bila Anda ingin tulisan dibaca dan dikomentari oleh orang lain, bikin saja blog dengan menggunakan layanan WordPress.com yang gratis.

Ide Saya Banyak Sekali Tapi Sulit Menuliskannya

Hmm. Coba sebutkan tiga ide yang Anda pikirkan!

Sebagian besar orang tidak bisa menyebutkan ide mereka meskipun sudah bilang bahwa mereka punya banyak ide. Sedangkan mereka yang langsung bisa mengutarakan tiga ide yang mereka sukai umumnya malah benar-benar punya ide.

Ada baiknya bila memikirkan ide dari hal-hal yang memang Anda sukai. Bisa apa saja. Hobi jalan-jalan. Kesukaan tentang kuliner dan cita rasa. Pengalaman hidup. Lika-liku percintaan. Berbagai hal di tempat kerja. Segala sesuatu yang familiar dengan kehidupan Anda bisa menjadi ide.

Baiklah. Sekarang Anda ingin menulis buku apa?

Mari kita asumsikan tak ada lagi kesulitan dengan ide. Ide sudah ada di benak Anda. Bahkan Anda sudah menuliskannya di buku atau laptop. Sekarang buku apa sih yang ingin Anda buat?

Buku jalan-jalan. Buku masakan. Buku fotografi. Cerita romansa. Apapun itu, yang penting Anda benar-benar menyukainya.

Bila Anda benar-benar menguasai topik tersebut, mantab! Bila tidak, bagaimana? Tak apa-apa. Tetap saja Anda bisa membuat buku tersebut. Justru proses pembelajaran bisa menambah wawasan Anda seiring pembuatan buku.

Jenis buku apa yang sedang trend saat ini?

Pertanyaan bagus. Ada saatnya untuk memikirkan buku-buku yang sedang populer di pasaran. Buku catatan perjalanan sedang laris manis seiring makin banyaknya orang yang ingin jalan-jalan.

Ada juga buku berisi cerita mirip-mirip dengan drama Korea dan fan-fiction. Asal latar belakangnya Korea agaknya lumayan laris. Namun yang namanya trend bisa berakhir dengan cepat. Bukankah trend selalu berubah seraya waktu?

Bukan berarti buku yang kurang trendy tidak layak dibuat. Selalu ada jenis-jenis buku yang digemari dan dibeli oleh banyak orang justru karena termasuk buku yang memberi wawasan.

Buktinya selalu ada permintaan akan buku menggunakan komputer. Buku masak-memasak. Buku motivasi. Buku tentang mendekorasi rumah. Bahkan buku yang menyangkut agama dan beribadah tetap ada di rak-rak toko buku.

Saatnya berkunjung ke toko buku.

Katakan saja Anda ingin membuat buku perjalanan karena suka dan sering jalan-jalan. Anda sudah punya ide, beberapa coret-coret di kertas, kumpulan foto dan memori yang indah tentang perjalanan-perjalanan tersebut.

Sekarang waktunya untuk main ke toko buku untuk melihat-lihat buku perjalanan yang bisa bagus-bagus. Pakailah buku tersebut sebagai sarana inspirasi. Pelajari format penulisan bukunya. Bila perlu belilah buku perjalanan yang membuat Anda terkesan. Bukan, bukan menconteknya. Melainkan belajar dari buku tersebut bagaimana sistematika penulisannya melalui bab-bab. Catatlah hal-hal yang membuat Anda terkesan dengan buku-buku tersebut.

Anggap saja kunjungan ke toko buku sebagai studi banding murah meriah. Bila ada perpustakaan, kunjungi juga. Nikmati saja studi bandingnya. Ada terlalu banyak inspirasi yang bisa didapatkan di toko buku dan perpustakaan untuk membuat buku.

Mulai menulis.

Langsung tulis saja. Tak perlu banyak teori. Kumpulkan apa saja yang Anda punyai. Entah itu foto-foto, kumpulan artikel sebagai sumber penulisan atau catatan-catatan kecil yang selama ini tersebar.

Saat tulisan sudah terkumpul banyak. Lihat lagi skema penulisan bab-bab di buku yang menjadi inspirasi Anda.

Coba susunlah tulisan-tulisan tersebut ke dalam bab-bab yang terkait. Tak perlu ambisius. Menulis satu bab dalam satu minggu atau satu bulan sudah bagus. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kan?

Saat bab-bab sudah tersusun dan bahan tulisan sudah habis, perlihatkan tulisan tersebut ke keluarga atau teman Anda. Umpan balik perlu. Bahkan bisa jadi menambah ide atau bahan yang diperlukan.

Tak perlu terlalu menyunting draft buku Anda tersebut. Yang penting Anda fun dengan draft tersebut.

Istirahatlah sejenak dari draft tersebut. Dengan begitu Anda tak begitu tertekan.

Setelah itu coba tambahkan yang perlu ditambahkan. Ubah yang perlu diubah. Tulis juga hal-hal kecil namun diperlukan seperti daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka; yang memang selalu ada dalam sebuah buku.

Lalu?

Kirimkan naskah ke penerbit.

Setelah draft menjadi sempurna, setidaknya menurut versi Anda, Anda bisa mempersiapkannya menjadi naskah yang siap kirim.

Ada penerbit yang menerima naskah dalam bentuk salinan berkas elektronik melalui email (softcopy). Ada juga yang mensyaratkan Anda untuk mencetaknya di lembaran kertas (hardcopy). Lihat syarat yang dibutuhkan yang umumnya terdapat di situs penerbit tersebut.

Bila tak Anda temukan, kirimkan email atau mengontak secara langsung melalui alat komunikasi yang ada.

Ingatlah bahwa masing-masing penerbit memiliki proses dan jangka waktu yang berbeda-beda. Anda bisa mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus. Bila sudah ada persetujuan dari satu penerbit, hubungi dan tarik naskah tersebut dari penerbit-penerbit yang lain sehingga tidak ada penerbitan buku secara ganda yang jelas tidak etis.

Buku sudah disetujui tapi mengapa belum terbit?

Saat kata sepakat sudah didapat berarti naskah Anda sedang melalui proses yang panjang. Redaksi akan menyunting naskah tersebut. Ilustrator akan membuat kreasi grafis yang mempercantik buku. Hingga waktunya petugas cetak mencetak lembaran-lembaran buku Anda.

Mengapa lama? Banyak naskah antri di meja redaksi dan proses-proses selanjutnya. Oleh karena itu bersabarlah. Sesekali dua kali bolehlah mengontak staf yang menangani buku Anda. Tak perlu menuntut penerbit untuk menerbitkan lebih cepat dari seharusnya karena selalu ada urutan prioritas.

Lalu apa yang harus saya lakukan?

Bagaimana kalau mulai mencari ide-ide segar yang baru untuk disusun menjadi buku Anda yang kedua dan seterusnya?

Menulis bukanlah hobi. Bukan pula profesi. Dalam kebudayaan di negara-negara maju dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, menulis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Membuat buku bukan pula barang baru. Buku boleh jadi merupakan produk sampingan karena kebiasaan menulis setiap harinya. Nah, lho? Asyik bukan?

Saya ingin bikin blog supaya kemampuan menulis saya meningkat. Bagaimana, ya?

Luangkan waktu untuk membuat blog gratis yang bisa dibuat dengan WordPress, Tumblr atau Blogger. Bila sudah membuat blog, silakan memberikan alamat blog Anda di kolom komentar di bawah. Saya sukablogwalking berbagai blog; terutama bila berkaitan dengan tulis-menulis.

Baiklah menulis buku itu mudah. Tapi mengapa tidak banyak yang melakukannya?

Pertanyaan tersebut membuat saya tertegun sesaat. Mengapa, ya? Ya, mungkin karena banyak orang yang merasa takut menulis atau berpikir tidak mampu melakukannya. Bisa juga karena malas. Malah sepertinya lebih banyak yang memilih menonton acara televisi yang makin tak bermutu ketimbang meluangkan waktu untuk menulis buku.

Bagaimana, masih mau menulis buku dan meninggalkan kegiatan lain yang kurang produktif? Menulis itu menyenangkan asal dibikin enteng dan fun.

Saya ingin tanya-tanya lagi. Bolehkah?

Tentu saja boleh. Bila ada pertanyaan, cukup ketikkan pertanyaan di kolom komentar. Bila ada kesempatan dan kemampuan, saya akan menjawabnya.

Cuma sampai sini saja artikelnya?

Cukup sekian untuk sekarang. Nanti disambung di artikel lainnya. Terima kasih sudah membaca hingga selesai.

Lokalisasi, Ditutup atau Tidak?

Rencana penutupan daerah lampu merah bernama Gang Dolly berhasil dieksekusi oleh Ibu Risma, Walikota Surabaya, sebelum Bulan Suci Ramadhan mulai.

Banyak orang memuji usaha Ibu Risma untuk menutup lokalisasi yang terkenal hingga ke mancanegara tersebut. Bahkan selama ini, tak ada walikota-walikota sebelumnya yang mau sekaligus mampu menutup tempat mangkal para pekerja seks yang konon dimulai oleh Dolly, mucikari keturunan Belanda.

Saya termasuk orang yang setuju dan salut dengan keputusan Ibu Risma menutup Gang Dolly dan mengubahnya menjadi wilayah yang bersih dari segala jenis usaha yang terkait dengan pelacuran. Hanya saja ada pertanyaan yang menohok. Bila Gang Dolly tutup, bagaimana kalau prostitusi dan pelakunya menyebar ke segala penjuru kota Surabaya? Bukankah malah lebih sulit bagi pemerintah untuk mengatur dan membatasi kegiatan prostitusi?

Sepertinya dilematis, bukan? Bila daerah lampu merah tetap eksis berarti pemerintah dan masyarakat setempat setuju dengan adanya pelacuran. Sebaliknya, saat pemerintah dan masyarakat menutup suatu tempat lokalisasi bisa berarti membantu penyebaran pramunikmat ke banyak tempat publik.

Namun ada garis terangnya. Ada atau tidak adanya daerah lampu merah, tetap saja akan ada aktivitas prostitusi. Hanya saja, eksistensi daerah lampu merah jelas mempermudah akses banyak lelaki untuk mendapatkan jasa esek-esek ini.

Berbeda bila tidak ada daerah lampu merah. Meskipun pelaku prostitusi menyebar ke banyak tempat, akses terhadap layanan memberi kepuasan syahwat menjadi tidak semudah seperti yang didapati dengan adanya lokalisasi.

Ada beberapa poin yang bisa menjadi argumentasi bahwa lebih baik untuk menutup lokalisasi ketimbang membiarkannya tetap eksis.

Lokalisasi dan Perdagangan Manusia

Tak bisa dipungkiri bahwa perdagangan manusia, terutama perempuan, menjadi salah satu cara untuk menambah jumlah ‘dagangan’ yang bisa dijual ke lelaki hidung belang. Teramat banyak perempuan yang ditipu dan disekap di rumah para mucikari yang kemudian dipaksa melayani para lelaki hidung belang; tanpa ada kesempatan untuk membela diri atau paling tidak melarikan diri dari tempat tersebut.

Memang ada banyak cerita bahwa tetap ada perempuan yang ingin terjun ke dunia hitam atas keinginannya sendiri. Namun alasannya biasanya berasal dari keterpaksaan. Entah itu kebutuhan ekonomi, berasal dari keluarga yang berantakan, balas dendam karena ditipu oleh pasangannya atau karena dibuang oleh keluarga dan masyarakatnya. Kata kuncinya adalah terpaksa. Bukan karena cita-cita.

Dengan adanya lokalisasi, perdagangan manusia makin menjadi-jadi karena para mucikari selalu membutuhkan pramunikmat yang baru dan lebih muda; yang bisa memuaskan pelanggan dan menghasilkan pundi-pundi tak halal yang lebih banyak lagi.

Lokalisasi dan Anak-anak

Tak perlu kaget bila ada anak-anak yang menghuni daerah lokalisasi. Anak-anak tersebut ada karena orangtua mereka hidup dari jasa esek-esek. Bahkan tak jarang, ada banyak anak-anak yang terlahir karena ‘kecelakaan’ yang terjadi antara pramunikmat dan pelanggannya. Masa depan mereka suram karena tumbuh di tempat yang sangat jauh dari ideal.

Anak-anak tersebut mendapat pengaruh yang buruk dari lingkungan sekitarnya. Tak jarang anak-anak tersebut mendapat perlakuan kasar secara verbal dan fisik. Selain itu, anak-anak malang tersebut dijauhi oleh anggota masyarakat karena latar belakang mereka yang kelam. Alhasil banyak anak-anak tersebut yang berakhir seperti orangtua mereka. Menjadi para pekerja seks atau yang terkait dengan prostitusi.

Lokalisasi dan Kesehatan Seksual

Banyak yang berpikiran bahwa adanya lokalisasi mempermudah para pekerja kesehatan dan pekerja sosial untuk memantau dan menfasilitasi kesehatan para pramunikmat. Ada benarnya. Namun prosentasenya tak begitu signifikan.

Coba bayangkan bila salah seorang pramunikmat terkena penyakit menular seksual. Mungkin karena kebutuhan untuk hidup, tetap saja melakukan aktivitas jual beli seks. Toh, para pekerja kesehatan dan pekerja sosial tak mampu berbuat banyak untuk membatasi penularan penyakit menular seksual.

Lokalisasi, sebaik apapun kondisinya, tak pernah mendapatkan perhatian yang semestinya dari pemerintah. Tak perlu mengharapkan adanya pengawasan dan bantuan kesehatan. Itu hanya sebatas teori. Justru yang terjadi, pemerintah daerah membiarkan lokalisasi tetap ada karena tak mampu memberikan solusi mengentaskan kemiskinan. Pemerintah daerah juga tak berani untuk menutup lokalisasi karena adanya backing dari oknum aparat keamanan.

Lokalisasi, Mempermudah Jasa Esek-esek

Yang namanya lelaki hidung belang, bila syahwat sudah tak bisa dibendung pastilah akan mencari pemuasan diri. Cara termudahnya adalah membeli jasa para pramunikmat. Meskipun banyak pelaku prostitusi yang berada di segala lapisan masyarakat, toh, tak banyak yang tahu bagaimana mendapati keberadaan para pramunikmat. Cara yang paling praktis yaitu dengan mendatangi daerah lampu merah.

Tak hanya para pelanggan semata, banyak anak-anak muda atau newbie yang penasaran dengan jasa esek-esek pun sengaja mampir ke lokalisasi. Pada awalnya hanya iseng dan ingin tahu. Bisa jadi berakhir menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan tetap yang rajin menyambangi daerah lampu merah. Jelas, lokalisasi menjadi magnet yang menarik banyak lelaki untuk datang dan menikmati kesenangan yang diharamkan tersebut.

Jadi lokalisasi lebih baik ditutup atau tidak?

Dengan empat poin argumentasi di atas, lokalisasi jelas harus ditutup. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Tidak ada pembenaran yang cukup baik dan masuk akal untuk membiarkan daerah lampu merah eksis di tengah-tengah masyarakat.

Apakah penutupan lokalisasi akan menghentikan prostitusi? Jelas tidak. Prostitusi tetap akan ada selama ada kebutuhan dan ketersediaan.

Tentu harus ada solusi cerdas yang manjur yang diberikan kepada para pramunikmat sehingga mereka bisa hidup mandiri. Tak sekedar menutup daerah lokalisasi dan tak memikirkan nasib para penghuninya.

Dengan alasan-alasan di atas, penutupan daerah lampu merah menjadi suatu cara yang efektif untuk memberantas atau menurunkan aktivitas jual beli seks. Yang otomatis akan menurunkan penularan penyakit menular seksual, menghambat perdagangan manusia dan menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat dan bermoral.

Ponsel Pintar Murah Meriah

Beda dulu dengan sekarang. Dengan adanya kemajuan teknologi manufaktur, ponsel pintar bisa diproduksi secara masal, semi-otomatis dan cepat. Di sisi lain, beberapa produsen ponsel berlomba-lomba mendapatkan pelanggan dengan mengurangi margin keuntungan sehingga harga per satuan ponselnya menjadi makin murah. Lebih banyak lagi pembeli ponsel yang mampu menjangkau harganya.

Dampak positifnya langsung dirasakan. Ponsel pintar tak lagi mahal. Murah meriah sudah bisa mendapat ponsel yang bisa memiliki beragam fitur canggih. Sebut saja akses Internet, navigasi GPS, kamera yang mumpuni, mampu dipasangi berbagai aplikasi terkini dan memiliki kapasitas penyimpanan yang memadai.

Bahkan saking bersaingnya ponsel pintar, harganya pun tak jauh beda dengan feature phone; yang hanya bisa sekedar melakukan panggilan telepon, terima kirim sms dan beberapa aplikasi sangat sederhana. Oleh karena itu, makin banyak konsumen yang lebih memilih memiliki ponsel pintar yang murah meriah ketimbang membeli ponsel yang ketinggalan jaman meski harganya lebih murah.

Ponsel pintar murah meriah memang menjamur. Hampir semua orang yang memegang ponsel kini bisa melakukan banyak hal dengan ponselnya. Memotret. Menonton layanan video. Mengirim email dengan lampiran. Hingga menggunakan ponsel untuk keperluan bisnis.

Sayangnya, ponsel pintar yang ada di mana-mana tak menjamin bahwa pemiliknya mampu menggunakannya dengan maksimal. Masih banyak yang tak paham benar dengan ponsel pintar karena tak terlalu pintar menggunakannya. Alhasil, ponsel pintar hanya digunakan seperti laiknya ponsel sederhana minim fitur.

Prahara Hitung Cepat

Hitung cepat atau quick count merupakan salah satu cara untuk mengetahui gambaran persentase perolehan suara yang berdasarkan pengolahan data sampling. Itu pengertian yang saya peroleh sejauh ini. Untuk lebih jelasnya, silakan melihat referensi yang lebih afdol.

Tentu pelaksaan hitung cepat tak bisa sembarangan. Harus ada metode penghitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Wajib adanya pengecekan berulang dan sistematis dari pengambilan data di lapangan hingga saat hasilnya ditampilkan ke publik.

Kesalahan memang bisa terjadi namun bisa diminimalisir. Kesalahan data 1% masih bisa ditolerir. Lebih dari itu, keabsahan data dipertanyakan. Pasti ada kesalahan pengambilan atau pengolahan data. Bisa juga adanya manipulasi angka.

Untuk Pilihan Presiden kali ini, kesalahan data 1% saja sudah mewakili sekian banyak suara pemilih. Bahkan ketika pertarungan dan dukungan saling berkejaran dan berlangsung sangat ketat, kesalahan marjin kesalahan harus seminimal mungkin. Salah tampilkan hasil bisa berujung pada kesalahan hasil secara total. Bila ada dua belah pihak yang bersaing, hasil yang sedikit di atas 50% atau di bawahnya jelas membuat perbedaan besar. Oleh karena itu, hitung cepat tak bisa dilakukan sembarangan dan tergesa-gesa ditayangkan di berbagai media.

Salah satu yang membuat gerah di Pilpres kali ini mengemuka ketika dari sekian banyak lembaga dan media yang melakukan hitung cepat; ada segelintir hitung cepat yang hasilnya jauh berbeda dengan hitung cepat kebanyakan.

Tentu saja suara mayoritas bukan jaminan kebenaran. Namun menjadi pertanyaan ketika segelintir hitung cepat tersebut, yang dianggap belum memiliki kredibilitas, telah beberapa kali salah melakukan hitung cepat secara fatal dalam beberapa Pilkada sebelumnya dan Pilihan Legislatif. Terlebih lagi ketika ditayangkan di salah satu stasiun televisi, jumlah totalnya melebihi 100%. Salah ketik di layar televisi bisa terjadi. Tapi ingat bahwa ini momen yang penting, krusial dan sensitif. Tak seharusnya ada kesalahan elementer yang terjadi karena imbasnya sangat besar.

Memang perlu adanya audit untuk membuktikan apakah segelintir hitung cepat yang hasilnya sumbang tersebut kredibel atau tidak. Namun bila ada pihak yang bertanding sudah memakai hitung cepat, yang disangsikan tersebut oleh sekian banyak ahli dan masyarakat, dan memakainya untuk melegitimasi kemenangannya; rasanya sungguh menjijikkan.

Bayangkan Anda saat ini menonton pertandingan Brazil melawan Jerman pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2014. Kemudian di layar televisi Anda melihat pemain Tim Samba beserta seluruh warga Brazil bersorak-sorak setelah peluit tanda kelarnya pertandingan berbunyi. Anda secara otomatis akan merasa aneh. Mengapa Brazil yang hanya berhasil menceploskan satu gol kegirangan menang. Sementara Tim Panzer Jerman hanya bengong tak percaya karena merasa berhasil membuat 7 gol di gawang lawan. Tak wajar, bukan?

Hal sama pun dirasakan sekian banyak penonton televisi dan masyarakat Indonesia di tanah air. Salah satu pasangan capres dan cawapres bersorak-sorai bersama para pendukungnya karena merasa menang. Padahal dasar yang dipakai adalah hasil hitung cepat yang dianggap tidak kredibel oleh para ahli hitung cepat dan pengamat politik.

Hitung cepat yang berbeda tersebut benar-benar membuat prahara. Ada semacam hasil tandingan. Ada persepsi yang mungkin sengaja dipaksakan bahwa pemenangnya ada dua. Aneh, bukan?

Lebih aneh lagi saat pihak yang ‘kalah’, berdasarkan beberapa hitung cepat yang kredibel, mencoba untuk underestimateperan dan hasil dari hitung-hitungan cepat hasil Pilpres. Padahal pihak tersebutlah yang getol untuk sesegara mungkin mengklaim kemenangannya. Kemudian jurus lain pun diluncurkan. Berusaha sekuatnya untuk mempengaruhi opini pemilih bahwa keputusan pemenang baru sah nanti setelah hasi dari KPU yang resmi sudah keluar beberapa hari ke depan.

Memang keputusan yang sah ada di hasil yang akan disampaikan KPU. Namun hitung cepat yang kredibel sudah terbukti mampu memberikan gambaran yang akurat. Bahkan TVRI dan RRI yang notabene merupakan milik pemerintah dan dianggap cukup netral karena tidak partisan sudah menampilkan hasil hitung cepat.

Semoga saja permasalahan mengenai perbedaan hasil hitung cepat mereda dan pada saat yang sama hasil dari KPU diumumkan ke publik. Dengan adanya legitimasi hasil Pilpres, pasangan calon terpilih bisa segera maju untuk memulai babak baru negara yang sangat mendambakan pemimpin yang bisa membawa perubahan, mau bekerja keras dan tetap berwibawa dalam kesederhaannya.

Berikan Jalan Keluarnya

Apa yang terjadi bila binatang atau manusia beradandalam kondisi yang terdesak? Membabi-buta. Panik. Mati-matian akan membela diri.

Sebagai makhluk hidup tentu secara natural akan mempertahankan dirinya.

Beberapa saat ini, ada dua kejadian yang membuat saya jengkel.

Ada seekor ayam yang tiba-tiba masuk ke rumah dan bersembunyi di dapur karena dikejar-kejar atau kalah tarung dengan ayam yang lain. Tak ada jalan keluar di dapur karena posisinya yang berada di pojok rumah. Ayam tersebut pun tersudutkan. Berbagai upaya untuk mengusirnya tak manjur. Justru ayam tersebut makin panik di pojok dapur.

Setali tiga uang, seekor kucing mendadak jatuh dari langit-langit. Kemudian lari ke arah ruang depan. Sepertinya karena tak menemukan jalan keluar karena pintu depan tertutup, kucing tersebut nekat untuk meloncat ke tumpukan barang dan naik hingga ke bagian kayu penyangga di bawah genteng. Kucing tersebut terjebak di bentangan kayu yang cukup tinggi tersebut dan sepertinya takut untuk meloncat turun.

Kedua binatang tesebut tetap mempertahankan posisinya karena tak melihat adanya jalan keluar. Bertahan sekuatnya selama mungkin.

Cara mengatasinya ternyata sepele. Berikan binatang-binatang tersebut ruang bergerak. Biarkan mereka melihat ada ruang untuk keluar dari situasi mereka. Entah karena lapar atau bosan, mereka cepat atau lambat akan keluar dari tempat bertahan mereka.

Sama saja dengan manusia. Dalam posisi terjepit dan terdesak, orang tak akan mau meninggalkan posisi bertahan mereka. Bahkan dalam kondisi serba kepepet, akal dan pikiran tak lagi jernih. Apapun bisa dilakukan supaya tetap bertahan.

Jalan keluar perlu diberikan. Baik dalam bentuk solusi maupun persuasi. Negosiasi dan kompromi pun bisa ditawarkan.

Bayangkan bila pemerintah ingin menggusur penduduk yang secara ilegal menempati bantaran sungai tanpa memberikan tempat tinggal baru atau menjanjikan kompensasi. Penduduk bantaran sungai tak akan mau pindah meskipun secara hukum mereka bersalah karena menempati tempat yang bukan hak mereka.

Yang terjadi adalah kekuatan pemerintah melalui aparat hukumnya berhadapan dengan penduduk yang tak memiliki harapan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan. Korban jiwa dan harta pun jatuh dari kedua belah pihak.

Yang diperlukan adalah jalan keluar.

Tanpa adanya ruang untuk bertahan atau keluar dari situasi yang mengancam, penduduk bantaran sungai bakal melakukan segalanya untuk tetap tinggal di tempat itu.

Cara-cara kekerasan bukanlah jalan yang manusiawi. Berikan jalan keluar yang bisa menjadi solusi. Dengan begitu, masalah pun selesai secara lebih baik.

Hallyusinasi

Tersenyum saya saat mendengar istilahhallyunisasi. Gabungan frasa dari hallyu dan ‘halusinasi’. Istilah yang kreatif dan jelas menohok.

Hallyu sendiri adalah kata lain untuk menyebut Korean Wave. Fenomena menyebarnya sebagian kultur Korea Selatan ke banyak negara-negara di luar tanah Korea. Melalui beragam produk hiburannya, budaya dan lifestyle Korea menjadi trend tersendiri dan diminati oleh penggemarnya di berbagai belahan dunia.

Tampak jelas bahwa K-pop menjadi motor penyebaran hallyu. Ada berbagai lagu yang dilantunkan puluhan girl band dan boy band disertai dengan penayangan music video, penjualan dvd dan konser besar-besaran. Padahal hampir kebanyakan lagu-lagunya menggunakan Bahasa Korea; yang lucunya tak semua penggemarnya mengerti artinya.

Produk lainnya berupa K-drama. Drama televisi Korea yang menampilkan bintang-bintang Hallyu terkini. Apapun ceritanya, selalu saja ada yang menonton setiap episodenya dengan setia. Tentu tak lupa meneteskan air mata, ikutan membuncah ketika aktornya jatuh cinta, atau ikut-ikutan marah ketika pelakon pujaannya sedang dikerjai oleh musuh-musuhnya.

Ada pula acara variety show dan reality show yang tentu saja menyodorkan bintang-bintang terkenal sehingga banyak fans mereka yang menonton acara-acara tersebut.

Paparan terhadap Hallyu membuat kuliner Korea menjadi lebih digemari. Kimchi, Bibimbap dan Soju. Tentu pariwisata, produk elektronik dan pabrikan otomotifnya menjadi lebih dikenal.

Sayangnya, Hallyu ini juga memberikan gambaran yang salah mengenai Korea. Ada kesan yang sangat melekat bahwa bintang film, artis, penyanyi dan selebritas Negeri Ginseng itu sempurna. Sesempurna apa?

Aktornya tampan yang kulit wajahnya lebih halus daripada perempuan dengan abs dan otot tangan yang maskulin. Anggota-anggota girl band yang bisa serempak menari-nari sembari bernyanyi dengan wajah berseri-seri dan kaki jenjang yang bikin iri. Belum lagi para selebritas yang selalu tampak glamor dengan baju-baju rancangan desainer terkenal, sepatu hak setinggi langit, tas bermerek dan tentunya make-up yang bikin wajah makin kinclong tanpa noda.

Benarkah seperti itu?

Bintang-bintang Korea itu sempurna. Sungguh sempurna. Tak ada cacatnya. Namun itu hanya yang dipikirkan dan dipercayai oleh penggemarnya yang tak jernih berpikir. Mereka dibutakan oleh gemerlap Hallyu yang sebenarnya menyimpan sisi kelam yang membawa banyak korban.

Wajah Sempurna yang Menawan

Setiap negara pasti memiliki sekian persen penduduknya yang memang cantik dan tampan. Sedangkan sisanya ya biasa-biasa saja. Yang buruk rupa juga banyak. Namun mereka yang tampil di layar kaca biasanya orang-orang yang sudah terseleksi. Wajar jika yang tersaji cantik dan tampan. Bukankah itu yang berlaku di dunia hiburan di mana saja?

Hanya saja untuk bisa menembus dunia hiburan yang kompetitif, tak terhitung banyaknya selebritas Korea yang rela melakukan dua hal berikut. Menggunakan rias wajah secara berlebihan secara konstan sehingga menimbulkan kesan wajah yang enak dilihat. Cara lainnya lebih menantang yaitu berani permak wajah dengan cara operasi plastik. Dua-duanya pun kudu dilakoni sehingga bisa terseleksi membintangi sebuah K-drama, menjadi anggota girl band atau boy band atau minimal terpilih sebagai wajah iklan salah satu produk Korea.

Tubuh Tinggi Ramping dengan Postur Aduhai

Pernah dengar tentang istilah lekukan S? Itu merupakan keinginan banyak Kaum Hawa di Korea ketika mereka bisa berpose menyerupai huruf S. Namun ada syaratnya yaitu pinggang harus ramping, dengan dada yang membusung dan kaki jenjang yang panjang.

Bagaimana bisa mendapatkan tubuh yang sempurna? Tentu bisa dengan olahraga, Yoga atau Pilates. Namun lebih banyak yang menginginkan cara instan. Sedot lemak, pemasangan implan payudara dan tak jarang juga mengoperasi tulang kaki supaya lebih tinggi. Menakutkan, bukan?

Selain itu ada keajaiban pengambilan gambar. Photoshop pun bukan sesuatu yang diharamkan. Jadi tak perlu iri bila seorang bintang iklan bisa memiliki paha mulus bersinar nan ramping. Meski sesungguhnya tak benar-benar indah bisa dibikin jauh lebih indah.

Tarian yang Serempak dan Sensual

Nah ini dia. Memang benar bahwa tarian-tarian para girl band dan boy band bisa bergerak berbarengan tanpa kesalahan dalam harmoni dengan timing yang tepat. Namun gerakan-gerakan tersebut dilatih secara berulang-ulang dalam rentang bulan hingga tahun. Latihannya benar-benar keras dan seringkali tidak manusiawi. Setiap lagu baru, tentu ada gerakan baru. Latihan lagi dan lagi. Setiap hari dan berjam-jam. Tidak mudah dan memerlukan pengorbanan yang tinggi. Enak dilihat tak selalu enak dilakukan. Yang namanya entertainer tentu sudah paham tuntutan mereka. Bila tak kuat otomatis tersingkir.

Selain itu ada faktor kompetisi yang ketat untuk membuat gerakan yang lebih sulit dan lebih atraktif. Bahkan bisa dibilang membanggakan bila suatu gerakan tariannya ditiru atau dimodifikasi oleh grup yang lain. Kompetisi yang kurang sehat ini pula yang membuat gerakan tari menjurus ke gerakan yang sensual. Bahkan demi popularitas, tak jarang ada saja grup-grup yang melewati batas kesantunan dengan menampilkan goyangan yang terlalu vulgar. Itu pun didukung oleh baju saat tampil yang terlalu banyak memperlihatkan bagian tubuh yang memerlukan privasi.

Aksesoris Bermerek yang Mahal

Ada fenomena airport fashion di mana beberapa selebritas sengaja menggunakan pakaian desainer terkenal dan tas bermerek setiap kali mereka hendak terbang atau datang di bandara. Apakah baju dan tas tersebut kepunyaan mereka?

Ternyata belum tentu. Bisa saja mereka memakai barang-barang mahal tersebut karena mereka menjadi product ambassador dari merek yang mereka iklankan. Sekedar pinjaman. Bisa pula barang sewaan untuk meningkatkan pamor dan reputasi selebritas yang bersangkutan.

Setali tiga uang saat mereka naik ke atas panggung. Kostum yang mereka kenakan boleh saja mahal namun itu adalah properti dari perusahaan rekaman atau agensi mereka. Kesannya memang mewah tapi tak selalu berkorelasi dengan kemakmuran para selebritas tersebut. Terutama mereka yang baru berstatus trainee dan artis debutan baru yang pendapatannya belum besar.

Selebritas Korea Pasti Kaya Raya

Siapa bilang? Kebanyakan artis masih terikat kontrak dengan agensi mereka. Pendapatan mereka sebagian besar masuk kantong agensi tersebut karena mereka sudah memberikan investasi berupa training untuk artis yang bersangkutan selama bertahun-tahun. Pada saat mereka sudah habis kontrak, boleh jadi usia mereka sudah tak lagi muda. Sialnya pula saat tak lagi berada di agensi yang sama, berbagai tawaran job yang selama ini berdatangan bisa menurun drastis. Terutama bila artis bersangkutan tak lagi dirasa menarik atau sudah tersaingi oleh artis-artis yang lebih muda yang haus pengalaman.

Hanya segelintir artis yang benar-benar bertalenta yang menghasilkan banyak uang dan mampu mempertahankan reputasinya. Sedangkan sisanya cepat atau lambat berguguran karena kalah bersaing dengan generasi berikutnya.

Bahkan tak jarang artis bisa mendadak bangkrut karena pendapatannya menurun sedangkan pengeluarannya sama besar atau lebih besar ketika masih mendapat banyak job. Tak mudah memang mengubah gaya hidup yang tadinya glamor ke gaya hidup yang lebih sederhana.

Pun ditambah hancurnya ego karena terbiasa mendapatkan banyak perhatian dari fans dan rekanan industri hiburan namun kini tersingkir dari pusat perhatian publik.

Bila Memang Semu Mengapa Masih Banyak yang Gemar dengan Hallyu?

Tentu saja masih banyak penggemar Korean Wave. Soalnya sederhana. Banyak yang merasa membutuhkan angan-angan setinggi langit. Merasa sah-sah saja berfantasi untuk memiliki cowok Korea yang setampan aktor papan atas Korea. Atau minimal punya tampilan wajah yangcute dan hampir-hampir mirip dengan salah satu anggota girl band yang sedang naik daun. Apalagi mimpi di siang bolong untuk mengalami kisah asmara yang romantis seperti di K-drama.

Jadi Hallyunisasi bakal ada selama ada yang menggemari produk hiburan K-pop. Seperti fenomena-fenomena pada umumnya, tak ada trend yang abadi. Pun tak ada ilusi yang bertahan selamanya. Mungkin saja sekarang sedang ramai-ramainya K-pop namun beberapa tahun yang akan datang sudah berganti trend yang baru.

Mereka yang sekarang ini sedang mengalami Hallyunisasi, lambat laun akan tersadar bahwa ilusi akan Korea tersebut tak semuanya sebening dan seindah yang terlihat. Ada harga yang harus dibayar oleh ribuan pelaku industri hiburan di Negeri Ginseng tersebut untuk menampilkan negeri khayalan yang semu dan lekang oleh putaran waktu.

Program Televisi yang Tak Lagi Beragam

Saya pribadi tak biasa menonton televisi sehingga tak begitu peduli dengan apapun yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi di tanah air.

Namun berhubung televisi sering menyala di rumah otomatis saya menjadi tahu apa saja acara-acara yang tayang di berbagai jam dalam sehari. Sekilas saja sudah ada pola yang mirip antara satu program televisi dengan yang lainnya. Nama program berbeda tetapi formatnya lebih kurang sama.

Semisal acara variety show. Dalam rentang waktu satu hingga tiga jam, terdapat beragam aktivitas di panggung yang ditayangkan secara live. Berbeda stasiun televisi memang. Anehnya, acara variety show mereka menampilkan aktivitas yang seragam. Selalu ada bagi-bagi hadiah, goyang bersama, hipnotis selebritis dan tentunya tingkah laku komedian yang mengundang tawa di sana-sini.

Yang lebih mengherankan, acara variety show yang berbeda stasiun televisi pun bisa menampilkan artis, penyanyi, komedian yang hampir serupa. Orang-orangnya hanya seputar itu saja. Acaranya pun tampak sama dengan pemain yang sama.

Itu baru menyoal variety show yang memang sedang trend swat ini. Belum lagi acara bincang-bincang yang mirip-mirip. Malah yang cukup berkurang adalah sinetron yang meredup karena kalah dengan variety show yang hingar-bingar dan kontes menyanyi dan talenta yang formatnya lebih kurang sama denganakademi-akademian dan idol-idolan.

Kemudian acara-acara alternatif lainnya juga kalah pamor dengan program televisi yang terkait dengan salah satu dari tiga topik panas saat ini.

Meriahnya Piala Dunia

Liputan Piala Dunia secara langsung, diselingi dengan komentar penggemar sepak bola dan ditambahi bagi-bagi hadiah melalui telepon. Tak hanya orang-orang gila bola yang mengikutinya. Mereka yang biasanya tak menonton sepak bola pun ikut tertarik menyimaknya. Yang jelas tiap empat tahun sekali, semua stasiun televisi tak mau ketinggalan memeriahkan momen ini.

Serunya Pilihan Presiden

Terkait dengan akan diselenggarakannya pemilihan langsung presiden maka ada sekian banyak acara yang memberitakan perkembangan terbaru pilpres. Termasuk acara utama seperti debat capres dan cawapres yang disiarkan secara langsung. Pun ada juga program-program televisi yang sengaja didukung oleh mereka yang berkepentingan. Meski berusaha disamarkan sebaik mungkin toh tetap saja banyak orang tahu itu ‘acara pesanan khusus’ yang gunanya untuk meningkatkan citra dan menarik massa semata. Tak perlu khawatir karena acara-acara seperti ini hanya terjadi setiap rentang lima tahun sekali.

Sucinya Bulan Puasa

Setiap tahun sekali menurut hitungan bulan, berbagai acara televisi berubah tampilannya. Acaranya boleh sama tapi atmosfernya berubah menjadi lebih santun. Bila sebelumnya acara bincang-bincang menghadirkan penyanyi dangdut dengan gaun seksi yang timbulkan birahi, kini penyanyi yang sama mendadak memakai pakaian muslimah. Kemudian ada acara-acara yang mendatangkan ustadz dan dai terkenal atau kurang terkenal dengan berbagai siraman dakwah di sore hari dan di pagi buta. Acara seperti itu memang pas untuk pemirsanya meskipun terkesan menjadi komoditas bagi stasiun televisi untuk menjual iklan. Entah itu promosi produk anti-mag, makanan siap saji yang pas untuk berbuka atau beraneka produk suplemen kesehatan saat berpuasa. Padahal bagi saya pribadi, lebih bijak bagi yang berpuasa untuk beribadah ketimbang menonton acara-acara terkait bulan puasa. Bukankah bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk refleksi dan menahan diri? Termasuk menjauhkan diri dari menonton televisi.

Alhasil begitulah program-program televisi di tanah air. Tampak sama dan memang isinya sama. Hanya ada satu dua acara yang berbeda dan biasanya memiliki ratingrendah yang berkorelasi dengan rendahnya belanja iklan dan tampil di jam-jam yang minim pemirsa.

Untuk Anda yang suka menonton televisi, ada baiknya untuk berpikir ulang tentang waktu yang digunakan untuk menatap layar kaca tersebut. Bila memang tak berguna, matikan saja televisi. Masih ada beragam kegiatan yang lebih meriah, lebih seru dan lebih suci saat layar televisi padam.